
"Zayn, walau aku tidak tau apa yang kau lakukan hingga larut malam, kau tetap harus menjaga kesehatan dirimu. Setidaknya demi dirimu sendiri, atau orang yang kau cintai!"
Zayn menatapku, "Apa? Kenapa kau menatapku?" aku melotot, habis sudah kesabaranku, "Aku begadang untuk orang yang kucintai Ra." aku semakin melotot.
"Siapa orangnya? Dan mengapa kau begadang? Jelaskan semuanya padaku Zayn! Astaga, apa kau telah di butakan oleh mantra cinta?" entah kenapa rasanya aku cemburu ketika mendengar kalimat Zayn.
"Kau. Kau akan segera mengetahuinya gadis. Semua ini kulakukan demimu Ra ..." Jantungku berdebar semakin kencang, "Zayn, aku serius, jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda Ra, kau adalah orang yang kucintai, kau adalah orang yang berhasil melelehkan seluruh es di hatiku. Aku melakukannya demi kamu, aku begadang juga demi kamu Ra." Suaranya terdengar serius.
"Zayn, minumlah obatnya, lalu istirahatlah, aku akan menjagamu. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil aku." Aku membereskan piring dan gelas milik Zayn.
Aku keluar, Lea dan Farel sedang membuat sesuatu, "Kalian sedang membuat apa?" tanyaku, "Oh, hari ini, biar kami saja yang membuatkan camilan, kamu istirahat saja Ra." kata Lea.
Pukul 00.40
Lea dan Farel sudah tidur dari tiga jam yang lalu. Aku masih terjaga, aku terus mengganti air kompresan milik Zayn, aku harus terus menjaganya.
Aku duduk di sampingnya, aku memperhatikannya lamat-lamat, "Zayn, apa kau serius dengan perkataanmu tadi?" Zayn tengah tertidur.
"Lupakanlah Neara, Zayn tidak akan serius dengan perkataannya." aku berdiri, untuk mengganti air kompresan lagi, dia menggenggam pergelangan tanganku, aku menoleh.
"Ada apa Zayn?" tanyaku, berusaha lebih lembut, "Aku serius dengan perkataanku tadi Ra, kau adalah orang itu! Kau yang melelehkan hatiku yang membeku, ini bukan sebuah lelucon!" aku menghembuskan nafas.
"Zayn, kamu adalah seorang tuan muda, sedangkan aku, aku hanyalah gadis remaja biasa, apa yang kau sukai dariku?" aku menatap Zayn lamat-lamat.
Mungkin aku memang mencintainya, tapi kami benar-benar berbeda, aku takut itu akan menjadi sebuah kekecewaan besar untukku dan Zayn.
"Aku suka karna kau baik, kau perhatian, kau berbeda dari yang lain. Kau lebih memilih dalam keadaan berbahaya, dari pada teman-temanmu yang mati. Kau peduli pada keselamatan semua orang, kau tidak memandang orang dari segi tampang, atau harta."
"Kau tulus berteman dengan siapa pun, kau tidak pernah memandang rendah status orang lain. Kau menghargai apapun yang ada dihadapanmu, kau menjaga apapun yang tersisa ..."
"Kamu berbeda Ra, kau tidak peduli dengan omongan orang yang menyakitkan. Bahkan jika orang itu sudah menyakitimu, kau akan tetap menolongnya ketika ia butuh bantuan."
"Nggak banyak orang didunia ini yang sepertimu Ra. Semua perbuatanmu, omonganmu, sikapmu, itu yang membuat seluruh es di hatiku leleh begitu saja."
Mataku mulai berkaca-kaca, perasaanku tidak karuan, "Tidak ada yang berhasil melelehkan seluruh es di hatiku, tidak terkecuali Farel. Bahkan sahabat kecilku juga tidak bisa melelehkan nya Ra. Apa itu masih kurang?"
Aku terdiam, tanpa terasa, air mataku menetes begitu saja. Aku tidak tau harus menjawab apa, atau berkata apa, perkataan Zayn cukup membuat mulutku diam membisu.
Zayn menghapus air mataku, dia tersenyum, "Jangan menangis gadis, aku tidak suka melihatnya, kau tidak harus menjawab semua perkataanku. Aku hanya ingin kau berada di sampingku saat ini." aku memejamkan mataku.
Air mataku terus menetes. Astaga, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus berkata apa sekarang? Zayn memelukku, aku balas memeluknya.
"Gadis, aku menyuruhmu jangan menangis ya jangan menangis, lantas mengapa kau masih menangis?" Aku memukul Zayn pelan, "Kau bodoh Zayn! Kau bodoh!"
"Bagaimana bisa orang tidak menangis jika mendengar perkataanmu barusan?" Zayn mengelus kepalaku.
"Tapi aku tidak mau melihatmu menangis!" kata Zayn, aku hanya diam, apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku mendorong tubuh Zayn pelan, "Sudahlah Zayn, lupakan aku, kita tidak akan pernah bisa bersama." kataku sembari menghapus air mata.
Aku tidak tau, apakah aku harus sedih, atau harus senang?
Aku kembali mengompres kening Zayn, dia terus menatapku, "Zayn, tidurlah, kau membutuhkan istirahat yang cukup. Jangan menatapku terus-menerus." kataku.
"Pejamkan matamu, lalu tidurlah, agar kau cepat sembuh!" aku meninggalkan kamar Zayn sejenak. Aku tidak ingin terjebak dalam suasana yang amat sangat canggung.
"Ra, apa kau membutuhkan pendengar yang baik?" suara Lea, "Lea, aku tidak tau harus berbuat apa, aku juga memiliki perasaan yang sama, tapi aku tidak bisa menerimanya ..."
"Aku takut itu akan menimbulkan kekecewaan yang amat sangat besar untukku dan Zayn." Lea duduk di sebelahku, lantas tersenyum.
"Ra, nggak semua kecemasanmu akan terjadi. Emang nggak salah kamu antisipasi sebelum terjadi, tapi dilihat dulu, kemungkinan terjadinya lebih besar, atau lebih kecil."
"Zayn nggak salah, dan kamu juga nggak salah, di sini nggak ada yang salah. Hanya saja, pilihan kalian yang kurang tepat."
"Seharusnya, Zayn tidak secepat itu menyatakannya, dia harusnya mikir-mikir dulu. Dan kamu Ra, seharusnya kamu jangan terlalu emosional, kamu slalu menyuruhku tidak terlalu cemas, tapi sekarang malah kamu yang terlalu cemas!"
Aku terdiam mendengar perkataan Lea, Lea ada benarnya juga, "Beri Zayn waktu untuk membuktikan perkataannya." Perkataan Lea ada benarnya juga.
"Ra, tiga hari lagi kamu ulang tahun, jadikan keputusanmu itu sebagai hadiah untukmu sendiri. Pilihlah hadiah terbaik untuk dirimu, jangan salah pilih hadiah yang buruk ...."
"Aku akan kembali tidur, kau juga istirahatlah, jangan begadang semalaman. Walau kau harus menjaga Zayn, setidaknya kau juga beristirahat." Lea beranjak dari sofa, dia masuk ke kamar.
Aku memikirkan matang-matang perkataan Lea. Aku memang menginginkan keputusan terbaik untukku dan Zayn, tapi kecemasanku akan hal itu tidak bisa hilang.
Klink!
Hero : Gadis, mengapa kau belum tidur?
Aku : Hero.... (╥﹏╥)
Aku : っ╥╯﹏╰╥c
Hero : Eh, mengapa kau menangis gadis? Ada masalah apa? Ceritakan padaku.
Aku : Zayn, dia mengungkapkan perasaannya padaku, aku tidak tau harus berbuat apa! (✖╭╮✖)
Aku : Aku mengatakan padanya, bahwa kami tidak akan pernah bisa bersama! Walau sebenarnya, aku juga mempunyai perasaan yang sama dengannya .... ╭∩╮
Aku : Lea berkata, bahwa aku harus memberi Zayn kesempatan untuk membuktikan perkataannya padaku.
Aku : Lea benar, aku terlalu emosional, dan aku terlalu khawatir ... Tidak seharusnya aku sekhawatir itu.
Hero : Lantas apa yang kau khawatirkan?
Aku : Aku ... Aku takut itu akan menimbulkan kekecawaan yang amat sangat besar untukku dan Zayn.
Hero : Mengapa kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?
Aku : Karna aku hanyalah gadis remaja biasa, tidak lebih, dan tidak kurang. Dengan status Zayn sebagai seorang tuan muda, aku takut kalau keluarga Zayn tidak menerimaku apa adanya.