You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 21



Aku mulai memotong kue, lalu meletakkan nya di atas piring kecil, "Potongan pertama kue ini, untuk kak Gabie! Karna dia adalah keluargaku!"


Aku kembali memotong kue, mereka semua menerima potongan kue satu per satu, kami makan kue sambil berbincang-buncang.


Kak Frida benar-benar mengirimkan beberapa buket mawar, ada satu yang benar-benar terlihat besar dan banyak. Buket mawar berwarna merah muda.


Tok! Tok! Tok!


Aku bangkit dari sofa, lalu membukakan pintu. Aku terkejut, sepertinya ini nenek Zayn, "Kamu Neara, bukan?" Aku mengangguk, lalu mencium tangan nenek Zayn.


Beliau datang bersama tiga gadis, "Selamat ulang tahun, Cucuku!" Nenek Zayn memelukku, "Terima kasih, Nek ..." kataku, lantas tersenyum.


"Eh, kalian udah dateng?" Zayn sudah berdiri di belakangku, "Nenek! Kak Keli! Emma! Apa kalian tidak merindukanku?" tanya Zayn gemas, "Selamat malam ... Zayn, apa kabarmu?"


Aku menatapnya, Zayn menatap gadis itu sejenak, lalu mengalihkan pandangan matanya, "Mari masuk, nenek, silahkan duduk dulu ... Neara siapin makan malam dulu, ya?"


"Sopan nya anak ini! Apa dia yang akan menjadi sepupu ipar kami?" Kak Keillie menyikut perut Zayn, Zayn melotot, "Oh ya, kamu bisa memanggilku Keli!"


Kak Keli mengulurkan tangan, aku membalas jabat tangannya, "Halo, namaku Gabriella, kau bisa memanggilku Gabie." kata kak Gabie, kami semua saling memperkenalkan diri.


Dan ternyata, gadis tadi adalah Isabel, dia slalu berusaha mendapatkan perhatian dari Zayn, "Permisi, aku mau membuat makan malam dulu." Aku beranjak pergi ke dapur, "Gadis, biar aku membantumu!" Zayn menyusulku.


Aku dan Zayn menyiapkan makan malam, Zayn memotong bawang-bawangan dan bahan-bahan lain. Aku yang meracik bumbunya, "Gadis, apa kau masih marah padaku?"


Aku menggeleng, "Aku tidak pernah marah padamu, Zayn, aku hanya kecewa mendengar ucapanmu kemarin," kataku, Zayn memelukku dari belakang, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud ...."


"Lepaskan Zayn, mari kita lanjutkan memasak." kataku, kami melanjutkan memasak makan malam, "Permisi, apa aku juga boleh membantumu?"


Zayn menatapku, aku bingung harus menjawab apa, "Eh, ten—tentu saja kau boleh ikut membantu!" kataku.


"Tidak! Isabel tidak boleh membantu calon menantu keluarga Dirgantara. Neara, nenek ingin mencicipi masakanmu, tanpa bantuan siapa pun selain Zayn!" kata nenek tegas.


Eh, tadi nenek bilang apa? Aku? Calon menantu keluarga Dirgantara? Hahaha ... pasti bercanda, atau aku yang ke ge'er an?


"Eh, Nenek bercanda, kan?" tanya Isabel, nenek menggeleng dengan tegas, "Keluar dari dapur! Tidak ada yang boleh melanggar perintahku Isabel."


Mata Isabel penuh dengan api kebencian, dia mungkin benci sama aku, "Silahkan di lanjut, Nak ... kami akan menunggu hasilnya, karna setiap menantu perempuan keluarga Dirgantara, mereka harus bisa memasak!"


Aku mengangguk, lantas tersenyum. Eh, apa yang aku iya kan ya? "Gadis, berhentilah melamun, lanjutkan masakanmu ...."


***


"Ra, aku mau ke toilet dulu ya?" Aku mengangguk, Zayn pergi ke toilet, aku mulai menyiapkan piring-piring. Lalu aku naik sebentar ke kamar, mau ambil HP.


Klink!


Hero : Bagaimana? Permintaanmu sudah kukabulkan, kan?


Aku : Terima kasih Hero, aku sangat senang. Sesuai janjiku, dua permintaanmu akan ku lakukan!


Aku kembali ke dapur, lima menit lagi masakanku siap, aku mencobanya untuk terakhir kali.


Tangan dan wajahku gatal-gatal, astaga, apa ini? Apa aku alergi? Aku memang punya alergi, alergi sama ikan kering, tapi aku nggak masukin ikan kering ke masakanku.


"Gadis, kau kenapa?" Aku masih sibuk menggaruk tangan, leher, dan mukaku, "Aku tidak tau, Zayn ... badanku terasa gatal dan panas, sepertinya aku terkena alergi!"


"Jika kau alergi, mengapa kau memasukkan nya ke dalam? Memangnya kau alergi apa?" Aku menggeleng, "Ikan kering, tapi aku tidak memasukkan ikan kering ke dalam masakan itu!" kataku.


Zayn memapahku berjalan ke ruang tamu, semua orang melihatku, "Ada apa, Kak Zayn?" tanya Emma, "Neara alergi, alerginya sama kayak aku." Zayn mengeluarkan salep yang sama dengan punyaku dari saku celananya.


Dia mengoleskan salep itu di seluruh bagian tubuhku yang gatal. Nenek pergi ke dapur untuk memeriksa masakanku.


"Di dalam masakan itu memang ada ikan keringnya. Apa kau baik-baik saja, Nak? Sudah mendingan?" Aku mengangguk, salep slalu membuat kulitku terasa lebih sejuk.


"Ada orang yang mau menuduh Neara disini." Aku menatap kak Keli heran, "Ayolah Ra, itu mudah untuk di jelaskan."


"Disini, siapa saja yang tau kalau kakak alergi sama ikan kering?" Emma menyahut, dan bertanya, "Eh, yang tau cuman, kak Gabie, kak Frida, sama Lea!" jawabku.


"Memangnya kenapa Emma?" Aku kembali bertanya, "Kalo yang tau cuman orang terdekat kamu, berarti orang yang masukin ikan kering ini punya niat mau nuduh kamu! " kali ini kak Keli yang menjawab.


Aku dan Zayn saling menatap, siapa yang mau menuduhku?


"Isabel, kau pergi ke toilet, kan, tadi?" tanya kak Keli, "Eh, anu—nggak—nggak, bukan aku kok, Kak, yang masukin!" Isabel kelihatan gugup, "Isabel, nenek udah nggak percaya sama omongan kamu, pergi sana!" kata nenek tegas.


"Nenek, biarkan dia disini, hari ini, hari ulang tahunku, siapa pun boleh ikut merayakannya ..." kataku membujuk, "Baiklah, ini adalah permintaan Neara, nenek akan menurutinya."


"Emma, Lea, kalian bantu Neara memisahkan ikan kering yang ada di makanan tadi! Nak Gabie, kamu bisa membawa adikmu untuk istirahat sebentar dan meminum obatnya." kak Gabie mengangguk.


Kak Gabie membawaku ke kamarku, lalu dia turun untuk mengambil air putih. Dia kembali membawa segelas air putih dan obat tablet untukku.


"Minum obat dulu, Dek, biar nggak gatel lagi." Aku mengangguk, dan segera meminumnya, "Permisi, apa kalian sudah selesai?" tanya Emma, kak Gabie mengangguk, "Baik, kalau begitu waktu makan malam!"


"Kak, kamu duluan, nanti aku nyusul." Kak Gabie mengangguk. Badanku udah lumayan nggak panas dan nggak gatel lagi, tapi masih merah-merah.


"Hei, gadis tidak tau malu! Aku peringatkan kau agar tidak dekat-dekat dengan Zayn. Dia adalah tunanganku sejak kecil, kau tidak akan memiliki kesempatan menjadi menantu keluarga Dirgantara!"


Isabel berdiri di pintu, "Gadis sepertimu tidak akan diterima menjadi menantu keluarga Dirgantara. Kamu nggak pantes! Yang pantes itu aku!"


Aku memutar mata, malas menanggapi, "Semua orang, biasa menyebutku sebagai 'kekasih kecil' Zayn!" Sumpah, aku males nanggepin nya, "Kami slalu dibilang cocok, tidak ada yang tidak suka dengan kedekatan kami. Kami—"


"Isabel Cukup!" Zayn masuk ke kamarku, dia menatapku dengan tatapan yang hangat, "Zayn, kita adalah tunangan, kau seharusnya membelaku!" Tatapan hangat itu berubah drastis menjadi tatapan yang kejam.


"Kau bukan tunanganku! Aku tidak pernah memiliki tunangan, bahkan merasa memiliki saja tidak! Bahkan sampai sekarang, aku belum memiliki tunangan! Namun aku memiliki calon, dan kau tidak boleh mengusiknya sedikit pun!"


Aku terperangah, "Zayn ..." kataku pelan, apa yang dia katakan itu sungguhan? Zayn merangkul bahuku, dia menatapku, lalu tersenyum, aku masih bingung dan diam mematung.


Bersambung ....