
"Ayo, bangun Lun, kamu ikut kakak nggak?" tanyaku, "Eh, iya Kak, aku udah bangun, nih ..." kata Luna, "Ayo, cuci mukamu di dapur, biar kakak yang nyiapin baju."
Aku mengambil baju untuk Lea dan Luna, "Ra, kamu duluan, atau Luna duluan yang mandi?" tanya Lea, "Luna dulu aja, aku gampang nanti." kataku.
30 menit kemudian ....
"Gimana, semua udah siap?" Aku mengecek kembali, lalu mengangguk, "Nggak ada barang yang ketinggalan?" Aku menggeleng.
"Baik, kita berangkat sekarang!" kata kak Frida, "Oh ya, ada berita bagus, Luna sudah bisa mengikuti pelatihan ini, tapi hanya bela diri, dan ketangkasan tubuh, bukan senjata!" Aku mengangguk-ngangguk.
Kami berangkat menggunakan mobil kak Frida, kami hanya diam sepanjang perjalanan.
25 menit kemudian ....
Tok! Tok! Tok!
Kak Frida mengetuk pintu, dari bawah ke atas, butuh 10 menit buat sampe di pondok ini. Pondoknya sederhana, dekorasinya juga tradisional, aku suka dengan sesuatu yang berbau tradisional.
"Rida, kalian datang sangat cepat ya?" seorang wanita separuh baya, keluar, mungkin usianya jauh di bawah nenek, bisa disebut ibu-ibu sih.
Kak Frida mencium tangannya, lalu memeluknya, "Mam, apa kabar?" tanya kak Frida, "Tentu saja aku baik-baik saja ... Seperti yang kau lihat sekarang!"
"Mam, aku sudah membawa adik Ros kemari, dan teman-temannya juga. Apa anda tidak keberatan untuk melatih mereka, seperti yang dulu Madam latih pada kami?"
Beliau terkejut mendengarnya, "Coba kulihat, mana yang adiknya Ros?" beliau menatap kami semua, aku maju.
"Saya adiknya kak Gabie ..." kataku, "Ah, tentu saja, kau memanggilnya Gabie kan? Tunggu, seingatku, Ros ... Maaf, maksudku Gabie punya dua adik, dan satu kakak kan?"
Kami semua terdiam, "Kak Gabie memang pernah berkata seperti itu Nyonya, namun saya masih belum bisa mencari tau tentang masalah itu."
"Ah, kau tidak perlu sungkan dengan memanggilku nyonya, kau bisa memanggilku Erna." Aku menelan ludah, "Tapi itu tidak sopan nyonya."
Beliau terkekeh, "Dia sama saja seperti Ros ... Ah, maksudku Gabie. Tidak apa, Nak, itu tidak sopan jika orang itu tidak mengizinkan, sedangkan sekarang kau sudah mendapat izin ...."
"... Mengerti?" Aku menggeleng, "Tetap saja, aku akan memanggil anda nyonya Erna, atau ... Bu Erna?" tanyaku, "Baiklah, kau dapat memanggilku Mam, atau Madam!"
"Baiklah, cukup! Perkenalkan nama kalian masing-masing!" sekarang, nada suaranya terdengar sedikit lebih tegas.
"Eh, namaku Neara ... Anda sudah mengetahuinya Mam." kataku, "Namaku Farel, senang bertemu dengan anda!" kata Farel, tubuhnya agak membungkuk.
"Namaku Luna, aku anak jala—" Aku menutup mulut Luna, "Dia adik angkatku!" lanjutku, "Namaku Lea, mohon bantuan nya ...."
"Namaku Zayn, Zayn Dirgantara," kata Zayn, beliau terkejut, "Astaga, aku tidak menyangka, sungguh, ini sebuah takdir!"
"Baik, cukup sampai disini perkenalan kita! Rida, kamu mau disini, atau pulang?" aku menatap kak Frida, "Aku pulang saja, aku harus buka toko besok."
"Oh ya ..." Kak Frida mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, kalung. Kalung yang sangat cantik, liontin yang berbentuk cincin, tepinya tertulis kata "Figthing"
Ditengah cincin itu, terdapat liontin kecil berbentuk bola, kak Frida mengalungkannya padaku, "Jaga kalung ini baik-baik, salah satu pemberian kakakmu!"
Kak Frida pamit, habis itu langsung pulang, "Neara, Luna, Lea, kalian bisa memasak?" aku mengangguk, "Bagaimana dengan dua teman kalian itu?"
Aku menatap Zayn dan Farel, "Mereka juga bisa memasak." jawabku, "Kalau begitu, Neara dan Farel yang mengurus kebutuhan rumah ini!"
"Lea dan Luna, kalian yang mengurus kebersihan di rumah ini! Lea, Luna, dan Neara, kuberi tugas tambahan, kalian harus menjaga 11 anak kucingku, dan 13 ekor anak kelinciku! Mengerti?"
Kami menelan ludah, lalu mengangguk, "Sedangkan Zayn, kamu yang mengurus hewan ternakku di halaman belakang!" Zayn terkejut.
"Kamar anak laki-laki di sebelah kanan kamarku, kamar anak perempuan, sebelah kiri kamarku. Silahkan anak-anak, kalian boleh membereskan barang kalian dulu."
"Habis ini, kita akan melakukan tugas yang sudah kuberikan pada kalian masing-masing." Madam tersenyum.
"Lea, Farel, bisakah kamu membereskan barang Neara dan Zayn?" Aku menatap Lea, Lea mengangguk, "Neara, Zayn, ikut denganku, aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian."
Kami mengikuti beliau, hingga sampai di ruangannya. Ruangan tradisional pada umumnya, meja pendek tanpa kursi, dipadukan dengan dinding putih berhiaskan bunga sakura.
Jendela yang menghadap pada halaman samping rumah, terdapat banyak jenis tanaman hias disana.
Madam menyeduh teh, "Silahkan ..." beliau menatap keluar jendela, tersenyum, "Lusi, Hilda, aku tak menyangka akan bertemu dengan kalian dalam wujud anak-anak kalian, secara bersamaan."
Aku menatap Zayn, Zayn balik menatapku, "Yah, kami bertiga adalah sahabat selamanya hingga maut memisahkan ...."
"Ternyata memang ada ya, sahabat selamanya hingga maut memisahkan," celetuk Zayn, Mam tersenyum, "Tentu saja ada, Nak, jika hal itu di dasari oleh kepercayaan."
"Mau lanjut?" Kami mengangguk, "Lusi, dengan sifatnya yang bandel, slalu penasaran, dan jiwa petualangnya. Hilda, dengan sifat yang lemah lembut, percaya diri, dan cerdik!"
"Aku, dengan sifatku yang seperti ini, kami memperdalam ilmu senjata dan bela diri kami, selama beberapa bulan ...."
"... Hingga mereka jatuh cinta dengan ayah kalian, dan kami sudah jarang berlatih, karna ayah kalian yang mengkhawatir kan kondisi ibu kalian!"
"Seumur-umur, aku tidak pernah terpikirkan dengan dunia pernikahan atau semacamnya!" Beliau tersungging sejenak.
"... Mereka slalu mengolok-ngolokku, karna di antara kami bertiga, hanya aku yang belum menikah. Tapi tidak masalah, itulah sahabat, walau menjengkelkan, mereka tetap sahabatku!"
"Tapi aku tidak menyangka, pada akhirnya, aku mendapatkan seseorang yang spesial di hatiku." Aku menutup mulutku yang terbuka sedikit karna terkejut.
"Lalu, sekarang dimana suami anda?" Aku melotot kearah Zayn, "Apa, aku hanya bertanya, tidak ada yang salah dari itu!"
"Hahaha ... Tidak apapa Neara, suamiku sekarang sudah tenang di atas sana, bersama Rey, Hilda, Jaen, Lusi, dan ... Maaf, aku turut berduka cita atas kematian kakakmu ...."
Tentu saja, jika aku mengingat hal ini, aku kembali bersedih, Zayn menatapku, "Sudahlah Neara, kakakmu sudah tenang di atas sana, kau jangan bersedih terus-menerus!"
Air mataku mulai menggenang, "Aduh, maafkan wanita ini Neara, seharusnya aku tidak berkata seperti itu." Aku menggeleng, lalu mengusap air mataku.
"Tidak apapa, Mam, aku baik-baik saja, hanya terguncang sedikit jika mengingat hal itu. Silahkan dilanjut cerita anda ..." kataku.
"Tidak, aku hanya ingin bercerita sampai situ, kalian boleh beristirahat 5 menit, lalu kembali ke halaman depan, aku menunggu kalian!" beliau membuka lemari.
Mengeluarkan 5 set baju untuk bela diri, "Ini, berikan pada Farel, Lea, dan Luna." Kemudian, beliau langsung keluar.
Aku dan Zayn saling tatap, kami segera keluar, dan masuk ke kamar yang telah disiapkan. Lea dan Luna sudah selesai menata barangku.
"Lea, Luna, kita bersiap sekarang, Madam sudah menunggu kita di halaman depan." Aku memberikan dua baju kepada mereka, aku segera mengganti pakaianku.
Kami keluar, Madam berdiri menatap kotaku dari atas sini. Beliau berbalik badan, lalu menatap kami, "Apa kalian sudah siap?"
Kami mengangguk, "Lakukan pemanasan!" kami segera melakukan pemanasan. 10 menit berlalu, keringat bercucuran dimana-mana, beradu nafas yang menderu.
"Lakukan shit-up secara berhadapan, sekarang!" kami segera melakukannya secara bersamaan, kecuali Zayn, dia melakukannya sendirian.
Karna, aku bersama Farel, dan Lea bersama Luna. Jadi Zayn sendirian, meskipun begitu, dia tetap sanggup menjalankannya.
Bersambung ....