You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 4



Buukk!


Eh, kenapa rasanya badanku jatuh, tapi nggak sakit ya, "Hei gadis, buka matamu. Sekarang kamu aman ..."


Disinilah, aku bertemu dengan pahlawanku, bertemu dengan hero-ku. Aku membuka mataku.


"Apa kamu tidak apapa gadis?" Dia berdiri, lalu membantuku berdiri, "Lea, jaga sahabatmu baik-baik. Sampai jumpa gadis, oh ya, jangan terlalu banyak bengong!"


Aku dan Lea masih bingung, dari mana orang itu tau nama Lea? Suara dan sosoknya sangat familiar, tapi aku nggak inget.


"Ra, Seli! Kalian nggak apapa?" Farel datang nyamperin kita, "Eh, aku nggak apapa. Kamu kenapa bisa ada disini?" Arah rumah Farel berlawanan dari arah rumah Lea.


"Hehehe ... Maaf, dari tadi aku ngikutin kalian," Lea melotot, "Hei, itu tidak sopan! Nggak seharusnya kamu mengikutiku dan Ra!"


"Ya ampun Lea, aku hanya mengikuti kalian, bukan mengintip kalian!" jawab Farel santai, apa? Dia bilang hanya mengikuti kami?


"Sudahlah, kamu pulang saja. Jangan mengganggu waktu kami berdua. Ayo Ra, kita pergi!" kata Lea ketus.


Farel bersungut-sungut meninggalkanku dan Lea, "Eh, Farel, kita bisa kerumah Lea bersama. Ayolah Lea, biarkan dia ikut ...."


Lea mendengus sebal, "Hm, baiklah, ini karna Ra yang memintanya." Aku menarik tangan Farel dan Lea.


"Mama, Lea pulang! Ayo masuk Ra, Farel." kami sampe dirumah Lea, "Eh, ada tamu, silahkan masuk, maaf ya, penampilan tante berantakan."


"Nggak apapa tante," jawab Farel, "Mam, ini sahabat Lea, namanya Neara." Aku emang udah pernah kerumah Lea, tapi waktu itu mama nya lagi nggak dirumah.


"Oh, ini yang namanya Neara ... Tante udah denger semua dari Lea, makasih ya, udah jadi temen Lea." Aku hanya mengangguk, lantas senyum.


"Dan ini, namanya Farel ..." Lea masih sebel karna Farel ikut ke rumahnya, "Selamat siang tante." kata Farel sopan, "Wah, sopannya anak ini."


"Mam, aku sama temen-temenku mau ngerjain PR dan belajar bareng, Lea langsung naik ya?" mama Lea ngangguk.


"Tante siapin minum sama cemilan dulu ya." Aku, Lea, dan Farel naik ke kamar Lea, luas, rapi, bersih, wangi.


"Aku nggak nyangka Lea, kamu bisa sebersih ini ya?" Lea langsung melotot ke arahku, "Canda Lea, sabar dong. Nggak boleh marahan, nanti cepet tua lho!"


"Besok ada PR apa aja?" tanya Farel, "Matematika, biologi, sejarah, sama ... Kayaknya udah deh, itu aja," jawabku.


"Baiklah, kita mulai sekarang." kataku. Setengah jam berlalu, kami hanya sibuk membahas hubunganku dengan Farel dan Zayn.


Sesekali Farel hanya tertawa, diam mematung, ikut bertanya hubunganku dengan Zayn. Kami lupa tujuan utama kami kemari.


"Permisi, maaf mengganggu jam belajar kalian, ini tante bawain cemilan sama minuman. Maaf seadanya aja ya," Aku dan Farel mengangguk.


Belajar apanya? Ngegosip iya!


"Ra, kamu beneran nggak ada hubungan apa-apa gitu sama Zayn?" Sekali lagi aku menggeleng, "Ah, udah ah, kalo kalian masih mau belajar bareng, sekarang kita belajar! Kalo nggak, aku mau pulang, udah mau sore ini."


"Eh, iya, iya, kita belajar sekarang." Syukurlah aku bisa mengalihakn topik pembicaraan. Aku mencari kotak pensil didalem tas, tapi yang kutemukan adalah sobekan kertas. Bertuliskan:


Nomorku: 08564XXXXXXX


Panggil aku Hero, selamat tinggal gadis!


Bentar deh, kayaknya aku tau nomer ini, tapi ini nomer siapa ya?


"Ra, katanya belajar, kok malah bengong?" Lea nepuk bahuku, "Eh, ok, kita belajar—mau belajar apa dulu?" tanyaku.


Pukul 15.42


"Aku pulang!" Aku sampai dirumah, kelihatannya kak Gabie masih belum pulang. Aku naik kekamar, ganti baju, lalu membaca novel.


Klink!


Tidak diketahui : Hai gadis, kamu baik-baik saja kan?


Tidak diketahui : Astaga, kamu melupakan penyelamatmu begitu saja?


Aku : Eh, apa kamu yang tadi menyelamatkanku?


Tidak diketahui : Yap, benar sekali! Kamu baik-baik saja kan sekarang? Apa kakimu masih terasa sakit?


Aku : Eh, kamu tau dari mana, kalo kakiku sakit?


Tidak diketahui : Percaya nggak, kalo aku seorang peramal?


Aku : (¬_¬)


Aku : Aku nggak percaya. Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongin!


Tidak diketahui : Ok, ok, kamu harus percaya yang satu ini. Aku mengenalmu, dan kamu mengenalku, hampir tiap hari kita bertemu!


Aku : Sebenernya, kamu itu siapa sih? Aku nggak pernah tau wajahmu.


Tidak diketahui : Aku tidak akan memberitahumu! ≧∇≦


Aku : Ah! Serah!


Aku kembali membaca novel, aku makin penasaran, siapa orang yang menolongku tadi?


Tok! Tok! Tok!


Aku berdiri membukakan pintu, "Eh, Lea? Kamu ngapain disini? Bukannya kita udah selesai belajarnya?" tanyaku heran, "Eh, bolehkah aku masuk?"


"Eh, maaf, silahkan masuk ..." kataku, "Baiklah, aku tidak akan lama-lama, aku hanya ingin memberimu ini."


"Ini hadiah dariku, beberapa hari lagi kamu berulang tahun, aku akan memberikan kadoku terlebih dahulu." Lea mengangkat tanganku.


Dia meletakkan kalung dengan liontin seorang wanita yang sedang menari, "Eh, kan masih empat hari lagi, kenapa kamu ngasihnya sekarang?" tanyaku.


"Nggak apapa, selamat ting—" Belum selesai ucapannya, tubuh Lea jatuh terkulai lemas dihadapanku. Aku panik, aku bingung harus gimana.


Aku mengangkat kepalanya, "Lea, apa terjadi sesuatu yang buruk? Ceritakan padaku, aku takut ... Aku takut jika melihatmu seperti ini ..." Aku mulai terisak.


Lea mengusap pipiku, lalu tersenyum, "Kamu sahabatku, berjanjilah padaku, jika aku sudah tidak di dunia ini lagi, kamu akan terus mengingatku ..." kata Lea lirih, aku menggeleng, menahan tangisku.


"Nggak, aku yakin kamu bakal baik-baik aja. Aku nggak bakal biarin kamu kayak ginu, aku bawa kamu kerumah sakit!" Aku hendak mengangkat tubuh Lea, tapi tangannya menghentikanku.


"Jangan—kumohon—jika kamu ingin menyembuhkanku, bawa aku ke kamarmu." Aku menatap wajahnya, "Nggak! Aku bawa kamu kerumah sakit, biar cepet diobati!"


"Jangan Ra ... Tolong turuti kata-kataku, aku sudah nggak punya banyak waktu lagi diluar sini." Baiklah, aku mengalah, aku membawa Lea masuk ke kamarku.


Menidurkan tubuhnya yang masih lemas diatas kasurku, "Ra, tolong ambilkan aku segelas air putih."


Aku bergegas mengambil air putih untuk Lea, "Ini, ayo minum! " aku membantu Lea duduk, untuk minum.


"Terima kasih Ra. Sekarang, tolong telfon Zayn dan Farel, katakan, aku ada di rumahmu, badanku lemas, suruh mereka kemari!" Aku mengambil HP ku, lantas menelfon mereka berdua.


"Halo Zayn, aku mohon, datanglah kemari, Lea ada di rumahku. Tubuhnya sangat lemas, dia demam tinggi, kumohon ... Selamatkan Lea!" tangsiku mulai pecah.


"Eh, baiklah, aku akan membawa Farel juga. Tolong jaga Lea, dia tidak boleh menutup matanya sekali pun. Jangan biarkan dia tidur!" kata Zayn.


"Baik, aku akan melakukannya sesuai perkataanmu, tapi kumohon, datanglah lebih cepat, kalo kamu udah dateng, langsung buka saja terus langsung naik ke kamarku. Pintu kedua dari tangga!" Aku langsung menutup telfonnya.


Aku kembali ke kamarku, menjaga Lea, "Lea, aku sudah telfon Zayn, sekarang apa yang kamu rasakan?" tanyaku cemas.


"Aku ... Merasakan sesak nafas, pana—" kalimat Seli terpotong, dia pingsan!