
"Ukh, kenapa kepalaku masih sakit?" kataku sembari mengubah
posisi tidurku menjadi posisi duduk. Aku melihat
ke sekeliling, sepi, tidak ada siapa pun. Aku memejamkan
mataku sejenak. "Kira-kira, apa alasan yang tepat untuk pusing
dan lelahku ini?" Aku mengambil HP-ku yang berada
di atas nakas, melihat, pukul berapakah sekarang?
Setelah melihat jam, aku menelfon Farel, ini adalah istirahat kedua.
"Halo, Rel, aku bisa minta tolong?" tanyaku.
"Minta tolong apa?" tanya Farel, "Bawakan buku diary-ku,
dan bawa satu bolpoin ke UKS, dan datanglah
bersama Zayn dan Lea," jawabku, "Baiklah, kami akan segera
datang ..." Farel mematikan telfonnya. Aku meletakkan
HP-ku kembali di atas nakas. Aku memijat pelipisku perlahan,
apa yang harus kulakukan sekarang? Dan bagaimana
rasa ini menghilang dari tubuhku?
Kak, pesan apa
yang terdapat pada jurnalmu, sebenarnya?
Mengapa aku harus
membukanya dengan berlatih semua ini?
Apa hal ini
yang membuat imun tubuhku melemah, karna tidak terbiasa
dengan semua ini? Huft, apapun itu, aku berharap, rasa
sakit ini segera menghilang dari tubuhku.
Ceklek!
"Hero! Ngapain kaku disini? Kamu, kok, bisa masuk ke
sekolah?" tanyaku ketika mengetahui yang datang bukan sahabatku,
melainkan Hero. "Aku tau jika kamu sedang sakit, maka aku
menjengukmu ... dan soal, mengapa aku bisa masuk
sekolah, itu karna kita satu sekolah, kamu saja yang
benar-benar tidak bisa mengenaliku dengan baik!" kata Hero
melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Pergilah, bagaimana
jika ada yang melihatmu?" tanyaku, "Tak masalah!
Aku tetap akan menemanimu disini, hingga kau sembuh!"
Aku kembali memijat pelipisku perlahan, lalu menghembuskan
nafas perlahan, sembari memejamkan mata. "Pergilah,
aku sedang tidak ada mood untuk berdebat ..."
Ya tuhan, tolong kembalikan diriku yang dulu lagi, dan tolong
segera hilangkan rasa sakit ini. Aku membuka
mataku, "Kenapa kau belum pergi?" tanyaku, karna Hero sudah
duduk saja di samping kasur tempatku beristirahat.
Hero tidak menghiraukan pertanyaanku, dia hanya fokus dengan HP-nya.
Aih, apa dia tidak mengerti bahasa manusia?
Atau dia
tidak mengerti bahasa yang kupakai?
"β/~α&|< &α> [ ..."
Aku berhenti mengatakan sesuatu yang tidak jelas ketika
Hero menatapku heran, "Kau mengatakan apa?" tanya Hero.
"Huh, kukira kamu sudah melupakan bahasa manusia!" jawabku
asal, Hero semakin menatapku heran, "Ini bukan gadisku ...
kamu benar-benar sedang ada masalah? Bisakah kau menceritakan
apa yang terjadi?"
Aku hanya terdiam, ingin sekali rasanya aku menceritakan semua
hal yang sedang menjadi beban di pikiranku, namun
aku tidak mempunyai keberanian untuk itu.
Aku terus
menunduk dan memainkan jari-jari tanganku.
"Ayolah, apa kau tidak ingin bercerita padaku?" aku
menggeleng, "Mengapa? Apa ini ada hubungannya
denganku?" Sekali lagi aku menggeleng.
Kau mau
menceritakannya, atau aku yang akan mencari tau?"
Aku menghela nafas, aku benar-benar ingin mengatakannya
dan menceritakan semua yang menjadi beban pikiranku.
Namun rasanya mulutku tidak ingin menceritakan
segala masalah ini pada lelaki di hadapanku.
Ceklek!
"Eh, apa—apa aku mengganggu kalian?" tanya Lea,
"Tidak, masuklah," kataku, "Mana Zayn dan Farel?"
jika ada Hero. "Oh, Zayn ada urusan, sedangkan
Farel mau ke toilet dulu, tiba-tiba perutnya sakit," jawab Lea. Aku
mengangguk, lalu berkata, "Tapi kau membawa
buku dan bolpoin, kan?" tanyaku. Lea mengangguk, lalu
menyerahkan tasku, "Lea, kenapa kau juga
membawa tasku
kemari?" tanyaku, "Karna sepuluh menit lagi pulang, jadi
sekalian saja," jawab Lea. Aku tidak ingin bertanya lebih lanjut.
Pulang lebih awal, syukurlah, jika tidak, tidak masalah.
Kemana perginya dua orang yang menyebalkan
ini, saat aku membutuhkan mereka?
Karna Farel dan Zayn masih belum datang, aku berusaha
mengatur jadwalnya sendiri. Ya walau dengan bantuan
Lea dan Hero. "Apa ini berarti nanti kita nggak ada latihan drama?"
tanyaku, Lea hanya mengedikkan bahu, tidak tau.
Kring! Kring! Kring!
"Halo, iya, Kak, ada apa?" tanyaku setelah mengangkat
telfon dari kak Frida. "D**ek, nanti kamu yang jemput Luna, ya?
Di toko, masih banyak pesenan bunga yang belum
kakak cek, anter, atau di kemasin," kata kak Frida dari
seberang telfon, "Iya, Kak, nanti biar aku aja yang jemput Luna ...
Kakak selesain aja, kerjaan Kakak di toko, bye!" kataku,
"Bye!" Aku menutup telfonnya. Lalu kembali fokus dengan jadwal
yang masih kurang padat. Dan juga masih banyak
yang harus kuperbaiki agar tidak bertabrakan
dengan jadwal yang lain. Ternyata susah, ya, mengatur jadwal
sepadat-padatnya? Ini masih terlalu sedikit, dan belum terlalu padat.
***
"Aku pamit pulang duluan, ya? Bye, kalo ada apa-apa,
chat atau telfon aku, ya, gadis?" kata Hero, aku mengangguk,
lalu berkata, "Terima kasih Hero, atas bantuanmu,
hati-hati ketika pulang ..." Hero mengangguk, lalu
keluar dari ruang UKS. Aku menatap Lea, lalu
bertanya, "Kemana dua anak ini? Sebentar lagi waktunya
Luna pulang, apa kita tinggalin aja mereka?" Lea mengangguk,
"Lebih baik mereka yang di tinggalin, dari pada Luna yang
di jemput telat," ucap Lea. Aku mengangguk, lalu
memasukkan buku diary dan bolpoinku ke dalam tas, dan
meninggalkan UKS bersama Lea.
***
Kami sampai di sekolah Luna, namun kami belum menemukan
Luna. "Minggu depan kita udah UAS, belum lagi ujian
praktek nya ... pasti kita bakalan capek banget, nih!" keluh
Lea, aku mengusap punggung Lea, "Sabar, dong ... nanti
setelah ulangan, kita udah bebas, jadi kita bisa fokus
sama latihan kita," ucapku menyemangati Lea. "Tapi masalahnya, aku
belum tau jadwal kita ulangan kayak gimana, jadi aku perlu
minta jadwal ulangan sama ketua osis," kataku, "Yaudah, minta
aja, sih. Kalo nggak di kasih, jujur aja," jawab Lea, "Eh, nggak
bisa sembarangan ngebongkar soal latihan kita, dong ..."
kataku, lalu mengeluarkan HP dari saku baju.
Aku : Kak, aku boleh minta jadwal UAS nggak?
"Gimana? Udah dijawab?" tanya Lea, aku menggeleng, lalu
kembali memasukkan HP-ku ke dalam tas. "Luna mana, ya?
Coba kamu tanya ke kak Frida, dia pulang jam berapa,
aku coba tanya guru-guru atau satpam disini ..." Aku
mengangguk, lalu kembali mengeluarkan HP dari saku baju.
"Halo, Kak ..." kataku, "Halo, Dek, kenapa?" tanya kak Frida,
"Luna pulang jam berapa? Ini aku udah di depan sekolah
nya Luna, tapi dia belum keluar," jawabku, "Oh ya, maaf, guru
nya Luna tadi bilang, hari ini, Luna ada tambahan
pelajaran, karna Luna ketinggalan beberapa pelajaran," ucap
kak Frida, "Yaudah, makasih, Kak, bye!" kataku, "Bye!"
aku mematikan telfonnya. Kalo gitu, kita belanja
kebutuhan pondok dulu aja, ya? Kan biar hemat waktu, nanti aku titip
Luna sama guru atau satpam sini aja.
Bersambung ....