You're Mine Cool Girl

You're Mine Cool Girl
YMCG Eps 72



Assalamualaikum, Halo Semua apa kabar? Aku doain semoga kalian selalu sehat, dan always sukses ya Readers


Sebelum baca aku minta kalian baca teks ini ya, jadi aku ingin mengucapkan kata maaf kepada semua Readers novel "You're Mine Cool Girl", alasannya karena aku jarang upload dan sekalinya upload tuh dikit aku tau guys aku sangat salah, makanya dari itu aku minta maaf sebesar-besarnya kepada semua Readers yang baca novel ini


Jujur beberapa waktu belakangan ini aku lagi mencari ide untuk meneruskan cerita novel You're Mine Cool Girl, dan juga jadwal kerja aku hari-hari ini suka lembur, dan ya hasilnya aku kecapean dan drop


And now Alhamdulillah aku bisa kembali sehat, dan In Syaa Allah aku bakalan usahain sekeras mungkin untuk Upload tepat waktu ya


Jadi ya udah segitu aja, i hope you guys enjoy for the read this Novel


~ Happy Reading 📖


...----------------...


Rumah Dira 🏫


Sesuai pernyataan dari dokter Psikiater yaitu Dokter Arsen beberapa waktu lalu, kondisi mental Dira dinyatakan mengalami


Sindrom trauma perkosaan (Rape Trauma Syndrome/RTS) adalah bentuk turunan dari PTSD (gangguan stres pasca trauma), sebagai sesuatu kondisi yang mempengaruhi korban perempuan — muda dan dewasa — dari kekerasan seksual. Kekerasan seksual, termasuk perkosaan, dipandang oleh wanita sebagai situasi yang mengancam nyawa, memiliki ketakutan umum akan mutilasi dan kematian sementara serangan terjadi.


Dihari-hari yang dilewati Dira terasa begitu buruk, ia sering mengalami mimpi buruk, mual & muntah, bahkan merasakan rasa cemas yang tinggi, Nisa dan Ghani sebagai orang tua sudah membantu Kondisi kesehatan mental, fisik bahkan lainnya dengan semaksimal mungkin


Tapi memang tidak bisa, untuk urusan kuliahnya Dira di Harvard diberhentikan selama Dira hamil, dan sampai kondisi mental Dira membaik lebih tepatnya


Sekarang ini Dira sedang berdiri melamun dengan tatapan kosong di halaman belakang rumahnya sampai-sampai tatapannya beralih ke perutnya, dan hal buruk pun terjadi


"Dasar anak pembawa sial! Kamu hanya membuat saya menderita karena engkau tumbuh dirahimku, secepat mungkin saya akan mengugurkan kamu dalam perut saya!"


Tebakan kalian pasti benar, ya Dira berucap seperti itu sambil memukul-mukul perutnya dengan keras, sambil menangis histeris


"Hiks...matilah kau! Kau pasti akan bertumbuh dengan buruk persis seperti lelaki bejat itu sikapnya, MATILAH HIKSS!"


"ASTAGFIRULLAH! Hey hentikan, jangan menyakiti dirimu seperti ini Anindira"


Ucap seorang Pria yang berlari ke halaman belakang rumah Dira saat ia memperhatikan gerak-gerik Dira


"Hentikan! Apakah tega menyakiti dirimu seperti ini hah?, Saya tidak tahu apa masalah hidup kamu, tapi saya mohon hentikan"


Ucap lelaki itu sambil menahan kedua tangan Dira agar berhenti memukuli perutnya


"ERGH! PERGI KAU LAKI-LAKI PASTI PERBUATAN MU JUGA BEJAT SEPERTI PRIA BERENGSEK ITU!"


Balas Dira yang ingin memukul dada pria tersebut, karena mendapat serangan bertubi-tubi dari Dira akhirnya pria itu menyerah dan merasa sedikit greget akhirnya dia memeluk diri Dira pelan sambil mengelus pucuk Dira sambil membisikkan


"Istighfar Anindira, ingat Allah nanti kecewa dengan kelakuan kamu seperti ini, Istighfar Astaghfirullah Hal'adzim... Astaghfirullah Hal'adzim"


Ucap pria itu sambil membisikan kalimat istigfar di telinga Dira, dan Alhamdulillah Dira sedikit tenang


"Vid! Loh ngapain disini dari tadi gue cari-cariin ternyata disini"


Dengan rasa terkejut reflek pria yang bernama David sahabatnya Daniel melepas pelukan Dira dengan cepat


"Astaghfirullah Niel, ngagetin aja loh"


Ucapnya dengan sedikit memerah


Daniel: Bokap nyokap sama Tante Om gue udah diruang makan, ayo katanya loh ikut gue mau makan siang dirumah Tante gue sekalian silahturahmi...


Ucap Daniel yang sedikit jahil ingin menggodai David yang ekspresinya saat itu sedikit membuat diri Daniel ingin tertawa ngakak tapi masih ia tahan


Tapi, tiba-tiba Dira merasakan mual dan ingin muntah


"Uhukk,,,huekk,,,hueekk🤮"


Dengan terkejut David reflek langsung menggendong diri Dira ke arah toilet terdekat


Begitu juga dengan Daniel dia langsung berlari memanggil Tante nya Nisa yang berada diruang makan untuk memberitahu keadaan Dira saat itu


......................


Daniel: Tan..Tante!


Dengan sedikit bingung karena Tante, Om, juga kedua orang tua Daniel mendengar panggilan Daniel ke tantenya dengan wajah sedikit panik mereka hanya mengernyitkan dahi seolah-olah menanyakan ada apa


Nisa: Iya kenapa Daniel???


(Tanya Nisa sedikit bingung sambil menatap kearah Daniel)


Daniel: Di-dira muntah-muntah Tan...


Nisa: Astagfirullah! Pah-pah kamu samperin Dira Bunda ambil minyak angin sama air hangat dulu


(Ucap Nisa dengan wajah sangat panik)


Ghani: Sekarang dia dimana Daniel?


(Tanya Ghani yang langsung berdiri dari duduknya)


Daniel: Toilet dekat halaman Om...


Tanpa banyak basa-basi Ghani langsung menghampiri Dira dan sedangkan Daniel ia dengan rasa inisiatif membantu Tantenya untuk menyiapkan air hangat karena tantenya baru saja kembali dari kamar mengambil minyak angin


Sedangkan Adam, ia langsung menelpon dokter pribadinya yang bernama Dokter Thomas yang berusia 53 th, dokter yang sejak dulu melayani keluarga Pranadipa


......................


Di Toilet Dira terus menerus memuntahkan semua makanan dan minuman, sampai-sampai lendir pun dia muntahin, David dengan rasa kasihan tanpa memperdulikan rasa jijik sedikit pun ia membantu menepuk nepuk punggung Dira pelan


Sampai saat Ghani, Daniel dan Bundanya datang, Dira akhirnya mulai berhenti muntah dan David membantu membopong diri Dira ke wastafel, tapi sebelum itu dia membersihkan WC yang penuh dengan muntahan Dira tadi dengan menyiram dan menaruh sabun untuk menghilangkan rasa bau toilet itu


Setelah itu, dengan telaten David membantu Dira berjalan ke wastafel dan membersihkan tangan, juga tak lupa membantu mengelap wajah cantik Dira yang penuh dengan keringat sampai-sampai ia tak sadar kalau Ghani dan yang lainnya memperhatikan perlakuan lembut serta romantis David ke Dira


Dan setelah semuanya selesai David sedikit terkejut melihat kehadiran orang tua Dira dan Daniel yang berdiri di depan toilet memperhatikan dirinya yang sedari tadi membantu Dira


Karena tak tahan melihat wajah terkejutnya David, Ghani langsung mengambil alih membopong tubuh Dira untuk sampai ke sofa ruang tamu


...


Sesampainya di sofa ruang tamu Ghani langsung mendudukan tubuh Dira ke sofa, karena keadaan Dira saat itu benar-benar lemas dan wajahnya pucat serta keringat yang mengucur dari tadi di wajahnya


Sedangkan Daniel ia langsung memberi air hangat itu ke tangan Nisa untuk memberikannya ke Dira


Nisa: Sayang kamu minum dulu ya, Bismillah pelan-pelan nak minumnya


Dan dengan cepat Dira langsung meminum air tersebut dengan pelan


Sedangkan Nisa ia langsung membuka tutup minyak angin itu, setelah Dira sudah selesai minum Nisa membantu membaringkan tubuh Dira di sofa tersebut, dan membuka kaos polos biru Dongker yang dikenakan Dira karena kan Nisa ingin membalurkan atau mengolesi minyak angin itu dibagian area perutnya


David yang melihat keadaan Dira sedikit merasa sedih


Dia juga bertanya-tanya tentang kondisi Dira


(Tanyanya dalam hati dengan raut wajah kebingungan)


Ghani yang sedari tadi memperhatikan raut wajah David mengetahui kalau David sedang kebingungan dengan semua yang terjadi, akhirnya Ghani memilih diam


......................


Di sebuah rumah yang sunyi, seorang wanita sedang fokus mengerjakan tugas kuliahnya di ruang tengah, dia sendirian tak ada siapa pun yang menemaninya, sampai-sampai dia menyetel musik untuk membuang suasana sunyi itu


Ya pasti tebakan kalian benar lagi, siapa lagi jika bukan Raline Odelia Priyanka, seorang wanita yang sedang mengerjakan tugas dengan amat serius sampai-sampai ia melewatkan makan siangnya lagi


Sudah Seminggu ia hanya makan sehari 2 kali saja, karena memang saking fokusnya mengerjakan tugas akhir semester nya itu, memang tugas berat adalah beban berat para mahasiswa


Tapi Dengan Semangat 45 Rara tetap tidak terlalu merasa keberatan jika ada tugas kuliah yang berat, karena sedari dulu ia sudah biasa melewati hari berat disetiap harinya ya...walaupun sekarang ia sudah menjadi seorang CEO Wanita Muda


Malahan Menjadi seorang CEO lumayan berat bagi seorang Rara Mahasiswi perkuliahan, karena ia harus fokus mengerjakan pekerjaan di Perusahaanya juga harus fokus mengerjakan tugas kuliahnya


Benar-benar Double deh tugas berat dihidupinya itu, tapi apa mau buat? Memang ini sudah takdir yang direncanakan Allah untuk hidup Rara, malahan dirinya harus banyak bersyukur karena hidupnya sekarang ini jauh lebih better dibanding kehidupannya di waktu lalu


Sampai pada saat ditengah-tengah pengerjaan tugas, nada dering telpon hp iPhone Rara berbunyi dan di hp tersebut terteralah nomor Dokter Psikiater yaitu Dokter Arsen


Tanpa banyak memakan waktu Rara langsung mengangkat telpon tersebut


"Halo, Selamat Siang Dokter"


(Ucap Rara sambil menghentikan pengerjaan tugasnya dan melihat kearah jam, ia baru sadar kalo dia sudah melewatkan jam makan siangnya itu)


"Halo Raline, masih ingat saya tidak?"


(Ucap Dokter Arsen diseberang telpon)


"Masih Dok, Ehm btw ada apa ya telpon di jam segini?"


(Tanya Rara yang lagi membuat seduhan minuman coklat)


"Besok kamu ada waktu kan? Soalnya Sophia sudah tiba Indonesia sore ini, besok jadwal dia kosong jadi kamu bisalah bertemu dengannya besok pas makan siang"


Dengan diam Rara berpikir


"Aduh kok gue jadi Nervous sih?"


(Ucapnya dalam hati dan ...)


"In Syaa Allah Raline bisa Dokter bertemu dengan Nyonya Sophia besok, karena kan Raline ngefans banget sama dia"


(Katanya sambil sedikit tersenyum malu)


"Baiklah Nanti Dokter kabarin ke Sophia bahwa besok ada fans special ingin bertemu dengannya"


"Siap Thank you very much Dokter and See you tomorrow"


(Balas Rara)


Dan sambungan telpon pun terputus


Huft...honestly sekarang Rara merasa sangat gugup dan bingung jika besok ia dan saudara kembarnya bertemu harus menyapa, dan basa-basi seperti apa agar tidak akward


"Duh, kok gue jadi gugup sih, Huftt Okey Rara loh harus tenang, dan sekarang loh harus selesain tugas kuliah loh karena besok udh harus dikumpulin ke pak Dosen"


Ucapnya pada diri sendiri sambil berjalan kearah layar laptop yang sudah sedari tadi lamanya menyala diatas meja


......................


Keadaan kondisi Kesehatan Dira sedikit menurun, tubuhnya semakin mengurus, ya bagaimana tidak mengurus makan sedikit ia mual dan muntah, ditambah memang sepertinya Dira benar-benar mengalami Stress berat


Setelah Proses pengecekan kondisi tubuh dan janin Dira selesai yang dilakukan oleh Dokter Thomas, seperti biasa dokter Thomas dari dulu orangnya suka langsung to the Point jadi dia menjelaskan kondisi kesehatan Dira dan janinnya secara detail


Adam: Bagaimana Dokter Tom keadaan ponakan saya?


Dokter Thomas langsung mengajak Kedua orang tua Dira dan Adam juga Hana untuk berbicara didalam kamar Dira lebih tepatnya didepan diri Dira, tujuannya ia ingin Dira juga mengetahui kondisi kesehatan dirinya sendiri karena Thomas tahu seorang pasien berhak mengetahui kondisi kesehatan tubuhnya sendiri


Dr. Tom: Kondisi kesehatan Nyonya Dira menurun, mungkin karena ada tekanan pikiran atau hal lain yang membuat diri Non Dira stress, jadinya jika makan sedikit nanti mual atau muntah, usahakan untuk selalu menjaga pola makan sehat, ikut kelas olahraga ibu hamil, dan hilangkan pikiran yang berat-berat


Jelas Dokter Tom secara mendetail


Dr. Tom: jika bisa, coba diskusikan dengan suami untuk melakukan hubungan suami istri, ya kira-kira seminggu sekali, itu membantu mengurangi tekanan pikiran dan juga membuat si janin sehat dan tidak ikut stress tentunya


Jelas Dokter Tom lagi yang membuat semua orang diruangan itu terdiam, termasuk Dira yang lagi-lagi dibuat bingung dengan pernyataan Dokter Tom, secara ia hamil diluar nikah, masa iya dia melakukan hubungan suami istri sendirian??? Kan lucu


Adam dan Ghani saling melirik, begitu juga dengan Nisa ia merasa sedih juga kasih melihat nasib malang yang jatuh ke anak tunggal satu-satunya, tapi apa boleh buat takdir, dan ujian hidup sudah ditentukan oleh ya diatas


Jadi kita sebagai hambanya hanya menentukan pilihan terbaik, berdoa, juga ikhlas, dan juga harus tetap berusaha untuk menyelesaikan semua alur hidup sampai waktu kita tiba dipanggil oleh Allah SWT


......................


Dikamar hanya Dira dan Ghani Papahnya berdua, yang lain sudah diperintahkan oleh Ghani untuk memberi waktu luang kepada seorang Ayah dan Putri tunggalnya itu, jujur sekarang ini ada sesuatu yang ingin dibicarakan Ghani dengan Dira yang terduduk menyender ke pinggir ranjang, tubuhnya juga sudah diselimuti


Dengan pelan Ghani mengelus pucuk rambut Putri lalu berkata


Ghani: Dira, ada yang Papah pengen tanyakan ke kamu?


Sontak Dira langsung mendongak ke arah Papahnya


Dira: mau bicara apa ya Pah?


Ghani: Apakah kamu mau menikah?


(Tanya Ghani langsung to the Point)


Jeda beberapa menit Dira terdiam beku, akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan Papahnya itu


Dira: Jujur...aku sudah tidak tertarik dengan hal seperti itu tapi...aku akan menjawab pertanyaan Papah nanti, izinkan aku untuk menunaikan sholat Tahajud juga Istikharah malam ini Pah


Ghani pun tersenyum dan dia segera mencium kepala Putri tersayangnya itu


Ghani: pikirkan baik-baik cari jalan keluar sebaik mungkin, ingat kamu harus peduli dengan janinmu dan juga masa depan kamu untuk menjadi seorang Dokter, Papah pasti akan mendukung keputusan kamu


Ucap Ghani yang segera bangun meninggalkan kamar Dira


Dira sangat bingung kepada dirinya sendiri, ia merasa malu kepada dirinya, ia takut Allah akan marah kepadanya karena beberapa jam lalu ia hampir melukai calon anaknya sendiri, ia sadar bahwa semua ini bukan kesalahan janin yang didalam kandungannya tapi salah lelaki yang bernama Steve itu


Perlahan sepertinya ia harus ikhlas dengan semua takdir dan ujian hidup yang diberi kepada Allah SWT


"Huuft...sepertinya aku harus kuat demi calon anakku juga masa depanku yaitu menjadi seorang Dokter, mungkin ini yang disebut takdir hidup terbaik yang diberikan Allah untuk aku"


Ucap Dira yang seketika hatinya tersentuh, karena barusan sang janin melakukan kontraksi didalam perut, Dira kembali menangis tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata itu


To Be Continue