
Karna, aku bersama Farel, dan Lea bersama Luna. Jadi Zayn sendirian, meskipun begitu, dia tetap sanggup menjalankannya.
Selama 15 menit, kami terus melakukan shit-up, rasanya perutku kram. Semakin banyak keringatku yang bercucuran, nafasku juga sudah tidak teratur.
Sesekali aku menatap Zayn, sejauh ini, dia bertahan tanpa sedikit pun keluhan yang keluar dari mulutnya. Lea slalu tersenyum jail jika mengetahui aku sedang menatap Zayn.
"Anak-anak, aku akan memperkenalkan kalian dengan teman yang akan membantuku melatih kalian!"
Dari dalam pondok sederhana itu, keluar seorang wanita yang sangat anggun, "Ini temanku, sekaligus teman Lusi, Hilda, Jaen, dan Rey!"
"Namaku Poppy, kalian dapat memanggilku Oppy, tidak ada pembantahan dari kata-kataku!" Aku menelan ludah, "Ah, Oppy, kau tidak perlu terlalu keras dengan anak-anak ini ...."
"Sudahlah, aku hanya ingin menetapkan peraturan kita berempat untuk anak-anak ini! Baiklah, cukup, lakukan push-up!"
Apa? Kami harus melakukan semua ini sampai kapan? Perutku sudah kram, nafasku sudah tidak beraturan.
Aku menatap Lea, Lea balik menatapku, mulutnya bergerak tanpa suara, "Aku kelelahan ... Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi melakukannya!"
Aku mengangguk, kami berdua sepertinya memiliki rasa yang sama, bukan, bukan kami berdua, tapi kami berlima, "Oppy, Mam, bisakah kita beristirahat sejenak?"
"Tidak ada yang boleh berhenti sebelum aku berkata 'berhenti'! Kalian itu anak-anak remaja yang hanya bisa bermain gadget, melupakan orang-orang di sekitar kalian!"
"Membuat jiwa yang telah ditanam oleh nenek moyang kalian, menghilang begitu saja! Membuat jiwa kalian menjadi lemah, mudah malas, penyakitan, dan berani membantah!"
"Oppy, apa tidak sebaiknya kita mengistirahatkan mereka dulu?" Oppy menggeleng, aku menghela nafas, lalu mengusap peluh di dahiku.
Aku kembali melakukan push-up, tidak, tapi kami melakukan push-up bersama-sama. Sekali lagi, selama belasan menit, kami terus melakukan push-up.
Kaki dan tanganku sudah tidak kuat menahannya, tenggorokanku kering, badanku panas dan kelelahan, sepertinya aku membutuhkan minum dan istirahat.
Bruuk!
Tubuhku tumbang, aku menatap Luna dan Lea, mereka juga ikut tumbang. Badan kami kelelahan, Farel, dan Zayn menghampiri kami.
Mereka membantuku duduk, "Apa kamu baik-baik saja Ra?" Aku mengangguk. Luna dan Lea pingsan, bukan hanya sekadar tumbang, "Luna! Lea!"
Aku bangkit dan menghampiri mereka, "Tolong, beri kami waktu untuk beristirahat, kasihan mereka kelelahan ..." mohonku
"Tidak! Tidak ada yang boleh beristirahat!" Aku geram, tidak masalah jika aku tidak beristirahat, sampai aku mati pun tidak masalah.
Tapi ini menyangkut masalah sahabatku, ini sama sekali tidak lucu, aku berdiri, "Nyonya, jika anda tidak memberiku waktu istirahat, itu tidak masalah!"
"Aku akan melakukannya sesuai keinginanmu, termasuk hingga aku mati sekali pun, aku tetap akan melakukannya!"
Aku mengepalkan jari-jariku, "Tapi ini menyangkut sahabatku, aku tidak bisa terus diam seperti ini! Jika kau terus seperti ini, dia akan mengalami kondisi kesehatan yang buruk!"
Farel menahan tanganku, menyuruhku untuk tidak mengeluarkan seluruh emosiku, aku melepas tangannya, aku menatap Farel.
Lalu kembali menatap Oppy, "Aku! Hanya! Ingin! Kau! Memberikan! Istirahat! Untuk sahabatku!" kataku tegas, Mam dan Oppy terkejut.
"Lihat, sekarang kau berani memerintahku!" kata Oppy, "Oppy ... Sudahlah, berikan istirahat pada mereka!"
"Tidak akan! Mereka harus menjadi petarung sejati, untuk itu, mereka tidak boleh menjadi orang yang lemah, baik fisik, atau pun mental!"
"Kau—!" Farel menarikku, "Ada apa nyonya? Apa anda ingin menggertak sahabat saya?" Aku menatap Farel, "Nyonya, beri Neara kesempatan untuk berbicara!"
"Baiklah ..." Aku tersenyum pada Farel, Farel mengangguk, "Aku ingin bertanya satu hal padamu, jika bundaku, bunda Zayn, ayahku, ayah Zayn, dan Mam berada pada posisi Luna dan Lea ...."
Mereka terkejut, wajah Oppy terlihat sedih "Baiklah, cukup! Aku akan memberikan kalian istirahat ..." Suaranya terdengar sendu.
"Neara, maafkan aku, aku akan segera membawakan teh dan air untuk sahabatmu dan adik angkatmu!" Beliau masuk.
"Neara dan Farel, aku menunjuk kalian sebagai orang yang bertanggung jawab atas teman kalian!" kata Mam, aku mengangguk.
Zayn membawa tubuh Luna ke dalam kamar kami, Farel membawa Lea. Kami menidurkan mereka berdua di atas kasur, aku mengusap kening mereka yang masih penuh sama keringat.
Aku tau, jika berkata seperti itu pada orang yang lebih tua tidak sopan, tapi ini sahabatku, aku tidak mau kehilangan dia. Lea sudah kuanggap lebih dari sahabat.
Aku tidak bisa membiarkannya terluka, atau berada dalam bahaya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi anak-anak, aku membawakan air hangat dan teh hangat untuk Luna dan Lea. Dan Neara, tolong maafkan sikap kerasku tadi!" Aku terdiam.
"Tidak apapa, aku seharusnya juga minta maaf Nyonya, aku hanya tidak ingin kehilangan sahabatku!"
"Setelah ini, keluarlah, hari ini aku dan Erna yang memasak makan malam." Aku mengangguk, lalu tersenyum, "Terima kasih Nyonya ...."
Beliau keluar dari kamarku, "Apa kamu mau mandi dulu Ra?" tanya Farel, "Aku mengangguk, "Tolong gantikan aku untuk menjaga mereka!"
15 menit kemudian ....
"Apa kalian sudah mandi?" tanyaku, Farel dan Zayn mengangguk, "Kami bergantian tadi, apa kau mau ikut keluar bersama kami?" Aku menggeleng.
"Tidak, terima kasih, aku sedang tidak mood makan." kataku, Zayn menyentuh jidatku, "Apa kau sakit, Ra?" Aku melepas tangannya, lalu menggeleng.
"Tidak, aku tidak sakit, keluarlah, aku akan berada disini bersama mereka berdua!" kataku. Entah kenapa, tiba-tiba aku nggak mood ngapa-ngapain.
Zayn dan Farel keluar dari kamarku, aku menatap Lea dan Luna secara bergantian. Aku berdiri, membuka buku kosong yang ada di atas meja.
Tok! Tok! Tok!
Aku membuka pintu, "Ada apa Mam?" tanyaku, "Nak, apa kau masih marah atas kelakuan Oppy?" Aku menggeleng.
"Lantas mengapa kau tidak mau makan bersama kami?" Aku tersenyum, "Apa Farel dan Zayn tidak memberi tau Mam? Aku tidak mau makan karna aku tidak mood ..."
"Huh ... Syukurlah, apa kamu mau makan yang lain?" Aku menggeleng, "Terima kasih, aku hanya ingin menemani Lea dan Luna disini."
"Baiklah ... Oh ya, aku meminta tolong padamu, tolong aturkan jadwal sepadat-padatnya untuk kalian, aku percaya jika kau tidak akan curang dalam mengatur jadwal!"
"Dan, buatkan masing-masing orang jadwal sehari-hari mereka sendiri, apa kau mengerti?" tanya Madam, "Apa aku boleh meminta bantuan Zayn atau Farel?"
Mam mengangguk, "Terserah, aku percaya padamu ... Baiklah, aku akan makan malam dulu, selamat malam Ra?" Aku mengangguk.
"Neara ... Apa itu kau?" Aku membantu Lea berdiri, "Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanyaku, Lea menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mengembalikan pengelihatannya yang kabur, dan kepalanya yang pusing, "Tidak, terima kasih, apa kita sudah selesai berlatih?" Aku mengangguk.
"Ra, jujur padaku, apa kau tadi melawan perintah Oppy dan Mam?" Aku terdiam, Lea menepuk jidat, "Buat apa kamu ngebantah perintah mereka?"
"Karna aku tidak tega melihatmu dan Luna yang sudah terkulai lemas di hadapanku ... Maafkan aku Lea," kataku.
Bersambung ....