You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 38



"Dimana tempat itu?" aku bertanya lagi, "Di puncak bukit dekat sekolahmu, disitu ada pondok kuno, dan kau bisa belajar disana. Kalau perlu, kamu nggak usah pulang!"


"Bentar, bentar, kalo Kakak nyuruh aku nggak pulang, berarti disana ada pondok buat aku tinggal?" kak Frida menggeleng.


"Kau bisa tinggal di pondok yang sama dengan 'calon' gurumu, kau mengerti?" Aku mengangguk, "Laki atau perempuan?" Aku menatap Zayn.


Tidak, tunggu, semua menatap Zayn, lalu menatapku, "Tenang Zayn, kau tidak perlu cemburu seperti itu, beliau adalah seorang wanita, beliau adalah guru lama kami ..."


"Kalau perlu, Lea juga ikutan ya?" aku menatap Lea, "Eh, kok aku juga ikutan kak?" kak Frida menggeleng, "Kamu juga ikutan, karna kita tidak tau, apa yang menunggu kita di masa depan!"


"Baiklah, aku ikut!" kata Farel, "Itu juga bagus ..." sahut kak Frida, "Kalau begitu, aku juga ikut! Aku harus mendampingi gadisku ..." Zayn menatapku, lalu tersenyum.


Semua orang terkekeh, "Sudahlah, mari kita pulang ke rumah masing-masing Zayn, Farel ..." Kak Frida bangkit, lalu membuka pintu.


"Sampai nanti, Dek, jaga dirimu baik-baik." Aku mengangguk, "Kamu juga Lea, jaga diri kalian baik-baik. Kami pulang dulu!"


"Jika ada apa-apa, telfon aku, kakakmu sudah mempercayakanku untuk mengurus kalian." Aku mengangguk.


"Sampai nanti gadisku." kata Zayn, mereka pulang, aku dan Lea membereskan seluruh ruangan, lalu memasak makanan, saat ini sudah pukul 11 pagi.


Setelah selesai makan, aku menulis dalam diary lagi, Lea menulis sesuatu di notes miliknya. Sebenarnya aku masih penasaran, kenapa kak Frida nggak ngebolehin aku baca sekarang?


"Kakak, Luna mau baca sesuatu ..." Eh, iya, aku sampai lupa, kalo ada Luna disini, "Eh, maaf, kamu mau baca komik? Atau mau baca yang lain?" tanyaku.


Luna menggeleng, "Aku ... Aku ... Aku nggak bisa membaca ..." Eh, masa iya, "Lho, kamu belum bisa atau belum lancar?" tanyaku, "Belum lancar, aku nggak pinter ngapa-ngapain."


"Oke, kalau begitu, setiap hari, kamu akan ada pelajaran, kakak akan mengajarimu membaca dan menulis dengan benar!" Luna mengangguk.


"Mau mulai sekarang?" tanyaku, "Aku ikut Kakak saja, kalau Kakak mau sekarang, ya sekarang." jawab Luna, "Eh, kalau gitu, tunggu sebentar ya, Kakak mau telfon kak Frida dulu ...."


Tuut! Tuuut!


"Halo, Dek, ada masalah apa?" Kak Frida mengangkat telfonku, "Nggak ada apapa, Kak, aku cuman mau nanya, pelajaran bela diriku itu dimulai kapan ya?" tanyaku.


"Mulai besok, Dek, nanti sore, kakak susul kamu sama Lea, kalian tinggal disana mulai malem ini, nggak apapa kan, Dek?"


"Nggak apa, Kak, kalau gitu, aku beres-beres dulu ya ... Eh, oh iya Kak, terus Luna gimana?" aku menatap Luna, "Kalau Luna mau, ikut saja sama kalian. Nanti biar kakak tanyain, dia bisa ikut atau nggak."


"Baiklah, nanti aku tanyain ke Luna, makasih ya kak!" kataku, "Ya, sama-sama!" Kak Frida menutup telfonnya. Lea dan Luna menatapku, "Gimana?"


"Hari ini kita berangkatnya, jadi kita harus beres-beres barang bawaan dulu. Pertama, kita butuh seragam sekolah pastinya."


"Kedua, kita butuh baju ganti, nggak usah banyak-banyak, kita bisa nyuci baju kita disana, kalau kamu males nyuci, aku aja yang cuciin."


"Ketiga, kita bawa buku pelajaran kita, nanti, kita taruh sebagian di loker sekolah ... Keempat, kita bawa tas ransel sedang."


"Kelima, kita nanti berangkatnya pake sandal aja, tapi tetep bawa satu sepatu buat sekolah. Udah, itu aja, barangnya Luna, biar masuk ke tasku."


Kami segera membereskan barang bawaan kami, barangku dan Luna:


- 8 set atasan (udah termasuk punya Luna)


- 4 set bawahan (udah termasuk punya Luna)


- 4 seragam sekolahku


- Sepatu sekolah


- Tas ransel (yang sekarang aku pake buat barangku sama Luna)


- Diary dan buku gambar milikku.


Barang bawaan Lea:


- 6 set atasan


- 4 set bawahan


- 4 seragam sekolah


- Sepatu sekolah


- Komik & novel milikku


- Tas ransel (yang sekarang dipake Lea buat barangnya)


Pukul 12.10


Kami baru selesai beres-beres, "Kenapa kamu bawa novel sama komikku?" tanyaku, "Ya kalau aku bosan, aku bisa membacanya." Aku menepuk jidat.


"Sudahlah, yang penting, barang bawaan kita jangan ditambahin lagi, aku yakin, disana sudah sesuai kebutuhan kita." Lea mengangguk.


"Sekarang, kalian mau makan siang atau tidur?" tanyaku, "Langsung tidur aja, kalau Luna gimana?" Kami menatap Luna.


"Aku juga langsung tidur, Kak, aku ngantuk." aku mengangguk, "Baiklah, mari kita tidur sekarang!" kataku, kami segera tidur di kamarku.


Aku teringat kak Gabie, air mataku menetes lagi, aku segera mengusapnya, agar tidak ada yang tau.


Pukul 02.15


Kring! Kring! Kring!


Duh, siapa sih, yang siang-siang nelfon? Aku mengambil HP-ku, "Halo, ini siapa ya?" tanyaku, "Heh, apa kau tidak menyimpan nomerku?"


"Ah, siapa ini? Apa ini guruku?" tanyaku setengah tidak sadar, "Dasar, guru dari mana, aku ini Farel! Kemana kesadaranmu Neara?"


"Eh, maaf Rel, ada apa, aku tadi lagi tidur, baru bangun, itu pun karna telfonmu." kataku, "Kata kak Frida, kita berangkat entar sore, aku mau tanya, kalian bawa apa aja?"


"Hah, ha, oh, ya ... Aku akan segera memberitahumu, bye!" Aku mematikan telfonnya, lalu mau nge-chat Farel.


Aku : Atasan, bawahan, semua buku pelajaran, 4 seragam, sepatu sekolah, dan ransel jcjxmgvb& ...


Farel : Hei! Ransel apa itu?


Aku : Eh, oh, hah, iya, maksudku, ransel sekolah, yang kami pakai untuk barang kami.


Farel : Sungguh, aku nggak paham!


Aku : Hei, kau pintar, kau dapat memahaminya, segera ... Bye, dan jangan menggangguku lagi, aku mau tidur!


Farel : Σ(⊙▽⊙")


Aku kembali tidur, meletakkan HP-ku di atas meja kamarku. Lalu kembali ke atas kasur, dan ya, tidur.


Pukul 16.15


"Ra ... Ra ... Bangun Ra!" Aku membuka mataku perlahan, "Ada apa?" tanyaku, "Di luar ada yang mengetuk pintu, aku takut," kata Lea.


Aku mengambil kuncitku, lalu bangkit, turun ke bawah, Luna masih tidur tadi waktu aku bangun, aku mencuci mukaku, lalu membukakan pintu.


Ceklek!


"Lho, kamu kok belum siap Ra? Kakak kan udah nge-chat kamu!" ternyata kak Frida, Zayn, sama Farel, aku mengucek mataku, lalu mengikat rambutku.


Aku menguap sejenak, "Maaf, Kak, tadi kita bertiga tidur, dan HP-ku aku mode getarkan, jadi nggak tau kalau ada chat dari kakak." kataku.


"Silahkan masuk dulu kak!" Mereka masuk, terus duduk di ruang tamu, "Ayo, cepat kalian siap-siap, kita akan berangkat sekarang!"


Aku naik ke kamar, "Lea, itu kak Frida, kita disuruh siap-siap sekarang. Kamu mandi dulu, biar aku yang bangunin Luna, sama siapin baju kita." Lea mengangguk.


Dia segera berangkat ke kamar mandi, aku membangunkan Luna, "Luna ... Bangun Lun, kakak mau berangkat sebentar lagi." kataku.


"Ayo, bangun Lun, kamu ikut kakak nggak?" tanyaku, "Eh, iya Kak, aku udah bangun, nih ..." kata Luna, "Ayo, cuci mukamu di dapur, biar kakak yang nyiapin baju."


Bersambung ....