You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 45



"Ukh, kenapa kepalaku masih sakit?" kataku sembari mengubah


posisi tidurku menjadi posisi duduk. Aku melihat


ke sekeliling, sepi, tidak ada siapa pun. Aku memejamkan


mataku sejenak. "Kira-kira, apa alasan yang tepat untuk pusing


dan lelahku ini?" Aku mengambil HP-ku yang berada


di atas nakas, melihat, pukul berapakah sekarang?


Setelah melihat jam, aku menelfon Farel, ini adalah istirahat kedua.


"Halo, Rel, aku bisa minta tolong?" tanyaku.


"Minta tolong apa?" tanya Farel, "Bawakan buku diary-ku,


dan bawa satu bolpoin ke UKS, dan datanglah


bersama Zayn dan Lea," jawabku, "Baiklah, kami akan segera


datang ..." Farel mematikan telfonnya. Aku meletakkan


HP-ku kembali di atas nakas. Aku memijat pelipisku perlahan,


apa yang harus kulakukan sekarang? Dan bagaimana


rasa ini menghilang dari tubuhku?


Kak, pesan apa


yang terdapat pada jurnalmu, sebenarnya?


Mengapa aku harus


membukanya dengan berlatih semua ini?


Apa hal ini


yang membuat imun tubuhku melemah, karna tidak terbiasa


dengan semua ini? Huft, apapun itu, aku berharap, rasa


sakit ini segera menghilang dari tubuhku.


Ceklek!


"Hero! Ngapain kaku disini? Kamu, kok, bisa masuk ke


sekolah?" tanyaku ketika mengetahui yang datang bukan sahabatku,


melainkan Hero. "Aku tau jika kamu sedang sakit, maka aku


menjengukmu ... dan soal, mengapa aku bisa masuk


sekolah, itu karna kita satu sekolah, kamu saja yang


benar-benar tidak bisa mengenaliku dengan baik!" kata Hero


melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Pergilah, bagaimana


jika ada yang melihatmu?" tanyaku, "Tak masalah!


Aku tetap akan menemanimu disini, hingga kau sembuh!"


Aku kembali memijat pelipisku perlahan, lalu menghembuskan


nafas perlahan, sembari memejamkan mata. "Pergilah,


aku sedang tidak ada mood untuk berdebat ..."


Ya tuhan, tolong kembalikan diriku yang dulu lagi, dan tolong


segera hilangkan rasa sakit ini. Aku membuka


mataku, "Kenapa kau belum pergi?" tanyaku, karna Hero sudah


duduk saja di samping kasur tempatku beristirahat.


Hero tidak menghiraukan pertanyaanku, dia hanya fokus dengan HP-nya.


Aih, apa dia tidak mengerti bahasa manusia?


Atau dia


tidak mengerti bahasa yang kupakai?


"β/~α&|< &α> [ ..."


Aku berhenti mengatakan sesuatu yang tidak jelas ketika


Hero menatapku heran, "Kau mengatakan apa?" tanya Hero.


"Huh, kukira kamu sudah melupakan bahasa manusia!" jawabku


asal, Hero semakin menatapku heran, "Ini bukan gadisku ...


kamu benar-benar sedang ada masalah? Bisakah kau menceritakan


apa yang terjadi?"


Aku hanya terdiam, ingin sekali rasanya aku menceritakan semua


hal yang sedang menjadi beban di pikiranku, namun


aku tidak mempunyai keberanian untuk itu.


Aku terus


menunduk dan memainkan jari-jari tanganku.


"Ayolah, apa kau tidak ingin bercerita padaku?" aku


menggeleng, "Mengapa? Apa ini ada hubungannya


denganku?" Sekali lagi aku menggeleng.


Kau mau


menceritakannya, atau aku yang akan mencari tau?"


Aku menghela nafas, aku benar-benar ingin mengatakannya


dan menceritakan semua yang menjadi beban pikiranku.


Namun rasanya mulutku tidak ingin menceritakan


segala masalah ini pada lelaki di hadapanku.


Ceklek!


"Eh, apa—apa aku mengganggu kalian?" tanya Lea,


"Tidak, masuklah," kataku, "Mana Zayn dan Farel?"


jika ada Hero. "Oh, Zayn ada urusan, sedangkan


Farel mau ke toilet dulu, tiba-tiba perutnya sakit," jawab Lea. Aku


mengangguk, lalu berkata, "Tapi kau membawa


buku dan bolpoin, kan?" tanyaku. Lea mengangguk, lalu


menyerahkan tasku, "Lea, kenapa kau juga


membawa tasku


kemari?" tanyaku, "Karna sepuluh menit lagi pulang, jadi


sekalian saja," jawab Lea. Aku tidak ingin bertanya lebih lanjut.


Pulang lebih awal, syukurlah, jika tidak, tidak masalah.


Kemana perginya dua orang yang menyebalkan


ini, saat aku membutuhkan mereka?


Karna Farel dan Zayn masih belum datang, aku berusaha


mengatur jadwalnya sendiri. Ya walau dengan bantuan


Lea dan Hero. "Apa ini berarti nanti kita nggak ada latihan drama?"


tanyaku, Lea hanya mengedikkan bahu, tidak tau.


Kring! Kring! Kring!


"Halo, iya, Kak, ada apa?" tanyaku setelah mengangkat


telfon dari kak Frida. "D**ek, nanti kamu yang jemput Luna, ya?


Di toko, masih banyak pesenan bunga yang belum


kakak cek, anter, atau di kemasin," kata kak Frida dari


seberang telfon, "Iya, Kak, nanti biar aku aja yang jemput Luna ...


Kakak selesain aja, kerjaan Kakak di toko, bye!" kataku,


"Bye!" Aku menutup telfonnya. Lalu kembali fokus dengan jadwal


yang masih kurang padat. Dan juga masih banyak


yang harus kuperbaiki agar tidak bertabrakan


dengan jadwal yang lain. Ternyata susah, ya, mengatur jadwal


sepadat-padatnya? Ini masih terlalu sedikit, dan belum terlalu padat.


***


"Aku pamit pulang duluan, ya? Bye, kalo ada apa-apa,


chat atau telfon aku, ya, gadis?" kata Hero, aku mengangguk,


lalu berkata, "Terima kasih Hero, atas bantuanmu,


hati-hati ketika pulang ..." Hero mengangguk, lalu


keluar dari ruang UKS. Aku menatap Lea, lalu


bertanya, "Kemana dua anak ini? Sebentar lagi waktunya


Luna pulang, apa kita tinggalin aja mereka?" Lea mengangguk,


"Lebih baik mereka yang di tinggalin, dari pada Luna yang


di jemput telat," ucap Lea. Aku mengangguk, lalu


memasukkan buku diary dan bolpoinku ke dalam tas, dan


meninggalkan UKS bersama Lea.


***


Kami sampai di sekolah Luna, namun kami belum menemukan


Luna. "Minggu depan kita udah UAS, belum lagi ujian


praktek nya ... pasti kita bakalan capek banget, nih!" keluh


Lea, aku mengusap punggung Lea, "Sabar, dong ... nanti


setelah ulangan, kita udah bebas, jadi kita bisa fokus


sama latihan kita," ucapku menyemangati Lea. "Tapi masalahnya, aku


belum tau jadwal kita ulangan kayak gimana, jadi aku perlu


minta jadwal ulangan sama ketua osis," kataku, "Yaudah, minta


aja, sih. Kalo nggak di kasih, jujur aja," jawab Lea, "Eh, nggak


bisa sembarangan ngebongkar soal latihan kita, dong ..."


kataku, lalu mengeluarkan HP dari saku baju.


Aku : Kak, aku boleh minta jadwal UAS nggak?


"Gimana? Udah dijawab?" tanya Lea, aku menggeleng, lalu


kembali memasukkan HP-ku ke dalam tas. "Luna mana, ya?


Coba kamu tanya ke kak Frida, dia pulang jam berapa,


aku coba tanya guru-guru atau satpam disini ..." Aku


mengangguk, lalu kembali mengeluarkan HP dari saku baju.


"Halo, Kak ..." kataku, "Halo, Dek, kenapa?" tanya kak Frida,


"Luna pulang jam berapa? Ini aku udah di depan sekolah


nya Luna, tapi dia belum keluar," jawabku, "Oh ya, maaf, guru


nya Luna tadi bilang, hari ini, Luna ada tambahan


pelajaran, karna Luna ketinggalan beberapa pelajaran," ucap


kak Frida, "Yaudah, makasih, Kak, bye!" kataku, "Bye!"


aku mematikan telfonnya. Kalo gitu, kita belanja


kebutuhan pondok dulu aja, ya? Kan biar hemat waktu, nanti aku titip


Luna sama guru atau satpam sini aja.


Bersambung ....