You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 5



"Aku... Merasakan sesak nafas, panas—" kalimat Lea terpotong, dia pingsan!


Aku meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini bukan saat yang tepat untuk menangis dan diam memperhatikan.


Aku menggenggam erat tangan Lea, berharap dia akan segera pulih seperti sedia kala. Walau aku nggak tau apa masalahnya, mengapa ini bisa terjadi pada Lea?


Klink!


Hero : Gadis, jika kau ingin menyelamatkan Lea, gunakan peppermint.


Hero : Setelah itu, tenanglah, jangan panik! Aku tidak suka melihatmu menangis atau khawatir gadis... Sampai jumpa!


Aku : Apakah itu akan berhasil Hero?


Hero : Percayalah padaku, tapi aku tidak tau, itu akan bekerja kapan, bersabarlah ....


Aku : Terima kasih Hero.


Hero : Jangan bersedih lagi gadis. Aku benci melihatmu menangis.


Aku : Baiklah, aku nggak bisa janji, tapi akan kuingat kata-katamu!


Hero : Terima kasih gadis.


Aku : Aku yang seharusnya berterima kasih. Sampai jumpa!


Hero : Sama-sama, sampai jumpa!


Aku segera turun ke bawah, lalu keluar untuk memetik nya, sesuai kata Hero. Aku mencampurnya dengan air.


Demi Lea, apapun akan kulakukan! Zayn dan Farel dateng, "Gimana keadaan Lea?" tanya Farel, "Dia pingsan Rel, aku takut ..." Farel memelukku, "Tenang, disini ada aku dan Zayn."


"Kamu udah lakuin sesuai omonganku Ra?" aku mengangguk, "Itu, kamu buat apa?" tanya Farel, "Eh, ini aku buatin Lea minuman yang bisa nyembuhin dia!"


"Ah, lupakan! Sekarang kita ke kamarmu Ra." aku menuangkan minuman tadi ke dalem gelas, terus kita naik ke kamarku.


Lea masih sesak nafas, makin parah malah. Dan demam nya semakin tinggi, Zayn dan Farel kelihatan bingung sama keadaan Lea.


"Farel, Zayn, boleh kucoba meminumkan ini ke Lea?" mereka liat ke aku, "Baik, semoga saja itu membantu!" kata Farel.


Lea meminumnya, tubuhnya masih sesak nafas, namun lebih baik dari sebelumnya. Farel berulang kali mengatur oksigen untuk Lea, Zayn dan Farel membawa tabung oksigen sendiri tadi.


Tubuh Lea kembali normal, pelahan-lahan, Lea membuka matanya, "Ra ... Farel ... Zayn ... Terima kasih udah nolongin aku, terutama kamu Ra. Minuman buatanmu, sangat membantuku untuk melawan racun dalam tubuhku. Jika kamu terlambat sedikit saja tadi, kita tidak akan pernah bertemu lagi!"


Aku menggeleng, berusaha menahan air mata, "Maaf aku bikin kamu nangis, khawatir, dan bingung Ra. Aku nggak akan pernah menyesal punya sahabat sepertimu!"


"Lea, bisakah kamu cerita kepadaku yang sebenarnyan" Lea menggeleng, lantas tersenyum, "Maafkan aku Neara, terima kasih atas dukunganmu!" Lea tersenyum.


Lea kembali sesak nafas, Farel masih berusaha menyesuaikan oksigen untuk Lea, ya tuhan, selamatkan Lea! Apapun yang terjadi, jangan biarkan Lea mati ...


Aku kembali menangis. Farel terus mengaturnya, agar Lea dapat bernafas, Zayn menyenderkan kepalaku di badannya, aku berbalik dan memeluk Zayn.


Aku menangis dipelukan Zayn, sungguh, siapa yang tega melihat sahabat nya sedang sesak nafas, kehilangan kesadaran, demam tinggi, atau apapun itulah! Nggak ada yang tega atau kuat, kalo dia ada di posisiku.


"Zayn ..." Zayn menatapku, aku menutup wajahku dengan tanganku, "Ada apa Ra?" suara Zayn terdengar bergetar, "Akankah, Lea selamat?" tanyaku, aku masih berada dalam pelukan Zayn.


"Hmph, baiklah." Aku mencoba mengendalikan air mataku, tapi nggak bisa, aku slalu menangis jika mendengar suara nafas Lea yang tersengal-sengal.


Pukul 17.02


"Zayn, Farel, sampai kapan ini akan terjadi?" satu jam berlalu, Lea masih tersengal-sengal oleh nafasnya, dan demamnya semakin tinggi. Kecemasanku semakin membesar, aku takut jika Lea kenapa-napa.


"Kita tidak akan tau Ra, sampai kapan ini akan berakhir." jawab Farel, peluh di dahi Farel sangat banyak, dia kelelahan mengondisikan oksigen berkali-kali untuk Lea.


Zayn masih memelukku, sesekali berusaha membuatku tenang, "Semoga aja, cepat berakhir, karna badanku juga udah kelelahan mengatur oksigen nya terus-menerus ..." Farel mengaduh.


Bagaimana jika Lea tidak selamat? Apa yang akan kulakukan jika Lea tidak ada didunia ini? Apa aku akan menemukan orang yang sama seperti dia?


"Ra, jangan berpikir yang aneh-aneh, Lea pasti sembuh!" kata Zayn, sekali lagi, seolah dia bisa membaca pikiranku.


"Gadis, aku pernah bilang, jangan menatapku seperti itu, apa kamu tidak mengerti?" Ya, aku memang sedang menatapnya, tatapan yang sama ketika di UKS.


"Ra, aku bisa minta tolong?" Aku membuka mataku, "Aku akan menolong jika aku bisa Rel, katakan."


"Bisakah kamu mengambilkan segelas air untukku? Aku kelelahan, aku membutuhkan air, kumohon!" Aku turun, kemudian naik dengan dua gelas air ditanganku.


"Farel, minumlah ini ..." Aku membantu Farel minum, karna kedua tangannya sibuk mengatur oksigen.


"Terima kasih, itu sangat membantu." Dia tersenyum, lantas kembali fokus terhadap Lea, "Zayn, apa kamu mau minum?" Zayn mangambil gelas yang kusodorkan.


Setengah jam berlalu, demam Lea turun, dia udah nggak demam lagi. Tapi badannya jadi menggigil, dan dia udah nggak sesak nafas lagi.


"Ra, ambilkan air untuk Lea, segera!" aku kembali mengambil air untuk Lea, "Lea, bangunlah, minum air ini ...."


Ajaib, Lea perlahan membuka matanya, "Ra ... Farel ... Zayn ..." Suaranya bergetar, nafasnya menderu, Lea tersenyum, menatap kami semua.


Farel membantu Lea duduk, Lea meminum air nya. Setelah lima menit yakin Lea baik-baik saja, aku lari dan memeluknya.


"Lea, syukurlah kamu udah sembuh." Aku memeluk Lea erat-erat, "Tentu saja Ra, karna kalian ada di sampingku, ditambah lagi minuman yang kamu berikan padaku."


"Kamu mau minum lagi? Atau mau makan? Atau mau kuambilkan sesuatu?" Lea menggeleng, dia hanya tersenyum, senyum yang sangat tulus.


Zayn dan Farel juga tersenyum, kamarku terasa hangat oleh senyuman tulus dari teman-temanku ini.


Setelah berjuang selama satu setengah jam, Seli bisa bernafas lega, begitu pula aku, Farel, dan Zayn. Betapa leganya kami, melihat Seli kembali tersenyum seperti sedia kala.


Kring! Kring! Kring!


Telfon dari kak Gabie, "Halo Kak, Kakak pulang jam berapa?" tanyaku, "Nah, itu apa Dek, kayaknya malem ini kakak nggak pulang, sampe seminggu ke depan."


"Nggak apa kan? Kamu bisa masak makan malem sendiri, atau pesen lewat ojol." kata kak Gabie.


"Iya Kak, nggak apa, semangat kerjanya Kak!" kataku, "Makasih, dah ..." kak Gabie nutup telfonnya.


Aku menarik lengan Zayn, dan membawanya keluar dari kamarku, "Zayn, ceritakan yang sebenarnya padaku!" kataku serius.


Zayn hanya menatapku, dan terdiam, "Zayn! Ceritakan padaku, apa yang sebenernya terjadi?" Zayn menghela nafas.


"Baiklah, baik, aku akan menceritakan padamu. Tapi jangan ceritakan hal ini kepada siapa pun itu, termasuk kak Gabie sekalipun!" aku mengangguk.