
"Kamu kenapa Dek? Kok tumben nelfon?" tanya kak Gabie, aku terdiam sejenak, "Dek, kamu kok diem? Ada apa? Ayo, bicara sama kakak."
"Kak, apa Kakak bisa pulang besok? Aku ingin kehadiran Kakak dihari ulang tahunku ... Kakak adalah satu-satunya keluargaku sekarang, kumohon, apa Kakak bisa meluangkan waktu?" aku berusaha membujuk kak Gabie pulang.
"Dek, kakak minta maaf, disini masih banyak banget pekerjaan kakak yang numpuk! Kakak nggak bisa ngelepas tanggung jawab kakak gitu aja ..."
"Kak, kumohon, pulanglah besok, walau hanya sebentar. Setidaknya kau ada di rumah saat hari ulang tahunku tiba, walau hanya sebentar saja!" Aku masih berusaha.
"Sekali lagi, kakak minta maaf Dek. Tanggung jawab kakak banyak banget disini, kamu ngertiin kakak ya?" Aku mendengus sebal.
"Apa aku bukan tanggung jawab Kakak?" kataku sebal, "Eh, kakak minta maaf Dek, kakak nggak bisa pulang besok ... Kerjaan kakak numpuk banget disini!"
"Sudahlah, lupakan! Selamat bekerja!" kataku ketus, lalu menutup telfonnya. Aku benar-benar kesal dengan kak Gabie, aku hanya ingin dia hadir dihari ulang tahunku.
"Ra, aku boleh meminjam HP mu?" tanya Lea, aku memberikan HP ku, "Terima kasih Ra." Aku menatapnya, "Memangnya untuk apa?"
Lea, diam saja, menghiraukan pertanyaanku. Aku tidak bertanya lagi, aku benar-benar kesal dengan kak Gabie.
"Terima kasih Ra." Aku mengangguk, "Lea, aku bosan, enaknya ngapain ya?" Lea menggeleng, "Aku nggak tau Ra, aku mau istirahat dulu!" jawab Lea ketus.
Ada apa dengan Lea? Mengapa dia jadi ketus begitu? Apa kesalahan yang kubuat hingga Seli marah padaku?
Ah, kenapa hari ini sangat menyebalkan? Aku hanya tiduran disofa seharian. Aku nggak tau mau ngapain.
"Farel, kamu mau masak cemilan bareng aku?" tanyaku, "Udah deh, buat aja sendiri, ngapain pake ngajak-ngajak!" aku terkejut, nggak biasanya Farel ngomong kayak gitu ke aku.
"Kamu kenapa sih Rel? Lea juga, tiba-tiba kalian berubah jadi aneh tau!" Lea dan Farel saling tatap, "Kita nggak berubah! Kamu nya aja yang nggak tau sifat asli kita!"
"Apaan sih, kenapa semuanya jadi nyebelin sih! Kak Gabie yang nggak bisa pulang! Kalian yang sifatnya berubah drastis!"
"Ra, nggak semua orang sifatnya bakal sama setiap harinya, dan nggak akan berubah! Pasti ada sifatnya yang berubah!" kata Zayn dingin, aku melongo. Zayn juga ikut-ikutan?
"Kamu yang terlalu naif Ra ... Kamu hanya berpikir bahwa kami adalah sahabat terbaikmu, dan kamu adalah sahabat terbaik kami."
"Tapi kamu salah, kamu bukan sahabat yang baik buat kami! Kamu tuh terlalu naif dan terlalu polos, mangkanya yang mau temenan sama kamu cuman kita aja!"
"Sebenernya, kita tuh temenan sama kamu karna kasihan aja, ngelihat kamu nggak punya temen." Mataku mulai berkaca-kaca.
Aku memang cengeng, aku nggak bisa bohong kalo aku anak yang cengeng, "Dan soal perasaanku ke kamu itu, juga pura-pura aja. Aku kasihan sama kamu, jadi aku bilang ke kamu, kalo aku suka ama kamu."
Pernyataan itu adalah pernyataan paling menyakitkan yang keluar dari mulut Zayn. Apa dia hanya bercanda dengan perasaan nya ke aku? Lelucon macam apa ini, ya tuhan?
Aku memejamkan mataku, "Terserah! Terserah kalian mau ngomongong apa! Aku nggak peduli, bagiku, sahabat adalah sahabat. Sahabat nggak pernah jadi musuh, dan untuk perasaanmu Zayn—"
Aku menarik nafas dalam-dalam, "Terima kasih sudah membohongiku ... Aku harap, kamu tidak akan membohongi wanita lain tentang perasaan nya!"
"Aku mau istirahat dulu, Lea, kamu tetap sahabatku, begitu pula kamu Farel! Zayn, aku tetap mempercayaimu, aku tidak akan melanggar omonganku!"
Aku berlari ke kamar, aku membanting pintu kamar sekencang-kencangnya. Sungguh, ini tidak lucu! Entah apa yang mau tuhan tunjukkan kepadaku, tapi ini sungguh menyakitkan!
Aku menatap langit-langit kamar, "Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak tau mesti berbuat apa!" kataku sambil bergumam pelan.
Aku memejamkan mataku, apa yang akan terjadi besok? Besok adalah ulang tahunku, aku ingin merayakannya bersama orang-orang terdekatku.
Tapi mereka tidak ada di sampingku ... Kak Gabie yang sibuk bekerja, dan sahabat-sahabatku yang berubah. Sungguh sial nasibku.
Aku : Hero, sikap Lea, Farel, dan Zayn berubah. Mereka membuatku terus kepikiran, dan terus merasa bersalah ... ╯﹏╰
Hero : Gadis, maafkan aku ...
Aku : Eh, kenapa kau meminta maaf padaku?
Hero : Besok kamu berulang tahun kan? Kamu mau hadiah apa dariku?
Aku : Bisakah kau membuat kak Gabie pulang besok? Dan bisakah kau merubah sifat teman-temanku?
Aku : Hahaha ... Lupakan, aku hanya bercanda, kau tidak perlu memberiku hadiah apapun Hero! (๑・ω-)~
Hero : Katakan gadis, apa yang kau mau?
Aku : Aku tidak mau apa-apa Hero, sungguh!
Hero : Apa kau mau sebuah hadiah dariku?
Aku : Aku tidak menginginkan hadiah apapun! Aku hanya ingin orang-orang terdekatku hadir di sisiku besok ....
Hero : Baiklah ... Permintaanmu akan segera di kabulkan yang mulia putri. ≧∇≦
Aku : (⊙.⊙)
Aku : Aku bukan yang mulia putri. Dan kau tidak mungkin mengabulkan permintaanku itu!
Hero : Jika aku berhasil mengabulkan nya, kau akan memberiku hadiah apa?
Aku : (。ì _ í。)
Aku : Aku akan menuruti 2 kemauanmu Hero. Apa itu setara dengan hal yang akan kau lakukan untukku?
Hero : Baik, 2 kemauanku, berlaku kapan pun, setuju?!
Aku : Setuju!
Hero : Selamat tidur gadis, jangan begadang, matamu jadi mata panda nanti.
Aku : (¬_¬)
Aku : Baiklah, selamat tidur juga Hero!
Pukul 14.52
"Hei, apa kau tidak mau makan?" Lea mengguncang-guncangkan tubuhku, "Lea, aku mau tidur lebih lama lagi ... Badanku masih lelah setelah mengurus Zayn kemarin-kemarin!"
"Hei, bangun! Kau tidur seperti **** tau!" Aku membuka mataku, "Ya, dan kau adalah teman ****!" Aku masuk ke kamar mandi, lalu turun untuk sarapan, sekaligus makan siang.
Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-16 tahun, tepat 16 tahun yang lalu, aku lahir di rumah sakit xx.
Dan tepat 13 tahun yang lalu, ayahku yang meninggal dunia. Dua kali ketika aku berulang tahun, aku kehilangan orang terdekatku.
Setelah makan siang, aku mencuci semua piring dan gelas kotor. Lalu membereskan kamar tidurku dan kamar tamu.
Pukul 16.05
"Astaga, ini sangat melelahkan." Aku membaringkan tubuhku di sofa, Zayn, Farel, dan Lea sibuk membicarakan sesuatu.
"Apa kalian mau ikut denganku ke makam orang tuaku?" tanyaku, mereka menatapku, "Kami tidak akan mau ikut denganmu," jawab Farel cuek.
Ah, sudahlah! Aku tidak memerlukan mereka di sana. Aku segera bersiap-siap berangkat.
"Aku berangkat!" kataku, aku keluar dari rumah, aku memesan taksi online, "Pak, sebelum ke tempat tujuan, tolong antar saya ke toko bunga terdekat ..." Aku masuk ke dalam taksi online.
Bersambung ....