
Aku berdiri, mengamati pintu kamar yang sedang tertutup, anak-anak sedang bermain. Aku mendekat, berusaha mendengar pembicaraan mereka.
"... Aku sudah tidak percaya lagi dengan orang asing!" Samar-samar aku mendengar teriakan dari kamar tersebut, "Kak, aku yakin, kak Neara bukan orang asing yang sama!"
"... Neara adalah gadis baik, Bunda dapat mengetahui itu, kejadian 21 tahun yang lalu, atau 12 tahun yang lalu tidak akan terulang!" Aku mendengar suara Bunda.
Aku yakin, yang sebelumnya adalah Syila dan Reina, "Tidak! Aku tidak mau kehilangan yang lain, cukup kehilangan Elle dan Luna saja sudah memberiku sakit!"
Elle? Siapa Elle itu? Dan apa yang dimaksud Luna itu, Luna anak yang tadi aku temukan? Terlalu banyak teka-teki yang harus kupecahkan dalam hidup ini.
"Kak, coba perhatikan kak Neara, dia terlihat seperti gadis biasa yang baik hati, kau tidak bisa tidak percaya padanya, hanya karna kejadian itu!"
Sebenarnya apa yang terjadi disini? Aku kembali bergabung dengan anak-anak panti, "Adek-adek, kakak pulang dulu ya, tolong sampaikan terima kasih kepada Bunda ...."
"Kakak mau kemana?" tanya salah satu dari mereka, "Kakak mau pulang sayang, kakak mau lanjut mencari saudara kakak yang hilang di luar sana." jawabku.
Aku segera keluar dari panti asuhan tersebut, kembali berjalan tanpa arah. Entah kemana lagi aku harus mencari kak Gabie.
Bukk!
"Auh ..." Aku tersandung oleh batu, aku memegangi lututku yang berdarah, lalu memijat pergelanganku yang sakit.
Aku menatap langit yang masih hujan, "Hujan, apa setelah ini, kau akan membawa kabar duka untukku?"
"Atau turunnya kau ke bumi ini karna kau merasakan apa yang kurasakan?" Aku masih memijat pergelangan kakiku.
Aku kembali berjalan, berjalan dengan kaki yang terpincang-pincang, tubuhku sudah tidak selemah tadi.
Tapi kepalaku masih pusing, aku terus berjalan, entah kemana arahku berjalan sekarang. Aku hanya ingin menemukan kak Gabie secepat mungkin.
Tin! Tinn!!
"Dek! Awas!" Suara kak Gabie, aku menoleh, kak Gabie, senyumku merekah, senangnya aku dapat menemukan kak Gabie.
Kak Gabie memelukku, dia berputar, memelukku dengan erat, aku balas memeluknya, aku senang, sangat senang bertemu dengan kak Gabie.
Brukkk!
Rasa senangku tergantikan oleh rasa takut, cemas, merasa bersalah, dan lain sebagainya. Kak Gabie terkulai lemas di pelukanku, aku tersungkur di jalanan.
Aku menatap kak Gabie, air mataku menggenang, aku menggeleng, "Tidak ... Kak! Kakak! Bangunlah! Kau sangat menyebalkan!"
"Ini tidak lucu! Jika kau mau mengerjaiku, jangan seperti ini! Sungguh, ini tidak lucu Kak! Ini tidak pantas disebut lelucon!"
Aku terus mengguncang-guncangkan tubuh kak Gabie, kepala bagian belakang kak Gabie memang tidak berdarah, tapi aku yakin, pasti ada sesuatu.
Orang-orang mulai memadati sekitarku, berbisik-bisik melihat keadaanku dan kak Gabie, aku terus menangis, aku menatap langit.
"Hujan! Mengapa kau membawa berita duka untukku? Apa kau ingin aku merasakan kepedihan beberapa tahun lalu yang sudah aku rasakan?"
Aku memeluk tubuh kak Gabie, "Huhuhu ... Kak, kumohon, bangunlah ... Bangunlah ... Bangunlah Kak!" Percuma, kak Gabie tidak membuka matanya.
Aku melihat, ada yang menerobos masuk ke kerumunan di sekitarku, "Neara!" Zayn, Lea, Farel, dan Luna, aku menatap mereka dengan tatapan sedih.
Mereka berlari ke arahku, Lena dan Luna memelukku, Zayn dan Farel membawa tubuh kak Gabie masuk ke dalam mobil Zayn.
Lea dan Luna membantuku berdiri, lalu memapahku berjalan. Kami berangkat ke rumah sakit, selama perjalanan, air mataku terus-menerus menetes.
Kami membawa kak Gabie ke ruang ICU, aku masih meluk Lea, aku menangis dalam pelukannya, "Lea ... Aku nggak mau ..." Lea menatapku.
"Nggak mau apa Ra?" Aku menggeleng, "... Aku nggak mau kehilangan keluargaku lagi! Aku sayang sama kak Gabie, udah nggak apa aku tengkar setiap hari sama kak Gabie ..."
"Hmph ... Dari pada ... Kak Gabie menghilang dari kehidupanku!" aku terus menangis, "Anak-anak!" Itu suara nenek, nenek duduk diatas kursi roda yang didorong sama Emma.
Aku berlari kearah nenek, lalu menangis dalam pangkuannya, nenek mengelus kepalaku, "Kamu kuat ya Ra ... Nenek yakin, kamu gadis yang kuat!"
"Kak, Kakak jangan nangis terus, aku nggak mau ngelihat Kakak nangis terus ..." kata Luna, aku masih menangis, perasaanku sekarang sedang rapuh.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya tuhan yang tau, "Gimana keadaan kak Gabie, Kak?" tanya Emma.
"Kak Gabie masih dalam status darurat, tadi, waktu dateng, Neara langsung disuruh menandatangani persetujuan operasi." jawab Zayn.
"Neara, bersabarlah, kau tidak boleh sedih terus-menerus, bajumu juga masih basah, ayo, nenek antar pulang, untuk mengganti bajumu ..." Aku menggeleng.
"Nggak, Nek ... Nggak, aku nggak mau meninggalkan tempat ini sebelum mendapat kabar tentang kak Gabie!" kataku.
"Gimana? Keadaan Gabie udah membaik?" tiba-tiba, kak Dion, kak Frida, sama kak Ola dateng, semua orang menatap mereka dengan tatapan cemas.
Kak Frida dan kak Ola mendekatiku, "Neara, semoga kakakmu cepat sembuh ya ..." kata kak Frida, "Dek, maafkan aku ya ... Seharusnya aku tidak menyembunyikan keberadaan Gabie ...."
Aku menatap kak Ola, seolah tak percaya dengan apa yang dia katakan, aku berdiri, "Maksud kakak?" ulangku, "Kakak—Gabie ada di rumahku tadi, sewaktu kalian mencarinya ke rumahku ...."
Aku menggeleng, tatapanku berubah menjadi tatapan kecewa sekaligus marah, "Mau kakak tuh apa? Buat apa coba, nyembunyiin keberadaan kakak aku sendiri?"
"Sekaramg kak Gabie Kritis Kak, kak Gabie masih dalam status darurat! Dia keluarga Neara satu-satunya!" Aku jongkok di lantai, menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku.
"Iya, Dek, kakak tau, kakak minta ma—" aku menggeleng, "Cuman kak Gabie ... Sekali lagi aku katakan! Cuman kak Gabie keluarga Neara yang tersisa sekarang!" teriakku, Lea merangkul bahuku, menenangkanku.
"Cuman kak Gabie, Kak ... Kakak ngerti kan rasanya? Kak Gabie itu, satu-satunya kakakku, Kak, satu-satunya keluargaku yang masih hidup.!"
"Aku nggak tau harus gimana kalau kak Gabie udah nggak didunia ini lagi ... Apa yang harus kulakukan kak? Apa?" Lea terus menenangkanku.
"Sabar Ra ..." kata Lea, "Maafkan kakak, Neara ... Kakak nggak tau kalau akibatnya kayak gini!" Aku menarik nafas, "Maaf, Kak, maaf udah bentak Kakak, aku lagi emosional sekarang, nggak bisa ngatur emosiku sendiri ...."
Aku bangkit, lalu duduk di kursi tunggu, aku terus menutupo wajahku dengan kedua telapak tanganku. Berusaha untuk berpikir positif.
Ceklek!
"Permisi! Siapa nona Neara dan nona Lea, tolong segera masuk, pasien ingin membicarakan sesuatu!" aku segera berdiri, menatap Lea.
Kami masuk, kak Gabie terbaring lemas diatas kasur, dengan belasan alat yang menempel pada tubuhnya. Aku mendekati kak Gabie, kak Gabie tersenyum.
Aku menggenggam tangannya, lalu mencium punggung tangannya, "... Adekku, Neara ..." Aku mengangguk, "Kakak nggak apapa kan? Kakak sehat kan?"
Kak Gabie kembali tersenyum, "Bodoh, nggak ada makhluk hidup yang akan hidup di dunia ini untuk selamanya, mereka pasti akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya suatu hari nanti ...."
Aku menggeleng, "Nggak, Kakak nggak boleh ninggalin Neara, nanti aku marah lho!" kataku, "Hehehe ... Kakak cuman mau nyampein beberapa pesan."
"Ini juga berlaku untukmu Lea ..." Lea ikut mendekat, "... Adekku, kakak punya beberapa kabar untuk kamu ... Ada kabar baik, dan kabar buruk, kamu mau mendengar yang mana dulu?"
Aku menggeleng, "Terserah ... Terserah Kakak mau menyampaikan yang mana dulu ... Aku menurut saja," kataku.
Bersambung ....