
"Ok, ok, aku ngomong sekarang." kata kak Frida, ok,
aku menunggu kalimat selanjutnya. Kak Frida ngeluarin
sesuatu dari dalam tas nya. Lama amat, sih, kak Frida
nyari sesuatu, atau lupa bawa sesuatu?
"Nah, ketemu! Nih, ini seragam sama perlengkapan
sekolahnya Luna, kamu udah bisa sekolah nanti." kata kak
Frida, mata Luna membulat dan berbinar-binar,
"Sekolahnya Luna dimana, Kak?" tanyaku, "SD samping
sekolahmu ..." Mataku membulat, "Beneran, Kak?" Kak Frida mengangguk, "Yaudah, semangat
ya, buat sekolah sama latihannya, bye!"
Kita masuk kedalem, "Yaudah, habis ini, kalian berdua
beres-beres, Zayn langsung ke halaman belakang, biar
aku sama Farel yang ngurus sisanya. Biar nanti kita nggak
telat dateng ke sekolah." Mereka mengangguk,
aku pergi ke dapur buat nyiapin sarapan sama bekal makan siang.
"Neara," suara Mam, aku segera berbalik badan, "Iya,
Mam, ada apa?" tanyaku, "Nanti siang, kamu ada acara?"
Aku mengangguk, "Bukan saya saja, Mam, tapi Zayn, Farel, dan Lea juga
ada acara ..." jawabku, "Acara apa?" tanya Mam, "Sekolah
rencananya mau mengadakan drama untuk ujian praktek.
Setiap kelas, wajib menyumbang satu adegan drama,
dan hari ini, kelasku memulai pemilihan tokoh, dan latihan."
"Apa kamu boleh izin pulang sore?" tanyaku, "Baiklah,
pukul empat sore, kalian harus sudah sampai. Jangan telat ya, dan segera selesaikan
jadwal kalian." Aku mengangguk lesu, "Maaf, bila aku
mengatur-ngatur waktu kalian, aku hanya ingin kalian
menjadi orang yang luar biasa, sama seperti Rey,
Hilda, Lusi, dan Jaen." Aku mengangguk, mengerti, "Untuk
itu, aku mempercayakanmu membuat jadwal untuk kalian." Aku terkejut,
mungkinkah .... Mam mau meringankan beban kami?
"Makasih, Mam ..." kataku sembari tersenyum,
"Sama-sama, aku hanya tidak ingin membuat kalian
tidak nyaman berada disini," kata Mam, lalu meninggalkan dapur.
Aku kembali fokus sama masakanku, Farel sedang mengecek
persediaan di pondok ini. Setelah selesai sibuk
dengan bumbu-bumbu di dapur, sekarang aku hanya perlu
menunggu masakanku matang. Aku meninggalkan masakanku, lalu pergi ke halaman
belakang, astaga! Apa ini surga dunia?
Sungguh, pemandangan disini sungguh indah, hamparan
padang bunga warna-warni, kuda-kuda poni yang sedang makan
rumput, beberapa kandang kucing dan kelinci, kira-kira,
ada 10 kandang. 5 terisi, 5 kosong. Bahkan
dari sini,
aku bisa melihat gunung
yang mungkin
masih ribuan kilometer letaknya dari
tempatku berada
sekarang. Dan, ya, tentu saja disitu
ada Zayn.
Dia yang mengurus kuda-kuda milik Mam, itu adalah tugasnya.
"Hmph—" Zayn sedang memandikan salah satu kuda poni
milik Mam, mukanya terlihat masam dan sebal, "Hahaha!"
Ok, aku sudah nggak bisa menahan tawaku lagi. Zayn menatapku,
wajahnya semakin masam, melihatku menertawainya.
Ok, aku tau, ini nggak baik, tapi sungguh, ini sangat
menggelikan.
Zayn mendekatiku, "Apa kamu puas? Apa
kamu sudah puas
menertawaiku, Ra?" tanya Zayn,
"Hahaha! Ha—maaf—maafkan aku, Zayn—hahaha!" Aku masih
tertawa, Zayn semakin sebal melihatku, "Baiklah,
apa kamu disini hanya untuk menertawaiku?"
Aku menggeleng, masih dengan sisa tawa di mukaku.
"Neara! Apa kau ingin membuatku sebal? Bisakah kau
berhenti tertawa?" tanya Zayn gemas, "Aku—hmph—"
Aku menarik nafas, lalu menghembuskannya, "Baiklah, baik, aku tidak akan
tertawa lagi." kataku, "Lalu, sedang apa kau disini?" Zayn
kembali bertanya, "Aku ingin mengurus kelinci dan kucing
milik Mam ... itu adalah tugasku!" jawabku sambil berlalu
melewati Zayn. Aku membuka kandang satu per satu,
aaaaa, kenapa mereka sangat imut? Aku melihat anak-anak
kelinci yang sedang tertidur pulas dengan imutnya.
Aku mengambil
empat mangkuk dari dalam kandang itu, lalu meletakkan nya
di atas rumput. Begitu pula empat kandang berikutnya. Setelah semua
mangkuk terkumpul, aku segera membawanya
ke tepi kolam, untuk mencucinya.
Zayn sudah kembali melanjutkan tugasnya. Setelah
mencuci mangkuk-mangkuk itu, aku mengeringkannya
sebentar, sambil meninggalkannya buat liat masakanku.
Huh, syukurlah belum gosong. Kataku dalam hati, "Ra, aku
udah nge-cek semuanya, nih, catetannya kalo kamu mau liat."
Aku menerima dua lembar kertas dari Farel, hm ... lumayan
stok yang udah mau habis? Apa nanti aku juga buat jadwal buat belanja?
"Yaudah, nanti aku atur jadwalnya, sekarang terserah, kamu
mau ngapain." kataku, "Yaudah, aku ke kamar aja." Aku
mengangguk, tinggal menunggu nasinya matang, yang
kira-kira masih 45 menit lagi, matangnya, dan ... sarapan
udah jadi. Aku mematikan kompor, lalu kembali ke halaman
belakang, "Apa kau belum selesai?" tanyaku, Zayn menggeleng,
aku segera membalik mangkuk yang tadi aku keringkan,
lalu, 6 mangkuk kuisi dengan air, 4 mangkuk kuisi susu, 6 mangkuk
kuisi wortel, dan 4 mangkuk sisanya, kuisi makanan kucing.
Setelah itu, aku hendak memindahkan mereka kedalam
5 kandang yang kosong, dan sudah bersih, "Zayn, bisa bantu
aku?" tanyaku, "Bantu apa?" tanya Zayn balik, "Bantu
memindahkan anak-anak kelinci dan kucing ini, kedalam kandang
yang kosong itu." Zayn bangkit, lalu menghampiriku,
"Astaga, apa kau mau menambah beban tugasku?"
kata Zayn, aku terkekeh, "Ayolah, kumohon?" mohonku,
"Baiklah, baik, aku akan membantumu, tapi kau juga harus
membantuku! Setuju?" ucap Zayn sembari mengulurkan
jari kelingking nya, aku mengaitkan jari kelingkingku
di kelingking Zayn, lalu mengangguk, "Setuju!"
Ketika aku membuka kandang pertama, astaga!
Mereka sudah bangun? Aaaww, mereka jadi semakin lucu!
Kataku gemas sendiri, Zayn memindahkan kelinci di
kandang satunya, biar cepat selesai. Aku segera mengambil
mereka semua, setiap kandang berisi 4-5 anak kucing
dan kelinci. Tentu saja mereka berbeda kandang, kucing
dengan kucing, dan kelinci dengan kelinci.
Setelah memindahkan mereka, aku memasukkan
mangkuk-mangkuk itu ke dalam kandang-kandang yang
bersih, "Eits, mau kemana?" tanyaku sambil menarik baju Zayn,
"Aku belum selesai, aku masih harus membersihkannya,
kau akan membantuku, kan?" tanyaku, Zayn melongo, aku
terkekeh. Akhirnya Zayn membantuku membersihkan
lima kandang kotor itu.
"Zayn! Berhentilah mencipratiku dengan air!" kataku
sebal, "Hehehe, kan aku membantumu ..." jawab Zayn
dengan nada jailnya, "Zayn! Berhenti!" kataku, Zayn masih
belum berhenti, aku menciprati Zayn balik, "Hah, rasakan kau!"
kataku, Zayn berlari menghindariku, aku mengejarnya.
Sesekali Zayn berbalik, dan mulai mencipratiku
kembali. Aku menarik bajunya, lalu menoletkan busa sabun
yang
ada ditanganku, pada wajah Zayn.
"Hahaha! Apa kau masih mau menjailiku?" tanyaku
penuh dengan kemenangan, "Hei, tidak semudah itu!"
Zayn balas menoleti
wajahku dengan busa sabun yang ada ditangannya,
"Hei! Awas kau!" Zayn berlari menghindari tanganku, "Berhenti!
Kau harus mendapat balasan dariku!" kataku yang masih terus mengejar Zayn. Astaga, apa
dia mempunyai kekuatan super?
"Hahaha, kau tidak akan bisa menangkapku! Bleee ..." kata
Zayn menjulurkan lidahnya, mengejekku, "Ih, awas aja
kamu, ya!" Aku kembali mengejarnya, "Ha! Mau lari kemana
lagi kau?" tanyaku yang sudah menghadang Zayn dari
depan. Zayn melangkah mundur perlahan, "Eh, jangan
dong, please?" Aku menggeleng, "Kau jail, maka aku akan
membalasnya!" kataku, "Hei,
kan kau
dulu yang menertawakanku!" Aku terdiam, Zayn menyeringai
misterius, sekarang apa yang akan dia lakukan? Apa dia
akan membebaskanku, atau membalas perbuatanku?
Argh! Aku membencimu Zayn!
"Hehehe ... apa yang sedang kau pikirkan, gadis?"
tanya Zayn dengan nadanya yang menakutkan, sekarang aku yang perlahan-lahan melangkah
mundur. Telat, Zayn berhasil menggapai tanganku, dan
menarikku. Dia menahan tanganku dengan satu
tangannya, astaga, dia bukan manusia! Dia iblis yang kuat ...
seharusnya aku tidak mengganggunya, huhuhu! Dan
tangan yang satunya menggelitikku tanpa ampun, perutku
sampai sakit di buatnya, "Hahaha! Tolo—ng—hentikan
Za—Zayn!" mohonku yang masih tertawa karna rasa geli
yang di sebabkan gelitikan Zayn. Sedangkan Zayn terlihat sangat puas, karna berhasil
membalaskan dendamnya padaku, dan dia berhasil menjailiku
sekali lagi. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Zayn
berhasil menjailiku hingga membuatku marah, tertawa, atau
sejenisnya. Tapi aku lebih sering marah, sih, karna terkadang jailnya
membuatku risih dan teman-teman sering melihatku dengan tatapan penuh kebencian, terutama fans Zayn, yang benar-benar tergila-gila dengannya.
Bersambung ....
____________________________________________
Halo teman-teman, ini novel ke-2 ku ya, sebenernya telat, sih, kalau baru ngomong sekarang. Aku harap, kalian bisa membantuku membangun novel ini menjadi novel yang hebat, membantuku dengan memberi saran, like, vote, dan share juga! Sungguh, itu sangat membantu, setidaknya kalian bantu aku dengan memberi saran dan masukkan. Semoga kalian semua bisa membantuku. 😉
____________________________________________