You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 7



Aku : Too!


Zayn kembali dari toilet, Farel ngelanjutin makannya.


Setelah selesai makan, Farel dan Zayn membereskan meja makan. Aku membersihkan kamar tamu untuk mereka berdua, Lea bisa tidur berdua denganku.


Pukul 22.12


Aku turun ke ruang tamu buat belajar, Lea, Farel, dan Zayn udah tidur. Aku baru belajar, karna menunggu Lea tidur dulu, biar nggak ganggu dia.


"Kamu rajin banget Ra, nggak nyangka aku." Suara Farel, "Eh, kamu belum tidur Rel?" Farel menggeleng.


"Ra, sekali lagi aku minta maaf soal omonganku yang tadi, aku nggak tau itu bakal—"


"Ssstt ... Aku udah maafin kamu kok, udah nggak ada yang perlu dibahas lagi. Aku juga minta maaf sudah membentakmu" kataku datar. Aku kembali fokus belajar, Farel duduk di depanku dan menemaniku belajar.


Klink!


Hero : Hai gadis, kenapa kamu belum tidur?


Aku : Aku masih belajar Hero ... Kamu sendiri, kenapa belum tidur?


Hero : Karna gadisku belum tidur! ^o^


Aku : Tidurlah, apa kamu nggak ngantuk?


Hero : Jika kamu saja bisa begadang, lalu mengapa aku tidak bisa?


Aku : Hero, tidurlah ... Aku baik-baik saja, temenku nemenin aku belajar.


Hero : Aku tidak mau tidur jika gadisku belum tidur. Jika kau menyuruhku tidur, maka kau harus tidur!


Aku : Kamu mengawasiku? Kenapa kamu tau gerak-gerikku?


Hero : Karna, aku adalah orang yang slalu ada disekitarmu. Kamu aja yang nggak bisa mengenaliku dengan baik! ︶︿︶


Hero : Aku akan menemanimu begadang, aku nggak akan tidur sebelum kamu tidur. Lanjutkan belajarmu, jangan hiraukan aku gadis.


Aku kembali fokus belajar, dan tidak menghiraukan Hero. Walau aku belum tau siapa dia, aku merasa sangat dekat dengannya.


Setengah jam berlalu, Farel sudah tertidur disofa. Aku masih terus belajar, karna beberapa hari lagi ulangan semester. Mungkin sepuluh menit lagi, aku baru tidur.


Setelah selesai belajar, aku merapikan buku-bukuku dan kembali ke kamar. Aku masuk ke kamar tamu, buat ambilin selimut buat Farel. Aku kaget waktu liat Zayn belum tidur.


"Zayn, kenapa kamu belum tidur?" Zayn belum tidur, tapi aku bisa liat dari raut mukanya, dia udah ngantuk banget.


Entah apa yang bikin dia nggak tidur, "Eh, aku belum mau tidur Ra ... Kamu sendiri, ngapain kesini?" jawabnya setengah mengantuk.


"Aku mau ambil selimut buat Farel, dia ketiduran disofa, waktu nemenin aku belajar." Aku buka lemari, disitu ada banyak tumpukan baju laki-perempuan, handuk, selimut, dua bantal, dan dua guling.


Empat sama bantal dan guling yang udah dikeluarin Zayn dan Farel.


"Tidurlah Zayn, ini udah malem, jangan begadang. Besok kita masih harus sekolah." Aku ngambil satu selimut, sama bantal Farel yang udah dia keluarin dari lemari.


Zayn menahan tanganku, "Ada apa Zayn?" Aku berbalik, lalu bertanya, "Bisakah kamu meluangkan waktu setelah ini? Aku mau ngomong bentar sama kamu." Aku mengangguk.


"Setelah aku memberikan selimut dan bantal ini untuk Farel, aku akan kembali kesini. Kita bisa ngobrol disini, aku akan segera kembali." Aku keluar dari kamar tamu.


Aku mengangkat kepala Farel perlahan, lalu meletakkan bantal. Setelah itu, aku menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


"Lalu kita harus gimana Zayn?" tanyaku, "Mulai besok, kita berangkat terpisah. Dari kita bertiga, harus ada yang nemenin Lea masuk sekolah, lewat jalan rahasiaku, Lea, dan Farel."


"Hari pertama, aku dan Lea akan pergi bersama kejalan itu. Hari kedua, kamu yang pergi bersama Lea. Hari ketiga, Farel dan Lea yang pergi bersama. Begitu seterusnya, jadi keberadaan Lea tetap aman, apa kamu setuju?" jelas Zayn.


"Apa itu nggak terlalu mengambil resiko Zayn? Mereka bisa saja mengabsen kita tiap hari, dan jika salah satu dari kita menghilang secara bergantian, maka keberadaan Lea akan terancam dan diketahui." Zayn terlihat berpikir sejenak.


"Kamu ada benernya juga Ra ... Tapi sayangnya, kamu nggak memperhatikan satu poin." aku mengerutkan kening, heran.


"Jika salah satu dari kita bergantian menghilang, dan mereka mulai curiga, maka mereka akan berpencar disetiap sudut sekolah, untuk mencari keberadaan kita atau Lea."


"Dengan begitu, itu akan lebih sulit dari perkiraan kita, untuk menyembunyikan keberadaan Lea." Aku tersenyum.


"Lalu Zayn, jika mereka berpencar disetiap sudut sekolah, bagaimana kita tidak akan ketahuan oleh mereka? Jika salah satu dari mereka mengetahui keberadaan kita atau Lea, tamat sudah riwayat kita." Zayn kembali berpikir.


"Aku akan memikirkannya lagi, kita masih punya waktu sampe besok. Besok, kamu dan Lea libur saja dulu, aku akan meminta izin untuk kalian. Sekarang, tidurlah gadisku," kata Zayn dingin, dia bangun lalu mencium keningku.


Dia menggendongku ke kamar, lalu menidurkan badanku disamping Lea yang tengah tertidur pulas.


"Jangan menatapku seperti itu Ra, dan jangan suka bengong lama-lama." sekali lagi dia mencium keningku.


"Selamat tidur Ra, semoga mimpi indah!" Ketika dia keluar, aku langsung menutup seluruh badanku sama selimut, dari ujung kepala sampe ujung kaki.


Aku malu, wajahku terasa panas. Jika saja Lea sedang menyaksikannya, aku yakin sekali, pasti sekarang dia akan mengolok-olokku, lalu menggodaku.


Aku buka HP dulu, mau ngabarin kak Gabie, kalo besok aku mau izin nggak sekokah dulu.


Aku : Kak, maaf ganggu ... Aku mau bilang, besok aku izin nggak masuk ya kak?


Aku : Badanku sedikit nggak enak.


Kak Gabie : Eh, apa perlu kakak izin nemenin kamu dirumah besok?


Aku : Eh ... Nggak usah kak, Lea bakal jagain aku, aku baik-baik saja selama Lea disini. Kakak jangan cemaskan aku, semangat kerjanya ya kak!


Kak Gabie : Kamu yakin dek? (。•́︿•̀。)


Aku : Iya kak ... Aku yakin, kakak jangan cemasin aku, percaya sama aku kak. :)


Kak Gabie : Yaudah, selamat malem dek. Selamat tidur, moga mimpi indah! ʕ•ε<ʔ


Aku : Too! ^_^


Pukul 05.20


Aku baru bangun tidur, aku turun ke dapur, mau ambil air putih. Farel masih tidur disofa, mungkin dia kecapekan, kemarin dia berusaha sekuat tenaga mengatur oksigen yang cukup buat Lea, malamnya, dia nemenin aku belajar. Setelah minum, aku mandi.


Lima belas menit kemudian ....


Aku turun lagi ke dapur, mau nyiapin sarapan. Aku masakin bubur lagi buat Lea, lauknya suiran daging ayam, sama telur.


Waktu aku lagi siapin sarapan, aku tinggal bentar ngaduk buburnya, aku naik ke atas buat bangunin Zayn.


Tok! Tok! Tok!


Aku mengetuk pintu pelan, nggak mau bikin Seli kebangun, "Zayn, bangun, ini udah setengah enam, nanti kamu terlambat ke sekolahnya!"