Young teacher vs Clever student

Young teacher vs Clever student
April



Sambil menunggu April ganti baju, akupun memainkan handphone April. Ada foto dia kecil, dan ada foto aku kecil bersamanya, mungkin dia masih belum sadar.


"Mas." Panggil April yang sudah selesai berganti baju.


"Cantik sekali." Ucapku.


Pandangannya tiba tiba mengarah pada tanganku yang memegang HPnya.


"Mas, itu hp aku, balikin." Ucap april.


"Eysh, kamu jangan nimpa nimpa gini, tar kamu termakan sebelum waktunya." Ucapku pada April.


"Mass ih." Ucapnya kesal


"Iya ini, ayok berangkat." Kataku.


April pun menggadeng tangaku, kita pun menuju kantor.


"Mas, aku malu." Ucap April.


"Sayang, ini kan bukan pertama kalinya kamu ke kantor." Ucapku.


"Tapi aku gapernah pake baju formal gini ke kantor mas." Ucapnya.


"Sayang, ini kantor kamu, gausah malu lah, toh nanti kamu akan datang setiap hari." Ucapku.


"Mm iya mas." Ucap April.


Kami pun sampai di kantor, aku pun membukakan pintu mobil untuk april, dan menggandeng tangannya. Tak lupa, kunci kuberikan pada satpam untuk memarkirkan mobilku.


"Selamat siang tuan muda dan nona." Ucap pegawai.


Ku lihat April membalasnya dengan senyuman, dan itu membuatku sangat kagum.


"Cantik banget ya nona." Ucap salah satu karyawan.


"Iya, cocok banget sama tuan muda." Ucap karyawan lain.


Kami pun sampai di ruangan kami.


"Sayang, kamu paham kan soal ini?." Tanyaku.


"Iya mas, udah aku lihat beberapa caranya di internet." Ucapnya.


"Mmm anak pinter." Kataku sambil mengacak ngacak rambutnya.


Kami pun mengerjaka urusan kami masing masing, tiba tiba April pun mengahampiriku.


"Mas, aku capek." Ucapnya.


"Mmm iya udah istirahat aja ya sayang." Ucapku sambil mengelus wajahnya.


"Mas ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Ucapnya.


"Apa itu sayang?." Tanyaku


Tiba tiba saja tatapannya berubah menjadi serius.


"Ketika kelulusan nanti, kita gabisa nikah langsung mas, karena harus menunggu 1 bulan untuk usia ku yang genap 17 tahun, baru kita bisa mendaftarkan semuanya." Ucapnya.


"Mas sudah pikirkan itu sayang, tenang saja mas akan menunggu kok." Ucapku.


"Terimakasih mas kalo mas mau menunggu." Ucapnya.


"Iya sayang, lagian kamu aneh aneh aja,kan aku tetep bakal nunggu kamu." Ucapku.


"Ya kan takut aja mas bosen." Ucapnya


"Segitu takutnya kehilangan mas." godaku.


"Apasih mas, pulang yuk, aku kan harus belajar, 2 bulan lagi UN mas." Ucapnya.


"Kita gabakal makan dulu?." Tanyaku.


"Yasudah ayo mas, kita makan dimana?." Tanya April.


"Ayo kita turun dulu saja." Ucapku.


Kita berdua pun masuk mobil, aku pun menjalankan mobilnya. Ketika melewat salah satu warteg, April pun memintaku memberhentikan mobil.


"Mas lihat, kasihan sekali warteg ini, sepi sekali, kita makan disini aja ya? mas bisa kan makan disini?." Tanya April penuh kehangatan.


"Yasudah ayo masuk." Ucapku pada April.


Kami pun memasuki warteg tersebut, ada seorang ibu ibu tua, dan seorang balita di gendongan ibu itu.


"Bu, saya ingin ayam, tempe, telur, sama sayur kacang panjang ya." Ucap April.


"Kamu mau apa mas?." Tanya April.


"Aku mau kikil, tempe orek, kacang panjang aja." Ucapku.


"Oh iya makan disini?." Tanya ibu ibu itu.


"Iya bu." Ucap april.


Kami pun duduk di tempat duduk yang memang tak bersih, terlihat April kepanasan, mungkin karena memakai blazzer.


"Tunggu ya, mas ada sesuatu." Ucapku lalu pergi ke warung sebelah, membelikan April ice cream.


"Ini." Ucapku.


"Mas ice cream nya banyak banget." Ucap April.


"Gapapa sayang, lagian kamu juga jarang kan makan ice cream?." Tanyaku.


"Mmm iya, terimakasih sayang." Ucap April.


Ketika April mau memakan ice cream nya anak yang dalam gendongan ibu itu menangis.


"Den, non ini makanannya." Ucap ibu itu.


"Terimakasih bu." Ucapku.


Ketika ibu itu hendak pergi, tiba tiba


"Bu, kenapa adenya nangis?." Tanya April.


"Kepanasan mungkin non, memang sudah biasa kok non gapapa, maaf kalo mengganggu ya non." Ucap Ibu itu.


"Ini ada ice cream untuk anak ibu." Ucap April.


"Non, terimakasih banyak, jangan repot repot non." Ucap ibu itu.


"Ini bukan untuk ibu, ini untuk dede." Ucap April.


Ibu itu pun mengambil ice cream dari April, dan pamit pergi. Aku pun hanya bisa tersenyum melihatnya.


"Mas, bawa uang cash 5 juta ga?." Tanya April.


"Kayanya ada, memang kenapa?." Tanyaku.


"Boleh aku pinjam buat ibu itu? untuk makan biar aku yang bayar." Ucap April.


Aku pun hanya terdiam


"Gaboleh ya mas? nanti aku ganti kok pasti." Ucap April.


"Bukannya gaboleh sayang, mas hanya kagum sama kamu ini uangnya." Ucapku.


Kita pun melanjutkan makan, memang selama kita makan tak ada pembeli.


"Bu sudah." Ucap April.


"Oh iya non." Ucap ibu itu.


"Jadi berapa bu?." Tanya April.


"Yang non 25.000 yang aden 20.000." Ucap ibu itu.


"Oh iya bu, ini uangnya,kembaliannya untuk ibu." Ucap April.


"Non apa ini? banyak sekali?." Tanya ibu itu.


"Buat beli kipas adek ya bu, saya pamit dulu terimakasih." Ucap April.


Ibu itu terus terusan tersenyum, begitupun aku, melihat kebaikan calon istriku membuat hati berbunga bunga.