
"Kamu jangan takut April." Ucap Fauzi. April pun tak merespon apa yang dikatakan fauzi, ia masih terkejut akan bentakan devinta.
"Mas, bagaimana kalo kita tunda semuanya dulu, kita selesaikan dulu masalah kamu dengan devinta." Ucap April waswas. Fauzi yang mendengar itu hanya mengerutkan keningnya, dia tak percaya jika ini adalah April.
"Sayang,kamu takut dengan devi? sayang seharusnya kita buktiin, kalo kita bisa nikah walaupun dia mengancam." Ucap fauzi berusaha menenangkan April. April tidak merespon, ia hanya menatap jalanan dengan tatapan kosong.
"Antar aku pulang mas." Ucap April tanpa melihat ke Fauzi. Fauzi pun yang mendengar April berkata seperti itu, merasakan sakit, tapi apa boleh buat, semua ini karena nya, karena mantannya yang tega membuat pacarnya seperti ini.
Ketika sudah sampai di rumah April, Fauzi hendak mencium kening April, tapi April menghindar.
"Sudah mas, april capek, mau tiduk." Ucap April yang langsung pergi. Tanpa pamit, tanpa senyuman, tanpa tatapan, itulah yang membuat hati fauzi meringis.
April pun sudah sampai di dalam rumahnya, dia bertemu dengan bunda nya.
"Loh kok anak bunda cemberut sih?." Tanyanya bundanya. April pun yang mendengar hanya tersenyum tipis dan sedikit berucap "Gapapa kok bun." Ucap April, lalu meninggalkan bundanya ke kamar.
"Mas, kok kamu malah ajak aku pergi sih pas devinta bentak aku? bukannya marahin dia balik? kan aku takut mas." Batin April. April memang takut dimarahin orang lain, karena orang tuanya saja tidak pernah membentaknya. April mulai memikirkan yang tidak tidak
*apa aku batalkan saja pernikahannya
apa aku undur saja pernikahannya
apa aku tidak berjodoh dengan mas fauzi
apa mas fauzi benar benar sayang aku*
Sementara di tempat lain fauzi masih saja sibuk dengan kemudinya, dan tidak lupa pikirannya, ia memutuskan pulang ke appartement, karena jika pulang ke rumah, mami akan membrondong pertanyaan.
"April, apa aku telah membuat salah yang begitu besar padamu? hingga kamu begitu marah padaku?." Fauzi bermonolog. Setelah ia mengendarai dengan kendaraan di atas rata rata ia sampai di appartement nya. Segera ia menekan password appartnya, ketika masuk ia terkejut dengan maminya yang sudah duduk di atas sofa.
"MAMI?." Kaget Fauzi dengan kedatangan maminya. "Ada apa mami datang kesini?." Batin Fauzi.
"Jangan kaget gitu uzi, mami ingin bertanya pada kamu, yang kemarin itu mantan kamu?." Tanya mami dengan mata elangnya.
"Iya mi, itu mantan uzi." Jawab Fauzi dengan tertunduk. Ia takut menatap maminya, bukan takut karena seram, ia hanya takut tak menghormati.
"Kenapa kamu bisa bermesraan dengan dia? kenapa kamu membiarkan dia membentak Ayyil?." Tanya mami, dengan nada tinggi.
"Maaf mi, itu ketidaksengajaan, fauzi sudah mengusirnya, tapi ia malah dekat dengan fauzi." Jelas Fauzi.
"Lalu mengapa saat dia membentak Ayyil kamu diam saja?." Tanya mami dengan nada tinggi.
"Fauzi bukan tidak ingin membela Apri mi, tapi Fauzi takut April kaget melihat fauzi membentak devinta." Ucap Fauzi. Mami tak langsung percaya dengan ucapan Fauzi, ia menatap mata anaknya lekat, dan ternyata tidak ada kebohongan. Lantas ia merangkul anaknya
"Sudah sayang jangan sedih seperti itu, besok kita dateng ke rumah April, minta maaf sama bunda sama April." Jelas mami yang berusaha menenangkan anaknya.
"Iya mi, makasih sudah percaya dengan uzi." Ucap Fauzi sambil membalas pelukan maminya.
Hallo gais, apa kabar? stay safe yaa❤