You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 47



"Kalian berdua tadi dari mana aja?" tanya Lea yang sudah


mulai memarahi Farel dan Zayn, "Bukannya kamu sudah tau?"


tanya Farel balik, "Hei, kalian pergi selama itu,


apa pantatmu tidak panas jika selama itu?" Lea sudah benar-benar


mulai emosi, "Baiklah, baik, tadi setelah aku keluar dari


toilet, aku pergi menemui seseorang, apa kau puas dengan


jawabanku?" tanya Farel. Lea hanya mendengus sebal.


"Sudahlah, yang terpenting sekarang, aku akan menyerahkan


jadwal yang sudah kami rangkai tadi. Itu belum selesai,


kalian harus menyelesaikan nya berdua, ini adalah hukuman,"


kataku. Farel dan Zayn terlihat keberatan, Luna hanya cekikikan,


sedangkan Lea, dia masih marah.


Aku sudah membeli semua persediaan yang habis


di pondok. Tinggal mengatur jadwal kami sepadat-padat nya.


Ini tugas Zayn dan Farel. Karna mereka nggak bantu


aku sama Lea tadi. Malah Hero yang membanru kami.


"Hei, tidak bisakah kalian berhenti bertengkar?"


tanya Zayn, "Lea, tuh! Masa masalah kecil di besar-besarin!"


kata Farel, "Eh, enak aja, ini bukan masalah kecil,


ya? Masa kamu nyuruh Ra mikir jadwal sebanyak itu,


padahal kalian tau, dia lagi sakit, kan?"


bantah Lea.


Aku hanya bisa menghela nafas dan menggeleng-


nggeleng kan kepala. "Oh ya, keadaanmu gimana, Ra?


Udah mendingan?" tanya Farel. Aku mengangguk.


"Kalian berdua, nih, jangan-jangan jodoh," goda


Zayn, "Dih, nggak sudi!" jawab Lea dan Farel serempak.


Dan mereka meneruskan perdebatan tiada henti. "Baiklah, sepertinya


kalian tidak akan berhenti berkelahi ...


untuk itu, siapa


yang sampe di pondok duluan,


dia akan


mendapat makan malam yang spesial ..." kataku menengahi.


Mendengar kata "makan malam spesial", Farel dan Lea


segera berlari secepat mungkin untuk sampai


di pondok duluan. Kami bertiga tertawa melihat mereka


berdua yang lari terbirit-birit demi makan malam spesial.


"Hahaha ... emang kamu nanti malem mau bikin apa?"


tanya Zayn dengan sisa tawanya, "Bukan aku, tapi kau,"


jawabku, Zayn melotot, "Masakanmu enak, mereka berdua


mempunyai selera yang sama, jadi itulah makan malam yang


spesial. Makanan yang di masak oleh koki favorit mereka,"


kataku. Zayn menghela nafas, Luna sudah tidak bisa menahan


tawanya. "Baiklah, mari pulang, jangan buat mereka berdua


menunggu lama. Atau kita akan mendapat hukuman karna


mereka bertengkar," kata Zayn.


Kami sampai di depan pondok, Lea dan Farel terlihat


kelelahan, Zayn dan Luna tertawa terbahak-bahak.


"Sudah, setelah ganti baju, Zayn bantu aku di dapur, Farel meletakkan


barang-barang ini sesuai tempatnya, Luna lanjutkan


belajarmu, dan Lea, tolong kamu beri makanan,


untuk kelinci dan kucing di belakang. Kalo kandang nya udah


kotor, tolong bersihin juga, ya?" kataku, "Kak, gimana kalo


aku di marahi Oppy atau mam, karna tidak ikut mengerjakan


tugas?" tanya Luna, "Nggak apapa, biar aku yang minta


izin nanti," jawabku. Luna menunduk lesu, seperti nya Luna benar-


benar takut dengan amarah Oppy atau mam.


Brak!


"Dari mana saja kalian?" tiba-tiba pintu di buka dari dalam,


dan yang keluar tentu saja Oppy. "Kenapa baru pulang,


apa kalian ingin di hukum?" tanya Oppy dengan amarah.


"Oppy, tenang lah, mereka tidak melakukan kesalahan


yang fatal," kata mam yang tiba-tiba muncul dari belakang Oppy.


"Biarkan saja aku memarahi mereka, agar mereka tau


diri, dan tidak seenaknya!" jawab Oppy. Ketika mendengar


"tau diri dan tidak seenaknya", sungguh, hatiku geram


dibuat nya. Otakku mulai memanas, api amarahku mulai


berkobar.


"Sekarang juga, kalian pergi naik-turun bukit,


sebanyak sepuluh kali, cepat!" kata Oppy memerintah.


"Maaf, tapi kami tau diri, dan tidak seenaknya. Kami


pulang terlambat karna ada alasan, dan kami, sudah,


meminta izin pada, Mam, apa anda paham?" kataku, Lea menarik


tubuhku, menyuruhku mundur, aku hanya menatapnya


dengan tajam. Mam memang mengetahui bahwa kami


akan pulang terlambat, jadi tidak masalah, beliau juga mengizinkan


nya, dan tidak mempermasalahkan hal itu.


"Apa hakmu untuk berbicara atas nama teman-temanmu?"


tanya Oppy, "Aku memiliki hak untuk berbicara, dan


aku yang bertanggung jawab atas segalanya, di


antara teman-temanku! Permisi, kami mau mengganti baju,"


kataku sembari menarik Luna untuk masuk ke dalam pondok.


Lea, Zayn, dan Farel hanya diam membisu, dan mengikutiku


masuk. Aku benar-benar heran sama Oppy, mengapa dia


"Kak, tenang lah, jangan terlalu emosi, aku yakin, sebenarnya


Oppy memiliki maksud yang baik ..." kata Luna.


Aku hanya menghela nafas, aku sudah tidak ingin berkata


apa-apa. "Sudah lah, ini juga bukan salah Ra, sepenuh nya ...


cepat ganti baju kalian, dan lakukan tugas yang Ra


berikan tadi," kata Zayn. Kami memasuki kamar masing-masing.


"Ra, apa kau masih marah dengan kejadian tadi?"


tanya Lea, aku tidak menjawab pertanyaan Lea. "Ra, ini bukan kamu!


Kemana Neara yang aku kenal? Kemana Neara sahabatku?


Kemana Neara kami yang ceria? Kemana Neara kami


yang penyabar? Kemana Neara kami yang hangat?


Kemana itu semua? Sungguh, ini bukan kamu, Ra ..."


ucap Lea lirih. Aku memejamkan mata, lalu berkata,


"Sudah lah, aku lelah, aku mau mandi dulu,"


Aku meninggalkan


Lea dan Luna sendirian.


Kenapa juga aku merasa kehilangan diriku yang dulu?


Aku adalah aku, tidak ada yang berubah, kecuali ...


sifat. Apa sifatku yang berubah? Ah, kesal rasanya!


Aku memukul dinding kamar mandi, melampiaskan


seluruh kekesalan, amarah, dan rasa lelahku.


Sebenarnya kepalaku masih pusing, tapi aku merasa,


lebih baik melupakan hal itu, lama-lama juga pasti hilang.


Setelah mandi, aku segera mengganti bajuku,


kemudian pergi ke dapur. Zayn sudah mulai memasak.


"Maaf, aku terlambat," kataku, "Ra, habis ini boleh bicara


sebentar?" tanya Zayn, aku menatap nya, lalu bertanya, "Apa yang


mau kamu bicarakan?" Zayn menarik napas, "Nanti saja dulu,


setelah makan malam," kata Zayn. "Neara, Zayn, bisakah kalian


menambah porsi makan malam nya menjadi


sebelas porsi?" tanya mam yang tiba-tiba sudah berada di


belakangku, aku mengangguk.


"Memang ada tamu yang


akan datang, Mam?" tanya Zayn, "Iya," jawab mam singkat.


"Siapa?" lagi-lagi Zayn bertanya, aku mencubit


lengan nya pelan, Zayn menatapku. "Baiklah, kami


akan segera membuatnya," kata Zayn yang mengerti


maksud cubitan dan tatapanku. Mam pergi meninggal


kan kami berdua. Aku dan Zayn kembali fokus dengan


masakan kami masing-masing.


Pukul 17.00


"Neara, beritahu ke taman-temanmu, agar memakai pakaian


yang sopan dan pantas ketika makan malam


nanti," kata mam, aku mengangguk. Lalu kembali ke


kamarku, dan melihat Zayn, Farel, Lea, dan Luna berkumpul.


"Syukurlah kalian disini, jadi aku tidak harus pergi


ke dua tempat dan mengatakan nya dua kali," ucapku,


mereka semua menatapku. "Ada apa?" tanya Farel,


"Mam menyuruh kita untuk mengenakan


pakaian yang pantas


untuk makan malam nanti," jawabku.


"Apa perlu?" tanya Lea, aku hanya mengangguk.


"Tapi aku malas memilih pakaian, aku lebih nyaman


mengenakan pakaian yang seadanya," keluh Zayn. Aku menatap


nya, "Apa? Aku benar-benar malas memilih baju, Ra,


apa itu salah?" tanya Zayn. Aku membuka lemari bajuku,


Lea, dan Luna. Baju yang kami bawa hanya beberapa, itu pun


kebanyakan baju santai. "Kalau begitu, kalian mandi


dulu, aku akan menyiapkan baju untuk kalian berdua,"


kata Lea menatap Farel dan Zayn. Aku dan Luna mandi duluan.


10 menit kemudian ....


"Zayn sama Farel udah balik, kan?" tanyaku, Lea mengangguk,


"Udah, sini, kamu pilihin buat aku, Luna pilihin buat


kamu ... tadi aku udah pilihin baju buat Luna,


ada di atas kursi,"


kata Lea, aku mengangguk. Lea masuk ke dalam kamar mandi.


"Kak, aku nggak yakin bisa pilihin baju yang cocok buat


Kakak," kata Luna, "Nggak apapa, pasti kamu bisa," kataku.


Luna mulai mencocok-cocok kan bajuku satu per satu.


Aku pun mulai mencocok kan baju Lea satu per satu.


Setelah mendapat baju yang cocok, aku meletakkan


nya di atas kasur, begitu pula Luna. Aku memilih


tang top warna putih, rompi berlengan panjang warna


pink, dan rok selutut berwarna merah maroon.


Luna memilih kaos tipis berwarna putih, dan kulot


berwarna biru langit. Sedangkan untuk Luna, Lea memilih


sweater berwarna kuning, dan jeans biru dongker.


Aku dan Luna segera mengganti pakaian kami masing-masing.


Nggak lama setelah kami berganti baju, Lea keluar dari


kamar mandi. Dia segera mengganti handuk nya,


menjadi baju yang tadi kupilihkan.


Bersambung ....