
Karna kami masih pakai seragam sekolah, "Nenek," kata Zayn, kami berhenti di ruang ICU. Nenek menangis disitu, Leo dan Emma berusaha tidak menangis, untuk menguatkan nenek.
Zayn memeluk nenek, aku menatap Lea. Dia merengkuh lenganku, lalu memalingkan mukanya di bahuku. Ini keadaan yang menyedihkan, mencemaskan, intinya gitu lah.
Lea mungkin sudah menangis, aku hanya bisa menatap nenek yang sedang menangis. Aku melepaskan tangan Lea dari lenganku, lalu mendekati nenek.
Nenek menatapku, beliau tersenyum ketika menangis, lalu memelukku. Badan beliau bergetar, sesekali aku mengusap punggung nenek.
"Nek, nenek jangan sedih, aku yakin, kak Keli nggak akan kenapa-napa ... Kak Keli bakalan sembuh, terus nemenin kita lagi kayak biasanya!" kata Emma, berusaha menghibur nenek.
Nenek menggeleng, masih dalam pelukanku, dan masih menangis dalam diam. Aku menatap Zayn, dia menggeleng.
"Aku tidak bisa menyembuhkan dia Ra ... Aku adik yang tidak berguna! Aku tidak—bisa melakukan apapun—" Zayn mengutuk dirinya sendiri.
Aku menatap Farel dan Leo secara bergantian. Mereka mengerti maksudku, mereka menenangkan Zayn yang sedang mengutuk dirinya sendiri terus-menerus.
Braak!
"Astaga! Nenek!" Nenek pingsan, kami segera memanggil dokter, nenek dibawa ke ruang inap A.
Kata dokter, nenek mungkin terlalu syok untuk menerima kabar kak Keli, selain itu, kemungkinan nenek juga kecapekan. Beliau tidak boleh di bebankan oleh pikiran apapun.
Intinya, jangan membuat beliau khawatir dan cemas. Zayn semakin mengutuk dirinya sendiri, aku bisa mendengarnya dari dalam.
Aku, Lea, dan Emma sedang menjaga nenek, menunggu nenek untuk siuman. Sedangkan Farel, dan Leo menunggu kabar kak Keli. Zayn bersama kami, dia berada di luar.
Emma terus menggenggam tangan nenek, Lea masih merengkuh lenganku. Sesekali aku mengusap bahu Emma, wajahnya nampak cemas.
Kring! Kring! Kring!
"Halo ..." kak Gabie yang menelfon, "Halo, Dek, kamu dimana? Kakak dapet kabar dari guru kamu, kalo kamu ikut Zayn jenguk Keli. Sekarang kakak udah di depan ICU!"
"Tapi cuman ada Farel, sama Leo." kata kak Gabie, "Kak, nenek pingsan, kami lagi nunggu nenek siuman ..." jawabku, "Diruang mana?" tanya kak Gabie.
"Diruang A, disini juga ada Emma, dan Lea." kataku, "Baiklah, kakak akan segera kesana! Sampai nanti!"
Aku keluar dari ruang rawat nenek, sepertinya Zayn menunggu kabar kak Keli, "Neara!" itu suara kak Gabie.
"Gimana?" aku menggeleng, "Nenek belum siuman, Kak ... Kakak tadi ngeliat Zayn nggak, waktu kakak kesini?"
Kak Gabie menggeleng, "Yasudah, mari masuk dulu ..." kataku. Kami berdua masuk, mata Lea dan Emma masih sembab.
Pukul 16.51
Astaga, 6 hampir jam kami menunggu tanpa kabar. Nenek udah siuman, tapi kami menyuruh nenek untuk tidur dan beristirahat. Zayn masih menghilang entah kemana.
Aku sudah berkali-kali berusaha menghubungi telfon Zayn, tapi nomernya slalu nggak aktif.
Kemana sih, perginya anak itu? Keadaan lagi kayak gini, dia masih sempet-sempetnya pergi menghilang entah kemana.
Aku mencoba berpikir, jika aku berada diposisi Zayn, akan pergi kemana aku? Taman belakang!
Ya, aku yakin Zayn ada di taman belakang, "Kak, aku mau nyari Zayn dulu ya ... Kalo ada apa-apa, langsung telfon aku!" kataku.
"Eh, Kak, apa aku sama Kak Lea boleh ikut?" tanya Emma, "Emma, biarkan Kak Neara yang mencari kakakmu ..." tiba-tiba nenek bangun.
"Nak, pergi cari Zayn ... Bicaralah dengannya, sekarang pasti dia sangat tertekan. Aku akan menunggu disini ...."
Aku keluar dari kamar, berlari menghampiri Zayn, mencarinya, aku tidak menemukannya.
Sungguh, kemana hilangnya anak ini? Aku mencoba menelfon Farhan, Zayn pernah memberikan nomernya padaku.
Tuut! Tuut!
"Halo, ini siapa ya?" Aku tersenyum, Farhan bisa ditelfon, "Farhan, ini aku, Neara, apa kau ingat?"
"Ah, Nona Neara... Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Farhan, "Jangan memanggilku seperti itu, kita seumuran, kamu juga teman dekat Zayn ...."
"Maafkan aku Ra, aku tidak tau kemana perginya ... Apa kau sudah mencoba menghubunginya?"
"Aku sudah berkali-kali mencoba menghubunginya, nomernya nggak aktif Han! Aku mencemaskan Zayn, aku nggak tenang sebelum Zayn mengangkat telfonku!" kataku.
"Kau adalah asisten pribadi Zayn bukan?" aku berusaha kembali berpikir, "Kemana kau mengantar Zayn ketika dia bersedih?"
"Ah, tentu saja! Setahuku, ada dua tempat yang biasa tuan muda datangi kalau dia sedang bersedih ...."
"Katakan padaku! Dimana itu?" kataku, "Pertama adalah makam keluarga. Makam yang benar-benar khusus untuk orang yang memiliki hubungan darah dengan mendiang tuan besar ...."
"Kedua adalah taman kecil dekat rumahmu Ra." jawab Farhan sedikit ragu-ragu, "Bagus! Terima kasih atas informasinya Farhan!" kataku.
"Apa kau tidak keberatan mengantarku ke dua tempat itu?" tanyaku, "Tentu, dengan senang hati ...."
"Aku akan menunggumu di parkiran rumah sakit!" Farhan menutup telfonnya, aku berlari masuk kedalam, "Kak, aku akan pergi sebentar, tolong jaga yang lain!"
"Aku akan segera kembali ... Kalau sudah mendapat kabar dari kak Keli, tolong kabari aku! Sampai jumpa!" kataku.
Aku pergi ke parkiran mobil, aku melihat ke sekelilingku. Mobil Zayn yang tadi sudah tidak ada, dia pasti pergi membawa mobilnya.
"Neara!"
Aku menoleh, itu Farhan, "Mari kuantar ..." aku mengikuti Farhan berjalan ke mobil. Dia segera menancap gas, malam hampir datang, entah kemana si Zayn itu.
20 menit kemudian ....
"Kita sudah sampai Ra ..." Aku dan Farhan turun dari mobil, aku mengikuti Farhan memasuki makam.
Farhan berhenti diantara dua makam, dia berlutut, "Nyonya, Tuan, saya membawa gadis tuan muda Zayn ... Dia adalah gadis yang baik, anda akan senang jika menemuinya!"
Kemungkinan, ini adalah makam orang tua Zayn, "Bibi, Paman, namaku Neara. Zayn temanku, sekarang aku sedaang mencarinya, semoga dia nggak kenapa-napa ...."
"Farhan, ada buket bunga sama taburan bunga yang masih segar di tiga makam ..." Makam yang satunya bertuliskan nama "Aidania Raka Dirgantara"
Itu adalah makam kakek Zayn, "Kau benar Neara, itu artinya, tuan muda baru saja pergi dari sini ... Mari kita cari ke tempat satunya!" Aku mengangguk.
"Tuan besar, tuan, nyonya, saya pamit dulu ... Saya akan mengantarkan nona Neara mencari tuan muda Zayn ..." Aku bersimpuh.
"Sampai nanti, Paman, Bibi, Kakek! Aku akan menemukan Zayn, segera ..." Aku dan Farhan bergegas mencari Zayn di taman dekat rumahku.
30 menit kemudian ....
"Nona, kita sampai." Farhan membukakan pintu untukku, "Farhan, kita seumuran, kau tidak perlu memanggilku nona."
"Kau tunggu saja disini, aku akan mencari Zayn sendiri ..." kataku, "Apa kau yakin?" Aku mengangguk.
Taman itu nggak begitu luas, aku bisa mencari Zayn dengan cepat. Tapi hasilnya nihil, Zayn nggak ada di taman itu.
"Farhan, apa kamu tau tempat lain selain ini? Aku tidak bisa menemukan tuan mudamu yang menghilang, pergi, entah kemana!" kataku sebal.
"Eh, maaf Ra, aku nggak tau tempat lain. Sekarang kau mau kuantar kemana?
" aku berpikir sejenak, "Bawa aku ke danau dekat jembatan perbatasan kota!"
"Baik ..." kami melaju di jalanan, aku berusaha lihat kiri-kanan mencari Zayn. Berharap bisa bertemu Zayn saat di perjalanan.
Pukul 18.05
Aku turun dari mobil, "Eh, kamu mau kemana Ra?" tanya Farhan, "Aku mau turun kebawah, aku mau cari Zayn." kataku.
Di samping danau ada kayak turunan bukit. Kalau ada acara spesial, orang-orang akan berkumpul disini.
Kalo nggak, dikit banget yang kesini, paling cuma buat nenangin pikiran mereka. Karna disini suasananya emang nenangin sih, jadi enak aja gitu ngelihatnya.
Bersambung ....