
"Iya emang, kita bertiga senasib. Tapi kenapa harus nasib buruk yang senasib?" canda Farel, kami kembali tertawa, hingga seseorang keluar dari kelas. Kami tertegun melihatnya, tidak percaya.
Zayn!
Nggak mungkin dia nggak ngerjain PR kan? Zayn menghampiriku, "Hai, kalian lagi ngomongin apa?"
Aku dan Lea menelan ludah, "Kami sedang membicarakan nasib ..." jawab Farel santai, "Nasib apa? Masa depan?" Aku cepat-cepat menggeleng.
"Eh, nggak kok," jawab Lea, "Kalaupun masa depan, emang masa depannya siapa?" kata Lea, "Masa depannya Farel sama Ra?" aku terkejut, aku menggeleng kuat.
"Eh ... Nggak Zayn, aku sama Farel nggak ada apa-apa, kami hanya sahabat! Dan kami nggak bicarain masa depan! " Entah kenapa, aku merasa gugup, dan kenapa aku harus menjelaskan ke Zayn?
"Hmph ..." Zayn menahan tawa, yang menimbulkan senyuman di wajahnya. Senyum yang sama, yang kulihat tadi pagi, "Kenapa kamu ketawa?" tanyaku sebal.
"Karna kamu lucu! Aku nggak nanya apapun tentang hubanganmu sama Farel. Masa depan belum tentu menikah, atau pacaran, atau tunangan, atau sejenisnya lah."
"Bisa aja, masa depan itu kayak, apa kalian tetep bersahabat waktu udah pisah, atau tetep bakalan jail satu sama lain." Wajahku panas.
Aku yakin, sekarang wajahku udah merah padam kayak kepiting rebus, "Tau ah!" Aku narik Lea ke toilet.
"Cie ... Yang mukanya merah merona!" Lea mulai menggodaku, "Lea! Kamu sama aja kayak Zayn!" kataku jengkel.
"Takdir Ra, kamu di deketin dua idola sekolah tuh takdir. Kamu nggak bisa menghindar gitu aja." Lea terkekeh, lantas kuciprati mukanya dengan air.
"Eh, jangan dong Ra, basah nanti!" kata Lea, "Biarin, kamu nyebelin sih ..." Aku mencuci mukaku segera.
"Mau balik kapan?" Tiba-tiba, Farel dan Zayn ada di pintu masuk toilet perempuan, "Eh, kalian kok disini? Ini toilet perempuan tau! Pergi sana, pergi!" Aku mengusir mereka berdua.
"Baik, baik, kami pergi," kata Zayn, "Ra, aku tunggu di kantin ya." Farel ngelambaiin tangan, "Ok, bentar lagi kita kesana." jawab Lea cepat.
Sreettt!
"Eh ..." Aku kepleset, reflek aku narik tangan Farel, aku sama Farel sama-sama mau jatuh. Aku nutup mataku, nggak berani ngeliat.
Bruuk!
Eh, nggak sakit? Aku langsung buka mataku, ternyata Zayn narik tanganku waktu aku sama Farel mau jatuh. Dan Farel doang yang jatuh.
"Aduh Ra ... Kamu ngapain narik tanganku sih?" Farel mengaduh, "Eh, maaf Rel, aku refleks. Omong-omong, makasih ya Zayn—auh."
"Eh, kamu kenapa Ra?" suara Zayn kedengeran cemas, "Eh, kayaknya kaki ku kesleo deh," jawabku sambil megang kaki.
Zayn menggendongku, "Eh, Zayn! Turunin aku, ini disekolah. Nanti banyak yang salah paham!" Zayn tetap membawaku.
"Zayn, turunin Ra, biar aku aja yang bawa dia ke UKS ... Kamu sama Farel ke kantin aja dulu." Syukurlah Lea membantuku lepas dari Zayn.
"Baiklah, jaga gadisku baik-baik. Sampai jumpa nanti gadis." Sekilas, dia mencium keningku.
Mereka berdua keluar dari toilet perempuan, aku cuci muka lagi.Setelah mencuci muka, Lea membawaku ke UKS, dia ngolesin minyak kayu putih di pergelangan kakiku.
Udah mendingan sih, tapi masih sakit kalo buat jalan. Setelah diolesin minyak, aku dan Lea cepet-cepet pergi ke kantin. Pelajaran bu Fira masih 1 jam 45 menit lagi. Sungguh waktu yang lama.
"Sini Ra, duduk ..." kata Farel, aku dan Lea duduk di seberang mereka, "Lho, kamu nggak jajan Zayn?" Zayn menggeleng.
"Hanya Farel yang mampu membuatnya tidak ketahuan, aku nggak mau tertangkap basah sama guru." jawab Zayn cuek.
"Hahaha ... Kalian mau jajan juga?" aku menggeleng, "Mau dong." Aku menepuk jidat, bisa-bisanya mereka jajan waktu lagi dihukum.
"Zayn, kamu kenapa dihukum?" tanyaku, "Nggak apa, aku tadi nggak bawa buku PR nya. Jadi dihukum sama bu Fira." Aku ngangguk-ngangguk.
"Kakimu udah membaik?" tanya Farel, "Eh, belum sih, masih sakit dikit," jawabku, "Beneran? Sini, aku pijit," kata Farel, aku menggeleng, "Nggak usah ... Nanti juga sembuh sendiri."
"Kamu yakin?" aku ngangguk, "Zayn, sekali lagi makasih buat hari ini. Kamu udah nolongin aku dua kali." Zayn senyum.
"Ra, nanti mau dateng ke rumahku?" tanya Lea, "Bentar ya, aku tanya kak Gabie dulu," aku keluarin HP-ku dari saku baju, "Halo kak, nanti aku mau ke rumah Lea, boleh nggak?"
"Boleh dek, kebetulan kakak juga nggak bisa jemput kamu pulang nanti." jawab kak Gabie.
"Makasih kak." Aku mengangguk, "Sama-sama dek, udah dulu ya, kakak masih banyak kerjaan," kata kak Gabie, "Iya kak, bye!" Aku tutup telfonnya.
"Yeay! Nanti kita pulang naik angkot ya?" aku senyum, habis itu mengangguk, "Aku boleh ikut nggak?" tanya Farel, "Nggak! Ini acara buat cewek-cewek." Aku terkekeh ngelihat tingkah Lea.
Pukul 13.19
"Ra. Aku jadi nggak sabar deh, pingin cepet-cepet pulang!" kata Lea berbisik, "Ssstt ... Jangan berisik, nanti kita kena marah sama guru lagi." Aku kembali fokus ngerjain tugas.
"Ra ... Aku seriusan nanya deh, dari mereka berdua, nggak ada gitu yang kamu naksir?" Aku menggeleng.
"Zayn? Farel? Kamu nggak naksir sama mereka? Atau setidaknya pernah cemburu gitu?" sekali lagi aku menggeleng.
Aku liat kebelakang, ke arah Zayn, dia senyum ke aku, senyum yang benar-benar sangat tulus, "Hei, kamu ngeliatin aku?" tanya Farel, aku cuma diem, habis itu lanjut ngerjain tugas.
15 menit kemudian ....
"Sampai jumpa besok pagi Rel!" kata Lea, "Dah ... Hati-hati ya, jangan lupa ngerjain PR terus dimasukkin ke tas!" Aku tertawa, "Baiklah, makasih udah diingetin! Kamu juga ya."
Aku sama Lea harus jalan dulu, nyebrang, baru naik angkot, "Ra, enak ya jadi kamu, punya cowok kayak Zayn, dan punya sahabat kayak Farel." aku senyum.
"Enak apanya? Malahan, masalahku jadi nambah karna mereka berdua. Lagi pula, Farel juga sahabat kamu Lea." jawabku,
"Gini ya, kamu tuh harus bisa bedain, mana sahabat cowok, mana cowok yang suka ama kamu. Nah, Farel itu masuk kategori ke dua, dia suka ama kamu, kamu nggak punya perasaan apapun sama Farel gitu?" aku menggeleng.
"Kapan ya, aku bisa dapet pangeran berkuda putih?" canda Lea, "Hahaha ... Udah ah, lebih cepet nyampe rumahmu, lebih baik!"
Waktunya nyebrang, Lea udah duluan, tadi aku masih betulin tali sepatu dulu. Baru nyusul Seli.
Tin! Tiiiinnn!
"Ra, awas!" Aku liat ke kiri, aku nggak bisa lari sekarang, karna kondisi kakiku yang masih buruk. Jalan pun udah nggak ada waktu, aku nutup mataku, pasrah.
Buukk!