
"Selamat malam Neara ... Aku adalah nenek Zayn, senang bisa mengobrol denganmu Nak." terdengar suara seorang wanita paruh baya.
"Eh, selamat malam nyonya ..." sapaku kaku, "Hahaha ... Benar apa kata Rio, kamu adalah anak yang sopan! Jangan memanggilku nyonya, Neara." eh, suara nenek Zayn terdengar sangat bersahabat.
"Panggil aku nenek, aku yakin, kelak kau akan menjadi cucuku! Nak, aku boleh memanggilmu Ra?" tanya nenek Zayn, "Tentu saja, mmm ... Nek?"
"Hahaha ... Bagus, panggil aku nenek, jangan pernah memanggilku nyonya! Ra, nenek ingin bertemu denganmu, apa kamu keberatan jika wanita tua ini berkunjung ke rumahmu, Nak?"
Apa? Bentar, kenapa neneknya Zayn mau kesini? Astaga! Otakku langsung nge-blank gitu aja. Siapa aku? Dimana aku? Aku terlalu gugup.
"Eh, tentu saja, Nek, Nenek kapan datang ke sini? Disini ada dua temanku dan Zayn yang lain, Nenek pasti mengenal salah satu dari mereka!" Aku berusaha akrab dengan nenek Zayn.
"Mungkin ketika kamu berulang tahun, Neara. Nenek akan kesana bersama saudara Zayn yang lain, kamu pasti mengenalnya bukan? " Apa yang dimaksud nenek itu Keillie, Emma, sama Leo?
Atau justru Della yang dibawa kemari? Aku tidak tau, aku benar-benar pusing dengan keadaan ini!
"Baiklah Nenek, dengan senang hati kutunggu kedatangan Nenek! " kataku, "Terima kasih telah menerima permintaan wanita tua ini, Nak ... Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa Nenek!" kataku, "Oh ya Neara, kalau Zayn mengganggumu atau menindasmu, katakan padaku, biar nenek kasih pelajaran anak itu!"
"Hahaha ... Baiklah, Nenek, selamat malam." nenek Zayn menutup telfonnya, astaga, nenek Zayn belum tidur? Ini sudah dini hari, apa nenek Zayn jelmaan dari kelelawar?
Aku masuk ke kamar Zayn, aku duduk di sampingnya. Aku membelai rambutnya, "Zayn, aku baru saja ngobrol dengan nenekmu! Beliau sangat bersahabat, apa beliau akan menyukaiku?"
"Apakah kau akan memperkenalkan diriku yang sebenarnya? Dan menjelaskan hubungan kita yang sebenarnya?" Aku memejamkan mataku perlahan.
Angin malam yang sejuk ...
Rembulan yang indah, tertutup oleh gumpalan awan hitam ...
Suara hewan-hewan malam, menghilang ...
Pertanda hujan akan turun ...
Tidurlah dengan nyenyak wahai anak muda ....
Suara hujan dan angin yang berhembus akan mengiringi tidurmu ...
Pejamkan matamu, berdoa lah, dan tidurlah dengan nyenyak ...
Tidak akan ada yang mengganggumu tidur ...
Selamat malam pria kecilku ...
Tidurlah dengan nyenyak ...
Aku slalu berada di sampingmu, jangan kau memikirkan hal lain ...
So, sleep my little man, have a nice dream ...
Aku menyanyikan pelan lagu yang biasa dinyanyikan kak Gabie sewaktu aku kecil dulu.
Dia menyanyikan lagu itu ketika aku tidak bisa tidur, atau ketika aku bersedih. Hanya kuganti beberapa liriknya, karna ini untuk anak laki-laki, bukan perempuan.
Pukul 03.19
Aku merasa, ada yang menggendong tubuhku, dia membawaku pergi. Aku tidak bisa membuka mataku, aku terlalu lelah untuk membuka mataku.
Dia meletakkanku di ... Kasur! Siapa dia? Entahlah, aku hanya ingin tidur, "Gadis, jika kau ingin menjaga Zayn, kau juga harus menjaga kesehatanmu sendiri."
Aku mendengar samar-samar suara laki-laki, dia mengenakan hoodie dan masker. Dia adalah Hero.
"Hero, apa itu kau? " Aku kembali tertidur. Mataku terlalu lelah, aku tidak bisa mengenali orang yang berada di hadapanku.
Pukul 10.32
"Selamat pagi Ra. Bagaimana dengan tidurmu? Nyenyak?" tanya Lea, "Mari, makanlah sarapan ini dulu. Aku yang memasaknya, Zayn sudah makan, Farel sudah berangkat!"
Aku tercengang, "Lea, maaf aku merepotkanmu, aku sangat lelah tadi malam, hingga aku ketiduran, dan entah siapa yang membawaku ke kamar."
Lea tersenyum jahil, "Astaga! Siapa pangeran yang rela menggendongmu masuk ke dalam kamar?" Aku menggeleng, tidak tau.
"Tapi kurasa, itu adalah Hero!" Mata Lea membulat, "Apa benar itu Hero? Sayang sekali aku tidak terbangun waktu itu ...."
"Zayn sedang apa?" Lea mengangkat bahu, "Tadi, waktu aku ambil makanan sama obat, dia cuman ngelamun aja." Aku tersedak mendengar ucapan Lea.
"Apa kau mau menjenguknya?" Aku mengangguk, cepat-cepat menghabiskan sarapanku, sekaligus makan siangku.
Setelah makan, aku mencuci piringnya terlebih dahulu. Setelah mencuci piring, aku mengetuk pintu kamar Zayn.
Tok! Tok! Tok!
"Zayn, ini aku, Ra ... Apa aku boleh masuk?" tanyaku dengan suara yang pelan, "Masuklah ..." Suara Zayn terdengar dingin dan cuek. Apa dia marah padaku?
Aku membuka pintu, "Zayn, apa kau baik-baik saja?" tanyaku, "Halo Ra, bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Aku mengangguk.
"Kata Lea, kau melamun terus, ada apa? Katakan padaku." Aku duduk di samping Zayn, "Tidak apa, aku hanya memikirkan perkataanmu ..." jawab Zayn lemas.
"Tadi malam, nenekmu menelfonku. Beliau bilang, beliau mau kau menjenguknya, beliau khwatir dengan kondisimu, karna kau tak kunjung pulang!" jelasku.
"Nenek juga bilang, beliau akan kemari ketika hari ulang tahunku tiba." Zayn mengerutkan kening, heran.
"Mengapa nenek sangat ramah padamu? Nenek bukanlah orang yang mudah ramah dengan siapa saja."
"Entahlah, aku juga tidak tau. Bagaimana keadaanmu?" tanyaku, aku memeriksa kening Zayn, panasnya udah lumayan turun.
"Aku baik-baik saja Ra, panasku juga sudah turun." jawab Zayn santai, "Tapi kau masih panas Zayn, kau tetap harus mengikuti peraturanku jika kau masih belum sembuh!"
"Apa kau berani mengaturku? Apa kau tidak takut aku memberimu pelajaran?" Aku menggeleng, lantas tersenyum.
"Jika kau menggangguku, atau menindasku, aku akan mengadukannya pada nenek!" Zayn melongo.
"Kau curang! Nenek menyukaimu, dan dia berada di pihakmu!" kata Zayn bersungut-sungut, "Sudahlah, kamu harus istirahat sekarang." kataku.
Zayn mendengus sebal, "Astaga Ra, aku bosan di kamar terus!" Aku mengerutkan kening, "Lantas kau mau kemana? "
"Boleh aku ke ruang tamu? Dan bolehkah aku meminjam salah satu novel atau komikmu?" Aku menepuk jidat.
"Baiklah, aku akan membawamu memilih bukunya dulu, lalu kita turun ke ruang tamu." kataku. Setelah memilih buku, kami turun ke ruang tamu, aku menuntun Zayn.
"Zayn, duduklah disini, aku mau ke kamar dulu." kataku, aku mengambil HP ku, lalu masuk ke kamar.
Aku : Hero, jika aku memilih memberi Zayn waktu untuk membuktikan kata-katanya, apa itu keputusan yang tepat?
Hero : Itu keputusanmu gadis, aku tidak tau mana yang tepat untukmu. Aku bukan peramal, kau tidak percaya aku peramal bukan? ╮(╯▽╰)╭
Aku : Aku memang tidak percaya Hero, tapi menurutmu bagaimana?
Hero : Sekali lagi, itu keputusanmu, kau yang akan menjalaninya, kau yang akan menanggung setiap resiko dari pilihanmu!
Aku : (︺︹︺)
Aku : Aku bingung Hero ....
Hero : Bye the way, terima kasih atas pertunjukan tadi malam, itu sangat hebat gadis. Suaramu sangatlah bagus, kenapa aku tidak pernah melihatmu bernyanyi?
Aku : Karna menurutku, suaraku tidak sebagus yang kamu kira. Itu hanya kebetulan Hero, lagi pula aku juga nggak suka menyanyi.