You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 6



"Baiklah, baik, aku akan menceritakan nya padamu. Tapi jangan ceritakan hal ini kepada siapa pun itu, termasuk kak Gabie sekalipun!" aku mengangguk.


"Keluarga Lea dibantai habis-habisan." sontak aku menutup mulutku, "Lea berusaha memberontak, tapi dia malah diracuni, itu membuat Lea kekurangan oksigen ...."


"Seharusnya, lima menit setelah diracuni, Lea udah mati. Tapi entah gimana caranya dia selamat, dan berhasil melarikan diri kesini."


"Rumahnya dihancurkan menjadi berkeping-keping, harta benda Lea lenyap oleh pelaku. Nggak ada saksi mata waktu itu, soalnya rumah Lea terpencil."


"Harta benda yang dimiliki Lea sekarang hanyalah kalung itu, kalung yang dia berikan padamu. Dan uang yang disimpan oleh orang tua Seli. Cuma Lea yang tau keberadaannya."


"Lea mencarimu, dia ingin mengucapkan selamat tinggal. Karna kamu lah sahabat pertamanya, jadi dia memberimu sebuah kenang-kenangan dengan alasan kado ulang tahunmu."


"Dengan harapan, kamu bisa menyimpan kenang-kenangan dari mendiang kedua orang tuanya."


"Kayaknya Lea juga tau, kalo kak Gabie belum pulang, jadi dia bisa leluasa ngobrol sama kamu. Lea dan kamu terikat takdir, kalian akan menjadi sahabat yang menguatkan satu sama lain."


"Yang menyembuhkan satu sama lain, yang melengkapi satu sama lain. Kalian adalah pasangan sahabat yang sempurna ...."


"Kalian diciptakan, dan ditakdirkan bersama. Alasan apapun, masalah apapun yang menimpa kalian, kalian akan slalu bersama! Kamu beruntung Ra, kamu punya sahabat seperti Lea. Begitu juga Lea, dia beruntung memilikimu!"


Air mataku perlahan netes, entah aku harus bahagia karna Lea selamat, atau aku harus sedih karna Lea jadi sebatang kara?


"Jangan bertanya apapun kepada Lea. Atau menyinggung sesuatu yang hampir sama dengan ceritanya, ini demi Lea ..." Aku mengangguk. Aku paham betul bagaimana rasanya.


"Apa Zayn sudah menceritakannya Ra?" Farel turun dari tangga, aku mengangguk, masih bingung harus berkata apa.


"Sudahlah Ra, yang penting Lea selamat! Kamu jangan bersedih atau menangis lagi." kata Farel, aku menggeleng sekali lagi.


"Nggak Rel, kamu nggak tau rasanya nggak punya orang tua! Kamu nggak tau rasanya kehilang orang yang paling berharga dalam hidupmu! Kamu nggak tau rasanya hidup tanpa kasih sayang seorang ayah dan ibu!"


"Kamu nggak tau gimana rasanya tumbuh besar tanpa kehadiran orang tua kamu disisimu! Kamu nggak pernah merasakan hak itu! Kamu nggak tau rasanya Rel! Rasanya tuh Sakit!"


"Lea tidak seberuntung aku, aku masih punya kak Gabie! Aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang kakak! Sedangkan Lea, dia sebatang kara! Betapa sialnya nasib dia! Dia hanyalah seorang gadis biasa! Nggak lebih!"


"Kamu dan Zayn hanyalah seorang tuan muda yang hidupnya tercukupi! Semua serba mewah, serba ada! Kamu hanya mengerti hidup mewah, semua kebutuhanmu sudah di sediakan Rel ... Kamu nggak tau ... Gimana sakitnya semua yang aku dan Lea alami ..." Tanpa kusengaja, aku telah membentak Farel.


Ruang tamu menjadi sangat sunyi, aku tersungkur duduk dilantai, aku menutup wajahku, air mataku mengucur dengan derasnya.


Di dunia ini, aku cuman punya kak Gabie, nggak ada keluarga lain. Kak Gabie kerja keras banting tulang, demi mencukupi kehidupan kami.


Orang tuaku memang meninggalkan harta warisan yang cukup untuk kehidupan kami. Tapi, lama-kelamaan harta itu akan habis jika kami terus menggunakannya, dan tidak menghasilkan uang sendiri.


Kak Gabie, sudah lulus kuliah, dia memutuskan segera mencari pekerjaan yang layak.


Kerja keras banting tulang, demi adeknya yang masih duduk di kelas 10. Demi adeknya yang masih harus menempuh pendidikan hingga lulus kuliah.


Panas, hujan, badai, nggak bikin semangat kak Gabie patah gitu aja. Berangkat pagi, pulang pagi, bahkan nggak pulang pun, kak Gabie terus berusaha, memberiku uang dan hidup yang layak.


Zayn memelukku, "Maafkan aku Ra," kata Farel, aku menggelengkan kepala, tidak tau harus berkata apa, "Aku tidak tau jika itu akan menyakiti perasaanmu Ra."


"Ra, berhentilah menangis, hari ini kamu sudah menangis cukup lama. Istirahatlah, besok kamu masih harus sekolah." Aku membuka tanganku.


Lea berdiri lemah ditangga, "Lea, kenapa kamu udah bangun?" aku menghampiri Lea, Lea turun dari tangga perlahan-lahan.


Lea hampir jatuh, aku berhasil menangkap tubuhnya, dan menahannya agar tidak jatuh, "Lea, badanmu masih lemah, akan kuantar kamu istirahat di kamarku."


"Jika kalian disini, aku akan menyiapkan kamar tidur untuk kalian berdua. Duduklah dimeja makan Lea, aku mau nyiapin makan malam dulu." Aku memapah Lea duduk dimeja makan.


Aku mulai mengambil bahan-bahan di lemari es, "Kamu mau makan apa Lea? Mau bubur?" tanyaku, Lea mengangguk.


Farel menghampiriku, "Boleh aku membantumu Ra?" atku mengangguk, "Kamu mau buat apa aja emang?"


"Aku mau buat bubur, nasi goreng seafood, sama daging kecap. Kamu bisa membuatnya?" Farel mengangguk mantap.


"Apa aku bisa melakukan sesuatu untuk mebantumu?" Aku liat ke belakang, Zayn udah berdiri di belakangku, "Kau bisa menyiapkan meja makan ... Dan membuatkan susu atau minumnya."


Zayn menyiapkan meja makan dengan cekatan, Farel juga membantuku dengan cekatan di dapur. Sesekali aku memeriksa keadaan Lea, memastikan dia benar-benar baik-baik saja.


Pukul 18.13


Makan malam siap, "Ra, boleh aku tinggal dirumahmu sekarang?" tanya Lea lirih, "Tentu saja, kamu adalah sahabatku ... Kamu diterima dirumahku kapan pun itu." Aku memeluk Lea.


Aku tak kuasa menahan tangisku, Zayn mengelus pundakku, agar aku tidak menangis. Aku menghapus air mataku yang hampir aja turun.


"Baiklah, sekarang, mari kita makan! Kalian jadi nginep disini?" tanyaku, "Aku mungkin iya ... Aku nggak betah dirumah Ra, terlalu banyak pembantu dan aturan." jawab Zayn santai.


"Kalo kamu Rel?" Farel menatapku, "Jika Zayn disini, maka aku juga akan disini." jawab Farel, "Kalo gitu, cepat habiskan makanannya."


"Eh, aku ketoilet dulu ya ... Toilet nya dimana Ra?" Aku menunjuk pintu disamping dapur, "Makasih Ra." Farel lagi main HP sambil makan.


Klink!


Hero : Selamat malam gadis, apa kabarmu?


Aku : Hero, terima kasih atas saranmu, itu sangat membantuku. Maaf aku telah meragukanmu.


Hero : Hei gadis, aku hanya tidak ingin melihat gadisku bersedih atau menangis terus menerus. Aku membencinya!


Hero : Apa Seli sudah sadar?


Aku : Tentu, kami sedang makan malam.


Hero : Oh, betapa beruntungnya teman-temanmu, mereka bisa memakan masakanmu! ฅ'ω'ฅ


Aku : Aku sarankan, kamu jangan mencicipi masakanku, tidak enak rasanya! ≧∇≦


Hero : Aku percaya, jika masakanmu sangat enak!


Aku : Apa kamu sudah makan malam?


Hero : Cie ... Jadi ceritanya, kamu sedang mengkhawatirkanku? ≧ω≦


Hero : Aww, lucu nyaa, gemes deh!


Aku : Dih, apaan! Udah dulu ya, aku mau lanjut makan.


Hero : Selamat makan gadis ...


Aku : Too!