You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 2



Pelajaran pertama dimulai, sampai sekarang Lea masih diem, "Lea, kamu kenapa diem aja dari tadi?" kataku sambil berbisik.


"Itu sungguh menakjubkan Ra. Kamu beruntung sekali! Zayn, salah satu idola sekolah, mengakuimu sebagai gadisnya. Farel, salah satu idola sekolah juga, mengakuimu sebagai sahabat ..." jawab Lea antusias.


Syukurlah, kukira Lea marah, "Bodoh! Farel juga mengakuimu sebagai sahabat." kataku, "Tapi Zayn?" Aku terdiam, Lea benar. Entah hantu apa yang merasuki Zayn, hingga dia berani berkata seperti itu.


"Neara, Lea! Kalo mau ngobrol, silahkan keluar dari kelas!" kata Miss Erna, "Maaf Miss ..." Miss Erna lanjut ngejelasin.


Sementara dibelakang sana, Zayn sedang menatapku, aku mengetahuinya karna tadi sempat melirik nya.


"Ra, aku pinjam hapusmu dong!" bisik Farel yang duduk di belakangku, aku segera memberikan penghapusku. Aku nggak mau kena masalah lagi, dengan berisik di dalem kelas.


Pukul 09.45


Istirahat tiba. Aku, Lea, dan Farel ke kantin. Kami makan bakso disana, "Rel, kamu makan banyak bener," aku dan Lea melongo melihat Farel yang pesen bakso banyak banget.


"Hehehe ... Laper Ra, maklum, aku kan nggak suka bahasa inggris, sering bosen di kelas." jawab Farel santai, Lea nepuk jidatnya.


Banyak murid cewek yang menghampiri meja kami, ingin berfoto atau meminta tanda tangan Farel, dasar idola sekolah.


"Eh, Ra, kamu sama Zayn serius pacaran?" aku hampir saja tersedak sama bakso, "Ukh—aneh-anehan aja kamu Rel, emang pernah, aku membangga-bangga kan Zayn? Nggak kan?"


"Bagi Ra ... Kamu itu udah cukup!" aku melotot ke arah Lea, rasanya ingin kututup mulutnya sama bakso, "Hehehe, canda Ra." Lea seakan tau apa maksudku.


Inilah dunia persahabatanku, menyenangkan, nggak ada yang namanya ambisi diantara kami bertiga.


Kami bertiga slalu mengisi satu sama lain. Terkadang, aku bisa mendapat masalah dengan fans Farel.


Tapi itu tidak masalah, karna Farel adalah sahabatku. Aku nggak akan pernah marah sama dia.


Benar apa kata Lea, cukup Lea dan Farel yang mengisi hari-hariku di sekolah, mungkin beberapa anak juga berusaha memasuki dunia persahabatan kami demi bisa deket sama Farel.


Dan itu sia-sia, mereka slalu mundur untuk memasuki dunia persahabatan kami, "Kamu ngelamunin apa sih? Ngelamun lama-lama tuh nggak baik tau!" kata Lea.


"Eh, nggak apa, habis ini aku ajak ke toilet yuk Lea," Lea ngangguk, "Aku balik ke kelas duluan ya?" Farel berdiri, meninggalkan kantin.


Baksoku dan Lea masih ada, kami segera menghabiskannya, kuahku dan kuah Lea juga tidak habis.


"Sshh—Ra—aku—ketoilet duluan—ya Ra ..." aku mengangguk, Lea lari ke toilet. Dia memintaku bayarin dulu bakso nya, dan tolong kembaliin mangkuk nya sekalian.


Bruk!


"Auh ... Maaf Zayn, apa kamu baik-baik saja?" Lihat, sekarang masalah sudah menimpaku, aku menumpahkan kuah bakso keseragam Zayn.


Ada dua kemungkinan kalo kalian buat masalah sama Zayn. Pertama, dia bakal cuek aja. Kedua, dia akan marah-marah sambil bersungut-sungut.


Namun kali ini berbeda, "Aduh Ra, panas tau! Apa kamu nggak apa-apa?" Hah? Bentar deh, kenapa dia nanya ke aku?


"Hei! Kok malah bengong?" Aku kembali tersadar, "Eh, kenapa kamu nanya aku?" Zayn menghela nafas, "Kan kamu yang kena tumpahan kuah bakso lebih banyak dari pada aku ..."


Emang sih, tanganku juga kena tumpahan kuah bakso, panas rasanya, perih, sakit, "Aku nggak apa kok Zayn, sekali lagi maaf ya?"


"Nggak apa gimana? Tanganmu sampai memerah Ra ... Aku bawa kamu ke UKS sekolah aja!" Zayn menarik tanganku, membawaku ke dalam UKS.


Dia sendiri yang mengobati tanganku, aku memperhatikan wajahnya, "Gadis, jangan menatapku seperti itu, aku nggak suka!"


"Ra, aku udah bilang, jangan menatapku seperti itu!" Baiklah, aku tidak akan memperhatikan nya lagi. Tanganku sudah lebih baik, nggak sepanas tadi.


"Neara!" Aku nengok ke arah pintu UKS, itu jelas suara Lea, sahabatku, "Kamu nggak apa? Eh, kok ada Zayn?" Lea nampak bingung.


"Aku nggak apapa Lea, Zayn yang membawaku ke UKS, dia mengobati tanganku." jawabku, Lea terlihat lega.


"Neara, lukamu sudah kuobati, lain kali berhati-hatilah. Jangan sampai terluka lagi!" Zayn berdiri, membereskan obat-obatan, memasukkan nya ke dalam kotak P3k.


Kami bertiga keluar dari UKS, "Neara! Lea!" Terdengar jelas suara Farel yang berlarian menghampiriku dan Lea.


"Aku dengar, kamu masuk UKS—kamu nggak apa-apa?" Aku mengangguk, lantas tersenyum, "Zayn yang membawaku kemari, dan mengobati lukaku."


"Sekali lagi, maaf atas seragamu itu Zayn, aku nggak sengaja, dan terima kasih sudah mengobati lukaku!"


Aku tersenyum menatap Zayn, "Bodoh! Dengarkan baik-baik, kau adalah gadisku, tidak ada terima kasih, dan tidak ada maaf!"


Aku tercengang, dia tersenyum, senyum yang begitu manis dan jarang dilihat oleh kaum hawa. Dia seriusan dengan omongannya di kelas tadi? Zayn terkekeh.


"Nggak usah heran Ra ... Aku seriusan sama omonganku, ingat kata-kataku." Dia mencium keningku, lalu pergi begitu saja.


Lea menyikutku, lantas tersenyum jahil, "Apaan sih Lea! Aku sama Zayn nggak ada apa-apa ..." aku malas meladeni Lea yang terus-terusan menggodaku.


"Kamu tau Ra, sebenarnya, aku dan Zayn adalah teman dekat. Dan selama aku mengenal Zayn, aku tau, dia tidak akan pernah main-main sama ucapannya." sahut Farel.


Lantas, perkataannya barusan adalah kenyataan? Entahlah, aku terlalu banyak berpikir.


"Jangan patah semangat Rel, kamu pasti bisa mendapatkan Ra," canda Lea, aku melotot ke Lea, "Lea! Berhenti menggodaku!" kataku bersungut-sungut, lalu meninggalkan mereka berdua.


Farel menyusulku, "Eh Ra ... Jangan marah dong, aku nggak percaya kalo Neara yang kukenal suka marah." Farel mencoba meredam amarahku, "Terserah!" aku masih sebel sama Lea.


"Yaelah Ra, aku canda kali." kali ini Lea yang berusaha meredam amarahku, "Udah ah, jangan dibahas lagi, bentar lagi bel masuk kelas bunyi. Kalian udah ngerjain PR biologi kan?" tanyaku.


"Nah gitu dong. Eh, tapi aku belum," jawab Lea, "Ya ampun Lea, kamu nggak ngerjain berapa PR hari ini?" Lea hanya meringis, tidak tahu.


"Aku sibuk Ra ..." aku menepuk jidat, anak ini lebih mentingin 'kesibukan' nontonnya dari pada PR nya, "Eh, aku juga belum Ra." Astaga! Bahkan Farel juga lupa ngerjain PR nya?


Kriinngg!


Semua murid berlarian memasuki kelas masing-masing, bel masuk kelas udah bunyi. Saatnya kembalin belajar dan berpikir.


Bu Fira masuk, meletakkan barang-barangnya di atas meja, "Anak-anak, keluarkan buku PR kalian. Yang tidak mengerjakan PR, keluar dari kelas." kata bu Fira.


Aku hendak mengambil buku PR ku, ku bongkar seluruh isi tas ku. Astaga! Buku PR biologi ku ada diatas kasur.


Lea dan Farel sudah keluar kelas lebih dulu. Aku menyusul mereka keluar kelas, "Kenapa kamu keluar Ra?" tanya bu Fira, "Maaf bu, buku PR saya tertinggal di atas kasur ..." kataku sambil menundukan kepala.


"Yaudah, silahkan keluar." Aku menyusul Lea dan Farel yang lagi di lorong kelas. Mereka menatapku, lalu tersenyum, "Bukannya kamu udah ngerjain PR Ra?"


Aku meringis, "Bukuku ketinggalan, Lea. Jadi, kita bertiga senasib." jawabku, Farel tertawa, begitu pula Lea.


"Iya emang, kita bertiga senasib. Tapi kenapa harus nasib buruk yang senasib?" canda Farel, kami kembali tertawa, hingga seseorang keluar dari kelas. Kami tertegun melihatnya, tidak percaya.