
"Hahaha ... Baiklah, angkat air panasmu dulu, buatkan cokelat hangat, dan aku akan memulai ceritanya." Aku kembali ke dapur, dan membuat cokelat hangat untukku dan nenek.
"Silahkan, Nek ..." kataku, nenek tersenyum, "Terima kasih ... Apa kau sudah siap mendengarkan cerita dariku?" aku mengangguk mantap.
( Kali ini, yang cerita nenek ya, bukan aku. Inget lho ya, yang cerita nenek, bukan aku! )
Keluarga kami adalah keluarga yang cukup berada dan berpengaruh di kota ini, Aidan membuat perusahaannya sendiri, dia berusaha cukup keras.
Tidak mudah membuat perusahaan itu tetap berdiri secara lancar. Pasti ada musuh, masalah, dan lain sebagainya. Tapi dia tidak pernah menyerah, dia berusaha membangkitkan perusahaan kami yang beberapa kali sempat hancur.
Kau dapat memanggilnya kakek. Keluarga nya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Kakek adalah anak pertama dari tiga bersaudara, semenjak umur 12 tahun, kakek sudah menjadi tulang punggung bagi keluarganya.
Di umurnya yang masih terbilang cukup muda, dia sudah menjadi pekerja keras yang mempunyai tekad cukup besar untuk menafkahi keluarganya. Atau, dia itu dewasa sebelum waktunya.
Ayahnya, kakek buyut Zayn, beliau telah meninggal dunia ketika Aidan berumur 11 tahun. Keluarganya sangat terpukul, ibunya mulai mengalami depresi, dan berhenti mengurus anak-anaknya, termasuk kakek.
Mereka kelaparan hingga beberapa bulan, dia berusaha mencari pekerjaan, atau bahkan dia bisa mencari sisa-sisa makanan untuk dua saudara dan ibunya.
Dia hanya mendapatkan sisa makanan yang cukup untuk saudara dan ibunya. Dia jarang sekali makan, makan pun hanya jika benar-benar sudah tidak bisa menahan lapar lebih lama lagi.
Aku dan Aidan bertemu ketika dia berumur 14 tahun, saat itu, keadaannya masih sama, mengenaskan, buruk. Keluargaku juga tidak bisa dibilang keluarga yang berada, tapi setidaknya kami masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Aku memulai pertemanan yang sederhana dengan nya, kami slalu bertemu ketika sore hari, dan berpisah ketika menjelang malam.
Dia nampak lebih ceria dari pada pertama kali saat aku melihatnya. Dia slalu tersenyum, senyum yang sangat tulus slalu terpancar di mukanya. Kami merasa memiliki satu sama lain, kami akan berbagi setiap cerita yang kami alami.
Kami sudah remaja, tentu saja itu bukan hal yang biasa. Bahkan orang-orang di sekitar kami sudah berpikir, bahwa kami adalah sepasang kekasih.
Terkadang kami bingung dan salah tingkah, terkadang juga kami tertawa mendengar perkataan orang-orang yang berada di sekitar kami.
Hingga pada akhirnya, aku baru menyadari, bahwa kami memang benar-benar saling jatuh cinta. Seperti kisah cinta lainnya, kakekmu membuat janji denganku.
"*Sasha, aku berjanji padamu, suatu hari nanti, aku akan menikahimu dan memberimu kehidupan yang layak!"
**S**asha (panggilan kesayangan)\= Yisha (nama asli*)
"Aha, apakah itu benar? Apakah kau sungguhan dengan ucapanmu?" Saat itu, aku hanyalah gadis remaja yang slalu dimanja oleh kedua orang tuaku.
Aku tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan laki-laki manapun, kecuali bersama dengan kakekmu. Itu adalah masa-masa yang sulit untuk kulupakan, kenangan yang sangat indah berhasil di ciptakan oleh kakekmu.
"Tentu saja! Apa kau mau memegang janjiku?" Kami sama-sama berjanji satu sama lain, agar di masa yang akan datang, dan di kehidupan selanjutnya, kami tetap akan bersama, dan tidak akan berpisah apapun yang terjadi.
Hari-hari biasa kami lewati dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan. Aku adalah anak tunggal, wajar saja jika aku di manja. Namun kakekmu mengajarkan kepadaku, "Walau kamu di manja, bukan berarti kamu akan slalu memanfaatkan situasi ini!"
"Namun dengan cara bekerja keras untuk mendapat hasil yang kamu inginkan ... Apa kau mengerti Sasha?" Itu lah kata-katanya yang berhasil membuat hatiku terkesan dengan dia.
Semakin hari, depresi ibunya semakin buruk, dia mulai 'menggila'. Aidan dan adik-adiknya mulai dipukuli, dilempar menggunakan pisau, dan lain sebagainya.
Adik-adiknya yang memang kebetulan masih dibawah umur 10 tahun terus menangis. Sebagai tulang punggung keluarga, kakekmu berusaha menenangkan adik-adiknya.
Berusaha membuat adik-adiknya tidak membenci ibunya. Dia terus berusaha tersenyum di depan mereka, walau dibalik semua itu, dia juga menyimpan rasa sakit yang luar biasa.
Tapi dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun, dia hanya mengatakannya padaku, dia menangis di depanku, dia mencurahkan seluruh isi hatinya kepadaku.
Di hadapanku, dia menjadi laki-laki yang memiliki banyak masalah dan beban yang harus ditanggung. Namun, di hadapan keluarganya, dia menjadi laki-laki tangguh, kuat, tanpa masalah, dan beban yang sedikit.
"Aidan, kau jangan menangis di hadapanku, aku tidak tega melihatmu ... Lagi pula, kau punya janji dengaku, jika kau berhasil menepatinya, kau bisa menyembuhkan ibumu juga."
Aku sungguh ingat betul dengan senyumnya yang paling tulus dan tekad nya yang kuat. Kami kembali bersenang-senang, kami tidak terlalu memusingkan persoalan itu lagi.
Walau aku tau, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih memikirkan persoalan itu. Tidak mudah baginya untuk menanggung beban yang seharusnya belum dia tanggung.
Dia adalah tipe lelaki yang pekerja keras, dan cukup tangguh jika kau bertanya padaku. Aku sangat beruntung memilikinya, sangat sulit menemukan pria sepertinya.
Semua wanita slalu mengatakan, "Di dunia bagian manakah yang masih tersisa pria seperti itu?" Mereka akan bertanya seperti itu ketika mengetahui betapa beruntungnya aku mendapatkan lelaki sepertinya.
Singkat cerita, dia melamarku ketika aku berumur 20 tahun, saat itu, dia sedang memulai bisnis nya. Orang tuaku sempat menolak, melihat kondisi keuangan nya yang buruk, dan keadaan ibunya.
Aku terus berusaha membujuk orang tuaku, sebenarnya, yang tidak setuju itu ayahku, bundaku bisa mengerti perasaan kakekmu dan aku Ra.
Orang tuaku pernah berkata, "Jangan pernah menilai orang dari penampilannya, yang harus kau nilai adalah hati dan sikapnya!" Aku menggunakan alasan itu untuk membujuk ayahku.
Menggunakan alasan seperti itu hampir tidak berhasil, tapi aku terus membujuknya, hingga ayahku menerima lamaran Aidan dengan hati yang ikhlas dan tulus.
Kami menikah di umur 21 tahun, aku menemaninya merintis usaha dari nol hingga sekarang. Dia berhasil mewujudkan impiannya, dia berhasil membuktikan janjinya. Dia berhasil membuat kehidupan keluarganya lebih baik dan layak.
Saat itu, perusahaannya tidak seberhasil sekarang, itu hanyalah bisnis kecil-kecilan. Tapi dia tidak menyerah, dia terus berusaha mengembangkan usahanya sambil menafkahi seluruh kebutuhan keluarga.
Dia berhasil menabung setiap bulan untuk mengobati ibunya. Kebutuhan sehari-hari kami tercukupi, walau jauh dari kata 'kaya raya'.
Aku mengandung putra pertamaku 5 bulan setelah menikah. Suka cita dan kebahagiaan datang di rumah kami, bayi itu membawa aura yang hangat bersamanya.
Aku dan Aidan memberinya nama Reynan Dirgantara, Rey. Dan saat itu pula, kakekmu semakin giat bekerja dan semangat dalam mengembangkan perusahaannya.
Bersambung ....