
Klink!
"Nah, mungkin itu chat dari mereka? Aku mau ambil HP dulu, kamu tunggu disini aja." Aku beranjak bangkit, mengambil HP di kamarku.
Hero : Selamat siang menjelang sore gadis.
Hero : Jangan kecewa gadis, walau aku bukan teman yang kamu tunggu, setidaknya mereka baik-baik saja ....
Aku : Kamu tau mereka dimana?
Hero : Tentu saja aku tau. Teman-temanmu baik-baik saja, hanya saja mereka membeli sesuatu yang amat sangat penting.
Hero : Jangan katakan pada mereka, aku memberitahumu. Dan jangan bertanya apapun ke mereka, kumohon gadis ... (*>.<*)
Aku : Baiklah! Terima kasih Hero! ≧ω≦
Hero : Sama-sama gadis. Katakan pada Lea, dia tidak perlu cemas lagi, mereka baik-baik saja, sebentar lagi mereka akan pulang.
Aku : Baik, sekali lagi, terima kasih banyak Hero! Kau sangat membantuku, bisakah kau menunjukkan wajahmu?
Hero : Σ( ° △ °|||)
Hero : Baiklah gadis, aku akan mengirimkan fotoku, hanya bagian mataku saja. Tunggu sebentar!
Aku menunggu foto dari Hero, aku benar-benar penasaran dengan wajahnya.
Klink!
Hero : 口Foto
Hero : Lihatlah sepuasmu, sampai jumpa gadis!
Aku : Baiklah, terima kasih!
Hero : Jangan berterima kasih, atau meminta maaf kepadaku. Kamu gadisku, aku akan slalu ada dan slalu membantumu sebisaku ....
Aku : Baik, aku tidak akan mengucapkan terima kasih, atau pun maaf. Sampai jumpa Hero!
Hero : Sampai jumpa gadis.
Aku membuka foto Hero, Hero hanya mengirimkan foto sepasang mata berwarna hazel. Warna dan bentuk matanya sangat familiar dengaku, itu adalah mata Hero.
Aku segera turun, "Lea, Zayn dan Farel baik-baik aja ... Mereka ada urusan, jadi belum pulang, kata Zayn, sebentar lagi mereka akan pulang!" kataku mencoba menutupi fakta, bahwa Hero yang memberitahuku.
Kalo Lea tau yang memberitahuku bukan Zayn atau Farel, dia pasti semakin cemas. Aku tau itu, jadi aku berbohong pada Lea.
"Syukurlah jika mereka tidak apapa." wajahnya nampak lebih lega dan tenang, "Kamu mau makan dulu atau nunggu mereka?" tanyaku, "Aku nunggu mereka pulang aja, biar kita bisa makan siang sama-sama."
Ini sudah sepuluh menit berlalu, mereka masih saja belum pulang. Lea masih menunggu mereka pulang.
Tok! Tok! Tok!
"Bentar ya Lea ..." waktu aku mau bukain pintu, Lea nahan tanganku, "Ra ... Berhati-hatilah, aku takut jika itu pembunuh berantai yang berhasil mengetahui kehadiranku ..." Suara Lea lebih bergetar dari sebelumnya.
Aku tersenyum, "Terima kasih Lea, aku akan mengambil sesuatu yang berguna. Kamu tunggulah disini, jangan kemana-mana!" aku mencari sesuatu yang bisa berguna, balok kayu yang ada di belakang rumahku.
Aku mengambil posisi kuda-kuda dengan balok kayu yang terangkat, lalu membuka pintu, aku bersiap memukul, dan ....
Hampir saja aku memukul Zayn dan Farel, mereka memandangku dengan tatapan aneh, "Kamu ngapain Ra?" tanya Farel, aku berdiri seperti semula.
"Eh, maaf, kukira tadi pembunuh berantai yang berhasil mengetahui keberadaan Lea. Aku nggak mau ambil resiko, jadi aku siap-siap dengan apa yang akan terjadi." jawabku sedikit malu.
"Hahaha! Baiklah, baiklah, apa kalian sudah makan siang?" aku menggeleng, "Kalo gitu, sekarang kita makan siang." Farel merangkul bahuku.
Aku menepis tangannya, "Ganti baju dulu, lalu cuci tangan, baru makan!" kataku memperingati, Farel memutar matanya, "Baiklah, aku akan cuci tangan dulu."
"Zayn, ganti bajumu, lalu cuci tangan, baru makan. Kami sudah menunggu kalian cukup lama, sekarang aku dan Lea sangat lapar!" kataku, aku menutup pintunya.
Setelah mereka mencuci tangan dan ganti baju, kami segera makan siang, "Farel, Zayn, kalian nggak dicari sama orang tua kalian? Atau pengawal-pengawal kalian?" tanyaku, mereka saling tatap.
"Tidak, orang tua kami terlalu sibuk dengan urusannya, sampai-sampai mereka melupakan kenyataan, bahwa mereka mempunyai kami, anak mereka." jawab Farel santai.
"Aku tidak masalah, karna orang tuaku sama saja dengan orang tua Farel. Bahkan mereka tidak akan peduli aku pergi kemana, atau mengapa aku tidak pulang sama sekali." Suara Zayn terdengar lebih sendu.
Meja makan lengang sejenak, kami semua diam membisu. Dengan muka yang dingin, aura yang khas, dengan suaranya yang sendu, lengkap sudah aura kesedihan dalam dirinya.
Aku tau ada sesuatu yang di sembunyikan Zayn, tapi aku nggak tau apa itu. Ini benar-benar menjadi sebuah misteria kehidupan, untuk seorang Zayn Dirgantara.
Sosok Zayn dikenal sangat misterius, murid-murid di sekolah kami hanya mengetahui latar belakang Zayn, tapi tidak ada yang tau menahu, soal orang tua Zayn.
Kami menyelesaikan makan siang dengan membisu. Sejak perkataan Zayn, kami tidak berani mengeluarkan satu kata pun. Zayn dan Farel mencuci piring dan gelas, aku dan Lea beres-beres rumah.
Aku : Hero, apa kau tau soal orang tua Zayn? Aku khawatir dengannya, dia terdengar sendu ketika aku membahasnya ... ≥﹏≤
Aku : Aku yakin sekali, dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Apa kamu tau itu apa?
Hero masih belum baca chat-ku, aku lanjutin bersih-bersih rumah. Setelah selesai membersihkan rumah, aku membuatkan es lemon untuk mereka, tidak terkecuali Lea.
Tubuhnya sudah pulih dengan cepat, "Zayn, apa kamu sudah menemukan cara lain?" tanyaku, "Kami tidak mungkin izin selama dua hari."
"Aku sudah ngomong sama Farel. Kita berdua meninggalkan satu poin yang sama Ra, jika mereka berpencar, itu akan lebih mudah dilakukan, kita bisa mengalahkan orang yang berjaga di gerbang sekolah!" Aku menepuk jidat.
"Farel, Zayn, mereka pembunuh berantai yang terlatih, mereka tidak peduli dengan kondisi disekitar mereka ... Mereka akan menyelesaikan tugas mereka, hingga selesai!" kataku tegas.
"Betul kata Ra ... Melawan salah satu dari mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan! Itu akan sangat beresiko, aku nggak mau ngambil resiko!" Lea ikut bersuara.
"Tapi Lea, setiap pilihan pasti ada resikonya!" bantah Farel, "Rel, walau setiap pilihan ada resikonya, kita bisa ambil resiko yang kecil, jangan ambil yang besar Rel!"
"Aku tau Ra, tapi itu resiko paling kecil, nggak ada solusi lain!" Aku benar-benar pusing dengan semua ini, "Kita nggak mungkin ambil resiko yang berbahaya buat kita semua ...."
"Terus gimana? Kita ada di jalan buntu sekarang, udah nggak ada jalan lain selain jalan tadi!" Aku menggeleng, "Kita pasti masih punya jalan keluar lain. Zayn, kenapa kamu diem aja dari tadi?"
"Eh, maaf Ra, aku lagi mikir solusi lainnya. Ra benar Rel, kita nggak bisa ambil resiko sebahaya itu, kita cuman anak SMA!" Kami kembali berpikir.
Dua jam berlalu dengan keheningan, kami masih tidak bisa menemukan solusi lain, "Kita tidak bisa mencarinya sendiri Zayn, Rel, Ra ... Kita membutuhkan bantuan orang lain yang bener-bener bisa dipercaya." Kami menatap Lea.
"Kita akan memikirkannya setelah makan malam, sekarang mandi dulu, dan bantu aku memasak makan malam." Aku beranjak bangkit, masuk ke kamar mandi.
Pukul 18.07
"Makan malam siap! Zayn! Farel! Turunlah ke meja makan, makan malam sudah siap!" kataku berteriak dari bawah.