You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 25



Aku dan Aidan memberinya nama Reynand Dirgantara, Rey. Dan saat itu pula, kakekmu semakin giat bekerja dan semangat dalam mengembangkan perusahaannya.


Aku kembali mengandung ketika Rey berumur 2 tahun. Kehangatan kembali menyambut rumah kami ketika seluruh keluarga dan kerabat kami mendengar berita itu.


Lagi-lagi anak yang kukandung adalah laki-laki. Tidak ada yang mempermasalah kan jenis kelamin, mereka menerima bayi yang telah lahir di dunia ini.


Ketika aku melahirkan putra ke-2, kabar baik juga datang saat itu. Perusahaan Aidan termasuk 10 perusahaan terbesar di kota ini. Putra ke-2, kami beri nama Putra Rafaela Dirgantara, Rafael.


"Sasha, kondisi ibu membaik sekarang!" Aku bahagia ketika mendengar kabar itu, tidak sia-sia usaha Aidan untuk menyembuhkan ibunya.


"Syukurlah jika seperti itu. Apa kabar dengan adikmu? Mereka baik-baik saja kan?" Itu lah senyum kebahagiaan yang memiliki ekspresi yang lega.


Semenjak itu, keluarga kami sangat bahagia dan tercukupi. Aidan memanglah orang yang baik, dia membantu banyak orang, bahkan ada beberapa orang yang dia angkat menjadi keluarga sendiri.


Tentu sebagai istrinya aku tidak keberatan dengan sikapnya. Itu adalah perbuatan yang baik, untuk apa aku keberatan dengannya?


Aku melahirkan anak ke-3 saat aku berumur 27 tahun. Kali ini kami mendapatkan seorang putri, kami menunggunya selama 9 bulan untuk lahir ke dunia ini.


Kami memberinya nama Ellshava Gemintang Dirgantara, Shava. Kedua kakaknya sangat memanjakan adiknya itu, mereka tidak pernah membuat adiknya menangis karna nakal.


Paling-paling adiknya menangis karna di jailin aja, jahil belum tentu nakal, ini adalah suatu perbedaan. Kakekmu jarang menceritakan apa yang terjadi dengan perusahaannya.


Dia akan memendam masalah itu, lalu memikirkan solusinya sendiri. Dia tidak mau membebani pikiran anak dan istrinya.


Kabar baik kembali datang menghampiri kami, ibu Aidan sembuh total, walau masih bisa kambuh sewaktu-waktu. Setidaknya itu lebih aman dari pada sebelumnya.


Aku kembali mengandung anak ke-4 kami, ketika aku berumur 30 tahun. Mereka kembar, laki-laki semua. Seluruh keluarga kembali bersuka cita.


Tapi ada kabar buruk yang merusak segala suka cita kami malam itu. Ibuku meninggal karna getah bening, beliau atau ayahku tidak pernah membicarakan hal ini dengan kami.


Aku terus dirundung kesedihan, aku hampir saja keguguran bayi kami dalam kandungan. Tidak lama setelah itu, aku mendengar berita bahwa ayahku menderita TBC.


Dan perusahaan Aidan hancur seketika, sahamnya turun. Para karyawan belum sempat di gaji, dan kami belum menyiapkan biaya persalinan untuk dua putra kami yang akan lahir beberapa bulan lagi.


Aidan sangat setres, ternyata masalah ini sudah datang jauh-jauh hari, "Maafkan aku Sha, aku melanggar janjiku ... Aku tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu dan anak-anak ...."


Malam itu Aidan hanya memojok di ujung kamar. Dia menyendiri, dalam gelap, menatap keluar jendela, menatap langit-langit malam yang gelap dan hampa tanpa bintang.


Aidan putus asa, tidak ada yang bisa mengembalikan semangatnya, termasuk aku. Hingga ibu Aidan datang ke rumah kami, dia terus membujuk Aidan dengan segala cara.


Ajaib, Aidan kembali bersemangat dan menjadi Aidan yang dulu kukenal. Dia bekerja keras siang dan malam, terkadang sampai dia tidak tidur.


"Aidan, lain kali berjanjilah padaku, apapun yang terjadi, kau harus mengatakannya padaku. Jangan menyembunyikan nya dariku, agar tidak terulang kembali."


"Aku berjanji Sha, aku akan membicarakan masalahku denganmu. Karna aku juga tidak ingin kejadian ini terulang kembali ...."


Dua bulan Aidan baru bisa mengembalikan perusahaannya, itu pun tidak sebaik sebelumnya. Tapi tidak apapa, itu lebih dari cukup untuk keluarga kami, asal Aidan tidak pernah menyerah dan putus asa lagi.


Aku berhasil melahirkan kedua putraku dengan selamat dan sehat. 2 hari setelah mereka lahir, kami memberinya nama Adyhasta Imanuel Dirgantara, Nuel.


Tapi sayangnya, kami mendapat kabar buruk dari pihak rumah sakit. Efal di culik, anak-anak kami yang lain tidak di beritahu kabar tersebut.


Aku dan Aidan berusaha menyembunyikan kabar ini dari keluarga kami. Karna selama aku hamil, tidak ada yang mengetahui jika janin yang kukandung itu kembar.


Pihak rumah sakit juga telah kami beritahu, mereka tetap menyarankan agar memberitahu keluarga kami. Kami tetap menolak, kami mempunyai alasan tersendiri.


Kami pulang disambut dengan suka cita kebahagiaan di dalam rumah kami, "Bunda, boleh aku menggendong adik laki-lakiku?" Shava bertanya dengan lidahnya yang masih cadal.


"Tidak sayang, kau dan adikmu akan terjatuh bersama!" Aidan menggendong Shava. Keluarga kami cukup hangat, aku senang dan beruntung memiliki keluarga seperti ini.


"Permisi nyonya, tuan, saya mendapat kabar jika ayah nyonya sedang kritis kondisinya ..." Kabar itu datang dua tahun setelah aku melahirkan Nuel dan Efal.


Aku sangat terpuruk, aku tidak ingin kehilangan orang tersayangku. Rey yang sudah cukup besar untuk mengetahui situasinya, dia berusaha menenangkanku.


"Bunda, tenanglah, aku yakin kakek tidak akan kenapa-napa ... Bunda harus kuat, biar kakek juga semangat untuk sembuh dari penyakitnya!"


Rey dan Aidan memiliki kepribadian yang sama. Aku slalu menangis dalam diam ketika semua sudah tertidur, aku menangis sembari melihat baju-baju yang telah kami siapkan untuk Efal.


Aidan hanya memperbolehkan aku menyimpan dua barang milik Efal, sisanya akan dia buang untuk menutupi kabar tersebut.


3 bulan setelah aku mendapat kabar keadaan ayahku kritis, aku kembali mendapat kabar, ayahku dan ibu Aidan meninggal di waktu yang sama dalam kecelakaan lalu lintas.


Aku sungguh merindukan anakku, dia salah satu putra kami. Aku terus meminta Aidan untuk terus melakukan pencarian hingga Efal ditemukan.


Namun hasilnya nihil, anakku yang satu itu tidak pernah ditemukan hingga hari ini Ra. Sekarang wanita tua ini mengkhawatirkan keadaan putranya yang menghilang 37 tahun yang lalu.


(Kembali ke aku yang cerita guys! )


"Wanita tua ini bahkan tidak tau bagaimana keadaan anakku itu ..." Aku menatap nenek, "Nenek, lalu bagaimana dengan empat anak Nenek yang lain?"


"Yah, itu juga termasuk sebuah misteri yang belum bisa kami pecahkan. Hanya aku, Zayn, Leo, Keli, Emma, dan Aidan yang mengetahuinya. Tapi rahasia itu terkubur bersama dengan Aidan di dalam tanah!"


"Maksudnya apa, Nek?" tanyaku, "Kedua anakku telah meninggal dunia bersama dengan istrinya. Shava, suaminya, Nuel, dan istrinya menghilang entah pergi kemana!"


"Apa maksud nenek—" nenek mengangguk, "Orang tua Zayn dan Leo telah meninggal dunia. Shava menghilang tanpa kabar saat dia sedang mengandung putra pertamanya!"


"Keempat anak itu hanya pernah bersama kedua orang tuanya selama 2 tahun. Setelah itu, mereka tidak pernah bertemu dengan orang tuanya, sungguh malang nasib mereka." aku menutup mulut.


"Itu berarti ... Zayn adalah yatim piatu?" nenek mengangguk. Astaga, apa yang telah kulakukan? Aku membentaknya karna mengira dia tidak mengerti rasanya berada di posisiku.


Air mataku menetes, "Ra, jangan menangis, itu tidak masalah. Zayn tidak pernah keberatan jika ada yang membahas hal itu!"


"Kami mencurigai, orang-orang yang diangkat Aidan sebagai keluargalah yang menjadi dalang di balik semua peristiwa di keluarga Dirgantara ...."


Bersambung ....