
Kalo nggak, dikit banget yang kesini, paling cuma buat nenangin pikiran mereka. Karna disini suasananya emang nenangin sih, jadi enak aja gitu ngelihatnya.
"Zayn!" teriakku, sekarang tempat ini lagi sepi. Aku keliling cariin Zayn, "Kemana anak ini? Bikin cemas aja ...."
"Pak, permisi, mau nanya, bapak ngeliat orang ini nggak pak?" tanyaku, "Maaf, Nak, bapak dari tadi makan sambil liat pemandangan disini."
"Makasih pak ..." kataku, "Mas, Mbak, permisi, mau nanya ... Ada yang liat orang ini nggak?" Sekali lagi aku nanya ke orang.
"Maaf, Dek, kita nggak liat ..." Aku mengangguk, lalu senyum, "Makasih ..." Aku bingung mau nyari Zayn kemana. Tempat ini luas, nggak mungkin aku nyari Zayn keseluruh penjuru tempat ini.
1 jam kemudian ....
Aku belum berhasil nyari Zayn. Ini aja baru setengah bagian yang baru aku datengi, setengahnya belum.
Aku balik ke mobil, "Gimana? Kau berhasil menemukan tuan muda?" aku menggeleng lemas, "Apa kamu mau aku anter pulang Ra?"
"Nggak usah Han, kamu pulang dulu aja, aku bisa pulang sendiri." jawabku, "Kamu yakin? Atau mau aku anter ke tempat lain?" Sekali lagi aku menggeleng.
"Nggak Han, makasih, aku baik-baik aja ... Ini udah malem, kamu pulang duluan aja, istirahat, aku bisa pulang sendiri."
"Beneran Ra?" aku mengangguk, "Baiklah, kalau udah sampe rumah, hubungi aku ... Aku pulang dulu, sampai jumpa!"
Mobil Farhan menghilang ditengah gelapnya malam. Tempat ini semakin sepi, kembali ramai ketika udah tengah malam.
Aku berjalan tanpa arah, aku linglung. Aku mencemaskan keadaan Zayn, kemana dia pergi malam-malam gini?
Pukul 19.57
Entah sudah berapa lama aku berjalan di jalanan tanpa arah. Aku udah hampir nyerah, mau nyari Zayn kemana lagi coba?
Aku berjalan di tengah keramaian kota, bingung dan capek harus kemana. Semakin malam, kotaku akan semakin ramai.
Di atas, awan gelap sudah menyapa malam. Tapi Zayn belum ketemu, aku juga nggak bawa payung atau jas hujan.
Tess!
Hujan mulai turun, orang-orang mengenakan payung atau jas hujan. Berlindung di dalam rumah, atau toko yang hangat.
Aku masih nyari Zayn, aku emang udah putus asa, tapi aku lebih cemas dari pada putus asa.
Aku jongkok dipinggir jalan, ada beberapa orang yang melihatku. Aku nggak peduli, yang penting sekarang aku harus nemuin Zayn dulu.
Aku menatap langit, mukaku basah terkena tetesan air hujan. Seluruh anggota badanku basah, bajuku, sepatuku, tasku, rokku, rambut, semua basah.
Zayn, kamu kemana sih? Aku jadi sebel sendiri tau nggak sih!
Aku masih jongkok, aku melipat tanganku diatas lututku. Aku membenamkan wajahku, aku nggak peduli dilihatin orang, asal Zayn ketemu, udah, gitu aja!
Eh, kok nggak kerasa kena hujan lagi ya? Aku mengangkat mukaku, "Gadis, kamu sedang apa disini sendirian, malem-malem, waktu hujan kayak gini?" Ya, itu Hero.
"Hero, tinggalkan aku, aku mau sendirian ..." kataku, "Jangan konyol gadis, mari kuantar pulang ... Ganti bajumu, kau terlihat sangat kelelahan." Aku menggeleng.
"Aku tidak mau pulang Hero ... Aku hanya ingin mencari Zayn, aku mencemaskan keadaan nya!"
"Ayolah, aku yakin Zayn akan baik-baik saja." aku tetap ingin mencari Zayn, "Sudahlah Hero, tinggalkan aku disini!"
"Baiklah, aku tidak akan mengantarmu pulang, setidaknya, ganti seragamu dengan hoodie milikku ..." Hero melepaskan hoodie-nya.
Baru pertama kali aku melihat Hero tanpa hoodie, tentu saja aku tetap tidak bisa mengenali wajahnya walau dia tidak memakai hoodie.
Sekarang Hero hanya memakai kaos putih, celana jeans, kacamata hitam, dan topi hitam. Dia menarik tanganku, membuatku berdiri, "Mari, kita cari tempat untuk mengganti seragamu ..."
Dia menggandengku, tangannya sangat—hangat dan lembut. Hero membawaku ke kedai ramen sederhana.
"Permisi, 1 miso ramen, 1 shoyu ramen, 1 porsi gyoza, dan 1 porsi takoyaki. Totalnya berapa?" Hero memesankan untukku.
Setelah membayar pesanan, Hero bertanya pada pelayan, "Maaf, apa kami boleh ikut ke toilet?" pelayan tadi mengangguk.
"Tentu saja! Lurus saja, belok kiri, pintu kedua." jawab pelayan yang lain.
Setelah mengganti semua seragam sekolahku, kecuali rok panjangku, aku kembali ke Hero.
"Bagaimana? Nyaman?" Aku mengangguk, "Terima kasih Hero ..." kataku, lalu duduk bersama Hero.
Kring! Kring! Kring!
"Halo, Kak, ada apa? " Aku mengangkat telfonku, "Adek, syukurlah, bagaimana, kau berhasil menemukan Zayn?"
"Maaf, Kak, aku belum berhasil menemukan Zayn. Ada kabar apa?" tanyaku, "Keli sudah siuman, Dek, apa kau mau kembali sekarang?" tanya kak Gabie.
"Syukurlah, tolong katakan pada kak Keli dan nenek, aku tidak akan pulang sebelum aku menemukan Zayn!"
"Tapi diluar sana sedang hujan, Dek, kamu tidak membawa payung atau jas hujan! Pulanglah, Kakak yakin Zayn akan baik-baik saja, dia hanya perlu menenangkan dirinya!"
"Tidak, Kak, aku tidak akan tenang sebelum berhasil menemukan Zayn, sudah dulu ya ... Sampai nanti!" Aku mematikan telfonku.
"Permisi, silahkan dinikmati!" pesanan Hero telah sampai, "Makanlah ramen ini dulu, ini adalah kedai ramen yang sangat enak, walau sederhana."
Aku menggeleng, "Aku tidak nafsu makan Hero ... Terima kasih telah meminjamkan hoodie ini padaku. Aku akan kembali mencari Zayn sekarang!"
"Gadis, kumohon, hangatkan dirimu dengan memakan ramen ini. Jika kau sudah selesai memakannya, aku berjanji akan membantumu mencari Zayn."
Aku menatap Hero, lalu tersenyum, "Terima kasih Hero!" Aku cepat-cepat menghabiskan ramenku.
Pukul 20.28
"Kau mau mencari Zayn dimana lagi?" aku menggeleng, nggak tau, "Apa kamu mau pergi ke rumah sakit dulu gadis?"
"Nggak, aku mau tetep nyari Zayn." Hero menghela nafas, "Baiklah, kita mencar ya?" Aku mengangguk, "Semoga ketemu!"
Kami berpencar, mencari Zayn kemana-mana, "Neara! Kamu ngapain disini?" suara Zayn, aku bergegas melihat ke belakang, ditengah keramaian orang, Zayn tersenyum.
Aku berlari, lalu memeluknya, "Hei, kamu kenapa? Apa ada yang salah?" Aku memukul Zayn pelan, "Bodoh! Kemana saja kau selama ini?"
"Aku terus mencemaskanmu! Kak Keli udah sadar, apa kau mau pergi ke rumah sakit?" Zayn balas memelukku, "Maafkan aku gadis, aku membuatmu khawatir ...."
"Eh, kemana baju seragamu?" tanya Zayn, "Basah, ini hoodie punya penyelamatku! Dia slalu ada ketika aku membutuhkannya!"
"Siapa dia?" Aku menggeleng, "Tidak tau! Aku memanggilnya Hero!" kataku senang, "Baiklah, mari kita ke rumah sakit ..." Zayn tiba-tiba menjadi dingin.
Pukul 22.55
Kami bergiliran menjaga nenek dan kak Keli. Sekarang giliranku dan Lea menjaga kak Keli, Leo dan Emma menjaga nenek.
Zayn, Farel, dan kak Gabie pulang, tadi sempet ada kak Frida, tapi ya gitu, udah pamit pulang. Sejak kejadian tadi, Zayn banyak diemnya dari pada ngomong.
"Neara, apa kamu nggak kecapekan?" tanya Lea, aku menggeleng, lantas tersenyum, "Aku baik-baik saja, kamu nggak perlu mencemaskanku!"
"Kalo kamu kecapekan, bilang, biar aku aja yang jagain kak Keli ..." sekarang kak Keli lagi istirahat, nggak tau kalo nenek, "Nggak Sel, terima kasih."
Pukul 01.35
"Ra, aku sangat lapar ... Apa kau punya makanan?" Aku menggeleng, bekalku dan Zayn sudah habis, "Apa kau mau kubelikan makanan?"
"Tidak usah, ini sudah malam, tidak baik bagimu untuk keluar seorang diri." Aku mengerutkan kening, "Apa kau yakin Lea? Apa kau tidak akan mati kelaparan?" candaku.
"Hahaha ... Baiklah, mari kita menahan lapar ini bersama!" kata Lea, "Eh, bukan 'kita', tapi kamu!" kataku.
"Hahaha ... Setelah ini, mari kita tidur, kau terlihat sangat lelah. Jangan berbohong padaku, aku bisa melihatnya!" kata Lea tegas.
"Baiklah, tapi kita tidak bisa tidur, kita harus menjaga kak Keli!" Lea mengangguk-ngangguk.
"Tidurlah, aku akan menggantikan kalian untuk menjaga kak Keli!" Lea melongo, "Hero, mengapa kamu berada disini?"
Bersambung ....