You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 41



"Karna aku tidak tega melihatmu dan Luna yang sudah terkulai lemas di hadapanku ... Maafkan aku Lea," kataku.


"Seharusnya kamu tidak melakukan itu, aku tau kamu melakukan itu untukku dan Luna, tapi aku takut itu akan membawa bencana baru bagi kita berempat. Semua bakalan berada dal—" omongan Lea terpotong.


"Kak, jangan berdebat terus.... Ugh ..." Luna bangun, dia memegangi kepalanya yang masih sakit, "Luna, apa kamu mau minum?" Luna mengangguk.


Aku mengambil segelas air yang sudah disiapkan Oppy tadi, "Minumlah ..." Luna meminumnya perlahan.


"Kalian mau makan?" tanyaku, mereka hanya diam, aku menghembuskan nafas, "Baiklah, aku akan menyiapkan makan malam untuk kalian."


Aku membuka pintu, lalu keluar, "Eh, kamu mau makan Ra?" Aku menggeleng, "Aku ingin menyiapkan makan malam untuk Lea dan Luna, Rel."


"Apa kamu tidak mau istirahat?" Aku memejamkan mataku, "Aku sudah istirahat yang cukup, apa kau tidak ada kerjaan lain selain menanyaiku terus-menerus?"


"Baiklah, baiklah, sepertinya kali ini putri kita mengalami stres karna kelelahan ... Istirahatlah, biar aku yang menyiapkan dan mengantarnya!" kata Zayn.


"Tidak perlu Zayn, kalian juga perlu istirahat, aku sudah istirahat tadi," kataku, aku mulai menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


10 menit kemudian ....


Ceklek!


"Makanlah ini, lalu segera istirahat!" kataku, "Aku akan membersihkan kamar ini dulu ..." Aku mengikat rambutku menjadi gelungan.


Lalu mulai membersihkan kamar kami yang masih berantakan sejak kami datang tadi, "Ra, apa kau tidak kelelahan melakukan ini setelah latihan tadi?" Aku menggeleng.


Sebenarnya kepalaku masih pusing, tapi tidak apapa, ruangan ini tidak akan membersihkan dirinya sendiri.


"Tidak apapa Lea, cepat habiskan makan malam kalian, aku akan segera mencuci mangkuk dan gelas kalian." kataku.


Pukul 18.46


"Hahaha ... Ayolah kawan, itu adalah lelucon lama!" Kami sedang berkumpul diruang tengah. Mereka terus melontarkan lelucon yang menurutku tidak lucu, walau sesekali membuatku tersenyum kecil.


"Ayolah, ada apa dengan kalian bertiga ini?" tanya Farel frustasi, "Kalian bertiga hanya tersenyum kecil sesekali, apa semua lelucon itu tidak lucu?"


Yang Farel maksud adalah aku, Zayn, dan Oppy. Kami memang tidak tertawa dari tadi, aku sudah tidak mood untuk tertawa.


Ugh ... Sial, keqnapa harus sekarang sih? Aku harus istirahat segera! Tapi Lea sama Luna masih disini, aku harus menemani mereka.


Aku memijat pelipisku perlahan-lahan, "Ra, ada apa denganmu?" tanya Mam, aku menggeleng, "Tidak apapa, Mam, silahkan dilanjutkan!"


"Ra, apa kau yakin, kau tidak kenapa-napa?" tanya Lea, aku mengangguk, "Sudahlah, kalian tidak perlu memperdulikan aku!"


"Sungguh kau tidak perlu istirahat?" tanya Zayn, "Tidak Zayn, aku tidak memerlukan itu, kalian dapat melanjutkan yang tadi ...."


"Kak, Kakak istirahat saja jika Kakak tidak enak badan!" kata Luna, "Sudah cukup! Aku bilang tidak ingin istirahat! Apa kalian tidak mengerti?" Entah kenapa aku merasa sangat marah.


Semua terdiam sejenak, "Ah, maafkan aku Luna, aku kelelahan, aku akan istirahat lebih awal dulu!"


Sreett!


"Nah kan, kamu pusing, Ra?" Farel berhasil menangkap tubuhku, "Tidak, aku hanya kelelahan!" Elakku, aku menatap Zayn, dia terlihat marah, namun dia tidak melakukan apa-apa.


Lalu aku menatap Lea, aku merasa, jika Zayn cemburu melihatku dengan Farel. Lea mengangguk, mengerti maksudku.


"Farel, biar aku saja yang membawa Neara ke kamar, kalian lanjutkan saja disini, aku akan mengurus Ra sebaik-baiknya."


Ceklek!


"Istirahatlah Neara, aku akan menunggumu disini, besok juga kita harus bangun lebih awal kan?" Aku mengerutkan kening.


"Ayolah, itu hanya tebakanku saja, aku dapat menebaknya dari latihan kita hari ini. Sebentar lagi, aku juga akan tidur, dan menyuruh Luna untuk ikut tidur juga!"


Aku tersenyum, lalu mengangguk, "Terima kasih Lea ..." kataku, Lea mengangguk, "Tak apa, aku takut jika permainan itu hanyalah sebuah perangkap ...."


"... Kau mengerti maksudku?" Aku mengangguk, "Kalau begitu, apa kau mau minum?" Aku menggeleng, "Baik, aku akan memanggil Luna, dan kau bersiaplah untuk tidur!"


Ceklek!


Lea keluar, aku melepas ikat rambutku, lalu menghela nafas. Menatap langit-langit kamar, mendengarkan bunyi jangkrik yang terus berderik.


Yang terkadang bermunculan suara-suara hewan lain, aku memejamkan mataku.


Aku segera membuka mataku, "Kakak! Kakak nggak apapa?" tanya Luna, aku menatap Lea, Lea meringis, aku menepuk jidat.


"Alasan apa yang kau berikan pada Luna sampai-sampai dia panik seperti itu?" tanyaku, "Kata kak Lea, Kak Fava terus mengigaukanku, jadi aku mengira Kak Fava demam tinggi ..." Aku melotot.


"Hehehe ... Maafkan aku, Ra, itu adalah cara terampuh untuk memanggil Luna!" jawab Lea, "Baiklah, mari kita tidur ...."


"Luna, bersiap-siaplah tidur, kita harus bangun lebih awal besok." Luna mengangguk.


Tanpa banyak tanya, dia segera mencuci tangan dan kakinya, begitu pula Lea. Setelah mencuci kaki dan tangan, mereka merebahkan tubuhnya di sampingku.


Kasur di setiap ruangan ini sepertinya diletakkan di lantai semua. Seperti alas tidur, tapi ini sebuah kasur.


"Selamat malam ..." kataku, aku memejamkan mataku, "Malam ..." jawab mereka bersamaan.


Pukul 02.05


"Pagi Ra ..." Aku menatap Lea, "Kamu udah bangun, Lea?" Lea mengangguk, "Aku juga udah bangun, Kak!" Ternyata mereka berdua bangun lebih awal dari pada aku.


"Setelah ini, apa yang harus kita lakukan?" aku menggeleng, tidak tau, "Mungkin kita akan berlatih terlebih dahulu, baru melakukan semua tugas kita yang udah di bagi kemarin ..."


Aku segera mengikat rambutku, begitu pula Lea. Rambut Luna pendek, jadi aku hanya memberinya jepit agar rambutnya tidak menutupi matanya.


"Kalian cuci muka dulu ya, biar aku yang ambil air," kata Lea, aku mengangguk, Lea keluar dari kamar.


Ceklek!


"Kak, kayaknya habis ini kita disuruh bangun nggak sih?" Aku mengangguk, "Mangkanya, kita harus was-was, jangan ramai, kalau ada yang dateng, kita pura-pura tidur!" Luna mengangguk.


Aku masuk ke kamar mandi dulu, tlgosok gigi, habis itu cuci muka. Terus aku keluar dari kamar mandi, "Nanti, Kakak masak sarapan apa?" Aku menggeleng, tidak tau.


"Kamu maunya apa?" tanyaku, "Aku mauny—" Aku segera menutup mulut Luna, "Ssstt ... Cepat tidur, ada yang datang!" kataku.


Kami segera menutup mata, dan memakai selimut. Aku mendengar langkah kaki yang mengarah ke kamar ini.


Ceklek!


"Lea, cepat bangunkan teman-temanmu, kita akan segera berlatih!" Itu suara Mam, "Baik, Mam ..." jawab Lea.


Lea mengguncang-guncangkan tubuhku, sebenarnya Lea tau aku tidak tertidur, "Ra, bangunlah, kita harus berlatih." Aku berpura-pura masih mengantuk.


"Lea, aku masih mengantuk, ini jam berapa?" kataku, "Ayo bangun, Ra, kita harus latihan, cepat cuci mukamu!" kata Lea.


Ceklek!


"Huh ... Baiklah, kalian tidak perlu berpura-pura lagi, cepat bangun dan minum ini, aku akan mencuci mukaku terlebih dahulu!"


Aku membuka mataku, menerima sebotol air minum yang diberikan Lea. Lalu kuberikan pada Luna, "Makasih kak." Aku mengangguk.


"Mari, kita keluar, sepertinya dua anak laki-laki itu belum bangun deh!" Aku mengangguk, kami keluar dari kamar.


"Bagus! Anak perempuan lebih lambat dari anak laki-laki! Apa saja yang kalian lakukan dari tadi?" tegas Oppy.


Kami hanya terdiam, menunduk, "Baik, mulai pemanasan!" perintah Mam, "Baik!" Kami segera melakukan pemanasan.


Setelah pemanasan selesai, aku mengambil nafas sejenak, "Baik, lari turun bukit mengelilingi sekolah kalian, lalu kembali kesini! Dalam waktu 15 menit!"


"Jika salah satu dari kalian terlambat satu detik saja, kalian tidak akan mendapat istirahat setelah pulang sekolah!" tegas Oppy.


"Dan tidak ada yang boleh membantu temannya, kalian harus berjuang sendiri-sendiri!" Mam tersenyum.


Kami melongo, "Cepat!" Kami segera berbalik badan, lalu berlari menuruni bukit. Muka Zayn dan Farel terlihat masih sangat mengantuk.


9 menit kemudian ....


Kami baru sampai tengah jalan, tentu saja nafasku sudah tidak beraturan. Namun tenaga kami masih normal, sedangkan Zayn dan Farel sudah terlihat kelelahan.


"Apa kalian mau istirahat dulu?" tanya Lea, "Tidak, makasih, kami masih kuat ..." jawab Farel, "Tapi aku heran, kalian kenapa masih semangat sih?"


Aku tersenyum menatap Lea dan Luna, "Kami memiliki rah—" Aku menutup mulut Lea, lalu tersenyum, "Karna kami sudah terbiasa bangun pagi!" Hah, alasan konyol yang kubuat.


Bersambung ....