
Aku menggeleng, "Terserah ... Terserah Kakak mau menyampaikan yang mana dulu ... Aku menurut saja," kataku.
"Neara ... Kabar baiknya adalah, kamu masih punya keluarga di dunia ini, dua orang yang masih tersisa sebagai keluargamu, tapi kakak juga belum tau, siapa itu ..."
"Kalo kamu mau tau, minta Frida ngasih buku harian sama jurnal kakak ke kamu ... Berita buruknya, waktu kakak di dunia ini udah nggak lama lagi."
Aku menggeleng, "Nggak, Kakak nggak boleh ngomong kayak gitu!" kataku, ""Selain tentang keluargamu, disitu ada semua hal tentang keluarga kita, kamu bisa cari tau disitu ...."
Kak Gabie mengelus pipiku dengan lembut, "Kamu juga nggak perlu cari uang lagi, kakak udah nabung selama ini, cukuplah kalau buat biaya hidupmu sampai tamat kuliah ...."
Kak Gabie meringis, "Tapi tidak mewah ya, mungkin hidupmu bakal lebih sederhana dari sebelumnya." Aku mengangguk, "Terima kasih kak, itu sudah cukup ...."
"Dan aku akan mencari keluargaku yang lain itu ..." kataku, "Lea, tolong jaga adekku yang kadang masih bandel ini ya ... Tolong sabar-sabar aja sama sikapnya."
"Kak, tolong sembuh, Ra janji, Ra nggak bakalan bandel lagi, atau apapun itulah, asalakan Kakak sembuh!" Kak Gabie menggeleng, lalu tersenyum.
"... Dan tolong—jangan menyimp—an, dendam—sama Ola ..." nafas terakhir kakakku, inilah detik-detik terakhir saat aku kehilangan keluargaku, lagi.
Tangisanku semakin kencang, perawat, suster, dan dokter melepas seluruh alat yang menempel pada tubuh kak Gabie.
"Kakak! Bangun, Kak! Tolong jangan tinggalin aku ... Aku janji, apapun akan aku lakukan, asal Kakak jangan ninggalin Neara!"
Lea menarikku yang masih menangis dengan memeluk kak Gabie, air mataku terus menetes, "Kakak ... Ra mohon, bangun, Kak ... Bangun!"
"Neara benci sama Kakak!" percuma saja aku berkata seperti itu, karna kakakku nggak akan pernah membuka matanya lagi.
Hari pemakaman ...
Aku menangis seharian ini, semua orang turut berduka cita atas kematian kakakku. Sekali lagi, sekali lagi aku kehilangan anggota keluargaku.
"Ra, sekali lagi, kakak minta maaf ya?" Aku hanya bisa diam, menangis, atau melamun. Itulah pekerjaanku sekarang.
Lea menepuk pundakku, aku memeluknya, "Sabar Ra ... Sekarang, kita hidup bersama, kita akan melengkapi satu sama lain, aku akan herada di sisimu setiap saat!"
Aku memejamkan mataku, rasanya berat banget kehilangan keluargaku satu-satunya. Enggak, tunggu, kak Gabie bilang, aku masih punya satu keluarga, siapa itu?
Aku menatap kak Frida, "Ra, nanti saja ..." kata Lea, aku menghela nafas, "Baiklah," kataku. Aku terus memeluk Lea, aku masih nggak percaya kalau kakakku, kak Gabie telah meninggalkanku untuk selamanya.
"Sayang, kamu harus kuat, biar kakakmu tenang di atas sana." kata nenek, aku mengangguk, lalu tersenyum, walau sebenarnya itu sangat sulit untuk kulakukan.
Setelah semua orang pulang, kecuali Zayn dan keluarganya, Farel, kak Dion, kak Frida, dan kak Ola tentunya.
Tentu saja ada Isabel, orang-orang yang "memperingatiku" kemarin, Della, Queen, dan dua sepupu Zayn yang lain. Tentu saja mereka datang kemari untuk Zayn, bukan untuk kematian kakakku.
Aku menghampiri kak Frida, aku sedikit ragu buat ngomongnya, "Dek, kamu mau ngomong apa?" kak Frida nanya duluan.
Aku masih ragu, "Dek, kamu mau ngomong apa?" tanya kak Frida, "Aku ... Aku ..." Duh, gimana sih ngomongnya! Lea menepuk pundakku, Zayn menatapku.
Aku memang bercerita pada Zayn, kak Keli, Farel dan nenek, aku menatap mereka semua, dan mereka mengangguk, aku mengambil nafas.
"Kak, kemarin, sebelum kak Gabie—0" aku tidak bisa mengatakan hal itu, "Sebelum kak Gabie meninggal, kak Gabie bilang ke Neara, kalau Kakak menyimpan buku harian dan jurnal milik kak Gabie!"
Dia mengeluarkan dua buku, lalu memberikannya padaku, buku ini nampak biasa-biasa saja, namun aku tetap menerimanya.
"Ini, Dek, disini terdapat banyak pesan-pesan Gabie yang belum tersampaikan ..." Aku menatap buku itu, aku ingin membukanya, namun kak Frida menahan tanganku.
Aku menatapnya heran, dia tersenyum, "Nanti saja di bukanya, kalau semua udah pulang," bisik kak Frida, aku menurut. Aku menyimpannya di laci meja kamarku.
"Zayn ... Aku lelah, mari kita pulang." kata Isabel manja, sungguh, aku tidak suka melihatnya bersikap manja seperti itu, Lea menatapku.
Lalu mengelus punggungku, "Eh, kenapa?" tanyaku heran, "Jangan cemburu Ra ..." kata Lea pelan, aku melotot, "Benar kan aku?" Aku tidak jadi melotot.
Aku tidak tau, ini rasa geli, atau rasa ... Cemburu? Entahlah, aku tidak bisa mengatakannya dengan kata-kata.
"Hentikan!" Aku menatap nenek, "Sikapmu sangat menjijikkan! Jika kau seperti itu, kau akan mempermalukan nama besar keluarga Dirgantara!" kata nenek setengah berteriak.
"Zayn, tinggalah disini bersama Farel, Leo, dan juga Keli ... Temani Neara, Emma, kau ikut pulang denganku!" Emma mengangguk.
"Tapi, Nek ..." Tatapan nenek sangat tajam kali ini, "Kau, bukan bagian dari keluargaku, jika kau masih ingin hidup di lingkungan keluarga Dirgantara, jangan membantahku, dan jangan dekati Zayn!"
Della dan Isabel menatapku dengan tatapan benci, "Dan jangan coba-coba melukai Neara, atau orang-orang di sekitarnya!" Entah kenapa, hatiku ingin berkata "terlambat".
Seakan mereka sudah berbuat sesuatu dengan orang-orang di sekitarku, "Nenek, mari kuantar ke depan ..." kataku, nenek menatapku, tatapan yang tadinya tajam, berubah menjadi tatapan yang lembut.
Orang-orang itu semakin menatapku dengan tatapan kebencian, "Hati-hati dijalan ya, Nek." nenek mengangguk, "Sampai nanti, Kak! Kakak, jagain kak Neara ya?"
"Kak Neara, kalau kakakku mangkelin, udah, jangan sungkan, langsung cubit aja, nggak bakal ada yang marah kok!" aku, nenek, Emma, dan kak Keli terkekeh.
"Baiklah, sampai jumpa lagi!" Mereka semua pulang dengan mobil mewah mereka. Kami masuk ke dalam, "Ra, aku pulang dulu ya ..." kata kak Dion.
Aku mengangguk, "Neara, apa kau masih marah denganku?" Aku terdiam, jika ditanya seperti itu, tentu saja aku masih marah.
Namun kak Gabie sudah berpesan, untuk tidak menyimpan dendam sama kak Ola, "Nggak, Kak ... Makasih udah dateng ke acara pemakaman kak Gabie!" kataku datar.
"Eh.... Mmm, baiklah ... Aku ... Aku pamit pulang dulu ya?" Kak Dion dan kak Ola pamit pulang. Aku membersihkan ruang tamu, alku mengganti bajuku.
"Dek, kamu bukanya kapan-kapan aja ya, tunggu kamu lulus SMA, baru kamu buka ya?" Aku mengangguk, "Tapi kenapa tunggu aku lulus SMA?"
"Hah, sudah kuduga adekmu akan bertanya seperti ini padaku, Gabie." kata kak Frida, "Yaudah, kakak tau kamu nggak sabaran orangnya ...."
"Kamu boleh buka, asalkan, kamu belajar bela diri, dan latihan bertarung menggunakan senjata terlebih dahulu, jika kamu berhasil, kamu boleh membukanya!"
"Lalu dimana aku belajar itu semua? Dan senjata apa yang akan kupelajari?" tanyaku, "Segala macam senjata, senjata api, senjata tajam, atau senjata apapun itu!"
"Kakakmu sudah mendaftarkan kamu di tempat terdekat, setiap hari, kamu harus pergi kesana setelah pulang sekolah!" Aku melongo.
"Dimana tempat itu?" aku bertanya lagi, "Di puncak bukit dekat sekolahmu, disitu ada pondok kuno, dan kau bisa belajar disana. Kalau perlu, kamu nggak usah pulang!"
Bersambung ....