Young teacher vs Clever student

Young teacher vs Clever student
kebenaran



"Mas." Ucapku tak menyangka.


Diapun terus terusan minum.


"Mas stop mas." Ucapku sambil melempar tangannya. Tanpa disangka, fauzi langsung ******* bibirku. Akupun berusaha melepaskannya, untung saja berhasil. Aku meminta temannya pak fauzi untuk membopong pak fauzi dan membawanya pulang ke appart.


Di Appart..


"Pril, maaf gue harus balik soalnya istri gue nyariin, paling gue bisa bantu angkatin aja." Kata teman pak fauzi.


"Mm yasudah pak, ini biar saya yang urus." Ucapku.


Kami pun membawa pak fauzi ke atas, dan membaringkan pak fauzi di kasur.


"Pak sebelum bapak pergi, saya boleh minta bapak untuk gantiin bajunya pak fauzi?." Tanyaku ragu.


"Oh tentu, maaf gue lupa kalian belum nikah kan." Ucapnya.


Sambil menunggu fauzi digantikan baju, aku membuatkan air hangat untuk ditaro di termos, siapa tau dia bangun malam hari.


"Pril, udah, gue balik dulu ya, lu temenin dia, siapa tau butuh bantuan." Ucap teman pak fauzi.


"Oke siap pak." Ucapku.


"Oke hati hati ya babai." Ucapnya lagi.


"Bai." Ucapku sambil menutup pintu.


Setelah selesai, aku pun masuk ke kamar pak fauzi. Betapa terkejutnya aku, melihat dia menggigil.


"April, jangan tinggalin saya, saya cinta sama kamu." Igaunya.


"Dia bukan siapa siapa saya April." Ucapnya lagi.


Karena aku iba, aku pun memegang dahinya, dan badannya sangat panas. Segera aku mengompresnya. Tiap 2 jam sekali ganti kompresnya, hingga pagi pun tiba, aku harus sekolah. Tapi sebelum sekolah aku buatkan bubur dulu.


"Dimakan ya buburnya, maaf kalo nanti sudah dingin, nanti saya kembali." -A-.


Aku pun kembali ke rumah, ayah bunda belum pulang.


"Aku harus cepat, kalo nggak nanti aku kesiangan." Batinku.


Ketika sudah beres bersiap, akupun turun ke garasi, berniat untuk membawa mobil, tau tau naufal sudah datang jemput.


"Ayo, ini motor lo." Ucap naufal.


"Thanks sob, ayo." Ucapku langsung naik ke motor.


Di appart Fauzi..


Fauzi POV.


"Aduh kenapa kepala saya pusing sekali." Batinku.


"Hah? ada kompresan? siapa yang mengompresku." Tanyaku pada diri sendiri.


"April?." Tanyaku dalam hati.


Sebelum memakannya, aku memutuskan untuk mencuci muka, ternyata di wastafel ada hp April. Aku pun berniat untuk mengembalikannya, sambil menjemputnya pulang.


Siang hari..


"Mm ini mungkin April sudah mau pulang." Batinku.


Aku pun memacu mobilku untuk segera menjemputnya. Tak lupa jaket dan syal ku sematkan, karena jujur saja,aku merasa kurang enak badan.


"April." Teriakku, benar saja dia sudah keluar.


"Bapak?." Tanyanya terheran heran.


"Saya kesini menjemput kamu, tolong ikut dan mau menjelaskan semuanya." Ucapku.


April hanya terdiam, aku pun menarik tubuhnya dan mendudukan di kursi penumpang.


"Pak, mau kemana kita?." Tanya April.


Akupun tak menjawab. Kami berhenti di sebuah cafe.


"Kamu ikut saya masuk, saya mau menjelaskan sesuatu." Ucapku.


April pun mengikutiku, dia terkejut ternyata di dalam ada devinta.


"Pak, bapak mau apa ajak saya kesini? sama saja bapak membuat saya sakit hati pak." Ucapnya mulai menangis.


"Sayang, aku gini karena aku ingin kamu tau semuanya, ikutin aku ya." Ucapku pelan nan lembut.


April pun mengangguk.


"Mas fauzii." Teriak devinta sambil memeluku.


April yang melihat ini semua hanya buang muka.


"Maaf, saya kesini mau meminta doa restu kamu sebagai mantan saya, ini April wanita yang menemani saya saat susah, dan dia calon ibu dari anak anak saya." Ucapku sambil menatap April.


April pun nampak tersenyum, tak lama ia bicara.


"Perkenalkan mbak, saya Aprilia Farhana kareem, anak dari Kareem Prayuda, dan Hana Yuliana." Ucap April percaya diri.


"Kamu? Anak Bu hana? Designer terkenal?." Tanya devinta tak percaya.


"Iya mbak." Ucap April sombong.


Devinta pun merasa marah, karena saingannya kali ini tak sepadan, meskipun ia memiliki beberapa cafe, tapi tetap saja April lebih segalanya dari dia.


"Pergii kalian." Bentaknya pada kami.


"Dan kamu mas, saya pastikan wanita ini akan hilang dari muka bumi." Ucapnya mengancam.


Akupun segera pergi mebawa April, kulihat raut wajahnya sangat ketakutan melihat Devinta marah.