
"Halo, Kak ..." kataku, "Halo, Dek, kenapa?" tanya kak Frida,
"Luna pulang jam berapa? Ini aku udah di depan sekolah
nya Luna, tapi dia belum keluar," jawabku, "Oh ya, maaf, guru
nya Luna tadi bilang, hari ini, Luna ada tambahan
pelajaran, karna Luna ketinggalan beberapa pelajaran," ucap
kak Frida, "Yaudah, makasih, Kak, bye!" kataku, "Bye!"
aku mematikan telfonnya. Kalo gitu, kita belanja
kebutuhan pondok dulu aja, ya? Kan biar hemat waktu, nanti aku titip
Luna sama guru atau satpam sini aja.
"Tadi aku udah nanya sama satpam disini, katanya
semua murid udah pulang," kata Lea yang udah berdiri
di sampingku, "Nggak apapa, tadi aku udah tanya kak Frida,
kamu tenang aja. Sekarang, kamu temenin aku belanja
buat kebutuhan pondok, ya?" kataku, Lea mengangguk.
Kami berjalan bersama, nggak lama kami berjalan, Lea
meraih lenganku, menyuruhku berhenti. Aku menatap nya, lalu
berkata, "Ada apa? Kamu nggak enak badan?"
tanyaku cemas, Lea menggeleng. "Lalu apa?" tanyaku lagi.
"Kita belum bilang ke Farel atau Zayn, kalo kita mau
beli buat persediaan di pondok," jawab Lea, aku menepuk jidat.
"Hanya karna itu, dan kau membuatku khawatir?"
Lea mengangguk, "Sudahlah, mereka akan baik-baik saja,"
ucapku, "Tunggu! Bagaimana kalo terjadi sesuatu pada mereka,
atau mungkin pada kita?" Aku menghela nafas, mangalah.
Aku : Rel, aku sama Lea duluan, mau beli persediaan pondok ... kalo ada apapa, telfon atau chat kita, ya?
Farel : Oke.
Aku : Oh ya, sekalian, kalo bisa, kita ketemuan di sekolah nya Luna, ya?
Farel : Iya, iya.
"Nah, udah, kan? Sekarang, ayo kita berangkat," ucapku.
Lea masih terlihat cemas, "Ada apa lagi, Lea?"
tanyaku, "Hm, apa jangan-jangan kau mencemaskan
Farel diam-diam?" godaku, "Neara sialan!" Aku berlari
meninggalkan Lea yang masih terus mengumpatku.
"Hahaha! Nggak baik, lho, mengumpatku terus-menerus ...
lagi pula, kalo kamu khawatir sama Farel, cerita sama aku aja
juga nggak apapa, kali!" kataku. Lea menyusulku yang
sudah di depan nya. Wajah nya memerah.
10 menit kemudian ....
Kami sampai di supermarket biasanya. Aku segera memilih
beberapa bahan sesuai catatan yang Farel berikan
kemarin. "Eh, calon Kakak ipar!" ketika mendengar kata-kata
itu, aku segera menengok ke asal suara, "Leo," kataku sedikit
canggung, "Eh, maaf, aku lupa, Kakak nggak suka di panggil
'calon kakak ipar', ya? Hehehe ... aku minta maaf, ya, Kak!" ucap
Leo, "Oh, ya, Kakak disini sama siapa? Kakakku mana?"
tanya Leo, "Aku disini sama Lea, kakakmu nggak tau
pergi kemana," jawabku. Leo mengangguk-ngangguk,
"Yaudah, hati-hati ya, Kak ... aku pamit pulang dulu, bye!"
aku hanya mengangguk, lalu tersenyum.
Klink!
Hero : Kamu dimana?
Aku : Di supermarket, kenapa?
Hero : Yaudah, aku ngawasin kamu dari jauh, ya? Kalau ada apapa, cepet telfon atau chat aku.
Aku : Iya, makasih.
"Dor!" aku mengusap dadaku karna terkejut, "Lea, bisa nggak
ngagetin aku, nggak?" tanyaku, "Hehehe, maaf, Ra ...
eh, bye the way, kamu chat-an sama siapa?"
tanya Lea, "Kepo!"
Aku meninggalkan Lea, lalu berjalan ke arah kasir.
"Farel sama Zayn udah pulang belum, ya?" tanya Lea.
"Udah, sih, kalo kamu cemas, ngapain nggak kamu vidcall aja?"
tanyaku gemas, "Nggak mau lah, masa aku dulu yang vidcall,"
kata Lea. Muka nya kembali bersemu merah.
Klink! Klink!
"Wah, wah, wah, kayak nya ada yang lagi dapet banyak
sambil cekikikan. Aku tidak menghiraukan ucapannya.
Lalu mengeluarkan HP-ku dari saku baju.
Dua notif,
satu dari kak Syanas, satu nya dari Farel.
Kak Syanas : Boleh, Dek ... tapi, kan, seharusnya jadwal nya belum di bagiin. Nah, kamu buat apa, nih, kok udah minta jadwal duluan?
Aku : Aku ada les di luar sekolah, Kak. Jadi aku butuh jadwal nya buat ngatur jadwal les ku, Kak ... nggak apapa, kan?
Kak Syanas : Nggak apapa, sih, gini aja, aku denger kelas kalian latihan drama, kan, bentar lagi? Kamu temuin aku di samping kelas theater, ya?
Aku : Siap, Kak! Makasih ya?
Kak Syanas : Santuy~
Setelah membalas chat dari kak Syanas, aku membuka chat dari Farel.
Farel : Neara, cepet balik ke sekolah, tiba-tiba kita disuruh latihan buat drama.
Aku : @_@
Aku : Kok mendadak, sih!
Farel : Ya nggak tau lah, kan aku cuman bantuin nyampein ke kalian. Luna udah kita jemput, jadi nggak perlu khawatir.
Farel : Oh ya, guru nitip ke kalian, beliin makan siang buat anak-anak yang latihan drama, terserah mau dibeliin apa. Tapi buat kita spesial, ya? ≧ω≦
Aku : Dih, ogah! Udah dulu, ah, ntar nggak selesai-selesai, nih! Bye!
"Gimana? Dari siapa?" tanya Lea, "Udah, nanti aja
ngomongnya, sekarang, bantu aku mikirin, makanan apa yang
cocok buat anak-anak drama, sama pak Edwin?" tanyaku.
"Nasi bungkus? Nasi campur? Nasi goreng? Gorengan?"
aku menjentikan jariku, lalu berkata, "Pintar!" aku
segera menarik tangan Lea. Kami keluar dari supermarket,
lalu pergi ke rumah makan terdekat.
***
"Huh ... huh ... capek banget, ayo—kita ma—suk," kataku
terbata-bata karna capek habis lari-larian. Aku menggandeng tangan
Lea untuk masuk ke dalam ruang theater sekolahku.
Zayn, Luna, Farel, pak Edwin, dan teman-teman
sekelasku sudah berkumpul semua. Mereka menungguku
dan Lea. "Maaf, kami—terlambat ..." kataku dengan nafas
yang masih terengah-engah. Aku meletakkan barang
bawaanku dan makan siang kami di atas kursi.
Pak Edwin mulai membagikan naskah kami. Aku segera membaca
nya, untuk menghafal. Semua teman-temanku juga
begitu. "Kak, aku laper ..." ucap Luna berbisik.
Aku tersenyum, kemudian membuka
tas milikku.
"Nih, kamu makan sendiri, ya? Kakak masih harus baca-baca
naskah lagi," kataku. Luna menepi, dan memakan
nasi goreng miliknya.
Klink!
Kak Syanas : Dek, aku udah di samping kelas theater, nih!
Aku : Eh, iya, Kak ... aku keluar.
"Pak, maaf, saya mau izin keluar sebentar, ada urusan ..." kataku
meminta izin. "Yaudah, jangan lama-lama, biar kalian
juga cepet pulang nya," jawab pak Edwin. Aku mengangguk,
keluar dari kelas theater. "Kak, makasih, ya?" kataku.
"Iya, sama-sama, Dek," jawab kak Syanas sambil nyerahin
kertas jadwal. "Aku masuk lagi , ya, Kak," kataku.
***
"Kalian berdua tadi dari mana aja?" tanya Lea yang sudah
mulai memarahi Farel dan Zayn, "Bukannya kamu sudah tau?"
tanya Farel balik, "Hei, kalian pergi selama itu,
apa pantatmu tidak panas jika selama itu?" Lea sudah benar-benar
mulai emosi, "Baiklah, baik, tadi setelah aku keluar dari
toilet, aku pergi menemui seseorang, apa kau puas dengan
jawabanku?" tanya Farel. Lea hanya mendengus sebal.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang, aku akan menyerahkan
jadwal yang sudah kami rangkai tadi. Itu belum selesai,
kalian harus menyelesaikan nya berdua, ini adalah hukuman,"
kataku. Farel dan Zayn terlihat keberatan, Luna hanya cekikikan,
sedangkan Lea, dia masih marah.
Bersambung ....