You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 12



"Ra!! Zayn!!! Ada apa? Apa kalian baik-baik saja?" Lea bertanya cemas, dengan muka yang sangat mengantuk, aku menahan tawa. Ini semua disebabkan oleh Farel, Lea bahkan sampai terbangun dari tidurnya.


"Nggak apapa Lea, ini hanya sebuah kesalah pahaman," jawabku.


"Farel, ini udah siang, sarapanmu aku bungkus aja, kasihan Zayn kalo dia ikut telat. Sekarang bangun, cuci muka, dan berangkatlah ke sekolah," kataku.


Farel mengangguk-ngangguk dengan muka yang masih mengantuk dan ingin tidur. Kami menunggu di bawah, aku menyiapkan bekal sarapan buat Farel, sekalian nyiapin bekal istirahat buat mereka berdua, roti bakar.


"Nih, aku siapin bekal buat nanti istirahat, jangan lupa di makan," kataku, Farel sudah selesai mencuci muka, mereka berdua berangkat.


Aku dan Lea terdiam sejenak, "Jadi, kita harus melakukan apa sekarang?" tanyaku bosan, "Entahlah, aku juga tidak tau, aku sangat mengantuk, aku akan melanjutkan tidurku," jawab Lea sambil berjalan gontai masuk ke kamarku.


Aku bingung mau ngapain, aku menonton TV di ruang tengah, sebenarnya aku juga sangat lelah dan mengantuk. Tapi aku nggak bisa tidur jika Lea juga tertidur, salah satu dari kami harus ada yang berjaga.


Aku : Hero, apa aku mengganggumu?


Hero : Mmm ... Bisa dibilang, sedikit, kenapa gadis? Apa kau merindukanku?


Hero : Aku sudah memberimu foto mataku, kau bisa menatapnya setiap saat jika kau merindukanku. ♡(∩o∩)♡


Aku : ∑( ̄□ ̄;)


Aku : Hero, sekarang kau sedang apa?


Hero : Di kelas, belajar, kenapa? Kau membutuhkan bantuanku gadis?


Aku : Eh, maaf mengganggumu belajar, silahkan dilanjutkan.


Hero : Bodoh, aku sudah mengatakannya tiga kali, kau gadisku, tidak ada kata maaf atau terima kasih, aku akan membantumu sebisaku! ⊂( ̄(エ) ̄)⊃


Aku : Baiklah, selamat belajar Hero!


Hero : Apa kau membutuhkan sesuatu gadis, hingga kau men-chat ku?


Aku : Tidak, aku hanya merasa bosan duduk di rumah saja seharian. Bisakah kau menemukan caranya secepat mungkin?


Hero : Gadis, bersabarlah, aku sedang mencoba sebisaku. Lusa, kupastikan kau sudah boleh masuk.


Aku : Hero, aku boleh mengatakan sesuatu?


Hero : Tentu, apa itu?


Aku : Aku tidak suka orang yang tidak pernah serius dengan omongannya. Aku juga tidak suka orang yang bermain-main akan keputusannya atau sikapnya.


Aku : Aku tidak suka orang yang tidak bisa menghargai perasaan orang lain. Aku tidak suka orang yang tidak berkomitmen pada ucapannya atau perbuatannya.


Aku : Aku tidak suka kesombongan, ambisi, atau apalah itu. Bisakah kau berjanji padaku, satu hal?


Hero : Apa gadis? Jika aku bisa berjanji, maka aku akan berjanji, katakanlah.


Aku : Bisakah kau berjanji padaku tidak akan melakukan semua itu? Semua hal yang aku benci?


Hero : Baik, aku akan berjanji untukmu, jika aku melanggar, jangan menyebut atau mengingat namaku lagi, ini janjiku padamu gadis.


Aku : Baiklah, selamat belajar!


Hero : Terima kasih.


Aku : Bodoh! Kau menyuruhku untuk tidak mengucapkan maaf atau terima kasih padamu, maka kau juga harus begitu.


Aku : Tidak ada kata maaf dan terima kasih, jika kau melarangku untuk mengatakannya!


Aku : Bye!


Hero : Bye!


Aku benar-benar mengantuk sekarang, aku nggak bisa nahan mataku buat tertutup, terlalu mengantuk.


Pukul 08.45


"Tidurlah Ra, aku yang akan menjaga rumah ini." Aku bisa mendengar samar-samar suara Lea, aku benar-benar lelah dari kemarin.


Tubuhku terasa diselimuti sesuatu yang hangat, mungkin itu selimut. Entahlah, aku tidak bisa membuka mataku sama sekali, aku melanjutkan tidurku.


Pukul 10.23


Aku membuka mataku perlahan, "Apa kau tidur dengan nyenyak tuan putri?" tanya Lea lembut, "Eh, maafkan aku, aku ketiduran. Aku bener-bener ngantuk Lea."


"Nggak apapa, kau layak mendapatkan isitrahat yang cukup. Dua hari ini kau mengurusku, Zayn, dan Farel dengan sangat baik, kami sangat berterima kasih padamu."


"Apa kamu udah sarapan Lea?" Lea ngangguk, "Enaknya sekarang kita ngapain ya?" Lea menggeleng, nggak tau.


Kring! Kring! Kring!


"Halo, ada apa Zayn?" tanyaku, "Halo Ra, ini aku, Farel, aku telfon lewat HP Zayn, soalnya HP ku lowbat. Zayn tiba-tiba pingsan di tengah lapangan, badannya panas, sekarang Zayn lagi istirahat di UKS." jelas Farel, aku terkejut.


"Farel, apa Zayn baik-baik saja? Apa yang terjadi dengannya?" tanyaku panik, "Zayn tidak apa-apa Ra, nanti ku ceritakan setelah sampe rumah."


"Kita lagi nunggu taksi online datang ke sekolah, sebentar lagi kami akan pulang, tunggu saja. Udah dulu ya Ra, bentar lagi taksi online-nya sampe!" Farel menutup telfonnya.


Aku bergegas membuat sup sama sari kurma buat Zayn, dan nyiapin beberapa obat dan vitamin.


Tok! Tok! Tok!


"Ra, kamu kenapa keliatan panik banget?" tanya Lea, "Eh, nggak apapa, bisa bantu aku bukain pintunya?" Lea mengangguk, dia membukakan pintunya.


Farel berdiri di depan pintu, badan Zayn dituntun Farel ke sofa. Wajahnya nampak merah, aku menyentuh jidatnya perlahan, panas sekali.


"Farel, kalian udah izin sama guru kan?" tanya Lea, "Tentu Lea, kami tidak akan bolos sekolah!" aku masih sibuk mengambil air kompresan.


Aku mencari kain bersih yang bisa kugunakan untuk mengompres badan Zayn. Sedangkan Lea dan Farel sedang meributkan sesuatu yang tidak penting.


"Kalian berdua, bisakah kalian berhenti bertengkar? Aku membutuhkan bantuan untuk merawat Zayn!" kataku, "Eh, maaf Ra, ini salah Farel."


"Eh, enak saja, ini salah Lea, Ra." Aku mengepalkan tanganku, "Sudahlah, kalian sama sekali tidak membantuku!" Aku mulai kesal dengan tingkah laku mereka.


"Farel, sebenarnya apa yang terjadi pada Zayn? Mengapa dia kelelahan dan demam?" tanyaku, Farel menatapku heran.


"Eh, kamu nggak tau? Selama ini, Zayn begadang, entah apa yang membuatnya harus begadang. Hari ini, dia nggak tidur sama sekali, dia bangun dari jam satu kurang, terus nggak tidur sampe pagi, buat buatin sarapan."


"Kenapa dia nggak tidur?" tanya Lea, "Ayolah Lea, itu tandanya, ada perempuan yang berhasil ngambil simpati dia. Zayn dikenal sebagai laki-laki sedingin gunung es, semua wanita dia tolak."


"Semenjak umur 7 tahun, Zayn udah mulai berubah, dia jadi dingin, menjauh dari pergaulan dunia, dan slalu menyendiri."


"Dan semenjak itu pula, dia udah jadi sedingin es, hatinya udah beku sama suatu kejadian kelamnya di masa lalu. Tidak ada yang tau, kejadian apa itu, hanya kakek dan neneknya yang tau," kata Farel, aku masih terus mengganti air kompresan buat Zayn.


"Nggak ada yang bisa ngambil hati Zayn, bahkan persahabatan kami juga runtuh gitu aja. Setiap ada anak yang mau ngambil hati Zayn, mereka slalu gagal, nggak ada yang berhasil ngambil hati Zayn."


"Ra," aku menoleh ke Zayn, dia mengigau? Eh, nggak, dia nggak ngigau, sekarang dia meraih tanganku, dan menariknya.


Astaga!