
Hero : Tapi dia telah menyakitimu.
Aku : Lalu Zayn, Lea, dan Farel? Mereka juga telah menyakitiku, tapi mereka tetap sahabat-sahabatku! Ya walau aku tau, itu cuman tipuan semata.
Hero : Baiklah, kalau begitu, bilang ke Zayn atau nenek nya, biar nenek Zayn, Isabel, Leo, Keillie, dan juga Emma pulang dulu.
Hero : Entar, mereka semua balik ke rumahmu tanpa Isabel, mudah kan?
Aku : Aku akan mencobanya.
Aku turun ke bawah, semua sedang mengobrol-ngobrol ringan. Aku menggapai lengan Zayn, lalu menariknya mudur beberapa langkah.
"Zayn, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua! Tapi tidak jika masih ada Isabel, bisakah kau membuat nenek dan yang lain pulang dulu, lalu kembali tanpa Isabel?"
Zayn menatapku jahil, "Jangan menatapku seperti itu, aku serius Zayn!" Aku memalingkan mukaku, Zayn mengacak-acak rambutku, "Baiklah, itu adalah permintaan gadisku!"
Zayn mendekati nenek, lalu membisikkan sesuatu, nenek menatapku, lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Emmm ... Leo, Emma, Keli, bisakah kita pulang sekarang? Nenek sangat lelah, lagipula ini juga sudah malam." Nenek mulai berakting.
"Baiklah, kami pulang dulu ya semua! Maaf telah merepotkan kalian semua." kata kak Keli, "Terima kasih sudah mau datang ke ulang tahunku!" Aku juga ikut berakting.
"Sampai jumpa lagi!" Mereka semua pulang, menyisakanku, Zayn, Lea, Farel, kak Gabie, dan kak Frida, "Semuanya, aku ingin membicarakan sesuatu, tapi tunggu mereka kembali, ya?"
"Lho, emang mereka bakal kembali, Dek?" aku mengangguk, "Itu semua hanya akting, Kak, aku tidak mau jika Isabel mendengar percakapan kita. Ini benar-benar penting!"
20 menit kemudian ....
"Baiklah, apa yang mau kau bicarakan, Nak?" nenek dan yang lain sudah datang, kami semua berkumpul di kamarku, untuk menghindari ada yang menguping.
Diujung anak tangga dan di depan pintu masuk rumah juga dijaga sama pengawal keluarga Dirgantara. Aku menghembuskan nafas perlahan, mencoba mencari sela.
"Katakan gadis, apa yang mau kau sampaikan?" tanya Zayn, "Semuanya, aku mau menceritakan masalah soal Lea ... ada orang yang memberitahuku, jika masalah ini lebih baik di bicarakan pada kalian semua!"
Zayn terkejut, "Gadis, kau sudah pernah berjanji padaku, kau tidak akan pernah menceritakannya pada siapa pun!" Aku memijat keningku sejenak.
Lalu menghembuskan nafas, Hero benar, Zayn tidak akan marah yang sampai berteriak-teriak, tapi sama saja namanya, dia tetep marah.
"Maafkan aku Zayn, aku tidak punya pilihan lain, kumohon, mengertilah dengan posisiku dan Lea. Kami tidak bisa libur sekolah selama-lamanya, apa kau tidak keberatan?" kataku menatap Zayn.
Dia menghembuskan nafas, "Apa yang terbaik bagimu, maka lakukan hal itu." Aku tersenyum, "Terima kasih Zayn ...."
Aku mulai menceritakannya, Lea hanya menunduk sedih mengingat kejadian hari itu. Sesekali, aku mengusap punggungnya untuk menenangkan dia.
"Kalo saran kakak, kalian sekolah aja kayak biasanya ... gimana, setuju nggak? Menurut kamu gimana, Kel?" tanya kak Gabie ke kak Keli dan yang lain.
"Aku setuju sama Gabie, aku yakin banget, mereka pasti sudah meninggalkan kota ini setelah berhasil menjarah harta dan membunuh semua keluargamu, Lea."
"Tapi, Kak, itu cuman perasaan semata, kalo mereka masih di kota ini, apa yang harus kami lakukan?" bantah Zayn, "Zayn ada benarnya, tapi Keli lebih benar!"
"Jika tujuan mereka memang hanya membunuh dan menjarah seluruh harta keluarga Lea, mereka pasti akan meninggalkan tempat itu, dan mencari mangsa baru di tempat lain!"
"Karna mereka pembunuh, mereka sudah terbiasa dikejar dan diincar. Mereka tidak akan mengambil resiko dengan melakukan kejahatan yang sama di satu tempat!"
"Jika mereka melakukan itu, maka bisa saja mereka habis dibunuh oleh seluruh dunia! Mereka juga manusia, mereka juga mempunyai rasa takut!" aku mengangguk-ngangguk.
"Apa itu tidak terlalu beresiko, Nek?" tanya Zayn, "Setiap pilihan, memang ada resikonya, kau tidak akan pernah bisa memilih sesuatu tanpa resiko."
"Setidaknya, itu pemikiran kita untuk sementara, jika memang kalian dalam bahaya, aku akan mengerahkan seluruh pengawal keluarga kita untuk melindungi kalian! Besok kalian sudah bisa masuk ..." kata nenek.
"Baiklah, ini sudah larut malam, jangan membicarakan sesuatu yang terlalu serius! Apa kami boleh tinggal disini, Kak? " tanya Leo, "Eh, boleh kok, kamu tanya kak Gabie dulu ya?" kataku.
Kak Gabie mengangguk, "Lantas aku bagaimana?" tanya kak Frida, "Ah, kau tinggal disini juga tidak apakan, Frida?" Kami semua tertawa.
"Kalau begitu, kita akan mengatur kamar. Aku dan Frida tidur di kamarku, Lea dan Neara tidur disini! Keli dan nenek tidur di kamar tamu sebelah kanan. Sisanya, kalian bisa tidur di kamar tamu yang sebelumnya ditinggalin Zayn!"
"Baiklah, selamat malam semua!" Kami semua kembali ke kamar yang telah ditentukan, kecuali aku dan Lea, kami tetap berada di kamarku.
Aku mengganti baju pestaku dengan piama, lalu rebahan di kasur, mau menutup mataku, "Ra, apa kau diberitahu oleh Hero?" aku menatap Lea, "Maafkan aku, Lea, itu satu-satunya cara untuk mencari jalan keluar."
Lea tersenyum, "Tidak apapa, Ra, karna kau, aku sudah bisa kembali bersekolah. Kita akan tumbuh bersama hingga kita berpisah karna maut!" Aku melotot, itu tidak lucu.
"Selamat tidur, Ra ..." Aku mematikan lampu meja, lalu memejamkan mataku.
Pukul 00.45
Aku terbangun, aku tidak bisa tidur. Mungkin karna aku terbiasa tidak tidur jam segini beberapa hari yang lalu.
Aku turun untuk membuat secangkir cokelat hangat, itu slalu berhasil menenangkan hatiku dan membuatku mengantuk.
Ctak!
Aku menyalakan komporku, aku menunggu di sofa sambil membaca novel, "Neara, kenapa kamu belum tidur, Nak?" Aku melihat ke belakang.
"Eh, Nenek, kenapa Nenek belum tidur? Aku masih kebiasaan nggak tidur jam segini beberapa hari yang lalu ..." jawabku, "Nenek berjanji padamu, kan waktu itu? Nenek tidak tenang jika belum memberitahumu!"
Nenek berjalan, lalu duduk di sampingku, "Apa Nenek juga mau kubuatkan cokelat hangat?" tanyaku, "Boleh, asal gulanya dikit saja, nenek sudah tua, mudah terkena penyakit ..."
Aku menambahkan air ke panci, lalu kembali duduk bersama nenek, "Ra, nenek ingin memberitahumu sesuatu tentang orang tua Zayn, dan beberapa rahasia keluarga kami yang masih nenek simpan sampai sekarang!"
"Nenek ingin memberitahumu karna nenek takut jika rahasia itu akan membusuk bersama nenek ..." Aku mendengarkan nenek dengan seksama.
"Nenek, apa maksudnya?" tanyaku, "Ah, lupakan, nenek hanya harus menceritakan rahasia keluarga kami, yang tau hanya nenek, Zayn, Keli, Emma, dan Leo."
"Apa Isabel juga tidak mengetahuinya, Nek?" Nenek menggeleng, "Apa kau cemburu pada Isabel, Nak?" Aku tersentak dengan pertanyaan nenek, "Eh, nggak, Nek, aku nggak cemburu sama Isabel ...."
"Hahaha ... baiklah, angkat air panasmu dulu, buatkan cokelat hangat, dan aku akan memulai ceritanya." Aku kembali ke dapur, dan membuat cokelat hangat untukku dan nenek.
Bersambung ....