You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 44



"Hehehe ... apa yang sedang kau pikirkan, gadis?"


tanya Zayn dengan nadanya yang menakutkan, sekarang aku yang perlahan-lahan melangkah


mundur. Telat, Zayn berhasil menggapai tanganku, dan


menarikku. Dia menahan tanganku dengan satu


tangannya, astaga, dia bukan manusia! Dia iblis yang kuat ...


seharusnya aku tidak mengganggunya, huhuhu! Dan


tangan yang satunya menggelitikku tanpa ampun, perutku


sampai sakit di buatnya, "Hahaha! Tolo—ng—hentikan


Za—Zayn!" mohonku yang masih tertawa karna rasa geli


yang di sebabkan gelitikan Zayn. Sedangkan Zayn terlihat


sangat puas, karna berhasil


membalaskan dendamnya padaku, dan dia berhasil menjailiku


sekali lagi. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Zayn


berhasil menjailiku hingga membuatku marah, tertawa, atau


sejenisnya. Tapi aku lebih sering marah, sih, karna terkadang jailnya


membuatku risih dan teman-teman sering melihatku


dengan tatapan penuh kebencian, terutama fans Zayn, yang


bener-bener tergila-gila dengannya.


"Sudah, berhentilah tertawa, aku sudah berhenti


menggelitikmu. Mari selesaikan tugasmu, lalu bantu aku,


dan kita segera sarapan!" kata Zayn, aku mengangguk, lalu berdiri. Setelah menyelesaikan


tugasku, aku membantu Zayn untuk menyelesaikan tugasnya.


"Hei, apakah menurutmu indah?" tanya Zayn tiba-tiba, aku


mengerutkan kening, "Apanya yang indah?" tanyaku,


"Semua hal yang saling melengkapi disini. Apa mereka terlihat


indah untukmu?" tanya Zayn, aku tersenyum, "Alam,


kan, memang saling melengkapi? Dan terkadang, karna


mereka saling melengkapi, mereka menyuguhkan pemandangan yang indah untuk kita."


"Apa kau suka pemandangan yang indah?" tanya Zayn lagi,


"Tentu saja, siapa yang tidak suka dengan pemandangan


indah?" jawabku. Aku berdiri, kemudian meletakkan sikat


yang tadi kugunakan untuk memandikan kuda. Zayn menyiram tubuh


kuda tersebut dengan air, untuk membilasnya,


"Apa kau langsung


masuk?" tanyaku, "Tentu, memangnya


kau mau


kemana dulu?" Aku menggeleng, "Masuklah, katakan


pada Mam, aku akan segera menyusul, tidak


perlu menungguku." kataku. Zayn meninggalkanku,


pergi, aku duduk di tepi kolam, sebenernya sih, ini kayak danau


buatan, tapi kecil gitu, seukuran kolam. Mentari masih


belum muncul dari persembunyiannya, dia masih malu untuk


menampakkan dirinya.


"Bunda, ayah, kak Gabie, aku rindu dengan kalian ... aku


ingin menghabiskan waktu dengan kalian—namun kalian sudah


pergi meninggalkanku. Dan untuk kak Gabie, mengapa kakak menghilang begitu saja waktu


itu? Jika kakak tidak menghilang begitu saja, aku tidak


akan sendirian disini, kak. Aku merindukan segala omelanmu,


segala kata-katamu yang memberiku semangat. Aku rindu


semua perlakuanmu, walau kita sering berantem, sih, hahaha!" kataku pada langit. "Om, tante, apa


kalian percaya, aku bisa menjaga putri kalian dengan


benar? Apa kalian akan menghukumku jika aku tidak


bisa menjaga Lea dengan benar?"


"Kedua orang tua kami berteman, tapi kami tidak pernah


mengetahui itu selama ini, kenapa ayah dan bunda menyembunyikannya


dariku? Kenapa ayah dan bunda nggak bilang, kalau


kalian punya sahabat bernama Rey, Hilda, Erna, suaminya, dan


Poppy? Apa ini semua ada hubungannya dengan kematian


kalian semua? Ayah? Bunda? Kak Gabie? Om Rey? Tante Hilda?


Om Angga? Tante Syifa?" kataku pada langit, sekali lagi. Tempat ini bisa memberiku rasa nyaman dan


tenang, seakan-akan,


tempat ini mengizinkanku curhat dan mencurahkan seluruh isi hati dan pikiranku. Semua yang


sudah berada di atas, selamat beristirahat dengan tenang,


dan untukmu, kak, aku janji, akan segera menyelesaikan


misiku ini. Tolong jaga kami ....


"Neara! Kamu sudah dicari Oppy dari tadi. Beliau mengatakan,


jika waktunya makan, semuanya harus berada di meja


makan, dan tidak ada yang boleh berbicara ketika makan," kata


Lea dengan nada yang tergesa-gesa. Aku berdiri, "Cih, kenapa


dia slalu mengatakan terlalu banyak peraturan?" Aku menggandeng tangan Lea untuk masuk


bersamaku. Benar apa kata Lea, mereka menungguku,


dan Oppy menatapku dengan tatapan tidak suka. Aku duduk


Oppy duduk di kursi utama, berhadapan. Aku, Luna, dan


Lea duduk berhadapan dengan Farel dan Zayn, suasananya


bener-bener canggung. Semua fokus untuk menghabiskan


makanan di piring masing-masing.


***


"Lelahnya, apa kalian mau ke kantin?" tanya Farel sembari


meregangkan otot-ototnya, "Tidak," jawabku singkat, "Eh, kamu


kenapa, Ra?" tanya Farel, aku tidak menjawab. Entah kenapa, beberapa hari ini, hatiku menjadi


dingin, yang biasanya aku slalu tersenyum ketika membaca


sesuatu yang menyentuh, tapi sekarang malah tidak ada


reaksi apapun. Aku tidak bisa merasakan hal itu, seolah-olah, aku


sudah tidak mempunyai ekspresi apapun. "Ra, kamu baik-baik saja?"


tanya Lea, aku mengangguk. Lea dan Farel saling menatap,


lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Hei, jika kamu


ada masalah, katakan pada kami. Jangan main kode-kodean, kami


bukan orang yang peka, tolong beritahu kami ..." kata


Farel, aku masih tidak ingin menjawab, "Baiklah,


kami pergi ke kantin dulu." Farel dan Lea meninggalkanku


di kelas, disini masih ada beberapa anak yang sudah


kembali dari kantin, termasuk Zayn.


Aku membuka buku diary-ku, dan kembali menulis beberapa


hal disitu. Menulis untuk orang yang akan pergi selanjutnya,


dariku. "Hei, apa yang kau tulis?" Aku tidak menghiraukan


pertanyaan Zayn, "Hei, jawab pertanyaanku!"


Aku masih tidak menghiraukannya, "Kamu kenapa, Ra? Perasaan


tadi pagi, kamu juga baik-baik aja, kamu badmood?"


tanya Zayn, aku menggeleng, "Lalu ada apa? Mau cerita?"


Aku terdiam, "Zayn, setelah Farel kembali, bantu aku


menyusun jadwal sepadat mungkin untuk kita berlima ..."


kataku singkat, "Jangan mengalihkan arah pembicaraan,


Ra! Aku tau, ada sesuatu yang mengganggumu, ceritalah, kalo kamu nggak


cerita, aku


nggak tau apa masalahmu."


"Nggak, Zayn, makasih ... aku hanya memerlukan


bantuanmu dan Farel untuk menyusun jadwal. Tinggalkan


aku sendiri ..." kataku, Zayn meninggalkanku,


pergi. Karna


Farel dan Lea belum kembali, guruku juga belum datang,


sesekali


aku mengatur jadwal kami sendirian.


Entah kenapa,


sepertinya kondisiku untuk hari ini sedikit nge-drop.


Aku merasa sangat kelelahan dan pusing.


Aku : Lea, aku mau istirahat di UKS dulu, nanti tolong absenin aku ya?


Lea : (。ŏ_ŏ)


Lea : Lho, kamu kenapa?


Aku : Nggak apapa, cuman butuh istirahat bentar ... makasih ya, maaf ngerepotin.


Setelah memberi kabar pada Lea, aku segera pergi


ke UKS, untuk beristirahat. Entah kenapa, kepalaku


pusing, padahal jika dihitung, istirahatku sudah termasuk


cukup. Jika karna aku belum memakan sesuatu,


aku sudah terbiasa dengan itu, lalu mengapa tiba-tiba


kepalaku pusing, dan badanku lemas?


Klink!


Zayn : Gadis, apa kau baik-baik saja?


Aku : Ya.


Zayn : Apa kau butuh bantuanku?


Aku : Tidak.


Aku : Zayn, tolong jangan mengganggu istirahatku, aku benar-benar merasa pusing dan kelelahan ....


Zayn : Baiklah, aku tidak akan mengganggumu, selamat istirahat.


***


"Ukh, kenapa kepalaku masih sakit?" kataku sembari mengubah


posisi tidurku menjadi posisi duduk. Aku melihat


ke sekeliling, sepi, tidak ada siapa pun. Aku memejamkan


mataku sejenak. "Kira-kira, apa alasan yang tepat untuk pusing


dan lelahku ini?" Aku mengambil HP-ku yang berada


di atas nakas, melihat, pukul berapakah sekarang?


Setelah melihat jam, aku menelfon Farel, ini adalah istirahat kedua.


"Halo, Rel, aku bisa minta tolong?" tanyaku.


Bersambung ....