
"Tidak Ra, aku akan menunggu kalian hingga selesai. Aku akan kembali setelah menyelimuti Farel," aku berdiri dan menahan tangannya.
"Jangan membantahku Zayn! Aku menyuruhmu tidur, maka kau harus tidur!" Zayn menatapku, lantas tersenyum jahil.
Dia mendorong tubuhku hingga ke dinding, "Apakah sekarang gadisku berani memerintahku?" dia memojokanku.
Aku memalingkan wajahku, wajah kami terlalu dekat, "Ayolah Zayn, ini juga untuk kebaikanmu," kataku.
"Baiklah, kalau begitu, selamat malam gadis," dia mencium keningku, lantas meninggalkanku dan Lea yang masih diam mematung.
"Baiklah, mana yang harus kubantu?" tanyaku, Lea masih diam mematung, "Lea! Ayo, ini sudah malam, aku sangat mengantuk Lea," Lea kembali tersadar.
Aku membantu Lea, lima menit sudah selesai. Kami segera tidur, biar bisa nyiapin sarapan.
Klink!
Hero : Selamat tidur gadis!
Aku : Kamu juga Hero, terima kasih sudah menemaniku hingga larut malam.
Hero : Bodoh! Harus ku ulangi berapa kali lagi? Kau gadisku, tidak ada kata maaf atau terima kasih.
Aku : Baik, baik, selamat tidur Hero!
Hero : Too!
Aku tidur dengan nyenyak malam ini. Namun aku terbangun lagi, aku mau menanyakan kabar Kak Gabie.
Aku : Halo Kak... Apa kamu sudah tidur?
Kak Gabie : Belum dek, kenapa? Badan kamu udah mendingan?
Aku : Eh, udah kok kak. Aku cuman mau nanyain kabar Kak Gabie? Aku liat Kak Gabie kurang tidur ya...
Beberapa hari ini, waktu aku cek terakhir kali kak Gabie online, slalu jam tiga-an atau jam dua-an.
Klink!
Kak Gabie : Hehehe... Maklum dek, kakak banyak kerjaan. (* ̄︶ ̄*)
Aku : Kak, kakak juga harus jaga kesehatan! Jangan maksain diri kalo kakak nggak kuat.
Kak Gabie : Makasih dek, tapi kakak harus kerja lembur demi kehidupan kita berdua.
Aku: Percuma kalo kakak dapet gaji tam bahan, tapi kakak masuk rumah sakit gara-gara sakit!
Kak Gabie : Kakak tau dek, ini juga demi kamu.
Aku : Aku nggak masalah kita hidup miskin, aku hanya nggak mau kakak sakit dan masuk rumah sakit!
Kak Gabie : Iya dek, kakak nggak bisa ngapa-ngapain. Kakak cuman mau ngikutin amanat ayah sama bunda, jaga kamu.
Aku : Kak, kakak itu satu-satunya keluarga yang aku punya didunia ini! Aku nggak mau kakak kenapa-napa, aku nggak mau kehilangan kakak.
Kak Gabie : Ya doain aja dek, biar kakak baik-baik aja... Jangan di doain yang jelek-jelek!
Aku : Aku slalu doain yang baik-baik kak! Kakak dengerin omonganku kali ini aja gitu lho Kak! <(-︿-)>
Kak Gabie : Iya dek, kakak minta maaf, tapi ini demi kelangsungan hidup kita.
Kak Gabie : Percuma ayah sama bunda ninggalin warisan buat kita, tapi kalo kita nggak pernah ada pemasukan cuman pengeluaran? Kan sama aja.
Aku : Yaudah deh, serah kakak, semoga kakak sehat-sehat aja, baik-baik aja, dan jangan terlalu maksain diri! Ra nggak suka! (¬_¬)
Aku : <(-︿-)>
Kak Gabie : Iya adekku Favaina Neara Jaendra. (・´з`・)
Aku : Too!
Aku kembali tidur, aku bener-bener khawatir sama kondisi kak Gabie. Dia satu-satunya keluargaku didunia ini, aku nggak mau kehilangan keluargaku yang tersisa.
Pukul 05.42
Aku bangun kesiangan, belum sempet masakin sarapan buat Farel sama Zayn. Aku mengikat rambutku, lalu bergegas turun ke dapur.
Astaga!
"Zayn, kamu ngapain?" aku terkejut melihat Zayn berdiri di dapur, "Oh, selamat pagi gadisku."
"Aku hanya sedang membuatkan sarapan untuk kita berempat, bisakah kamu membantuku membangunkan Lea dan Farel?" aku mengangguk.
Farel ketiduran lagi disofa ruang tamu, "Farel, bangunlah, ini sudah pagi, nanti kamu telat!" aku mengguncang-guncangkan tubuh Farel.
"Hmmm... Iya Ra, lima menit lagi deh, aku sangat lelah Ra!" aku geleng-geleng, lantas mengambil segelas air putih.
Aku menciprat-cipratkan air ke wajah Farel, "Bangun, bangun, bangunlah Farel, atau kusiram kamu sama air!" kataku, Farel membuka matanya perlahan.
"Kamu resek Ra, aku hanya ingin tidur dengan pulas, tapi kau membangunkanku!" kata Farel bersungut-sungut, aku terkekeh.
Lalu aku naik ke atas untuk membangunkan Lea, "Lea, bangunlah, ini sudah pagi, kau mau sarapan sekarang, atau nanti?" tanyaku, aku juga mengguncang-guncangkan tubuh Lea perlahan.
"Hmmm... Bisakah aku sarapan nanti Ra?" aku tersenyum, "Baiklah, nikmati tidurmu Lea. Aku akan membangunkanmu lagi untuk sarapan nanti," aku meninggalkan kamarku.
Zayn udah selsai masak, bahkan dia sendiri yang nyiapin meja makan, "Mari makan, gadisku," kata Zayn, aku mengangguk.
"Kamu mau makan duluan silahkan, mau menungguku selesai mandi juga silahkan. Selamat tinggal gadis," aku memilih menunggu Zayn dan Farel bergabung dimeja makan.
Lima belas menit kemudian....
"Gadis, mengapa kau belum memakan sarapanmu?" Zayn udah siap, aku melongo melihat penampilannya yang begitu rapi. Dia terlihat sangat rapi, lebih rapi dari biasanya.
"Gadis, apa kau terpesona melihat ketampananku?" Zayn berjalan santai ke meja makan, "Ekhm... Apaan sih, udah ah, habisin sarapan kamu, biar nggak telat masuk sekolah!"
Zayn terkekeh, kami makan, Farel masih belum turun, "Farel mana? Kamu tau Zayn?" Zayn menggeleng, "Aku akan memeriksanya di kamar, tunggu sebentar," aku memeriksa ke kamar tamu.
Tok! Tok! Tok!
"Farel, apa kamu ada di dalam?" tanyaku mengetuk pintu, sunyi, tidak ada jawaban, "Farel, jawab aku!" aku mulai panik.
Aku turun ke meja makan, "Zayn, bantu aku mendobrak pintu! Tidak ada jawaban apapun dari Farel, aku mencemaskannya," Zayn menatapku dengan aura dingin.
Astaga, apa ini waktunya untuk cemburu? Mengapa dia cemburu jika aku mencemaskan sahabatku sendiri? Aku harus melakukan apa agar dia tidak cemburu?
Aku mendekatinya, aku melingkarkan lenganku di lehernya dari belakang, "Zayn, tolong bantu aku, aku hanyalah gadis lemah," aku membujuk Zayn sebisa mungkin.
"Gadis, apa kau tidak tau sopan santun? Pergi dari belakangku!" kata Zayn kesal, astaga, susah sekali membujuknya, "Kumohon Zayn, kau berkata bahwa aku adalah gadismu, tolonglah sahabat gadismu itu."
Zayn terkekeh, "Hehehe." astaga, apa yang baru saja aku katakan?
Cup!
"Baiklah gadis, aku akan menolongmu dan Farel kali ini. Lain kali, jangan membuatku cemburu, kau gadisku, kau milikku, seorang," Zayn baru saja mencium pipiku.
Zayn menaiki tangga, lantas menoleh ke aku, "Gadis, apa kau tidak mau tau keadaan sahabatmu?" eh, aku mengikuti langkah Zayn.
Braakk!
Sekali dobrak, Zayn bisa membuka pintunya. Kami melihat Farel yang tertidur dengan seragam yang sudah dia kenakan, aku menepuk jidat, begitu pula Zayn.
"Farel!! " aku meneriaki Farel, "Eh, iya, ada apa? Saya nggak tidur kok bu!" sekali lagi kami menepuk jidat, "Astaga, anak ini masih sangat kekanak-kanakan ternyata," kata Zayn.
"Ra!! Zayn!!! Ada apa? Apa kalian baik-baik saja?" Lea bertanya cemas, dengan muka yang sangat mengantuk, aku menahan tawa. Ini semua disebabkan oleh Farel, Lea bahkan sampai terbangun dari tidurnya.