
"Kalian berdua tadi dari mana aja?" tanya Lea yang sudah
mulai memarahi Farel dan Zayn, "Bukannya kamu sudah tau?"
tanya Farel balik, "Hei, kalian pergi selama itu,
apa pantatmu tidak panas jika selama itu?" Lea sudah benar-benar
mulai emosi, "Baiklah, baik, tadi setelah aku keluar dari
toilet, aku pergi menemui seseorang, apa kau puas dengan
jawabanku?" tanya Farel. Lea hanya mendengus sebal.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang, aku akan menyerahkan
jadwal yang sudah kami rangkai tadi. Itu belum selesai,
kalian harus menyelesaikan nya berdua, ini adalah hukuman,"
kataku. Farel dan Zayn terlihat keberatan, Luna hanya cekikikan,
sedangkan Lea, dia masih marah.
Aku sudah membeli semua persediaan yang habis
di pondok. Tinggal mengatur jadwal kami sepadat-padat nya.
Ini tugas Zayn dan Farel. Karna mereka nggak bantu
aku sama Lea tadi. Malah Hero yang membanru kami.
"Hei, tidak bisakah kalian berhenti bertengkar?"
tanya Zayn, "Lea, tuh! Masa masalah kecil di besar-besarin!"
kata Farel, "Eh, enak aja, ini bukan masalah kecil,
ya? Masa kamu nyuruh Ra mikir jadwal sebanyak itu,
padahal kalian tau, dia lagi sakit, kan?"
bantah Lea.
Aku hanya bisa menghela nafas dan menggeleng-
nggeleng kan kepala. "Oh ya, keadaanmu gimana, Ra?
Udah mendingan?" tanya Farel. Aku mengangguk.
"Kalian berdua, nih, jangan-jangan jodoh," goda
Zayn, "Dih, nggak sudi!" jawab Lea dan Farel serempak.
Dan mereka meneruskan perdebatan tiada henti. "Baiklah, sepertinya
kalian tidak akan berhenti berkelahi ...
untuk itu, siapa
yang sampe di pondok duluan,
dia akan
mendapat makan malam yang spesial ..." kataku menengahi.
Mendengar kata "makan malam spesial", Farel dan Lea
segera berlari secepat mungkin untuk sampai
di pondok duluan. Kami bertiga tertawa melihat mereka
berdua yang lari terbirit-birit demi makan malam spesial.
"Hahaha ... emang kamu nanti malem mau bikin apa?"
tanya Zayn dengan sisa tawanya, "Bukan aku, tapi kau,"
jawabku, Zayn melotot, "Masakanmu enak, mereka berdua
mempunyai selera yang sama, jadi itulah makan malam yang
spesial. Makanan yang di masak oleh koki favorit mereka,"
kataku. Zayn menghela nafas, Luna sudah tidak bisa menahan
tawanya. "Baiklah, mari pulang, jangan buat mereka berdua
menunggu lama. Atau kita akan mendapat hukuman karna
mereka bertengkar," kata Zayn.
Kami sampai di depan pondok, Lea dan Farel terlihat
kelelahan, Zayn dan Luna tertawa terbahak-bahak.
"Sudah, setelah ganti baju, Zayn bantu aku di dapur, Farel meletakkan
barang-barang ini sesuai tempatnya, Luna lanjutkan
belajarmu, dan Lea, tolong kamu beri makanan,
untuk kelinci dan kucing di belakang. Kalo kandang nya udah
kotor, tolong bersihin juga, ya?" kataku, "Kak, gimana kalo
aku di marahi Oppy atau mam, karna tidak ikut mengerjakan
tugas?" tanya Luna, "Nggak apapa, biar aku yang minta
izin nanti," jawabku. Luna menunduk lesu, seperti nya Luna benar-
benar takut dengan amarah Oppy atau mam.
Brak!
"Dari mana saja kalian?" tiba-tiba pintu di buka dari dalam,
dan yang keluar tentu saja Oppy. "Kenapa baru pulang,
apa kalian ingin di hukum?" tanya Oppy dengan amarah.
"Oppy, tenang lah, mereka tidak melakukan kesalahan
yang fatal," kata mam yang tiba-tiba muncul dari belakang Oppy.
"Biarkan saja aku memarahi mereka, agar mereka tau
diri, dan tidak seenaknya!" jawab Oppy. Ketika mendengar
"tau diri dan tidak seenaknya", sungguh, hatiku geram
dibuat nya. Otakku mulai memanas, api amarahku mulai
berkobar.
"Sekarang juga, kalian pergi naik-turun bukit,
sebanyak sepuluh kali, cepat!" kata Oppy memerintah.
"Maaf, tapi kami tau diri, dan tidak seenaknya. Kami
pulang terlambat karna ada alasan, dan kami, sudah,
meminta izin pada, Mam, apa anda paham?" kataku, Lea menarik
tubuhku, menyuruhku mundur, aku hanya menatapnya
dengan tajam. Mam memang mengetahui bahwa kami
akan pulang terlambat, jadi tidak masalah, beliau juga mengizinkan
nya, dan tidak mempermasalahkan hal itu.
"Apa hakmu untuk berbicara atas nama teman-temanmu?"
tanya Oppy, "Aku memiliki hak untuk berbicara, dan
aku yang bertanggung jawab atas segalanya, di
antara teman-temanku! Permisi, kami mau mengganti baju,"
kataku sembari menarik Luna untuk masuk ke dalam pondok.
Lea, Zayn, dan Farel hanya diam membisu, dan mengikutiku
masuk. Aku benar-benar heran sama Oppy, mengapa dia
"Kak, tenang lah, jangan terlalu emosi, aku yakin, sebenarnya
Oppy memiliki maksud yang baik ..." kata Luna.
Aku hanya menghela nafas, aku sudah tidak ingin berkata
apa-apa. "Sudah lah, ini juga bukan salah Ra, sepenuh nya ...
cepat ganti baju kalian, dan lakukan tugas yang Ra
berikan tadi," kata Zayn. Kami memasuki kamar masing-masing.
"Ra, apa kau masih marah dengan kejadian tadi?"
tanya Lea, aku tidak menjawab pertanyaan Lea. "Ra, ini bukan kamu!
Kemana Neara yang aku kenal? Kemana Neara sahabatku?
Kemana Neara kami yang ceria? Kemana Neara kami
yang penyabar? Kemana Neara kami yang hangat?
Kemana itu semua? Sungguh, ini bukan kamu, Ra ..."
ucap Lea lirih. Aku memejamkan mata, lalu berkata,
"Sudah lah, aku lelah, aku mau mandi dulu,"
Aku meninggalkan
Lea dan Luna sendirian.
Kenapa juga aku merasa kehilangan diriku yang dulu?
Aku adalah aku, tidak ada yang berubah, kecuali ...
sifat. Apa sifatku yang berubah? Ah, kesal rasanya!
Aku memukul dinding kamar mandi, melampiaskan
seluruh kekesalan, amarah, dan rasa lelahku.
Sebenarnya kepalaku masih pusing, tapi aku merasa,
lebih baik melupakan hal itu, lama-lama juga pasti hilang.
Setelah mandi, aku segera mengganti bajuku,
kemudian pergi ke dapur. Zayn sudah mulai memasak.
"Maaf, aku terlambat," kataku, "Ra, habis ini boleh bicara
sebentar?" tanya Zayn, aku menatap nya, lalu bertanya, "Apa yang
mau kamu bicarakan?" Zayn menarik napas, "Nanti saja dulu,
setelah makan malam," kata Zayn. "Neara, Zayn, bisakah kalian
menambah porsi makan malam nya menjadi
sebelas porsi?" tanya mam yang tiba-tiba sudah berada di
belakangku, aku mengangguk.
"Memang ada tamu yang
akan datang, Mam?" tanya Zayn, "Iya," jawab mam singkat.
"Siapa?" lagi-lagi Zayn bertanya, aku mencubit
lengan nya pelan, Zayn menatapku. "Baiklah, kami
akan segera membuatnya," kata Zayn yang mengerti
maksud cubitan dan tatapanku. Mam pergi meninggal
kan kami berdua. Aku dan Zayn kembali fokus dengan
masakan kami masing-masing.
Pukul 17.00
"Neara, beritahu ke taman-temanmu, agar memakai pakaian
yang sopan dan pantas ketika makan malam
nanti," kata mam, aku mengangguk. Lalu kembali ke
kamarku, dan melihat Zayn, Farel, Lea, dan Luna berkumpul.
"Syukurlah kalian disini, jadi aku tidak harus pergi
ke dua tempat dan mengatakan nya dua kali," ucapku,
mereka semua menatapku. "Ada apa?" tanya Farel,
"Mam menyuruh kita untuk mengenakan
pakaian yang pantas
untuk makan malam nanti," jawabku.
"Apa perlu?" tanya Lea, aku hanya mengangguk.
"Tapi aku malas memilih pakaian, aku lebih nyaman
mengenakan pakaian yang seadanya," keluh Zayn. Aku menatap
nya, "Apa? Aku benar-benar malas memilih baju, Ra,
apa itu salah?" tanya Zayn. Aku membuka lemari bajuku,
Lea, dan Luna. Baju yang kami bawa hanya beberapa, itu pun
kebanyakan baju santai. "Kalau begitu, kalian mandi
dulu, aku akan menyiapkan baju untuk kalian berdua,"
kata Lea menatap Farel dan Zayn. Aku dan Luna mandi duluan.
10 menit kemudian ....
"Zayn sama Farel udah balik, kan?" tanyaku, Lea mengangguk,
"Udah, sini, kamu pilihin buat aku, Luna pilihin buat
kamu ... tadi aku udah pilihin baju buat Luna,
ada di atas kursi,"
kata Lea, aku mengangguk. Lea masuk ke dalam kamar mandi.
"Kak, aku nggak yakin bisa pilihin baju yang cocok buat
Kakak," kata Luna, "Nggak apapa, pasti kamu bisa," kataku.
Luna mulai mencocok-cocok kan bajuku satu per satu.
Aku pun mulai mencocok kan baju Lea satu per satu.
Setelah mendapat baju yang cocok, aku meletakkan
nya di atas kasur, begitu pula Luna. Aku memilih
tang top warna putih, rompi berlengan panjang warna
pink, dan rok selutut berwarna merah maroon.
Luna memilih kaos tipis berwarna putih, dan kulot
berwarna biru langit. Sedangkan untuk Luna, Lea memilih
sweater berwarna kuning, dan jeans biru dongker.
Aku dan Luna segera mengganti pakaian kami masing-masing.
Nggak lama setelah kami berganti baju, Lea keluar dari
kamar mandi. Dia segera mengganti handuk nya,
menjadi baju yang tadi kupilihkan.
Bersambung ....