You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 32



Aku menatap Hero, dia balik menatapku, aku tersenyum. Aku merasa nyaman, jadi aku tidak marah atau melepaskan genggaman nya.


"Mbak, spesialnya dua ya?" kata Hero, dia masih nutupin mukanya pake masker sama topi. Habis itu, kerpus hoodie-nya juga dipake.


"Emph—" Hero mencet hidungku, lalu terkekeh, aku memegangi hidungku, "Hero! Kamu ngapain sih?" tanyaku sebal.


"Habis, kamu ngelamun terus ngelihatin aku ... Apa yang kamu pikirkan Neara? Katakan!" Aku menggeleng.


"Tidak mau, percuma saja aku memberitahumu!" kataku, "Baiklah, terserah padamu!" kata Hero mengangguk-ngangguk.


"Apa kamu mau belanja sesuatu?" Aku menggeleng, "Hei gadis, mengapa dari tadi kau hanya diam saja?" Aku menunduk.


Mengaduk-ngaduk es krimku, "Aku ... Entahlah, aku takut sesuatu akan terjadi!" kataku, "Yaudah, kalau gitu, nggak usah dipikirin lagi Neara ...."


"Itu hanya perasaanmu sesaat, entar juga hilang-hilang sendiri." Aku menghela nafas, "Hero, kamu itu siapaku sih, kenapa kamu milih nolongin aku hari itu?"


"Eh, kenapa kamu tiba-tiba nanya kayak gitu ke aku?" Aku menggeleng, "Rasanya tidak mungkin jika dua orang yang baru pertama kali saling kenal, langsung jadi nyaman!"


"Dan tidak ada rasa curiga sedikit pun, aku yakin, kamu itu orang yang slalu berada di sekitarku! Atau mungkin, kamu itu—"


"Ah, lupakan! Aku sudah selesai makan!" kataku, aku masih berpikir, siapa Hero sebenarnya?


Hero menatapku, "Maafkan aku gadis, aku memiliki alasan tersendiri untuk tidak memberitahumu ...."


"Sudahlah, aku sudah tidak mood lagi sekarang!" kataku, aku bermain HP, Hero menghabiskan es krimnya.


"Baik, tujuan selanjutnya kemana?" Aku menggeleng, tidak tau, dan malas dengan Hero. Aku sedang tidak mood sekarang, rasanya kayak, ya males aja gitu.


"Apa kau marah denganku?" Aku terdiam, Hero menghela nafas, "Baiklah, jika kau marah padaku, apa sekarang kau mau kuantar pulang?"


"Terserah ..." jawabku, "Ayolah, perempuan memang sulit dimengerti!" Aku menatap Hero, "Kenapa kau tidak bisa menceritakannya padaku?"


"Karna itu rahasia, aku takut kau tidak akan mempercayaiku." jawab Hero, "Sudahlah, apa kau mau minum bubble?" tanyaku.


"Apa kau sudah tidak marah?" mata Hero membulat, "Aku tidak pernah marah!" Aku berjalan duluan.


Pukul 15.49


"Terima kasih untuk hari ini Hero ..." kataku, "Baiklah, sama-sama." Aku tersenyum, Hero balas tersenyum, "Mungkin ini terakhir kalinya aku hadir di sisimu ...."


"Apa maksudmu?" tanyaku, "Kita tidak akan bertemu lagi setelah ini ... Jaga dirimu baik-baik, jangan mencari kesalahan terus-menerus!"


"Apa maksudmu Hero?" Hero tersenyum, lalu menggeleng, "Tidak apa, masuklah, sampai jumpa lagi ... Itu pun kalau masih ada kesempatan!"


Aku tidak mengerti maksud Hero, aku maksud ke rumah, "Aku pulang!" kataku, sepertinya kak Gabie sama Lea belum pulang deh.


Aku ganti baju, habis itu baca novel yang baru aku beli tadi.


Tok! Tok! Tok!


Aku berdiri, "Sebentar ..." kataku, aku membukakan pintu, "Eh, kamu ngapain Rel?" tanyaku, "Hehehe ... Habis jogging!" Aku menepuk jidat.


"Kenapa jogging-nya jam segini?" tanyaku, "Apa kamu mau minum?" Farel mengangguk, "Baiklah, masuk, duduk, dan tunggulah." kataku.


Aku membuatkan Farel minum sama cemilan, "Silahkan ..." kataku, "Apa kamu melihat Zayn?" tanyaku.


Farel menggeleng, "Ada apa, apa dia kabur lagi?" Aku menggeleng, "Tidak, aku hanya belum melihatnya dari tadi."


Aku melanjutkan membaca novel, "Hei, apa kerjaanmu hanya membaca novel saja sekarang?"


"Maaf, aku sedang tidak mood!" jawabku dingin, "Hei, kenapa kaku berubah jadi seperti ini? Apa ini ulah Zayn?" Aku menggeleng.


Zayn tidak ada hubungannya dengan mood-ku. Aku hanya merasakan sesuatu dari kata-kata Hero tadi.


"Neara!" aku tersentak dari lamunanku, "Kamu sedang melamunkan apa Ra?" Aku menggeleng, "Sudahlah, kau mau apa kesini?" tanyaku.


10 menit kemudian ....


"Baiklah, aku pulang!" Farel menutup pintu rumahku. Hah ... Akhirnya aku sendirian lagi. Aku menuliskan beberapa cerita dan ungkapan perasaanku di dalam diary yang Hero berikan padaku.


Pukul 20.21


"Ra, apa kamu mau ke rumah sakit?" Aku mengangguk, "Aku hanya ingin mengetahui keadaan kak Keli dan nenek. Mungkin jam 10 nanti, aku baru pulang!" kataku.


"Ra, kamu istirahat dulu saja di rumah, kamu pasti kecapekan ..." Aku menggeleng, "Tidak Lea, aku ingin menemui nenek dan kak Keli!"


Lea menatapku, "Nurut sama aku, kamu di rumah aja, toh, ini udah malem. Besok aja ya kesana nya?"


"Baiklah, baik, aku akan tetap tinggal di rumah!" kataku, aku kembali naik ke kamar. Lalu kembali menulis sesuatu di dalam diary-ku.


Ya, memang terlihat seperti anak kecil, namun ini akan menjadi kenangan suatu saat nanti.


"Neara, apa rencanamu besok?" aku mengedikkan bahu, tidak tau, "Kalo kamu?" tanyaku balik, "Aku juga nggak tau Ra ...."


"Gimana kalau besok kita membelikan hadiah untuk 2 orang yang spesial buat kita, selain keluarga?" usul Lea.


"Hm ..." jawabku singkat, "Ih, kamu lagi nulis apaan sih?" tanya Lea sebel, "Eh, maaf, aku lagi nulis sesuatu yang belum bisa aku ungkapin untuk seseorang."


"Hayoloh, siapa hayo?" tanya Lea dengan nada menggoda, "Lea, berhentilah menggodaku!" kataku.


"Neara, kamu sayang nggak sih sama Zayn?" aku berhenti menulis, lalu terdiam, dan melanjutkan menulis.


Lea menghela nafas, "Kalo sayang, ungkapin aja Ra ... Jangan ditahan, kalau dia nya udah menjauh, nanti kamu juga yang nyesek lho!"


"Entahlah, aku juga nggak tau Lea, aku nggak tau dan nggak bisa ungkapin rasa hatiku sendiri ..." jawabku.


"Neara, Neara, itu perasaan kamu sendiri, kamu yang bisa mengetahuinya. Kalian berdua mungkin sering bertengkar, debat terus, dan lain sebagainya."


"Tapi kalo kalian udah kompak, aduh, yakin deh, kalian kayak orang pacaran tau!" Aku menatap Lea, lalu tersenyum kecut.


"Kami hanya sebatas teman, tidak lebih. Zayn tidak mungkin menyukaiku, aku hanyalah gadis biasa," kataku.


"Itu mungkin-mungkin saja bila takdir mengizinkan." jawab Lea santai, "Sudahlah, itu semua tidak penting!"


"Aku hanya ingin mengatakan, kalau kamu sayang sama Zayn, jangan dilepas, karna suatu hari nanti, kamu pasti akan kehilangan dia!"


Aku tersenyum, lalu menepuk bahu Lea, "Baiklah, terima kasih sarannya!" kataku.


Pukul 22.00


Aku masih menulis sesuatu, Lea sudah tertidur pulas di sampingku. Aku tersenyum, "Kalau yang di omongin Lea bener, aku akan sangat menyesal!"


Klink!


Zayn : Kamu udah tidur?


Aku : Belum, kenapa?


Zayn : Marah sama aku?


Aku : Nggak, kan kamu duluan yang ngilang dari tadi!


Zayn : Eh, maaf, tadi aku banyak kerjaan di perusahaan.


Zayn : Nenek sama kak Keli kan lagi sakit, Emma masih belum bisa ngurus perusahaan.


Zayn : Jadi, aku sama Leo yang mengurus, jadi kamu jangan marah, ya?


Bersambung ....