You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 42



Aku tersenyum menatap Lea dan Luna, "Kami memiliki rah—" Aku menutup mulut Lea, lalu tersenyum, "Karna kami sudah terbiasa bangun pagi!" Hah, alasan konyol yang kubuat.


"Sudahlah, mari di lanjutkan, agar semuanya tidak terkena hukuman ..." kata Zayn, dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


Kami kembali berlari, namun bedanya, kecepatan kami bertambah, karna sudah tidak ada banyak waktu lagi.


***


Kami sampai tepat waktu, tidak, jika kami terlambat 3 detik saja, kami sudah dihukum setelah sekolah.


"Huh ... Baru begitu saja sudah lelah!" ejek Oppy, huh, memangnya dia sudah pernah melakukan ini? Hah, tentu saja, jika aku langsung mengatakannya, pasti dia akan menjawab dengan angkuhnya, bahwa dia sudah sering melakukan ini!


"Anak-anak, minumlah dulu ..." kata Mam, aku mengambil tiga botol yang telah disediakan Mam. Aku memberikannya pada Luna dan Lea.


Mam tersenyum, beda sekali dengan Oppy. Dia cemberut terus dari tadi, aku menatap Zayn dan Farel. Mereka lebih lelah daripada aku, Lea, dan Luna.


Kami masih istirahat dengan cukup, sedangkan mereka tidak. Sungguh malang, kan nasib mereka? Hehehe ....


"Cepat bangun!" Kami segera meletakkan botol kami ditempat semula. Kemudian kembali ketempat semula saat kami duduk tadi.


"Setelah ini, kalian harus melatih gerakan bela diri kalian! Memperkuat pukulan kalian! Tendangan! Pertahanan! Dan kuda-kuda! Mengerti?"


"Mengerti!" Semua menjawab, kecuali aku, aku hanya menjawabnya dengan gerakan bibirku.


Kami kembali latihan, huh, sungguh melelahkan. Kami melatih pukulan kami dengan samsak tinju, begitu pula tendangan.


Buak! Bukk!


Tanganku terasa kesemutan, aku menatap Lea, dia juga kelelahan. Begitu pula Zayn, Farel, dan Luna, bedanya, Zayn terlihat sedikit lebih kuat memukulnya, seperti sedang melepaskan seluruh emosinya disana.


"Ayo, gerakkan tubuh kalian dengan benar! Jangan lemah!" teriak Oppy, "Kepalkan tangan kalian dengan benar! Dan pertahanan kaki harus kuat! Fokus!" tambah Mam.


Auh ... kenapa Mam sama Oppy kalo latihan sama aja sifatnya?


"Lihat, begitu saja kakimu sudah sakit, ayo! Yang lain! Perhatikan kaki kalian! Kaki harus kuat!" teriak Mam, "Lea! Kepalkan tanganmu dengan benar!"


"Luna, kamu harus mengepalkan tangan dengan benar, ketika mau meninju, jangan terlalu jauh dengan sasaran ... mulai lengan atas, sampai pergelangan tangan, posisi harus lurus ketika hendak meninju!"


***


"Baiklah, kalian boleh istirahat ... terserah mau ngapain, toh, kalian berangkat sekolahnya masih lama, kan?" kata Oppy, "Besok, kalian harus menunjukan hasil yang lebih memuaskan lagi."


"Lea, jangan lupa dengan kepalan tangan, dan pertahankan posisi kuda-kudamu, itu sudah bagus ...."


"Farel, masa kamu mau kalah sama Lea? Kuda-kudamu terlalu lemah. Luna, untuk anak seusiamu, itu sudah terbilang cukup bagus ...."


"Zayn, kamu sudah sempurna, pertahankan semua itu ..." Huh, tentu saja Zayn hebat, dia kan memang pintar dalam segala hal!


"Neara, posisi kaki, dan kuda-kudamu harus diperkuat!" Aku


hanya menunduk, menunggu kata-kata selanjutnya,


"Saya harap, jika ada waktu luang, kalian bisa berlatih sendiri ..." kata Mam.


"Sudah, silahkan istirahat, jangan lupa melakukan


tugas kalian yang kemarin diberikan Erna." Kita mengangguk,


habis itu masuk ke kamar masing-masing.


Aku rebahan di atas kasur, Luna ngambil minum di dapur,


Lea lagi siap-siap mau mandi. Aku nge-cek HP, oke,


sekarang masih jam setengah empat, lebih.


"Kamu mau mandi sekarang, Lea?" tanyaku menatap Lea, "Iya, memangnya kenapa?" Aku menggeleng,


"Nggak, cuman ini kan masih jam setengah empat lebih,


masa kamu udah mau mandi ..."


Lea mengacuhkanku, dia tetap masuk ke kamar mandi,


sekarang aku mau ngapain ya? Aku mengambil


buku diary-ku, menyobek selembar kertas.


Aku mulai memikirkan jadwal untukku dan teman-temanku.


Bagaimana aku membuat jadwalnya agar padat?


Sekolah kami saja sudah mulai padat, dengan


adanya ini dan itu.


Ceklek!


"Kak Lea mana?" tanya Luna, "Lea lagi mandi, tuh. Kamu juga mau mandi sekarang?"


Luna menggeleng, "Teko sama gelasnya aku taruh


atas meja ya ... kalau mau minum air, dari situ aja. Kalau


habis, kita bisa menyuruh kak Zayn atau kak Farel!" kata Luna, aku terkekeh.


Apa mereka berdua mau, jika kami menyuruh-


nyuruh mereka? Hahaha, pertanyaan konyol,


tentu saja mereka tidak


mau. Mereka pasti akan menggerutu yang tidak-tidak.


"Kakak lagi nulis apa?" tanya Luna yang udah pegang


selama kita disini ..." jawabku. Luna mengangguk-


ngangguk, sebenarnya cukup sulit juga mengatur jadwal


untuk kami.


Kring! Kring! Kring!


"Halo, ada apa, Kak?" tanyaku setelah mengangkat


telfon dari kak Frida, "Bilang sama Mam, aku mau ketemu sama


kalian sebentar aja, ada yang mau aku omongin."


kata kak Frida, "Yaudah, nanti aku minta izin sama Mam, sebentar lagi aku sama yang lain turun."


"Yaudah, kakak tunggu!" Kak Frida matiin telfonnya.


Lea keluar dari kamar mandi, "Lea, kamu cepetan ganti


baju ya, kak Frida mau ketemu sama kita. Aku mau minta izin


sama Mam dulu, aku tunggu di ruang tengah."


Aku menghampiri


Madam di ruangan beliau, lalu mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk ..." Ketika mendengar kata itu, aku membuka


pintu perlahan, ternyata ada Oppy juga, "Ada apa, Neara?" tanya Mam, tanpa mengalihkan


perhatiannya sedikitpun dari kertas-kertas di hadapannya.


Oppy melihatku dengan tatapan tajam, astaga,


kesalahan apa lagi yang telah kuperbuat kali ini, dengannya?


Aku menelan ludah, "Maaf mengganggu, apa boleh,


aku dan teman-teman menemui kak Frida sebentar?


Kata kak Frida, ada yang mau di omongin ..." kataku ragu-ragu.


"Baiklah, kuberi waktu sepuluh menit." Aku menganggukan


kepala, lalu menunduk, "Terima kasih, Mam!"


kataku, aku henda berbalik, hingga Mam menghentikanku.


"Sebentar, apa kau sudah mengatur jadwal untuk kalian semua?"


"Maaf, aku belum selesai membuatnya, aku sedang mengaturnya


sekarang ..." Mam mengangguk-ngangguk, lengang sejenak.


Aku menarik nafas, "Maaf, apa aku sudah boleh pergi sekarang?" tanyaku.


"Cih, siapa juga yang melarang kamu pergi!ĺ jawab Oppy


ketus, aku mengepalkan tanganku, astaga, ada apalagi dengan dia? Apa dulu dia punya


dendam pribadi dengan bunda?


Aku segera keluar dari ruangan itu, Lea dan yang lain


sudah menungguku. Kami keluar menemui kak Frida.


"Lho, kok Zayn sama Farel ikut?" tanya kak Frida, aku


menatap mereka berdua, "Kan kata Kakak, Kakak mau


ketemu sama kita, yaudah, mereka juga ikut kesini lah!"


Kak Frida menepuk jidat, "Nggak gitu juga, Dek, yang aku


maksud 'kita' itu, kamu, Luna, sama Lea."


"Ah, udah lah, lupakan! Kakak kesini mau ngomong apa?"


tanyaku, kak Frida menggeleng-geleng, "Ada-ada


saja kamu ..." Yah, dia nya masih bahas yang tadi, dong.


Terus kapan kita masuknya?


"Kak, kalo


Kakak nggak ngomong-ngomong, waktu kita buat izin


habis, nanti kita semua kena hukuman!" kataku.


"Ok, ok, aku ngomong sekarang." kata kak Frida, ok,


aku menunggu kalimat selanjutnya. Kak Frida ngeluarin


sesuatu dari dalam tas nya. Lama amat, sih, kak Frida


nyari sesuatu, atau lupa bawa sesuatu?


Bersambung ....