
"Pall." Tanpa aba aba akupun langsung memeluknya.
"Eh lu kenapa?." Tanya opal.
"Bawa gue pergi sekarang juga!!." Bentakku.
Naufal pun mengambil motornya, dia pun menyuruh aku naik ke motornya. Ketika aku naik, aku menyembunyikan wajahku di pundaknya, akupun menangis sejadinya.
"Turun." Suruh Opal.
"Pril, lu kenapa?." Tanya ziyah panik.
Ya sekarang aku ada di rumah ziyah yang kebetulan sedang kosong.
"Jangan ditanya dulu, tenangkan dia dulu." Ucap Naufal pada ziyah.
Akupun diberi minum oleh naufal, dia memelukku dengan erat. Aku merasa memiliki kakak laki laki.
"Pak, mas uzi jahat." Ucapku.
"Kenapa?." Tanya opal khawatir.
"Dia selingkuh." Ucapku.
Akupun menangis sejadinya, opal semakin erat memelukku.
"Pril, kalo lu nangis jangan kotorin baju naufal dong." Ucap ziyah.
Akupun terbangun, benar saja baju naufal sudah basah oleh air mataku.
"Maafin gue." Ucapku.
"Gapapa kok, lagian kan gue udah janji bakal selalu ada pas lu butuh, gue kan kakak lu." Ucap Naufal.
Kita bertiga pun berpelukan, tiba tiba
kruyuk kruyuk...
"Makan yuk." Ajakku.
"Dasar rakus." Ejek Ziyah.
Kami pun makan bersama, sehabis itu naufal mengantarku pulang.
"Thanks ya pal, besok gue traktir mie ayam." Ucapku.
"Asoy nih, yaudah sana lu masuk." Ucapnya.
"Yaudah babai." Ucapku.
"Bai." Jawabnya.
Ketika aku masuk rumah, rumah sangat sepi. Aku lupa kalo ayah sama bunda lagi ke bandung. Ku buka HP ada ratusan bahkan ribuan SMS dan telepon dari Fauzi. Mungkin aku lelah menangis atau kekenyangan, sampai aku terlelap langsung.
Pagi pagi aku sudah bangun, aku bersiap karena aku akan membawa motor sendiri.
Di sekolah...
"Apesih lu." Ucapku.
"Sekarang kita pulang jam 5 ada pelajaran tambahan, abis itu sampe jam 7 ada les." Ucapnya.
"Oh oke." Ucap ku.
Kamipun memasuki gerbang sekolah, pelajaran pun kami lalui dengan lancaar. Bel istirahat pun tiba. Sesuai janji ku, aku akan mentraktir Opal, dan ziyah mie ayam.
"Ayo lah pesen." Ucapku.
Mereka pun memilih mie ayam, dan ice milo.
"Pril, lo keliatan happy banget, padahal tadi malem lu nangis kejer." Ucap ziyah.
Mendengar pernyataan itu, seketika moodku hancur.
"Gue ke wc dulu ya." Ucapku.
"Lu sih zi, bikin dia inget pak fauzi." Ucap naufal pada ziyah.
"Ya maap, kan gue ga tau." Ucap ziyah.
Sampai jam istirahat habis, aku pun tak kembali ke kantin. Aku hanya mengikuti pelajaran.
"Kak April." Teriak salah satu anggota osis. Mereka memang belum pulang karena menyiapkan graduation angkatan kami.
"Loh kok kamu belum pulang?." Tanyaku pada Anak itu.
"Ada om om nyari kakak." Ucapnya.
Akupun keluar diantar oleh adik itu.
"Loh pak temennya pak fauzi?." Tanya ku.
"Pril, gue ga ngerti harus mulai darimana, tapi tadi gue cari Fauzi di appart nya ga ada, gue bingung harus nyari kemana lagi." Ucapnya.
Jleb, bagai ada pisau menusuk jantungku. Tunanganku dimana kamu?.
Ayo pak kita cari dia.
"Pakai mobil gue aja." Ucapnya.
Akupun mengiyakan, dan masuk ke mobilnya.
"April, sebenernya gue ada salah satu tempat, tapi gue ga yakin dia bakal ada disana." Ucapnya.
"Kita kesana pak." Ucapku.
Sampailah aku di clubbing terkenal di kota ini, disana aku pusing mendengar musik keras, bau minuman keras.
"April itu fauzi." Ucapnya.
Tanpa menunggu lama, akupun menghampiri fauzi dengan kondisi mabuk berat