
"Udah pulang? cepatlah, kakak nunggu kamu di ruangan." Pesan singkat dari Lutfi ke April.
April yang membaca pesan itu hanya tersenyum bahagia, ternyata memiliki kakak laki laki itu benar benar menyenangkan.
"Hay kak." Sapa April pada Lutfi yang sedang membereskan buku.
"Hay, ayo pulang, bunda udah telepon kakak minta kita makan disana." Ucap Lutfi.
"Ayooo kak aku laperr." Ucap April manja.
Ketika mereka sedang berjalan menuju parkiran, ternyata ada seseorang yang sedang menunggu April.
"Apriil." Panggil orang itu dengan nada kaget.
"Maas fauzii." Teriak April senang, ia pun lantas memeluk Fauzi, namun sayang tak ada balasan apapun dari Fauzi.
"Mas, kak lutfi sekarang jadi kakak angkatnya April, bunda yang ingin mas." Kata April berusaha menjelaskan, karena bagaimanapun ia mengerti dengan sikap Fauzi yang sedang cemburu.
"Kak lutfii, April pulang samaa mas uzi yaa, kita ketemu di rumah, bilangin bunda juga ya." Ucap April lutfi. Lutfi pun hanya meng-oke-kan keinginan April, walaupun rasa sakit tertanam di dadanya.
Di perjalanan..
"Mas kamu pulang kapan mas? mas tau ga? aku kangeen banget sama mas." Ucap April pada Fauzi. Namun sayang disayang tak ada jawaban dari Fauzi.
"Mas, mas kenapa diem aja?." Tanya April.
Lagi lagi tak ada respon dari Fauzi.
"Mas, mas cemburu?." Tanya April pada Fauzi. Lagi, lagi dan lagi Fauzi hanya diam tak menjawab.
"MAS, KALO MAS CEMBURU, BERI SAYA PENJELASAN MAS, SAYA BUTUH PENJELASAN MAS UNTUK MEMPERBAIKI KESALAHAN SAYA." Ucap April dengan nada tinggi karena ia sudah tak tahan dengan tingkah Fauzi.
April yang mendengar bentakan Fauzi hanya terdiam, mungkin Fauzi sudah lupa jika April trauma bentakan.
"Mas saya ingin turun." Ucap April singkat. Fauzi pun tak menggubris, ia terus saja menjalankan mobilnya.
"Mas, jika mas tidak berhenti, saya akan lompat." Ucap April mengancam. Fauzi yang mendengar itu pun memberhentikan mobilnya. Dengan cepat April membuka sabuk dan pintu. Dengan cepat pula Fauzi menarik tangan April
"April maafkan saya, saya salah telah membentak kamu." Ucap Fauzi dengan lirih.
"Mas, jika mas sungguh sungguh minta maaf, jangan temui saya dulu, saya butuh menenangkan diri." Ucap April lalu meninggalakan mobil. Fauzi pun tak mengejarnya, karena ia yakin jika April perlu menenangkan diri.
Ketika sudah sampai rumah, April berencana untuk menutupi semuanya dari bundanya, karena ia tak ingin sang bunda kepikiran.
"April sudah pulang? mana fauzinya sayaang?." Tanya bunda.
"Mas uzi ada kerjaan mendadak bun, april ga ingin dia jadi kerepotan harus nganterin April dulu jadi april naik taksi." Ucap April tersenyum menutupi semua kesedihan.
"Uuu calon istri pengertian ya, yasudah makan dulu yu." Ucap Bunda.
"Bentar ya bun, April istirahat dulu bentar, cape banget." Ucapnya lalu beranjak ke kamarnya. Di kamarnya ia hanya duduk di balkon kamarnya, menyesali bahwa dia sudah dijodohkan diumur segini.
"Bun lutfi mau ke atas ya? mau bawain april makanan, kayanya cape banget." Ucap Lutfi pada bunda.
"Iya makasih ya fi." Ucap bunda. Lutfi pun ke atas ke kamar April, dia melihat april sedang termenung di balkon.
"Kamu bisa bohongin bunda, tapi kamu gabisa bohongin saya." Ucap Fauzi.
April yang mendengarnya hanya tersenyum lalu kembali menatap kosong