
"Saya akan menantikan nya, sungguh ... Saya sangat-sangatlah tidak sabar menunggu masalah datang, karna masalah yang menghindari saya, bukan saya yang menghindari masalah ...."
Mereka pulang dengan mobil mewah mereka, aku tersenyum puas, "Kamu sangat hebat tadi Ra! Aku sampai tidak bisa mengenalimu!"
Aku hanya tersenyum kecut, "Baiklah, apa kamu mau membantuku memasak atau tidak?" Lea menggeleng.
"Soalnya kamu itu calon mena—" yaku langsung nutup mulut Lea, "Udah deh, jangan aneh-aneh, aku nggak ... Nggak ada rencana buat jadi calon menantu keluarga mereka!"
Lea menyikut lenganku, lalu tersenyum jahil, "Nggak ada rencana, apa belum ada rencana?" Aku melotot.
"Sudahlah, jangan membahasnya lagi! Sekarang kamu mau ngapain selama aku masak?" Lea mengerutkan kening.
"Hm ... Mungkin aku mau baca beberapa novel sama komikmu?" Aku mengangguk, lalu mengikat rambutku yang tergerai.
"Baiklah, selamat bersenang-senang Nona muda ..." kataku, Lea naik ke kamarku, aku segera membuat makanan.
13 menit kemudian ....
Tok! Tok! Tok!
"Sebentar!" Untung saja sekarang aku lagi nunggu nasi mateng, beberapa lauk siap, sama lagi motong sayur.
Aku membukakan pintu, "Eh, kamu, kok dateng tiba-tiba?" Hero yang dateng, "Silahkan masuk ..." kataku.
"Kamu lagi masak?" Aku mengangguk, "Masak apa?" tanya Hero, "Aku masak bubur, ayam kecap, sama salad kenapa?"
"Nggak, aku cuman mau nanya aja. Emang kamu masak buat siapa?" tanya Hero, "Aku masak buat nenek sama kak Keli!" Hero mengangguk-ngangguk.
"Kenapa sekarang kamu sering ngelihatin diri kamu ke aku? m" tanyaku heran, "Eh, ada lah pokoknya! Mau aku bantu?"
"Nggak usah, makasih ... Kamu kesini ada urusan apa?" kataku menyelidik, "Aku ... Mau menagih janjimu!"
"Oh, janji yang waktu ulang tahunku?" aku baru ingat janjiku yang itu, Hero mengangguk, "Memangnya, apa yang kamu inginkan?"
"Tidak banyak, aku hanya ingin jalan bersamamu ke mall, boleh?" tanya Hero, "Eh, tentu saja, tapi setelah aku kembali dari rumah sakit ya?"
"Aku harus menjenguk kak Keli sama nenek." Hero mengangguk, "Baik, sampai jumpa pukul satu siang gadis."
Hero pulang, aku mengantarnya hingga ke luar dari halaman rumahku, aku kembali melanjutkan memasak.
Tok! Tok! Tok!
Astaga! Banyak banget yang dateng ke rumahku hari ini! Aku membukakan pintu, "Eh, maaf, mas nya nyari siapa ya?" Ada kurir, dia bawa buket bunga dan kue red velvet.
"Apa betul ini rumah nona Rossiana Gabriella Jaendra?" Aku mengangguk, semenjak ayahku meninggal dunia, rumah ini menjadi atas nama kak Gabie.
"Baik, tolong tanda tangan disini." kata kurir tadi, "Maaf mas, setahu saya, kakak saya nggak pesen paket apapun, ini dari siapa ya?"
"Oh, ini dari tuan Dion untuk nona Gabriella ..." Aku tanda tangan, "Terima kasih ya mas ..." Aku masuk.
Pukul 11.45
"Apa kamu sudah selesai siap-siapnya Ra?" aku mengangguk, "Baiklah, sebentar lagi mobil ojol nya dateng. Masakanmu udah dibawa?" sekali lagi aku mengangguk.
"Halo, Kak, tadi aku nerima kiriman paket buat kakak, dari kak Dion ..." Aku menelfon kak Gabie, "Oh, apa isinya?"
"Buket bunga sama kue kesukaannya, kak Gabie, aku taruh di lemari es ..." kataku, "Kamu makan aja deh, Dek, atau diapain gitu, kakak nggak mau nerima!"
"Lha, terus buket bunganya gimana?" tanyaku lagi, "Buang aja, atau kamu kasih ke orang!" aku tersenyum.
"Hayoloh, kasihan kak Dion lho, Kak, masa cintanya ditolak ..." godaku, "Udah, jangan menggoda kakak lagi! Kamu mau kemana?" Kak Gabie marah.
Aku terkekeh, "Aku mau bawain makan siang buat kak Keli, nenek, sama yang lain ..." jawabku, "Neara! Cepat, mobil nya udah dateng!" Aku mengangguk.
"Udah dulu ya, Kak, mobil ojolnya udah sampe!" kataku, "Iya, hati-hati ya ..." Aku matiin telfonnya.
"Permisi ..." Aku udah sampe di kamar kak Keli, "Eh, kamu ngapain kesini Ra?" kak Keli duduk, "Aku buatin makan siang buat Kakak sama nenek!"
"Habis ini, aku mau nganterin makanan ke nenek juga." Aku membuka rantang untuk kak Keli, "Terima kasih!" aku mengangguk.
"Aku ke kamar nenek dulu ya, Kak?" Kak Keli mengangguk, Lea yang nemenin kak Keli, aku keluar, ke kamar nenek.
"Permisi, Nek ..." kataku, "Eh, masuk Ra." Aku duduk di samping nenek, "Nek, aku buatin makan siang buat nenek, dimakan ya?"
"Neara, apa tadi kamu kedatangan kamu dari keluarga angkat Aidan?" Eh, aku mengangguk, "Kenapa, Nek?" Nenek menggeleng, lantas meraih tanganku.
"Apa mereka melakukan sesuatu padamu? Apa mereka menyakitimu? Apa mereka mengancamu?" Aku menggeleng sekali lagi.
Lebih baik aku tidak memberitahukan soal ancaman dari keluarga itu, aku takut itu akan membuat keadaan nenek kembali memburuk.
"Jika ada sesuatu yang mengancamu, katakanlah padaku atau Zayn." Aku mengangguk, "Ayo nek, dimakan!"
Pukul 12.52
Aku masih di rumah sakit, masih nunggu nenek selesai ngajak ngobrol. Aku nggak enak kalau harus menyela omongan nenek.
Nenek menatapku, "Kamu kenapa, Nak?" aku menggeleng, "Tapi jika kamu tidak kenapa-napa, kenapa kamu terlihat sangat kikuk, dan kayak nunggu sesuatu?"
"Eh, gini nek—anu, aduh, gimana y—" Aku bingung mau jelasinnya, "Nenek! Nenek apa kabar? Eh, ada kak Neara, halo kak!" Tiba-tiba Emma dateng.
Aku senyum, "Kamu ini, kamu tadi baru saja menjenguk nenek, masa udah lupa lagi sama kabar nenek?" kata nenek, "Hahaha ... Baiklah, baiklah, maafkan aku!"
Emma mengedipkan sebelah matanya, "Nenek, aku yang temanin nenek ya ... Aku masih mau ngobrol sama nenek!"
"Nek, Neara pulang dulu ya?" Nenek mengangguk, "Hati-hati ya, Nak ..." Aku keluar, "Astaga Lea!" Lea ada di depan pintu waktu aku buka pintu, aku jadi kaget.
"Kamu ngapain disini?" tanyaku, "Gimana, nenek curiga nggak?" Aku mengerutkan kening, heran, "Maksudmu apa Lea?"
"Aku tau, kamu ada janji kan sama Hero sebentar lagi, tapi kamu juga nggak enak motong obrolan nenek, jadi aku minta tolong sama Emma!"
"Eh, kamu tau?" Lea mengangguk, aku melingkarkan tanganku dilehernya, "Terima kasih Lea!" Lalu mencium pipinya.
"Ih, geli! Jangan lakuin hal itu lagi sama aku!" kata Lea, aku terkekeh, "Aku sudah minta Farel memesankan mobil ojol, kamu tinggal nunggu di depan, atas nama Farel." Aku mengangguk.
"Makasih sekali lagi ya! Sampai nanti!" kataku berlari menyusuri koridor.
Pukul 01.28
Aku : Hero, kamu dimana?
Hero : Kita akan bertemu di lobby, apa kamu sudah sampai gadis?
Aku : Tentu, sekarang aku arah ke lobby ...
Hero : Baiklah, hati-hati!
Aku memasukan HP-ku ke dalam tas, lalu kembali berlari ke arah lobby, aku melihat seseorang melambaikan tangan ke arahku.
"Heh, terlambat 30 menit gadis?" Aku mengangguk, "Maafkan aku Hero, tadi ada sedikit masalah ...."
"Baiklah, mari kita lupakan. Sekarang, kamu mau kemana?" tanya Hero, "Eh, kan kamu yang ngajakin, kenapa jadi tanya aku?"
"Es krim?" mataku membulat, aku memang sangat suka dengan es krim. Hero menarik tanganku, menggenggamnya, memasukkan genggaman tangan kami, di saku hoodie miliknya.
Aku menatap Hero, dia balik menatapku, aku tersenyum. Aku merasa nyaman, jadi aku tidak marah atau melepaskan genggaman nya.
Bersambung ....