You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 43



"Ok, ok, aku ngomong sekarang." kata kak Frida, ok,


aku menunggu kalimat selanjutnya. Kak Frida ngeluarin


sesuatu dari dalam tas nya. Lama amat, sih, kak Frida


nyari sesuatu, atau lupa bawa sesuatu?


"Nah, ketemu! Nih, ini seragam sama perlengkapan


sekolahnya Luna, kamu udah bisa sekolah nanti." kata kak


Frida, mata Luna membulat dan berbinar-binar,


"Sekolahnya Luna dimana, Kak?" tanyaku, "SD samping


sekolahmu ..." Mataku membulat, "Beneran, Kak?" Kak Frida mengangguk, "Yaudah, semangat


ya, buat sekolah sama latihannya, bye!"


Kita masuk kedalem, "Yaudah, habis ini, kalian berdua


beres-beres, Zayn langsung ke halaman belakang, biar


aku sama Farel yang ngurus sisanya. Biar nanti kita nggak


telat dateng ke sekolah." Mereka mengangguk,


aku pergi ke dapur buat nyiapin sarapan sama bekal makan siang.


"Neara," suara Mam, aku segera berbalik badan, "Iya,


Mam, ada apa?" tanyaku, "Nanti siang, kamu ada acara?"


Aku mengangguk, "Bukan saya saja, Mam, tapi Zayn, Farel, dan Lea juga


ada acara ..." jawabku, "Acara apa?" tanya Mam, "Sekolah


rencananya mau mengadakan drama untuk ujian praktek.


Setiap kelas, wajib menyumbang satu adegan drama,


dan hari ini, kelasku memulai pemilihan tokoh, dan latihan."


"Apa kamu boleh izin pulang sore?" tanyaku, "Baiklah,


pukul empat sore, kalian harus sudah sampai. Jangan telat ya, dan segera selesaikan


jadwal kalian." Aku mengangguk lesu, "Maaf, bila aku


mengatur-ngatur waktu kalian, aku hanya ingin kalian


menjadi orang yang luar biasa, sama seperti Rey,


Hilda, Lusi, dan Jaen." Aku mengangguk, mengerti, "Untuk


itu, aku mempercayakanmu membuat jadwal untuk kalian." Aku terkejut,


mungkinkah .... Mam mau meringankan beban kami?


"Makasih, Mam ..." kataku sembari tersenyum,


"Sama-sama, aku hanya tidak ingin membuat kalian


tidak nyaman berada disini," kata Mam, lalu meninggalkan dapur.


Aku kembali fokus sama masakanku, Farel sedang mengecek


persediaan di pondok ini. Setelah selesai sibuk


dengan bumbu-bumbu di dapur, sekarang aku hanya perlu


menunggu masakanku matang. Aku meninggalkan masakanku, lalu pergi ke halaman


belakang, astaga! Apa ini surga dunia?


Sungguh, pemandangan disini sungguh indah, hamparan


padang bunga warna-warni, kuda-kuda poni yang sedang makan


rumput, beberapa kandang kucing dan kelinci, kira-kira,


ada 10 kandang. 5 terisi, 5 kosong. Bahkan


dari sini,


aku bisa melihat gunung


yang mungkin


masih ribuan kilometer letaknya dari


tempatku berada


sekarang. Dan, ya, tentu saja disitu


ada Zayn.


Dia yang mengurus kuda-kuda milik Mam, itu adalah tugasnya.


"Hmph—" Zayn sedang memandikan salah satu kuda poni


milik Mam, mukanya terlihat masam dan sebal, "Hahaha!"


Ok, aku sudah nggak bisa menahan tawaku lagi. Zayn menatapku,


wajahnya semakin masam, melihatku menertawainya.


Ok, aku tau, ini nggak baik, tapi sungguh, ini sangat


menggelikan.


Zayn mendekatiku, "Apa kamu puas? Apa


kamu sudah puas


menertawaiku, Ra?" tanya Zayn,


"Hahaha! Ha—maaf—maafkan aku, Zayn—hahaha!" Aku masih


tertawa, Zayn semakin sebal melihatku, "Baiklah,


apa kamu disini hanya untuk menertawaiku?"


Aku menggeleng, masih dengan sisa tawa di mukaku.


"Neara! Apa kau ingin membuatku sebal? Bisakah kau


berhenti tertawa?" tanya Zayn gemas, "Aku—hmph—"


Aku menarik nafas, lalu menghembuskannya, "Baiklah, baik, aku tidak akan


tertawa lagi." kataku, "Lalu, sedang apa kau disini?" Zayn


kembali bertanya, "Aku ingin mengurus kelinci dan kucing


milik Mam ... itu adalah tugasku!" jawabku sambil berlalu


melewati Zayn. Aku membuka kandang satu per satu,


aaaaa, kenapa mereka sangat imut? Aku melihat anak-anak


kelinci yang sedang tertidur pulas dengan imutnya.


Aku mengambil


empat mangkuk dari dalam kandang itu, lalu meletakkan nya


di atas rumput. Begitu pula empat kandang berikutnya. Setelah semua


mangkuk terkumpul, aku segera membawanya


ke tepi kolam, untuk mencucinya.


Zayn sudah kembali melanjutkan tugasnya. Setelah


mencuci mangkuk-mangkuk itu, aku mengeringkannya


sebentar, sambil meninggalkannya buat liat masakanku.


Huh, syukurlah belum gosong. Kataku dalam hati, "Ra, aku


udah nge-cek semuanya, nih, catetannya kalo kamu mau liat."


Aku menerima dua lembar kertas dari Farel, hm ... lumayan


stok yang udah mau habis? Apa nanti aku juga buat jadwal buat belanja?


"Yaudah, nanti aku atur jadwalnya, sekarang terserah, kamu


mau ngapain." kataku, "Yaudah, aku ke kamar aja." Aku


mengangguk, tinggal menunggu nasinya matang, yang


kira-kira masih 45 menit lagi, matangnya, dan ... sarapan


udah jadi. Aku mematikan kompor, lalu kembali ke halaman


belakang, "Apa kau belum selesai?" tanyaku, Zayn menggeleng,


aku segera membalik mangkuk yang tadi aku keringkan,


lalu, 6 mangkuk kuisi dengan air, 4 mangkuk kuisi susu, 6 mangkuk


kuisi wortel, dan 4 mangkuk sisanya, kuisi makanan kucing.


Setelah itu, aku hendak memindahkan mereka kedalam


5 kandang yang kosong, dan sudah bersih, "Zayn, bisa bantu


aku?" tanyaku, "Bantu apa?" tanya Zayn balik, "Bantu


memindahkan anak-anak kelinci dan kucing ini, kedalam kandang


yang kosong itu." Zayn bangkit, lalu menghampiriku,


"Astaga, apa kau mau menambah beban tugasku?"


kata Zayn, aku terkekeh, "Ayolah, kumohon?" mohonku,


"Baiklah, baik, aku akan membantumu, tapi kau juga harus


membantuku! Setuju?" ucap Zayn sembari mengulurkan


jari kelingking nya, aku mengaitkan jari kelingkingku


di kelingking Zayn, lalu mengangguk, "Setuju!"


Ketika aku membuka kandang pertama, astaga!


Mereka sudah bangun? Aaaww, mereka jadi semakin lucu!


Kataku gemas sendiri, Zayn memindahkan kelinci di


kandang satunya, biar cepat selesai. Aku segera mengambil


mereka semua, setiap kandang berisi 4-5 anak kucing


dan kelinci. Tentu saja mereka berbeda kandang, kucing


dengan kucing, dan kelinci dengan kelinci.


Setelah memindahkan mereka, aku memasukkan


mangkuk-mangkuk itu ke dalam kandang-kandang yang


bersih, "Eits, mau kemana?" tanyaku sambil menarik baju Zayn,


"Aku belum selesai, aku masih harus membersihkannya,


kau akan membantuku, kan?" tanyaku, Zayn melongo, aku


terkekeh. Akhirnya Zayn membantuku membersihkan


lima kandang kotor itu.


"Zayn! Berhentilah mencipratiku dengan air!" kataku


sebal, "Hehehe, kan aku membantumu ..." jawab Zayn


dengan nada jailnya, "Zayn! Berhenti!" kataku, Zayn masih


belum berhenti, aku menciprati Zayn balik, "Hah, rasakan kau!"


kataku, Zayn berlari menghindariku, aku mengejarnya.


Sesekali Zayn berbalik, dan mulai mencipratiku


kembali. Aku menarik bajunya, lalu menoletkan busa sabun


yang


ada ditanganku, pada wajah Zayn.


"Hahaha! Apa kau masih mau menjailiku?" tanyaku


penuh dengan kemenangan, "Hei, tidak semudah itu!"


Zayn balas menoleti


wajahku dengan busa sabun yang ada ditangannya,


"Hei! Awas kau!" Zayn berlari menghindari tanganku, "Berhenti!


Kau harus mendapat balasan dariku!" kataku yang masih terus mengejar Zayn. Astaga, apa


dia mempunyai kekuatan super?


"Hahaha, kau tidak akan bisa menangkapku! Bleee ..." kata


Zayn menjulurkan lidahnya, mengejekku, "Ih, awas aja


kamu, ya!" Aku kembali mengejarnya, "Ha! Mau lari kemana


lagi kau?" tanyaku yang sudah menghadang Zayn dari


depan. Zayn melangkah mundur perlahan, "Eh, jangan


dong, please?" Aku menggeleng, "Kau jail, maka aku akan


membalasnya!" kataku, "Hei,


kan kau


dulu yang menertawakanku!" Aku terdiam, Zayn menyeringai


misterius, sekarang apa yang akan dia lakukan? Apa dia


akan membebaskanku, atau membalas perbuatanku?


Argh! Aku membencimu Zayn!


"Hehehe ... apa yang sedang kau pikirkan, gadis?"


tanya Zayn dengan nadanya yang menakutkan, sekarang aku yang perlahan-lahan melangkah


mundur. Telat, Zayn berhasil menggapai tanganku, dan


menarikku. Dia menahan tanganku dengan satu


tangannya, astaga, dia bukan manusia! Dia iblis yang kuat ...


seharusnya aku tidak mengganggunya, huhuhu! Dan


tangan yang satunya menggelitikku tanpa ampun, perutku


sampai sakit di buatnya, "Hahaha! Tolo—ng—hentikan


Za—Zayn!" mohonku yang masih tertawa karna rasa geli


yang di sebabkan gelitikan Zayn. Sedangkan Zayn terlihat sangat puas, karna berhasil


membalaskan dendamnya padaku, dan dia berhasil menjailiku


sekali lagi. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Zayn


berhasil menjailiku hingga membuatku marah, tertawa, atau


sejenisnya. Tapi aku lebih sering marah, sih, karna terkadang jailnya


membuatku risih dan teman-teman sering melihatku dengan tatapan penuh kebencian, terutama fans Zayn, yang benar-benar tergila-gila dengannya.


Bersambung ....


____________________________________________


Halo teman-teman, ini novel ke-2 ku ya, sebenernya telat, sih, kalau baru ngomong sekarang. Aku harap, kalian bisa membantuku membangun novel ini menjadi novel yang hebat, membantuku dengan memberi saran, like, vote, dan share juga! Sungguh, itu sangat membantu, setidaknya kalian bantu aku dengan memberi saran dan masukkan. Semoga kalian semua bisa membantuku. 😉


____________________________________________