You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 33



Zayn : Jadi, aku sama Leo yang mengurus, jadi kamu jangan marah, ya?


Aku : Buat apa aku marah sama kamu? Aku kan bukan siapa-siapa kamu!


Zayn : Nah, kan, pasti ada sesuatu yang bikin kamu marah, deh, coba cerita sini.


Aku : Nggak, aku nggak marah, udah dulu ya, aku ngantuk, bentar lagi aku mau tidur!


Zayn : Selamat tidur putriku ... (๑・ω-)~


Aku : Too! Jangan tidur malam-malam, nggak baik buat kesehatanmu!


Zayn : Siap Tuan putriku! (^ω^)


Aku membereskan novel-novelku dan diary-ku. Lalu segera tidur, karna sudah malam banget, dan aku juga udah selesai nulis diary-nya.


Pukul 06.08


"Selamat pagi Ra ..." kata kak Gabie, "Kak Gabie semalem pulang jam berapa?" tanyaku, "Jam sebelas ...."


Lea lagi bantuin kak Gabie beres-beres rumah, "Maaf ya, aku bangun nya telat!" kataku, "Nggak apapa, yang penting sekarang kamu mandi, terus makan, cepet!" Aku mengangguk.


Setelah mandi, aku sarapan, "Dek, kakak berangkat dulu ya, kemungkinan nanti kakak nggak ikut makan malam! Sampai jumpa Lea! Neara!"


"Kak, Kakak nggak libur?" tanyaku, "Hari ini kakak lembur dek, mungkin pulang jam 7 malam ..." Aku menghembuskan nafas, kak Gabie keluar.


"Kita jadi ngelakuin rencana semalem?" Aku mengangguk, "Kamu kenapa sih Ra?"


"Nggak apa Lea, aku baik-baik saja ... Hanya sedang terpikirkan sesuatu!" Lea mengangguk-ngangguk, "Kamu mau beliin buat siapa aja?"


Aku tersenyum, "Rahasia!" Aku membereskan piring dan gelasku, lalu kembali menulis di dalam diary-ku.


"Buku itu dari siapa sih?" tanya Lea penasaran, lalu ikut duduk di halaman rumahku. Aku tersenyum, "Hero ..." jawabku singkat.


"Lalu, tulisannya, kau tujukan untuk siapa?" aku menatap Lea, "Untuk orang yang kemungkinan besar akan hilang dalam hidupku!"


Mata Lea membulat, "Siapa? Katakan padaku! Sahabatku sedang kasmaran, kau harus memberitahunya padaku!"


Aku menggeleng, lantas tersenyum, "Tidak, aku tidak akan memberitahumu!" Lea cemberut, "Setidaknya, beritau aku, apa isi diary itu!"


"Jika kau mengetahuinya, ini tidak akan menjadi spesial lagi bagi orang itu ..." kataku, Lea semakin sebal, "Sudahlah, orang kasmaran memang tidak bisa di ganggu!"


Aku tertawa, "Hahaha ... Sudahlah, kita berangkat jam berapa?" tanyaku, "Terserah kamu, kalo aku sih, lebih baik setelah makan siang!"


"Baik kalau begitu, kita berangkat pukul 1 siang?" Lea mengangguk. Kami menghabiskan waktu kami di halaman belakang rumahku.


Aku sibuk mengisi diary-ku, terkadang Lea memperhatikanku, terkadang dia mengambil camilan dari dapur.


Terkadang dia memainkan jari-jari kakinya. Terkadang dia menggambar, terkadang dia menulis, banyaklah.


Pukul 11.35


Tok! Tok! Tok!


"Iya, sebentar!" kataku, "Kamu yang bukain, atau aku?" tanyaku, "Kamu aja deh, aku masih trauma sam—"


Lea memang belum menyelesaikan perkataannya, tapi aku mengerti maksudnya. Aku berdiri, lantas membukakan pintu.


"Eh, Kak Dion, Kakak ngapain disini? Kakak nggak kerja?" tanyaku, "Halo Ra ... Kakakmu ada? " Aku tersenyum, lantas bersender di pintu.


"Kakak terlambat datangnya! Kak Gabie sudah berangkat kerja sejak tadi, katanya lembur, dia baru pulang jam tujuh nanti!"


Kak Dion mengerutkan kening, "Ra, kantor nggak pernah tuh, ngadain lembur di hari minggu!" Aku melotot.


"Kak, please, jangan bercanda!" kataku panik, "Beneran, buat apa coba aku bohong sama kamu Ra!"


Aku segera lari masuk ke rumah, mengganti baju, mengenakan jaket, dan mengikat rambutku. Membawa HP-ku, "Lea, aku mau mencari kak Gabie, kamu disini atau ikut?"


"Aku ikut aja deh!" Aku mengangguk, "Memangnya kak Gabie kemana?" tanya Lea, "Aku tidak tau, nanti kuceritakan dijalan!"


Lea mengenakan jaketnya dan masker, dia masih trauma sama kejadian hari itu, "Kak, makasih udah ngasih infonya! Aku mau nyari kak Gabie dulu, kakak pulang ya, bye!"


"Eh, biar kuantar kalian!" kata kak Dion, "Nggak usah ka—" kataku menolak, "Biar aku saja yang mengantar mereka!"


Zayn?


"Zayn, kamu ngapain disini?" tanyaku, "Aku hanya ingin mengantar gadisku, apa itu salah?" Kami semua melongo.


Aku menggeleng-gelengkan kepala, mencoba tersadar, "Baik, kita berpencar! Aku, Lea, Zayn. Kak Dion, Kakak minta bantuan sama kak Frida sama kak Ola juga ya?"


"Baik!" Aku dan Lea masuk ke mobil Zayn, "Kita mau mencari kakakmu dimana dulu?" Aku mencoba berpikir keras


"Kita akan pergi ke makam orang tuaku!" kataku, Zayn dan Lea menatapku, "Apa kamu yakin kak Gabie ada disana?"


20 menit kemudian ....


Aku turun dari mobil, Zayn dan Lea ikut turun. Aku berjalan ke arah makam orang tuaku, mataku membulat.


Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, "Ada apa Ra?" tanya Zayn, "Disini nggak ada kak Gabie!"


Aku mengangguk, "Sekarang memang nggak ada, tapi tadi, kak Gabie kesini!" kataku yakin, "Kamu tau dari mana?" tanya Lea.


Aku berjongkok diantara makam kedua orang tuaku, aku mengusap bunga diatas tanah nya yang masih segar, dan juga sebuket bunga dimasing-masing makam.


"Neara benar, bunga-bunga ini masih segar, berarti tadi ada orang yang datang kesini!" kata Zayn, aku menutup mataku, air mataku mengalir.


Ayah, bunda, aku pasti akan menemukan kak Gabie. Aku berjanji, tolong bantu aku di setiap langkahku ....


"Mari kita pergi," kataku, kami kembali ke mobil Zayn, "Sekarang, kita kemana?" tanya Lea, "Toko bunga Flo & Flow ..." jawabku singkat.


15 menit kemudian ....


"Neara! Selamat datang! Apa kau mau membeli sesuatu?" aku menggeleng, "Kak, apa tadi kak Gabie membeli bunga disini?"


Kak Frida mengangguk, "Tadi Gabie kesini, aku hampir nggak kenal, sih, sama dia. Tatapan nya kosong, ada aura-aura dingin gitu."


"Seriusan kak?" Kak Frida mengangguk, "Kenapa sih, tadi Dion minta tolong ke aku buat nyari Gabie, sekarang malah kamu nanya ke aku tentang Gabie!"


"Kak, makasih ya ... Sampai jumpa!" kataku, aku menarik Zayn, Lea mengikuti kami, kami masuk ke dalam mobil Zayn.


"Pergi ke taman dekat danau!" kataku, Zayn mengendarai mobilnya, melaju kencang di jalanan, menerobos kendaraan-kendaraan.


"Kali ini, kalian nggak usah ikut turun, biar aku aja yang turun sendirian!" kataku, "Baiklah ..."


10 menit kemudian ....


Aku turun dari mobil Zayn, aku berjalan perlahan, memandang ke seluruh penjuru taman. Memandang di antara orang-orang yang berlalu lalang.


"Kak, kakak dimana?" gumamku, aku terus mencari, aku menutup mataku, mencoba mendengarkan angin.


Hahaha ... Kalian pasti menganggapku gila, atau mungkin konyol, tapi aku percaya, alam akan membantuku menemukan kakakku.


Aku berjongkok, memeluk lututku, lalu membenamkan wajahku, "Astaga kak, kakak kemana saja sih? Aku cemas, tolong, tolong beri aku kabar kak!"


Aku mengangkat kepalaku, ada yang menyentuh bahuku, "Kak, apa anda tidak apapa?" tanya anak yang manis, sekitar umur 12 tahun.


Dia terlihat kucel, kotor, berantakan, aku mengusap kepalanya, lalu tersenyum, "Kakak tidak apapa dek, kamu namanya siapa?" tanyaku.


"Namaku Luna, kakak kenapa kok kelihatan murung?" aku tersenyum, "Tidak ada apapa, kamu tinggal dimana?"


"Aku ... Tinggal dimana-mana!" Aku terkejut, "Apa kamu memiliki orang tua?" Luna menggeleng, aku tersenyum, "Kakak juga nggak punya orang tua ...."


"Nama Kakak siapa?" tanya Luna, "Namaku, Favaina Neara Jaendra, terserah kamu mau memanggilku siapa!"


"Tapi, kalo orang-orang terdekatku, memanggilku Neara, atau Ra ..." kataku, "Apa aku boleh memanggil Kakak, Kak Fava?" Aku mengangguk.


"Tentu saja!" jawabku, "Apa Kakak mencari seseorang?" Aku mengangguk, "Dia adalah kakakku, namanya kak Gabie ... Apa kau mengenalnya?" Luna menggeleng.


Kruyuukkk!


"Eh, hehehe ... Maaf, Kak, perutku lapar ..." Aku tertawa, "Kamu udah makan?" Luna menggeleng, "Aku sulit mencari makan, ataupun mencari uang."


"Baik, kalau begitu, aku belikan kamu makanan ya?" kataku, aku menggandeng tangan Luna. Aku membawanya ke restoran terdekat.


"Mbak, permisi, di sekitar sini, ada toko baju nggak ya?" tanyaku, "Oh, ada mbak, blok kedua dari sini ...."


"Terima kasih ..." Mbak-mbak tadi menganggukkan kepala, aku dan Luna menunggu pesanan Luna.


Klink!


Lea : Kamu dimana Ra?


Aku : Σ( ° △ °|||)


Aku : Maaf, aku bertemu dengan seorang anak kecil tadi, aku kasihan melihat kondisinya, jadi aku mentraktirnya!


Lea : -_-||


Lea : Tidak bisakah kau memikirkanku dan Zayn?


Aku : Tidak!


Lea : (✖╭╮✖)


Bersambung ....