You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 34



Lea : (✖╭╮✖)


Aku : Sebentar lagi, aku akan kembali, tunggu aku disana!


"Kak, apa tidak keberatan membelikanku makanan?" aku mengangguk, "Setelah ini, aku akan membawamu membeli baju!"


"Kakak tidak perlu membelikanku baju, aku nyaman dengan ini!" Aku menggeleng, "Turutin kata-kata kakak ya?"


30 menit kemudian ....


"Ini nomer telfon kakak, kalau ada apa-apa, atau kamu membutuhkan sesuatu, telfon saja nomer kakak!"


Aku mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu memberikannya pada Luna, "Ini, buat jaga-jaga, kalau udah habis, telfon kakak!" Luna menggeleng.


"Maaf, Kak, bukannya aku menolak, namun, aku lebih sayang nyawa dari pada uang!" Aku mengangka satu alisku, heran.


"Kenapa?" tanyaku, "Kalau mereka tau aku mendapat banyak uang, mereka akan berusaha merampasnya dariku!"


"Kalau begitu, aku akan mengantarkan makanan setiap hari ke kamu ya?" Luna menggeleng, "Tetap saja, Kak ...."


"Hm, kalau begitu, kamu ikut kakak saja gimana?" Luna terkejut, "Kakak seriusan?" Aku mengangguk.


"Aku tidak ingin menjadi pembantu ..." Aku tersenyum, "Luna, aku tidak akan menjadikanmu sebagai pembantu, ikutlah denganku ...."


Luna menatapku, lalu mengangguk, "Terima kasih, Kak!" aku mengangguk, aku membawa Luna ke mobil Zayn. Kini, penampilannya sudah lebih baik untuk di pandang.


Senyumnya semakin manis, bajunya juga Luna sendiri yang pilih.


"Ra, ini siapa?" tanya Lea heran, "Ini anak kecil yang tadi kuceritakan. Manis kan?" Zayn dan Lea mengangguk.


"Dia sangat mirip denganmu Ra ..." Aku tersenyum, "Baik, sekarang mari kita pergi ke rumah kak Ola!" kataku.


30 menit kemudian ....


"Permisi ...."


Tok! Tok! Tok!


Aku mengetuk pintu rumah kak Ola, aku mengetuknya hingga beberapa kali, tidak ada jawaban. Lea merangkul bahuku, "Nanti kita kembali lagi."


Aku bersender di Lea, "Aku takut Lea ..." kataku, Luna menggenggam tanganku, "Kak, kita pulang sekarang ya?"


Aku menatap Zayn, dia mengangguk, lalu tersenyum, "Baiklah, kita pulang sekarang ..." kataku lemas.


"Eh, kalian ngapain?" Pintunya kebuka, aku tersenyum, "Syukurlah, Kak, Kakak lihat kak Gabie?" tanyaku.


"Nggak, Dek, maaf, aku nggak liat Gabie di manapun, soalnya aku di rumah dari tadi." Senyumku memudar, "Terima kasih, Kak, aku pulang dulu."


Kami masuk ke mobil Zayn lagi, "Sekarang kamu mau kemana?" tanya Zayn, "Kita balik dulu ke rumahku, kalian belum makan siang kan?"


25 menit kemudian ....


"Aku pulang!" kataku, Zayn dan Luna ikut ke rumahku, "Kalian bertiga duduk disini dulu ya, biar aku yang siapin makanan buat kalian." kataku.


"Luna mau makan lagi?" Luna menggeleng, aku mulai memasak makanan untuk Zayn dan Lea. Aku memang belum makan, tapi aku lagi nggak mood makan.


15 menit kemudian ....


"Silahkan di makan!" kataku, aku meletakkan dua piring kosong dan dua gelas berisi air di hadapan mereka.


"Lho, kamu nggak makan Ra?" Aku menggeleng, "Nggak, aku lagi nggak mood makan, kalian makan aja dulu, aku mau ke atas ...."


"Luna, mau ikut kakak ke kamar kakak?" Luna mengangguk, aku menggandengnya masuk ke kamarku. Aku kembali menulis diary, Luna melihat-lihat kamarku.


"Kak, Kakak tau, dari kecil, aku nggak pernah melihat muka orang tuaku ... Kata orang-orang, aku pernah diculik, tapi aku lupa ...."


Aku menatap Luna, "Kakak cuman punya satu saudara, ya yang sekarang lagi kakak cari ..." kataku.


Luna kembali melihat-lihat isi kamarku, terkadang memperhatikanku yang sedang menulis diary.


Ceklek!


"Kamu yakin?" Aku mengangguk, "Nanti, kalau Zayn udah pulang, biar aku sendirian yang mencari kak Gabie."


"Luna, kamu mau tinggal di rumah kakak?" tanyaku, "Kak, kalau aku tinggal disini, nanti Kakak terganggu, aku pulang aja ya?"


"Lho, katanya kamu nggak ada tempat tinggal kan? Mangkanya, tinggal sama kakak saja, jadi adek kakak!"


Mata Luna membulat, "Eh, nggak usah deh, Kak, aku kan bisa tinggal dimana-mana!" Aku menatap Lea, "Luna, kamu tinggal disini saja, Neara nggak keberatan kok!"


Luna menatap Lea, lalu tersenyum, "Terima kasih, Kak!" Kami berdua mengangguk, "Kamu masih nulis diary Ra?" Aku mengangguk.


"Sampai kapan?" tanya Lea, "Sampe orang yang tak maksud bener-bener pergi," kataku, "Habis itu?"


"Tentu saja aku akan memberikan buku ini padanya! m" kataku, "Luna mau kakak buatin susu sama cereal?" tanya Lea.


Luna menatapku, aku mengangguk, "Sekalian buatin aku juga dong Lea ..." kataku, "Dih, udah besar, bisa buat sendiri, tangan sama kaki juga masih ada, normal!"


Aku memutar mata, sebal, "Baiklah, kalau begitu, biar aku saja yang buatkan. Eh, Zayn udah pulang?"


Lea menggeleng, aku membuka pintu kamar, lalu turun. Zayn ketiduran di meja makan, tangannya dia lipet, taruh di atas meja, buat tindihan kepalanya.


Aku ingin membangunkan nya, tapi aku nggak tega, dia pasti capek banget. Aku buatin Lea dan Luna susu sama cereal.


Sedangkan untuk Zayn, aku panasin sup yang ada di lemari es, sama susu yang di lemari es, aku tambahin es batu.


"Lea! Luna! Cereal siap!" kataku berteriak dari bawah. Zayn masih tertidur pulas, aku meletakkan sup dan susu nya di atas meja makan.


Sedangkan cereal Luna dan Lea di atas meja ruang tamu. Luna dan Lea segera turun, "Lho, kok ditaruh disini?" tanya Lea.


"Ssstt ... Kalian makan disini aja ya, kasihan Zayn, dia kayaknya kecapekan deh." Lea tersenyum jahil, "Sudah, jangan menggodaku!" kataku.


Luna dan Lea memakan cereal mereka masing-masing, "Emang Zayn kecapekan apa sih?" tanya Lea, sedikit berbisik.


"Katanya, kemarin dia habis ngurus perusahaan, belum ngurus nenek sama kak Keli, kan?" jawabku.


Lea mengangguk-ngangguk, "Kak, kakak sama kak Zayn itu dekat?" tanya Luna, "Mmmm ... Tidak juga, kami sering bertengkar dan beradu mulut di sekolah!"


Lea terkekeh, "Jangan mudah dibohongi Lun, Neara kalo udah berdua aja sama Zayn, udah lupa sama semua orang!"


"Dunia serasa milik berdua! Neara kan bilangnya, mereka cuman sahabat atau apalah itu, tapi kalo udah berantem atau ngomong berdua aja ...."


"... Hm, kayak perang rumah tangga! Hahaha ..." Lea tertawa melihat muka merah padamku, "Lea!" kataku melotot.


Luna ikut tertawa, "Sudahlah, aku mau ke dapur dulu!" kataku. Aku berdiri, berjalan ke arah dapur, sebenarnya aku berjalan ke arah Zayn.


Aku duduk di kursi sebelahnya, aku menyingkap rambutnya yang berjatuhan, menutupi mukanya.


Aku tersenyum, "Kalau kau bangun sekarang, pasti kau akan terus membuat mukaku merah padam!" candaku.


Jika diperhatikan lebih dekat lagi, Zayn memang tampan, tidak ada yang bisa menyangkal kenyataan itu.


Aku mengusap rambutnya, lalu berdiri ke dapur, mau nyuci piring sama gelas kotor, bekas Zayn sama Lea makan tadi.


Aku menutup mataku, sebenarnya aku juga lelah, tapi aku harus terus mencari keberadaan kak Gabie.


Setelah mencuci piring, aku membangunkan Zayn, "Zayn, bangunlah, makan sup dan susu ini ..." Aku mengguncang-guncang tubuh Zayn.


Zayn membuka matanya, "Eh, makasih Ra." Aku mengangguk, lalu meninggalkan Zayn sendiri, Luna sama Lea ketiduran di sofa ruang tamu.


TV-nya masih menyala, mungkin tadi mereka menonton TV, habis itu ketiduran. Aku menggendong tubuh Luna, lalu membawanya ke kamarku.


Ceklek!


"Apa kau sangat sayang dengan anak itu?" tanpa menoleh, aku sudah tau, jika itu suara Zayn, aku tersenyum menatap Luna.


"Tentu saja aku menyayangi nya, aku lelah menjadi seorang adik, aku ingin merasakan rasanya menjadi seorang kakak."


"Lalu bagaimana?" Aku menatap Zayn, heran, Zayn tersenyum, "Maksudku, lalu bagaimana rasanya menjadi kakak? Seru?"


Bersambung ....