
"Neara, ayo bangun. Nanti kamu kesiangan masuk sekolahnya! Kakak juga harus masuk pagi!" Aku membuka mataku perlahan, kak Gabie terus mengguncang-guncangkan tubuhku.
"Hoam, iya, iya Kak, Neara udah bangun kok! Nanti kakak bisa jemput aku?" Kakakku sudah bekerja, dia menjadi tulang punggung untukku.
"Kakak nggak tau Dek. Nanti kakak kabarin aja, sekarang mendingan kamu mandi, ganti baju, habis itu turun, sarapan." Aku mengangguk, lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi, aku turun, kak Gabie kayaknya udah selesai sarapan, "Selamat pagi Kak!" kataku, "Ayo, cepat habiskan sarapanmu ...."
Aku segera menghabiskan sarapanku. Setelah sarapan selesai, kak Gabie mengantarku menggunakan sepeda angin.
Katanya, biar lebih hemat dan ramah lingkungan. Jadi, mobil kami hanya keluar saat bepergian jauh.
Kepadatan lalu lintas membuat lambat laju jalanan. Sepeda kakakku terus melaju di jalanan, menerobos kepadatan. Dengan gesit, kak Gabie membawa sepedanya menyalip beberapa kendaraan.
Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumahku. Itu juga menjadi salah satu alasan kak Gabie. Kak Gabie adalah kakak terbaik untukku, walau kami sering bertengkar, itu bukan berarti keluarga kami tidak harmonis.
Percuma kalo nggak pernah bertengkar, tapi malah saling diem-dieman aja. Itu malah nggak harmonis. Kak Gabie slalu menemaniku saat aku memintanya, kecuali ketika kak Gabie benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya.
Kami sampai disekolah, "Ra, kalo nanti kakak nggak bisa jemput, kamu pulang bareng Lea naik angkot aja ya?" Aku hanya mengangguk.
"Sampai jumpa Kak. Hati-hati, dan semangat kerjanya!!" Aku memberi semangat untuk kakakku, kak Gabie yang slalu bekerja keras demiku.
Sebenarnya, yang kesiangan adalah kak Gabie, di sekolahku masih termasuk sangat pagi. Aku mendengus sebal, slalu datang pagi-pagi.
Tapi ini juga demi kakakku, agar dia nggak terlambat. Aku masuk ke dalam kelas, benar saja, teman-teman sekelasku masih belum dateng.
Aku memilih membaca novel, untuk menunggu Lea, atau setidaknya Farel. Tapi siapa sangka, mereka berdua datang bersamaan, Farel dan Zayn.
"Pagi Ra," Farel duduk dikursi depanku setelah meletakkan tas nya, "Pagi Rel, tumben kamu dateng pagi-pagi?"
"Yeee, enak aja, aku slalu dateng pagi kok! Kamunya aja yang slalu sibuk baca novel." Aku tertawa, membaca novel dan komik adalah salah satu hobiku.
Selain membaca novel dan komik, hobiku juga menggambar, tidak terlalu bagus. Malah nggak masuk kategori bagus.
"Kamu udah sarapan Ra?" Aku mengangguk, kembali fokus membaca novel, "Yaudah, aku keluar dulu. Kamu nggak asik, aku ajak ngobrol malah fokus baca novel." Farel bersungut-sungut, lalu keluar.
Aku lanjut membaca, nggak lama, Lea udah dateng, "Hai Ra, masih baca novel yang kemarin?" Aku hanya mengangguk, fokus membaca, "Jangan terlalu fokus membaca Ra, nanti kamu lupa, kalo lagi di sekolah! " canda Lea.
Aku memutar bola mataku, "Eh, kamu udah ngerjain PR bahasa inggris?" Aku menutup novelku, "Astaga Ra, aku lupa!"
Lea menepuk jidatnya, "Kok tumben kamu lupa?" Selama aku mengenal Lea, dia nggak pernah lupa ngerjain PR bahasa inggris, karna itu adalah mata pelajaran favoritnya.
"Aduh Ra, gimana dong?" Lea mulai panik, "Lea, tenang, sekali tidak mengerjakan PR bukan berarti kamu dipanggil ke ruang BK!" kataku.
"Pinjam punyaku saja," suara yang khas, "Zayn!" Lea terkejut, begitu pula aku, "Kenapa kamu mau meminjamkan buku PR mu ke Lea?" tanyaku heran.
"Karna ... Aku melakukannya demi membantu sahabat gadisku." Lea menatapku, bentar, aku masih berusaha mencerna semua omongannya. Apa maksudnya barusan?
"Ah, sudahlah, lupakan! Kamu mau meminjam nya atau nggak?" Wajah Zayn nampak merah merona. Tentu saja Lea mau meminjam nya.
Zayn meninggalkan meja kami setelah Lea menerima bukunya, "Ra, kamu dengar kata-kata Zayn yang tadi tidak?" Lea mulai menggodaku.
"Lea, fokus menyalin PR Zayn saja, jangan membahas hal lain!" Lea terkekeh melihat muka sebalku.
Setelah menyalin buku PR Zayn, Lea yang menyuruhku mengembalikan buku milik Zayn. Alasannya dia takut Zayn berubah mood seketika.
"Ayolah Ra ... Demi sahabatmu." Aku menghela nafas, "Kamu saja yang mengembalikan Lea, kan kamu yang meminjamnya ...."
"Ayolah Ra, kalo kamu yang ngembaliin, Zayn nggak akan marah, tapi kalo aku yang ngembaliin, Zayn pasti sangat marah!" itu adalah alasan yang dari tadi digunakan Lea.
"Ok, ok ... Aku yang ngambaliin ke Zayn, puas kamu?" Lea meringis, "Hehehe ... Gitu dong Ra, makasih ya Ra!" Aku mengalah, sekarang kelas sudah rame.
Aku takut, atau lebih tepatnya malu datenh ke meja Zayn yang lagi dikerumunin sama temen-temen nya. Sungguh hari yang menyebalkan.
"Zayn ... " semua perhatian tertuju padaku, "Ada apa?" suaranya lembut, nggak kayak biasanya, cuek, dingin, "Aku mau ngembaliin buku PR mu. Makasih ya, udah bantu Lea."
"Eh, ada Ra, kita gangguin jangan?" goda salah satu teman Zayn yang brengsek, "Aku balik dulu ya Zayn, sekali lagi makasih!"
Tanganku ditahan oleh teman Zayn yang beda tapi sama-sama brengseknya, "Tunggu dulu dong Ra, main sama kita dulu lah." aku mengepalkan jari, aku bener-bener dalam masalah kali ini.
"Lepasin!" suara Zayn yang dingin, auranya mulai keluar, aura membunuh, "Nggak ada yang kuperboleh kan mengganggu, atau pun menyentuh gadisku, tanpa seizin ku!" Zayn merangkul bahuku.
Bentar, bentar, kayaknya ada yang salah deh, kenapa dia bilang kayak gitu? Mungkin salah ucap kali ya?
Semua anak yang ada didalam kelas langsung memperhatikanku dan Zayn, mereka mulai bisik-bisik, nyebarin gosip kemana-mana.
"Zayn, lepasin ..." kataku nggak enak, "Diam," intonasinya cuek, "Zayn, hargai keputusan Ra." Farel muncul diantara kerumunan teman-teman Zayn.
"Biarkan dia balik ke meja nya, jangan buat masalah baru untuk Ra. Kasihan dia!" Farel berusaha membebaskanku dari Zayn, "Cuih ... " Zayn kelihatan kesel banget.
"Balik ke meja mu, kalo ada apa-apa, bilang ke aku." dia melepaskan rangkulannya, lalu mencium keningku.
Satu kelas langsung diam membisu. Bagaimana tidak membisu, Zayn yang selama ini dikenal jijik melihat seorang wanita, sekarang malah mengakuiku sebagai gadisnya, lalu mencium keningku.
Aku masih mematung, "Ra—cepet balik ke meja mu, jangan diam dan mematung saja." kata Farel, "Oh, baiklah, baik, aku akan kembali." kataku gugup.
"Atau kau mau kugendong hingga ke meja mu?" satu kelas semakin diam membisu.
"Zayn, cukup! Biarkan Ra kembali dengan berjalan kaki, dia masih memiliki kaki." Farel jelas menyuruhku kembali secepat mungkin, aku berjalan, lalu duduk di meja bersama Lea.
Lea juga diam membisu, dia tidak tahu hendak berkata apa ... Dua idola sekolah sedang berdebat demiku, entah aku harus senang, atau marah.
Setengah jam kemudian ...
Pelajaran pertama dimulai, sampai sekarang Lea masih diem, "Lea, kamu kenapa diem aja dari tadi?" kataku sambil berbisik.