
"Hehehe ... apa yang sedang kau pikirkan, gadis?"
tanya Zayn dengan nadanya yang menakutkan, sekarang aku yang perlahan-lahan melangkah
mundur. Telat, Zayn berhasil menggapai tanganku, dan
menarikku. Dia menahan tanganku dengan satu
tangannya, astaga, dia bukan manusia! Dia iblis yang kuat ...
seharusnya aku tidak mengganggunya, huhuhu! Dan
tangan yang satunya menggelitikku tanpa ampun, perutku
sampai sakit di buatnya, "Hahaha! Tolo—ng—hentikan
Za—Zayn!" mohonku yang masih tertawa karna rasa geli
yang di sebabkan gelitikan Zayn. Sedangkan Zayn terlihat
sangat puas, karna berhasil
membalaskan dendamnya padaku, dan dia berhasil menjailiku
sekali lagi. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Zayn
berhasil menjailiku hingga membuatku marah, tertawa, atau
sejenisnya. Tapi aku lebih sering marah, sih, karna terkadang jailnya
membuatku risih dan teman-teman sering melihatku
dengan tatapan penuh kebencian, terutama fans Zayn, yang
bener-bener tergila-gila dengannya.
"Sudah, berhentilah tertawa, aku sudah berhenti
menggelitikmu. Mari selesaikan tugasmu, lalu bantu aku,
dan kita segera sarapan!" kata Zayn, aku mengangguk, lalu berdiri. Setelah menyelesaikan
tugasku, aku membantu Zayn untuk menyelesaikan tugasnya.
"Hei, apakah menurutmu indah?" tanya Zayn tiba-tiba, aku
mengerutkan kening, "Apanya yang indah?" tanyaku,
"Semua hal yang saling melengkapi disini. Apa mereka terlihat
indah untukmu?" tanya Zayn, aku tersenyum, "Alam,
kan, memang saling melengkapi? Dan terkadang, karna
mereka saling melengkapi, mereka menyuguhkan pemandangan yang indah untuk kita."
"Apa kau suka pemandangan yang indah?" tanya Zayn lagi,
"Tentu saja, siapa yang tidak suka dengan pemandangan
indah?" jawabku. Aku berdiri, kemudian meletakkan sikat
yang tadi kugunakan untuk memandikan kuda. Zayn menyiram tubuh
kuda tersebut dengan air, untuk membilasnya,
"Apa kau langsung
masuk?" tanyaku, "Tentu, memangnya
kau mau
kemana dulu?" Aku menggeleng, "Masuklah, katakan
pada Mam, aku akan segera menyusul, tidak
perlu menungguku." kataku. Zayn meninggalkanku,
pergi, aku duduk di tepi kolam, sebenernya sih, ini kayak danau
buatan, tapi kecil gitu, seukuran kolam. Mentari masih
belum muncul dari persembunyiannya, dia masih malu untuk
menampakkan dirinya.
"Bunda, ayah, kak Gabie, aku rindu dengan kalian ... aku
ingin menghabiskan waktu dengan kalian—namun kalian sudah
pergi meninggalkanku. Dan untuk kak Gabie, mengapa kakak menghilang begitu saja waktu
itu? Jika kakak tidak menghilang begitu saja, aku tidak
akan sendirian disini, kak. Aku merindukan segala omelanmu,
segala kata-katamu yang memberiku semangat. Aku rindu
semua perlakuanmu, walau kita sering berantem, sih, hahaha!" kataku pada langit. "Om, tante, apa
kalian percaya, aku bisa menjaga putri kalian dengan
benar? Apa kalian akan menghukumku jika aku tidak
bisa menjaga Lea dengan benar?"
"Kedua orang tua kami berteman, tapi kami tidak pernah
mengetahui itu selama ini, kenapa ayah dan bunda menyembunyikannya
dariku? Kenapa ayah dan bunda nggak bilang, kalau
kalian punya sahabat bernama Rey, Hilda, Erna, suaminya, dan
Poppy? Apa ini semua ada hubungannya dengan kematian
kalian semua? Ayah? Bunda? Kak Gabie? Om Rey? Tante Hilda?
Om Angga? Tante Syifa?" kataku pada langit, sekali lagi. Tempat ini bisa memberiku rasa nyaman dan
tenang, seakan-akan,
tempat ini mengizinkanku curhat dan mencurahkan seluruh isi hati dan pikiranku. Semua yang
sudah berada di atas, selamat beristirahat dengan tenang,
dan untukmu, kak, aku janji, akan segera menyelesaikan
misiku ini. Tolong jaga kami ....
"Neara! Kamu sudah dicari Oppy dari tadi. Beliau mengatakan,
jika waktunya makan, semuanya harus berada di meja
makan, dan tidak ada yang boleh berbicara ketika makan," kata
Lea dengan nada yang tergesa-gesa. Aku berdiri, "Cih, kenapa
dia slalu mengatakan terlalu banyak peraturan?" Aku menggandeng tangan Lea untuk masuk
bersamaku. Benar apa kata Lea, mereka menungguku,
dan Oppy menatapku dengan tatapan tidak suka. Aku duduk
Oppy duduk di kursi utama, berhadapan. Aku, Luna, dan
Lea duduk berhadapan dengan Farel dan Zayn, suasananya
bener-bener canggung. Semua fokus untuk menghabiskan
makanan di piring masing-masing.
***
"Lelahnya, apa kalian mau ke kantin?" tanya Farel sembari
meregangkan otot-ototnya, "Tidak," jawabku singkat, "Eh, kamu
kenapa, Ra?" tanya Farel, aku tidak menjawab. Entah kenapa, beberapa hari ini, hatiku menjadi
dingin, yang biasanya aku slalu tersenyum ketika membaca
sesuatu yang menyentuh, tapi sekarang malah tidak ada
reaksi apapun. Aku tidak bisa merasakan hal itu, seolah-olah, aku
sudah tidak mempunyai ekspresi apapun. "Ra, kamu baik-baik saja?"
tanya Lea, aku mengangguk. Lea dan Farel saling menatap,
lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Hei, jika kamu
ada masalah, katakan pada kami. Jangan main kode-kodean, kami
bukan orang yang peka, tolong beritahu kami ..." kata
Farel, aku masih tidak ingin menjawab, "Baiklah,
kami pergi ke kantin dulu." Farel dan Lea meninggalkanku
di kelas, disini masih ada beberapa anak yang sudah
kembali dari kantin, termasuk Zayn.
Aku membuka buku diary-ku, dan kembali menulis beberapa
hal disitu. Menulis untuk orang yang akan pergi selanjutnya,
dariku. "Hei, apa yang kau tulis?" Aku tidak menghiraukan
pertanyaan Zayn, "Hei, jawab pertanyaanku!"
Aku masih tidak menghiraukannya, "Kamu kenapa, Ra? Perasaan
tadi pagi, kamu juga baik-baik aja, kamu badmood?"
tanya Zayn, aku menggeleng, "Lalu ada apa? Mau cerita?"
Aku terdiam, "Zayn, setelah Farel kembali, bantu aku
menyusun jadwal sepadat mungkin untuk kita berlima ..."
kataku singkat, "Jangan mengalihkan arah pembicaraan,
Ra! Aku tau, ada sesuatu yang mengganggumu, ceritalah, kalo kamu nggak
cerita, aku
nggak tau apa masalahmu."
"Nggak, Zayn, makasih ... aku hanya memerlukan
bantuanmu dan Farel untuk menyusun jadwal. Tinggalkan
aku sendiri ..." kataku, Zayn meninggalkanku,
pergi. Karna
Farel dan Lea belum kembali, guruku juga belum datang,
sesekali
aku mengatur jadwal kami sendirian.
Entah kenapa,
sepertinya kondisiku untuk hari ini sedikit nge-drop.
Aku merasa sangat kelelahan dan pusing.
Aku : Lea, aku mau istirahat di UKS dulu, nanti tolong absenin aku ya?
Lea : (。ŏ_ŏ)
Lea : Lho, kamu kenapa?
Aku : Nggak apapa, cuman butuh istirahat bentar ... makasih ya, maaf ngerepotin.
Setelah memberi kabar pada Lea, aku segera pergi
ke UKS, untuk beristirahat. Entah kenapa, kepalaku
pusing, padahal jika dihitung, istirahatku sudah termasuk
cukup. Jika karna aku belum memakan sesuatu,
aku sudah terbiasa dengan itu, lalu mengapa tiba-tiba
kepalaku pusing, dan badanku lemas?
Klink!
Zayn : Gadis, apa kau baik-baik saja?
Aku : Ya.
Zayn : Apa kau butuh bantuanku?
Aku : Tidak.
Aku : Zayn, tolong jangan mengganggu istirahatku, aku benar-benar merasa pusing dan kelelahan ....
Zayn : Baiklah, aku tidak akan mengganggumu, selamat istirahat.
***
"Ukh, kenapa kepalaku masih sakit?" kataku sembari mengubah
posisi tidurku menjadi posisi duduk. Aku melihat
ke sekeliling, sepi, tidak ada siapa pun. Aku memejamkan
mataku sejenak. "Kira-kira, apa alasan yang tepat untuk pusing
dan lelahku ini?" Aku mengambil HP-ku yang berada
di atas nakas, melihat, pukul berapakah sekarang?
Setelah melihat jam, aku menelfon Farel, ini adalah istirahat kedua.
"Halo, Rel, aku bisa minta tolong?" tanyaku.
Bersambung ....