You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 17



Aku : Karna menurutku, suaraku tidak sebagus yang kamu kira. Itu hanya kebetulan Hero, lagi pula aku juga nggak suka menyanyi.


Hero : Gadis, apa kau mencintai Zayn?


Aku : Entahlah, jika dipikir-pikir lagi tidak! Tapi di dalam hatiku mengatakan iya!


Hero : Lantas mengapa kamu menolak Zayn?


Aku : Karna aku tidak mau timbul rasa kecewa yang amat sangat besar! Aku sudah pernah mengatakannya padamu Hero.


Hero : Iya, aku tau itu ... Baiklah, sampai nanti!


Aku : Sampai nanti!


Aku rebahan di kasur, badanku capek semua. Aku bermain HP sebentar, lalu membaca novel.


Pukul 13.50


"Mengapa kau baru pulang Farel?" tanyaku, "Aku ada urusan sebentar, Ra, aku tidak bisa memberitahumu, mari makan!"


Kami segera makan siang, kami menunggu Farel pulang. Dia pulang terlambat, entah apa yang sedang dia lakukan di luar sana.


Farel, Lea, dan Zayn saling berbisik, aku heran, mengapa mereka berbisik di depanku? Apa ada sesuatu yang mereka rahasiakan dariku? Entahlah, aku melanjutkan makanku.


Setelah makan siang, Farel dan Lea yang mencuci piring, aku membersihkan meja makan, Zayn masih belum sembuh total, jadi kusuruh dia istirahat di kamar.


Kring! Kring! Kring!


"Halo, ini dengan siapa ya?" Ada telfon masuk dari nomer tak dikenal ke HP ku, "Neara, ini nenek, apa nenek mengganggumu?"


"Nenek! Ah, tentu saja Nenek tidak menggangguku, apa Nenek mau ngobrol sama Zayn? Sepertinya dia belum tidur ..." Aku ngomong sambil naik ke kamar Zayn.


Aku membuka pintunya, "Ah, apa anak itu membuat masalah denganmu?" tanya nenek, "Nenek, aku tidak membuat masalah dengan Ra!" Zayn bersungut-sungut sebal, aku memang men-loudspeaker nya.


"Hahaha ... Ra, jika anak nakal itu mengganggumu, jangan sungkan-sungkan untuk memukulnya!" canda nenek Zayn, "Nenek! Hentikan! Aku tidak akan mengganggu—mengganggu gadisku!"


"Apa kalian berdua memiliki hubungan yang spesial?" tanya nenek Zayn, "Eh, tidak Nek, kami hanya sahabat!" Aku melotot ke arah Zayn, dia dengan santainya berkata seperti itu.


"Hahaha ... Jika kalian memiliki hubungan spesial juga aku tidak keberatan. Atau anak nakal itu memaksamu untuk menjadi gadisnya, Nak?" Aku terkekeh.


"Tidak Nek! Aku tidak memaksanya!" Apa? Dia tidak memaksaku? "Eh, enak saja! Kamu memaksaku ya!"


"Hahaha ... Sudah kuduga! Ra, lusa, nenek akan mengunjungimu! Nenek ingin memberitahumu satu hal, ini sangat-sangatlah penting, apa kau tidak keberatan?"


"Tentu saja tidak Nek, aku siap mendengarkan perkataan Nenek." kataku, "Baiklah ... Anak nakal, jangan memaksa Neara terus-menerus, hargai perasaanya."


"Kamu tidak bisa mengambil keputusan untuknya. Yang akan menjalani resiko dari pilihannya adalah dirinya sendiri. Bukan kamu, biarkan dia berpikir dan memutuskan!"


"Neara, nenek tau, kamu adalah gadis spesial yang dikirim tuhan untuk Zayn. Kamu pasti sudah mengetahui kisah tentang Zayn kan? Nenek harap, kalian akan slalu bersama dan bahagia seperti sekarang."


"Sampai jumpa cucu-cucuku." kata nenek Zayn, aku dan Zayn saling tatap, "Sampai jumpa nenek!" kata kami bersamaan.


"Setelah ini, kau mau ngapain?" tanya Zayn, "Aku mau istirahat Zayn, aku sangat lelah kemarin, mengurusmu seharian." jawabku.


"Oh, baiklah ..." Aku menatapnya, curiga, "Apa kau mau melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku?" tanyaku curiga.


"Eh ... Ti—ti—tidak kok, aku hanya bertanya ..." Zayn terlihat gugup, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Pukul 18.04


"Ra, bangunlah, matahari sudah terbenam. Ini waktunya makan malam, mandilah terlebih dahulu, baru turun ke meja makan." Aku membuka mataku perlahan.


Mataku masih sangat panas, badanku juga masih capek semua, aku bangun, lalu mandi.


Lima belas menit kemudian ....


"Apa tidurmu nyenyak, Nona Neara?" tanya Farel, "Eh, tentu saja, maafkan aku, aku tidak bisa membantu memasak makan malam." kataku, "Mataku terlalu mengantuk, dan seluruh badanku terasa sakit."


"Baiklah, setelah ini, apa kau mau tidur lagi?" Aku menggeleng, "Aku masih harus merawat Zayn, badannya belum sembuh total." jawabku, "Gadis, aku bisa mengurus dir—"


Aku melotot, "Aku sudah mengatakannya, selama kau belum benar-benar sembuh, kau harus mengikuti peraturanku!" Aku melanjutkan makanku.


"Tapi Ra, jika kau memaksa merawatku hingga aku sembuh, maka kau akan sakit juga. Setelah aku sembuh, kau akan sakit, aku akan merawatmu, hingga aku kembali sakit, dan begitu seterusnya!"


"Tidak akan Zayn, percaya padaku, turuti perkataanku!" kataku, kami melanjutkan makan malam, membahas banyak hal.


Setelah makan malam, giliranku dan Zayn yang mencuci piring, "Ra, apa kau menyukai pria lain di hatimu?" Aku terkejut, mengapa dia menanyakan hal ini secara tiba-tiba?


"Jawab, Neara ... Dan bila ada, siapa pria itu?" Aku menghembuskan nafas, "Zayn, bisakah kita membahas yang lain?" Zayn masih terus menatapku, "Zayn, aku tidak mempunyai laki-laki lain di hatiku, tapi pernyataanmu terlalu cepat."


"Aku harus memikirkan segala resiko, dan masalah yang akan muncul jika aku menerimamu. Beri aku waktu untuk berpikir, setidaknya sampai kita lulus SMA terlebih dahulu!"


"Tidak bisakah aku mendengar jawabannya lebih cepat?" Aku menggeleng, "Menunggu,


atau tidak sama sekali!"


kataku.


"Eh, jangan dong! Ok, ok, aku akan menunggu jawabanmu hingga lulus SMA. Terima kasih sudah membuatku lega, setidaknya kamu tidak menolakku hari ini." Zayn tersenyum, senyum yang sangat tulus dan lega.


"Zayn, maafkan aku, karna kau harus menunggu jawabanku hingga lulus SMA. Aku, aku, aku mencemaskan sesuatu yang—" Zayn meletakkan jari telunjuknya di mulutku.


Kami salin tatap, "Tidak ada yang harus meminta maaf atau berterima kasih ... Jika kita memang di takdirkan bersama, kita akan melewati segala ujian yang akan datang!"


Aku memeluknya, "Sekali lagi, aku meminta maaf, sekaligus berterima kasih atas pengertianmu Zayn." Zayn balas memelukku.


"Ekhm ... Pelukannya sudah belum?" Itu suara Seli, aku segera melepas pelukanku, "Eh, mmm ... Anu, aku mau ngelanjutin cuci liring dulu, Seli, apa kau mau membuat camilan?"


"Eh, tidak, hari ini tidak akan ada cemilan! Aku mau ngobrol bentar sama Zayn ..." Apa yang kurasakan? Cemburu? Itu tidak mungkin!


"Ra, tenang saja, aku hanya ingin ngobrol biasa, bukan obrolan tentang hati!" wajahku memanas, "Percaya padaku gadis, aku tidak akan mengecewakanmu! Sampai nanti gadisku." Zayn mencium keningku.


Seli menghembuskan nafas sebal, "Ayolah, kalian hanya akan berpisah beberapa menit saja. Dan kami hanya ngobrol di ruang tamu, itu tidak jauh!" Aku terkekeh melihat muka sebal Seli.


Aku kembali mencuci piring-piring yang masih kotor. Kak Gabie apa kabar ya?


"Halo Kak, Kakak apa kabar? Kakak sehat-sehat aja kan?" Aku menelfon kak Gabie, "Kakak baik kok, kamu sendiri sehat kan?" tanya kak Gabie, "Iya Kak, aku juga sehat."


"Kamu kenapa Dek? Kok tumben nelfon?" tanya kak Gabie, aku terdiam sejenak, "Dek, kamu kok diem? Ada apa? Ayo, bicara sama kakak**."


Bersambung ....