You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 35



"Lalu bagaimana?" Aku menatap Zayn, heran, Zayn tersenyum, "Maksudku, lalu bagaimana rasanya menjadi kakak? Seru?"


"Permainan ini baru dimulai Zayn, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sebelum aku menjalaninya!" Aku tersenyum melihat wajah manis, imut, dan polos milik Luna.


"Apa kau mau mencari kak Gabie lagi?" Aku terdiam, "Ya, tapi sendirian! Tidak denganmu!" kataku, "Mengapa?" tanya Zayn, aku menggeleng, "Tak ada alasan!"


"Perintahku!" jawabku singkat, "Apa sekarang kau menyuruhku pulang?" Aku menggeleng, "Tidak, itu hanya saranku!"


Aku mengambil satu selimut, turun, lalu menyelimuti badan Lea dengan selimut tadi. Aku keluar, lalu memakai jaket, dan membawa HP, sama earphone.


Aku make kerpus jaketku, habis itu nyetel musik, aku pake earphone. Aku lebih merasa tenang kalau dengerin musik, aku keluar dari rumah, jalan, nyari kak Gabie.


Sekali lagi, aku jalan di jalanan tanpa arah dan tujuan. Langit gelap tengah menyapaku di atas, hujan akan turun sebentar lagi, slalu saja hujan ketika aku ingin mencari seseorang.


Aku terus berjalan tanpa arah, aku menutup mataku sekali-kali. Rasanya aku ingin menyerah, tapi nggak bisa, karna kak Gabie adalah kakakku, aku nggak boleh nyerah gitu aja.


"Kak, kakak dimana? Dari tadi sampe sekarang aku masih nyariin kakak, kakak baik-baik aja kan di manapun kakak berada sekarang?" gumamku.


Sekali lagi, hujan turun membahasahiku, hujan turun tanpa pemberitahuan, hal yang sama yang aku lakuin sekarang, waktu aku nyari Zayn.


Aku jongkok di pinggir jalan, melipat tanganku di atas lutut, membenamkan wajahku di dalamnya. Jaket dan celanaku basah, tapi tidak dengan baju, HP, rambut, dan earphone-ku.


Aku menatap langit, rintik hujan berhasil membasahi mukaku. Air mataku menetes, bercampur dengan air hujan yang membasuh mukaku.


Aku menangis tanpa sebab, tapi aku merasakan ada sesuatu yang menyedihkan jauh di dalam hatiku. Orang-orang yang berjalan menatapku, tatapan yang prihatin, tatapan yang menjijikan.


Aku kembali berjalan, yap, betul, aku kembali berjalan tanpa arah. Terus mencari kakakku yang hilang entah kemana, dan yang hilang tanpa sebab.


Aku berjalan ke lapangan luas, lapangan kosong, lapangan tempatku dan kak Gabie menjadikan nya sebuah tempat untuk menenangkan diri dari apapun.


Aku mencari, namun sayang, kak Gabie tidak ada disini, bahkan tanda-tanda kehadiran kak Gabie saja tidak ada, aku melepas jaketku, melemparnya dengan kesal.


Sekarang, earphone, baju, rambut, seluruh tubuhku sudah basah oleh hujan. Aku terus menendang-nendang rumput yang bergoyang, meluapkan semua amarah dan kekesalanku.


Srett!


"Neara! Apa kamu sudah gila? Atau otakmu kembali ke masa kanak-kanak? Ngapain kamu di tengah lapangan, terus hujan-hujanan?" Bukan, bukan Hero atau Zayn yang menolongku, tapi Farel.


"Farel ..." ucapku lirih, "... Kak Gabie ... Hilang ... Kabur ... Belum ketemu ... Takut ... Khawatir ..." omonganku sudah ngelantur kemana-mana, nafasku mulai panas, pandanganku kabur.


Kepalaku pusing, badanku lemas, "Neara, aku antar kamu pulang!" Aku menahan tangan Farel yang hendak menarikku pergi, Farel menatapku, aku menggeleng.


"Tolong ... Aku tidak akan berhenti sebelum kak Gabie berhasil ditemukan! Aku mencemaskan kak Gabie! Aku—sangat mencemaskannya ..." kataku terisak.


"... Kumohon, aku hanya ingin menemukan kak Gabie ... Dia keluargaku satu-satunya ..." Air mataku semakin mengucur deras. Farel menatapku, dia berdiri tercengang di bawah payungnya.


Aku masih terus menangis, "Hm ... Baiklah, aku akan membantumu, namun jangan seperti ini, jika kau sakit, kau tidak bisa mencari kakakmu!"


Aku menggeleng, "Tidak, jika kau mau pulang, pulanglah, aku akan terus mencari kak Gabie hingga ketemu!" kataku, aku bangkit, lalu berjalan meninggalkan Farel.


"Neara! Neara! Dengarkan perkataanku!" Aku bisa mendengar suara Farel yang berteriak membelah keheningan di tengah hujan.


Aku tidak menghiraukan teriakan Farel, aku terus berjalan, mencari kak Gabie.


***


Aku terus berjalan tanpa arah, hingga aku memeriksa jam, dan sekarang pukul 7 malam.


Aku berhenti di panti asuhan sederhana dekat sekolahku, aku menatapnya. Terdapat kehangatan yang menyelimuti bangunan tersebut.


Suara riang dan tawa dari anak-naka terdengar sangat jelas dari luar sini. Aku merindukan keluargaku, aku merindukan kak Gabie, aku merindukan ayah dan bunda.


Ayah, bunda, Ra belum berhasil menemukan kak Gabie ... Ra harus gimana sekarang? Ra sedih, Ra nggak mau kehilangan keluarga Ra lagi!


Ceklek!


"Dek, kamu kenapa?" tanya ibu-ibu separuh baya, tatapannya hangat, senyum manis merekah di muka beliau. Pakaian yang sederhana, namun terlihat elegan manis di pakai dengan beliau.


Rambut ikal yang diikat seperti ekor kuda, membuat beliau terlihat nampak jauh lebih muda, "Eh, maaf nyonya, saya cuman lewat saja ..." kataku.


"Kamu basah, masuklah, aku akan memberimu pakaian hangat dan makanan. Kau bisa menceritakan masalahmu kepadaku, aku akan mendengarkannya!"


Senyum yang tidak bisa kutolak, aku mengangguk, beliau membawaku masuk, anak-anak panti melihatku dengan tatapan yang ceria.


Mereka imut-imut semua, "Maaf, hanya ada baju yang seadanya ... Kamu ganti dikamar ibu aja." Aku mengangguk, beliau menutup pintu kamarnya.


Aku segera mengganti bajuku, lalu keluar, "Silahkan di makan ..." Aku duduk dimeja, anak-anak panti kembali bermain, berlarian, dan lompat-lompat.


"Kamu nyari siapa kesini?" tanya nyonya tadi, "Saya mencari kakak saya, sudah empat jam lebih saya berjalan tanpa arah, karna saya nggak tau dimana keberadaan kakak saya." jawabku.


"Oh ya, nama saya Favaina Neara Jaendra, ibu bisa memanggil saya Ra, atau terserah mau manggil saya siapa ..." kataku, "Oh, iya, maaf, ibu lupa memperkenalkan diri."


"Nama ibu, Valsya Agatha, kau bisa memanggilku Bunda." aku menganga, air mataku mulai menggenang, "Nak, kamu kenapa?"


Aku mengusap air mataku, lalu menggeleng, "Saya hanya teringat mendiang ayah dan bunda saya ..." jawabku.


"Maafkan bunda Ra, Bunda tidak bermaksud ..." Aku mengangguk, "Tidak apa Bun, kedua orang tuaku sudah tenang di atas sana." kataku.


"Di panti asuhan ini, hanya ada 15 orang, sudah termasuk aku. Ada 2 anak remaja seusiamu, apa kau mau berkenalan dengan mereka?" Aku mengangguk.


Bunda membawaku ke ruang tengah, "Anak-anak, perkenalkan, ini Neara ..." Kedua anak itu bangkit, yang perempuan sepertinya tuna netra.


Entah kenapa, sepertinya penghuni panti ini semuanya cantik-cantik, tampan-tampan, manis-manis, dan juga imut-imut.


"Halo, Kak! Namaku Asyila, kakak bisa memanggilku Syila!" kata yang satu, anak tuna netra tadi kelihatan dingin.


"Oh ... Ha, hai, namaku Neara! Nama kamu siapa?" sapaku, dia mengabaikan jabat tanganku, "Reina ..." jawabnya singkat, "Eh, maaf, kak Reina memang dingin..."


"... Tapi hatinya hangat kok, mungkin karna baru kenal, jadi agak susah beradaptasi," kata Syila, "Syila! Jangan pernah dekat dengan orang asing!"


"Eh, Kak, Kakak tunggu diluar aja ya, kami mau ngobrol sebentar! Rere!" teriak Syila, "Ada apa, Kak?" Anak laki-laki dengan lidah cadalnya masuk ke kamar tadi.


"Tolong bawa kakak ini buat main bentar sama kalian ya?" Rere mengangguk, "Halo, Kak, namaku Rere ... Nama kakak siapa?" tanya Rere, "Namaku Neara!"


Rere menggandengku, dia mengajakku bermain dengan anak-anak panti yang lain. Mereka mengajakku menggambar dan mewarnai.


10 menit kemudian ....


Aku berdiri, mengamati pintu kamar yang sedang tertutup, anak-anak sedang bermain. Aku mendekat, berusaha mendengar pembicaraan mereka.


Bersambung ....