You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 26



"Kami mencurigai, orang-orang yang diangkat Aidan sebagai keluargalah yang menjadi dalang di balik semua peristiwa di keluarga Dirgantara ...."


"Lalu, mengapa Nenek tidak memenjarakan nya?" tanyaku, "Kami belum punya cukup bukti sayang ... Kami tidak bisa main tuduh seperti itu saja!"


"Nenek, aku merasa bersalah kepada Zayn ... Aku pernah membentaknya tentang orang tua." Nenek menatapku, lalu mengelus kepalaku.


"Sayang, Zayn tidak akan pernah marah denganmu, percaya sama nenek." Aku memeluk nenek.


"Apa kau melihat ekspresi Zayn ketika kau membentaknya?" Aku mengangguk, "Ekspresinya menunjukkan dia marah atau tidak?" Aku menggeleng.


"Jadi, dia tidak marah padamu ... Sudah, jangan berpikir lagi, kau harus sekolah nanti, maka segeralah tidur, selamat malam!" Nenek masuk ke kamar duluan.


Astaga, aku benar-benar merasa bersalah telah membentak Zayn. Dia juga merasakan apa yang selama ini kurasakan. Tidak seharusnya aku membentaknya.


Pukul 05.05


"Ra, bangun ... Mengapa kau tidur di sofa?" Aku membuka mataku, kak Gabie yang membangunkanku.


"Eh, kemarin aku nggak bisa tidur, terus malah ketiduran di sofa." Kak Gabie menghembuskan nafas.


"Mandi lah, kau harus sekolah, nenek, Keli, dan kakak sedang menyiapkan sarapan. Hari ini kakak cuti kerja dulu, jadi bisa mengantarmu tepat waktu."


Aku naik ke kamar dulu, mau ambil handuk. Habis itu masuk ke kamar mandi, mandi. Setelah mandi, aku bergabung di meja makan bersama yang lain.


"Selamat pagi semua!" kataku, "Kenapa hari ini kau terlihat lebih ceria Ra?" tanya Lea heran. Dia benar, hari ini mood-ku lebih baik, jadi aku lebih ceria.


"Ah, tidak apapa, aku hanya merasa lebih baik saja!" Aku mengambil piring dan sendok, lalu mengambil nasi dan lauk-pauk.


Setelah makan, kami berangkat ke sekolah. Teman-teman mengelilingiku, "Apa kau sudah sembuh? Kau sakit apa?" Kira-kira begitulah pertanyaan yang mereka lontarkan.


"Apa kita melewatkan sesuatu selama kita tidak masuk Ra?" tanya Lea was-was, aku hanya mengedikkan bahu, tidak tahu.


Aku menatap Zayn dan Farel dengan curiga, "Hei, kami tidak melakukan apapun! Mengapa kau menatap kami seperti itu?" jawab Farel.


Aku menghembuskan nafas, sebal. Aku yakin, pasti salah satu dari mereka telah melakukan sesuatu yang menarik perhatian, dan sekarang perasaanku tidak enak.


"Sudahlah, aku hanya takut sesuatu akan terjadi setelah ini Lea ..." Lea menatapku, "Apa maksudmu?" Aku menggeleng, "Lupakan!"


Kami memasuki ruang kelas, pelajaran dimulai. Sesekali Farel atau teman-teman yang lain meminjam alat tulisku, atau sebaliknya. Zayn terus menatapku dengan tatapan yang jahil.


Lea terus berusaha menggodaku saat dia mengetahui Zayn masih menatapku. Sungguh menyebalkan.


Pukul 09.50


"Baiklah anak-anak, jangan lupa tugas kerja kelompoknya. Dan sampai jumpa seminggu lagi." kata pak Revan, semua murid berhamburan keluar kelas.


Beliau memberi kami tugas kelompok. Untungnya, aku sekelompok dengan Lea, Farel dan Zayn. Masing-masing kelompok terdiri dari 8 anggota.


Aku, Seli, Farel, Zayn, Nesha, Vino, Erik, dan Pras, "Kalian mau makan apa gadis-gadis?" tanya Farel dengan nada mengejek, "Entahlah, aku nggak mood makan, kalian duluan saja ke kantin, nanti aku menyusul!" kataku.


"Hei, apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Farel, aku menggeleng, "Jika ada sesuatu yang terjadi, katakanlah pada kami. Mungkin kami bisa membantumu."


Aku menggeleng, lantas tersenyum, "Terima kasih Lea, tapi tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang tidak mood makan, aku akan menyusul kalian, segera ...."


"Baiklah, Ra sudah 16 tahun, Lea, dia bisa menjaga dirinya sendiri!" mereka meninggalkanku sendirian di dalam kelas.


Aku merenung, memikirkan segala pertanyaan yang melayang-layang di otakku. Mulai dari kematian orang tua Zayn, tante Shava, om Nuel, dan pasangannya menghilang kemana?


Klink!


Hero : Gadis, apa kau sudah mengetahui kisah nyatanya?


Hero : Tidak gadis, aku hanya ingin bertanya padamu. Mungkin saja kau bisa memberitahuku?


Aku : Tidak! Kau tidak boleh mengetahuinya, ini rahasiaku dan nenek! Tidak ada seorang pun yang boleh mengetahuinya!


Hero : Eh, baiklah, aku tidak akan memaksamu. Cepat makan, jangan merenung di kelas sendirian terus-menerus.


Aku : Baiklah ... Sampai nanti.


Hero : Ya, sampai nanti!


Aku membaca novel, kak Gabie menyiapkan bekal untukku. Jadi aku makan di kelas, "Neara, apa kau baik-baik saja?"


"Eh, aku tidak apapa Zayn ... Hanya saja, ada sesuatu yang masih menjadi pertanyaan untukku." jawabku, "Pertanyaan apa itu?"


Aku menggeleng, lebih baik aku tidak memberitahu Zayn soal tadi malam, "Tidak apapa, apa kau sudah makan?" tanyaku.


"Belum, aku tidak nafsu makan." jawab Zayn lesu, "Zayn, aku ingin bertanya, berjanjilah padaku, kau akan menjawabnya dengan jujur?" tanyaku.


Zayn mengangguk, menatapku dengan serius, "Hmph ... Jangan menatapku terlalu serius!" Aku menahan tawaku ketika melihat muka serius Zayn.


Aku menyelidik wajahnya, "Apa kau dan Farel mengatakan sesuatu yang membuatku menjadi pusat perhatian?" tebakku.


Zayn memalingkan mukanya dari tatapanku, "Zayn, kau sudah berjanji, ayolah, katakan yang sebenarnya! Aku akan marah jika kau tidak berbicara yang sebenarnya!" kataku.


Aku menyelidik Zayn sambil menghabiskan bekalku, "Baiklah, baik ... Iya, aku mengatakan sesuatu pada mereka. Farel tidak terlibat dalam hal ini!" Aku melotot.


Hampir saja aku tersedak telur, "Apa yang kau katakan Zayn?" tanyaku, "Emm—mereka slalu mengejarku, memberiku hadiah, memberiku bekal, mengejarku, ini, dan itu, terus-menerus tanpa hen—"


"Ssttt ... Biar aku menebaknya! Apa kau menjadikan perasaanmu kepadaku sebagai alasan, walau aku belum menjawabnya?" Zayn melotot, terkejut.


Aku kembali melotot, "Astaga, yang benar saja kau! Ini tidak lucu Zayn, mereka akan memburuku terus-menerus setelah ini!" Aku mengambil botol minum dari tas.


"Kau benar-benar sudah gila Zayn ... Setelah ini, bagaimana cara aku menghadapi beribu-ribu fansmu yang akan menyerangku?" aku meminum air dari botol itu.


"Tenang saja Ra, aku berada di sampingmu!" kata Zayn penuh percaya diri, "Jangan konyol! Setelah ini, aku akan terancam bahaya, dan kau masih penuh dengan rasa percaya dirimu itu?"


"Aku tidak bercanda Neara, siapa pun yang berani menyakitimu sedikit saja, dia akan babak belur di tenganku!"


"Sudahlah, makanlah ini ..." kataku, aku mengeluarkan kotak makan yang disiap kan kak Gabie khusus untuk Zayn.


Tadinya aku mengira, Zayn udah makan di kantin, ternyata belum, "Makanlah dengan cepat, sebentar lagi bel masuk kelas. Setelah makan, kembali ke mejamu, berikan kotak makannya padaku!"


Zayn mengambil garpu yang kuletakkan barusan, lalu menggunakannya untuk memakan bekalnya, "Zayn! Apa yang kau lakukan?" Zayn hanya mengedikkan bahu, aku menutup mukaku, malu.


Ini di sekolah, banyak murid dan guru yang memperhatikan, "Tenang, tidak ada siapa-siapa yang akan mengetahuinya! Dan terima kasih untuk bekalnya!"


"Bukan aku yang menyiapkan bekal, seharusnya kau berterima kasih pada kak Gabie!" Zayn mengangguk-ngangguk.


Klink!


Lea : Hei, Nona Neara, mengapa kau lama sekali? Apa terjadi sesuatu yang buruk padamu?


Aku : Berhentilah memanggilku nona! Aku sedang makan bekalku di kelas.


Lea : Apa kau sendirian? Itu sungguh berbahaya, jika kau dalam masalah bagaimana?


Aku : Tidak akan Lea, Zayn menemaniku makan di kelas, kau tenang saja ... Selesaikan makanmu, dan cepat kembali ke kelas, bel masuk sebentar lagi bunyi.


Bersambung ....