
Aku mengetuk pintu pelan, nggak mau bikin Lea kebangun, "Zayn, bangun, ini udah setengah enam kurang, nanti kamu terlambat ke sekolahnya!"
Ceklek!
Zayn membuka pintu, "Pagi Zayn, epatlah mandi dan bersiap-siap, nanti kamu telat ke sekolah!" Aku tersenyum ke Zayn, Zayn masih mengucek matanya.
"Pagi gadisku ... Kamu sangat rajin, jam berapa kamu bangun?" tanya Zayn dengan intonasi mengantuk.
"Aku hampir terjaga karna ucapanmu dan kelakuanmu Zayn, sekarang aku harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan!"
"Jadi, kamu mau aku melakukan apa untuk membayar kelakuan dan perkataanku semalam?" tanya Zayn menggodaku.
"Kamu hanya harus mandi, lalu siap-siap pergi sekolah. Belajar yang bener, dan jangan males!"
"Cepat sana mandi! Aku masih harus mas—" belum selesai aku ngomong, Zayn segera melepas celemekku.
"Eh, untuk apa kamu melepasnya?" tanyaku heran, "Aku yang akan membuat sarapan untuk kita. Kamu siapkan yang lain, atau istirahatlah, untuk membayar tidurmu semalam!" Dia mengenakan celemekku, lalu mengambil pengaduk bubur ditanganku.
Zayn turun, aku ikut turun, lalu membangunkan Farel, "Farel, bangunlah, ini sudah pagi, nanti kamu kesiangan berangkat sekokahnya!" kataku, sambil mengguncang-gungcangkan tubuh Farel.
"Hoam ... Aku bangun Ra, jangan mengguncangkan tubuhku. Aku sangat lelah setelah kejadian kemarin, ditambah lagi, aku menemanimu belajar semalaman!" Aku menahan tawa.
"Siapa suruh kamu nemenin aku belajar? Aku nggak minta ditemeni kok!" ucapku santai, "Ih, kamu jahat banget sih Ra. Udah ditemeni, nggak bilang terima kasih lagi. Sumpah, parah banget kamu Ra!"
Aku tertawa, "Hahaha ... Yaudah, iya, makasih ya Farel. Sekarang, cepet mandi sana!" kataku sambil menekuk tangan disamping badanku, "Siap laksanakan bu!" canda Farel.
Dia masuk ke kamar mandi, aku nyamperin Zayn, "Perlu bantuanku Zayn?" Zayn menatapku, "Tidak, kamu hanya harus menungguku di meja makan, gadis." jawabnya, intonasinya sangat lembut.
"Aku bosan Zayn, jika harus menunggu saja." kataku mengeluh, "Tidak, biar aku yang memasak untuk kalian ..." Baiklah, aku mengalah, aku menunggu masakan Zayn, di meja makan.
30 menit kemudian ....
"Sarapan siap!" kata Zayn, aku tersadar dari lamunanku. Farel juga udah nunggu dari tadi, "Gadis, apa kau sedang memikirkanku gadis?" Zayn tersenyum.
"Dih, ge'er! Siapa juga yang mikirin kamu!" jawabku ketus. Sebenarnya aku berbohong, dia benar, aku sedang memikirkannya.
Orang-orang benar, laki-laki yang pandai memasak, sangatlah tampan jika dilihat seperti ini.
"Dia berbohong Zayn ... Dia sedang memikirkanmu." Aku liat ke arah tangga, Lea sedang berdiri sembari tersenyum jail. Senyum yang biasa kulihat, senyum yang khas milik Lea.
Dia perlahan turun tangga, dia udah nggak selemes kemarin, "Lea! Kamu udah bener-bener pulih? Syukurlah, aku bisa melihat senyumu lagi, walau itu berarti, kau sudah mulai bisa menggodaku lagi ..." candaku.
"Hahaha!" semua tertawa, membuat suasana ruang makan jadi ceria dan hangat, "Kemarilah Lea, kita makan bersama-sama," kata Zayn.
Lea duduk di sebelahku, "Ini masakanku, kalian harus mencobanya. Sudah lama sekali aku nggak masak, semoga masih enak," kata Zayn.
Kami memakannya, "Ini sangat enak Zayn!" kata Lea, wajahnya nampak lebih ceria, "Ya, ini tidak buruk kawan." kata Farel, "Mereka benar Zayn, aku tidak menyangka, jika tuan muda sepertimu bisa memasak." kataku.
"Bisa dong, siapa dulu, Zayn ..." kata Zayn percaya diri, "Hahaha!" Sekali lagi, ruang makan ini terasa hangat dan ceria karna kehadiran mereka.
Setelah sarapan, Zayn mandi dulu, Farel membantuku mencuci piring dan gelas-gelas yang kotor.
Setelah Zayn selesai mandi, Mereka berangkat sekolah, aku dan Lea tetap dirumah. Kami menghabiskan waktu berdua dengan membaca novel, komik, belajar, bercanda, dan menggambar.
Aku dan Lea lagi rebahan dikasur, "Ra, tolong simpan kalung yang kuberikan padamu baik-baik. Jaga itu dengan sepenuh hati, aku percaya padamu."
Lea menggenggam tanganku, "Kamu pasti udah denger ceritanya dari Zayn kan, apa yang sebenernya terjadi?" Aku bingung mau ngomong apa.
"Aku tau itu Ra, aku nggak akan marah kok. Kalo kamu udah tau semua, bisakah kamu berjanji padaku, untuk menjaga kalung itu sebaik mungkin?" Lea menatapku, aku menelan ludah.
"Aku berjanji Lea." Aku tersenyum, lantas mengangguk. Zayn benar, mungkin kami telah ditakdirkan bersama, aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti Lea.
"Ra, kamu beneran nggak punya perasaan apapun sama Zayn atau Farel?" Lea mulai menggodaku.
"Lea ... Ayolah, kita pernah membahas ini sebelumnya, dan jawabanku tetap tidak!" Aku bersungut-sungut, Lea menahan tawanya.
"Ya kali, kamu berubah pikiran gitu? Mereka kurang apa sih Ra? Ganteng iya, pinter iya, kaya iya, baik iya, kurang apa coba? Atau kamu udah punya cowok yang kamu taksir?" Aku menggeleng, nggak tau.
"Ayolah Ra ... Seriusan kamu udah punya cowok yang kamu taksir?" Lea terlihat antusias, "Aku nggak tau Lea, aku cuman kepikiran dan ngerasa nyaman sama cowok itu." Mendengar aku mengatakan itu, mata biru Lea langsung membulat.
"Siapa itu Ra? Bisakah kamu memberitahuku?" Aku menatapnya, "Apa kamu ingat lelaki yang menyelamatkanku di penyeberangan jalan kemarin Lea?"
"Jangan bilang, itu cowok yang kamu maksud!" Aku mengangguk, "Ra, kamu belum mengenalnya, bahkan melihat wajahnya saja belum, terus kenapa kamu bisa nyaman sama dia?" Aku mengambil HP yang ada di meja sebelah kasurku.
Aku tunjukin chat-ku dangan Hero ke Lea, "Baca ini, semoga kamu paham ..." Lea mulai membacanya.
"Astaga Ra, kamu punya penggemar rahasia?" Aku melotot, lantas menggeleng, "Itu bukan penggemar rahasiaku Lea. Dia adalah penyelamatku, dia membantuku ketika aku membutuhkan bantuan."
"Mungkin dia tidak ada ketika aku bersedih, tapi aku slalu merasakan kehadirannya setiap kali aku bersedih. Termasuk—" aku tidak melanjutkan omonganku.
"Nggak apapa Ra, kalo kamu mau membahasnya, aku tidak keberatan, itu sudah lewat. Dan aku masih harus menjalani kehidupanku seperti semula." kata Lea.
"Maafkan aku Lea." Lea menggeleng, lantas tersenyum, "Oh ya, tapi kan, kamu baru sekali ketemu sama si Hero. Kok udah nyaman aja?" Aku menggeleng, nggak tau.
"Kamu mau disini, apa mau ikut turun ke dapur? Aku mau siapin makan siang buat kita berempat." Aku berdiri.
Lea ikut ke dapur, "Ra, aku juga mau bantu kamu." Aku menatapnya, "Apa kamu yakin? Aku takut tubuhmu masih lemah Lea." Lea menggeleng, tidak.
"Tubuhku udah nggak selemah kemarin Ra, kamu terus memberiku makan dan minuman yang bisa mengembalikan stamina tubuhku dengan cepat, kumohon Ra ..." Aku menghembuskan nafas.
"Baiklah, tapi kalo kamu ngerasa nggak enak badan, langsung istirahat!" Lea mengangguk. Kami mulai memasak untuk makan siang.
Pukul 14.05
"Eh, kenapa Zayn sama Farel belum pulang ya?" tanya Lea cemas, aku menyentuh bahunya, menenangkannya, "Lea, tenanglah, mereka akan baik-baik saja ...."
"Aku nggak bisa tenang Ra, setelah kejadian kemarin, aku slalu was-was. Aku semakin cemas akan sesuatu!" Aku senyum.
"Lea, mereka berdua akan baik-baik saja, jangan mencemaskan mereka. Mereka akan saling melindungi satu sama lain."
"Kita tunggu setengah jam lagi, kalo mereka belum pulang, aku yang keluar buat nyari mereka," kataku, Lea mengangguk, ekspresinya lebih tenang.
Klink!