
"Aku berangkat!" kataku, aku keluar dari rumah, aku memesan taksi online, "Pak, sebelum ke tempat tujuan, tolong antar saya ke toko bunga terdekat ..." Aku masuk ke dalam taksi online.
"Emangnya, neng mau ngapain ke makam? " tanya bapak itu, "Oh, saya mau berkunjung ke makam orang tua saya pak. 16 tahun yang lalu, bunda saya meninggal. Lalu, 13 tahun yang lalu, ayah saya yang meninggal."
"Eh, berarti, bunda neng meninggal waktu ngelahirin neng dong." Aku menunduk sedih, aku benar-benar merindukan sosok seorang ibu dan ayah, terutama bundaku. Walau aku tidak pernah melihat wajah beliau, beliau tetaplah bundaku.
"Eh, maaf neng, saya tidak bermaksud ..." Aku tersenyum, "Nggak apapa pak, itu masa lalu saya!" jawabku, bundaku adalah pahlawanku.
Tanpa beliau, aku tidak akan pernah lahir ke dunia ini. Beliau rela kehilangan nyawa demi melahirkan nyawa, beliau melahirkanku dengan susah payah, aku slalu sedih jika mengingat kembali cerita itu.
Kak Gabie yang menceritakan padaku. Perjalanan dari rumah ke makam memakan waktu sekitar 15 menit jika menggunakan mobil. Pak sopir mengantarku ke toko bunga terdekat.
Ternyata, ini adalah toko bunga milik teman kak Gabie, kak Frida, "Permisi, saya mau membeli bunga bangkai, sama dua buket mawar." kataku, "Baik, mohon tunggu sebentar."
Di toko bunga ini, kak Frida punya dua karyawan, "Neara!" kak Frida nyamperin aku, "Happy birthday ya ... Cie, yang udah umur enam belas tahun."
"Makasih Kak ..." kataku tersenyum, "Kamu mau beli bunga buat mendiang om dan tante ya?" Aku mengangguk sedih, berusaha tersenyum.
"Gabie mana? Dia nggak ikut?" aku menggeleng, "Kak Gabie sibuk sama pekerjaan nya Kak, jadi nggak bisa pulang." Kak Frida ngangguk-ngangguk.
"Gimana kalau aku kasih kamu beberapa buket bunga mawar merah muda, buat hadiah ulang tahunmu dari aku?" aku menggeleng, "Tidak usah Kak, terima kasih, tapi akan susah jika membawa beberapa buket bunga ke makam!"
"Oh, itu tidak masalah, aku akan mengantarnya ke rumahmu. Tapi sekarang, aku nitip dua buket bunga buat om dan tante ya ... Boleh kan?" Aku mengangguk.
"Permisi, ini pesanan anda." kata salah satu karyawan kak Frida, "Lira, tolong ambilkan dua buket mawar lagi ya ... Tapi nggak usah di masukkin dalam tagihan nona ini."
Karyawan tadi ngambil dua buket bunga lagi, "Tolong letakkan itu di bagasi mobil." kata kak Frida, "Ra, waktu kamu pulang nanti, beberapa buket mawar udah dateng kok."
Aku mengangguk, lantas memeluk kak Frida, "Terima kasih Kak ... Selamat tinggal!" kataku, "Dah ... Hati-hati ya Ra!" Aku masuk ke dalam taksi online lagi.
"Udah siap neng?" Aku mengangguk, pak sopir segera menancap gas. Di perjalanan, aku hanya menatap jalan, diam membisu.
Sesampainya di makam ....
"Pak, ini uangnya, terima kasih ..." kataku, "Eh, neng, ini uang kembaliannya?" Aku menggeleng, "Tidak usah pak, untuk bapak saja."
"Terima kasih ya neng! Mau saya bantuin bawa bunga nya?" sekali lagi aku menggeleng, aku bisa membawa sendiri bunga-bunga bangkai ini dan empat buket mawar.
Aku berjalan ke arah makam kedua orang tuaku. Makam ayah dan bundaku bersebelahan, aku berlutut di sampingnya.
"Ayah, bunda, hari ini Ra udah umur 16 tahun ... Ra udah jadi gadis remaja, kak Gabie udah melaksanakan amanah ayah dan bunda dengan baik."
"Bunda, terima kasih udah pertaruhin nyawa bunda buat Ra, terima kasih udah ngelahirin Neara, itu sangat berarti ...."
"Ayah, terima kasih udah ngerawat aku sampe umur 3 tahun ... Ayah slalu tegar di hadapan Ra, kalo kita lagi bahas bunda."
Aku menuangkan air di tanah kuburan ayah dan bundaku, mataku mulai berkaca-kaca, "Ayah dan bunda akan slalu menemani dan memantau Ra dari atas sana. Walau kita berbeda dunia, kalian akan slalu ada di sampingku!"
Aku menaburkan bunga di atas makam ayah dan bundaku, "Bunda, ayah, kalian yang tenang ya di atas sana? Ra sama kak Gabie baik-baik aja, bunda sama ayah tolong doain kita ya?"
"Bentar lagi, aku udah mau ujian ... Kemarin dan hari ini, semua orang terdekat Ra, nyebelin semua. Terutama Farel, Lea, dan kak Gabie, Ra rasanya mau marah—"
Tes!
Air mataku menetes perlahan, "Hmph ... Tapi aku nggak bisa marah, terutama sama kak Gabie, aku sayang sama semua orang. Aku mau mereka ada di sampingku ...."
"Huhuhu ... Bahkan hari ini, cuman kak Frida aja yang ngucapin selamat ulang tahun. Hari ini, nenek Zayn bakal dateng ke rumah, hmph ...."
Sesekali aku terisak, "Semoga hari ini, yang di semogakan orang di sekitar Neara, terkabulkan ... Huhuhu!" kataku.
Aku memejamkan mata sebentar, lalu berdoa, "Ayah, bunda, sebentar lagi malam akan datang—hmph ... Aku pamit pulang dulu ya. Hari ini, pasti kak Gabie nggak sempet dateng ke sini, jadi cukup Neara aja yang dateng."
"Hmph ... Oh ya, ada titipan bunga sekaligus doa dari kak Frida, Neara taruh di sini ya? Selamat tinggal ayah, bunda!" Aku berdiri, lalu meletakkan dua buket mawar di makam ayah, dan dua buket mawar di makam bunda.
Aku memesan taksi online, aku menunggu taksinya datang. Ada beberapa orang yang dateng, mungkin mereka mau berkunjung ke makam keluarganya juga.
"Selamat petang nona ... Mengapa seorang gadis cantik berada di sini sendirian? Ini sudah mau malam, apa nona cantik tidak takut sendirian?" Mereka menyentuh rambutku.
Aku menepis tangan mereka, aku hanya menunduk, marah, "Hei, nona cantik ini sangat pemarah dan sangat pendiam ternyata. Atau dia tidak bisa berbicara?" Mereka semakin menggodaku.
"Hei nona! Apa kau berani melawan bos?" tanya salah satu dari mereka. Astaga, masalah apa lagi yang akan timbul setelah ini?
"Hentikan! Lepaskan tangan kalian dari rambutku!" kataku ketus, "Hei! Kami sudah berusaha lembut padamu, tapi kau terus berbicara dengan nada yang ketus, itu tidak sopan!"
"Apa sebaiknya, kita beri nona cantik ini pelajaran?" tanya si 'Bos' mereka, "Hahaha ... Boleh juga tuh bos, lumayan!"
Dia mengangkat wajahku, "Nona, mengapa kau hanya terdiam? Apa itu artinya kau setuju, kami memberimu pelajaran?" Aku memejamkan mata, "Lepaskan! Jangan menggangguku!" kataku.
Plak!
Dia menamparku, lalu mencekikku, "Nona, mengapa kau sangat sombong?" Aku terus berusaha memberontak, mereka tersenyum jahil, terutama si 'Bos' mereka.
"Lepaskan semua pakainnya!" Aku melotot, kaget, takut, "Sekarang! Cepat!" Mereka berjalan mendekat ke arahku, si 'Bos' mereka melemparku ke tanah.
Badanku tersungkur jatuh, sakit rasanya. Mereka terlihat sangat rakus, seperti mau memakan sesuatu yang memuaskan. Mereka terlihat sangat nafsu, mereka semakin dekat denganku.
Aku berusaha mundur, dengan mengesot. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya bisa menutup mataku, dan terus berdoa, agar pertolongan segera datang.
Bersambung ....