You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 13



Astaga!


Dia memelukku, "Zayn, katakan, apa yang kau rasakan sekarang? Setelah itu, lepaskan pelukanmu," kataku lembut.


"Kumohon, diamlah sebentar, aku sangat lelah, biarkan aku memelukmu seperti ini, sebentar saja," ruang tamu lengang sejenak. Situasi yang canggung, sekaligus membingungkan.


Sepuluh menit kemudian....


Aku lelah berada di posisi seperti ini, tapi entah kenapa, aku nggak rela bangun. Zayn sepertinya sudah tidur, Lea hanya melongo melihatku dan Zayn. Farel hanya terdiam, seakan tau apa yang akan terjadi.


Aku bangun secara perlahan-lahan, "Gadis, apa kau tidak mendengar perkataanku?" aku terdiam, menatapnya, "Zayn, katakan, apa yang kau rasakan? Dan lepaskan aku dari pelukanmu."


Zayn melepas pelukannya, tapi tidak genggaman tangannya, "Aku hanya kelelahan, tidak lebih, kalian tidak usah khawatir atau cemas." kata Zayn, aku mengerutkan kening, marah.


"Bodoh! Bagaimana aku tidak mencemaskanmu, tiba-tiba Farel telfon dari HP mu, lantas dia berkata bahwa kau tiba-tiba pingsan! Apa kau tidak peduli dengan kesehatanmu sendiri Zayn?" Zayn terkekeh, matanya masih terpejam.


"Apa? Ini tidak lucu Zayn!? Aku mencemaskanmu, dan sekarang malah kau tertawa karna perkataanku?" Zayn membuka matanya, "Gadis, biarkanlah aku beristirahat sejenak, agar aku bisa cepat sembuh."


Aku menghela nafas, "Baik, tapi kau bangun dan minum obat dulu, setelah itu, aku akan membiarkanmu tidur dengan nyenyak," kataku, Zayn berusaha untuk duduk. Aku mengambil sari kurma, obat, vitamin, bubur, dan sup dari dapur.


"Makanlah dulu, lalu minum sari kurma ini, lalu minum obat dan vitamin nya, baru kamu bisa tidur Zayn," Zayn menatapku, dia tersenyum jahil.


"Suapi aku," aku melotot, lantas menggeleng, "Jika kau tidak mau menyuapiku, aku akan menggunakan cara lain untuk memakan bubur ini!"


Aku menyerah, tidak ada yang pernah bisa membantah perintah dari tuan muda yang satu ini, aku menyuapinya.


Zayn makan dengan sangat lahap, "Terima kasih sudah menuruti permintaanku gadis," aku mengerutkan kening, "Bodoh! Tidak ada kata maaf atau terima kasih diantara kita!"


Entah kenapa, tiba-tiba aku mengatakan hal itu ke Zayn. Lea terkekeh, Farel hanya terdiam, "Sejak kapan kau berani memerintahku nona Neara?" tanya Zayn dengan nada jahil.


Aku tersenyum, "Sejak kau mencium keningku malam-malam, tiga hari yang lalu tuan muda Zayn," balasku, wajah Zayn nampak memerah.


"Ekhm, sudahlah, aku akan istirahat," aku tertawa, begitu pula Lea, "Selamat tidur tuan muda Zayn. Semoga mimpimu indah," aku membereskan gelas, piring, dan mangkuk milik Zayn.


"Kalian makan siang duluan, aku mau membersihkan kamar tamu lainnya. Sementara, kamu dan Zayn pisah kamar dulu, biar aku bisa keluar-masuk untuk merawat Zayn," kataku.


"Lea, bisakah kau membantuku mencuci cucian piring ini?" tanyaku, Lea mengangguk. Farel dan Lea segera makan siang, aku naik ke atas, pintu pertama setelah tangga adalah kamar tamu kedua.


Pukul 14.26


"Akhrinya selesai," kataku mengeluh, aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Aku baru selesai beres-beres kamar tamu, dan badanku sangat lelah.


Aku berdiri lagi, "Farel, bisakah kau membantuku memindahkan tubuh Zayn ke kamar tamu yang lain?" tanyaku, Farel mengangguk.


Dia membopong badan Zayn ke kamar tamu. Mungkin karna rasa lelahnya sekaligus efek samping dari obatnya, Zayn benar-benar tidur dengan nyenyak dan tenang.


"Fiuuhhh... Berat juga badan anak ini!" Farel mengaduh, "Terima kasih telah membantuku Rel, aku akan mengompres keningnya, lalu pergi untuk makan siang," Farel mengangguk, lalu keluar dari kamar tamu, aku mengompres kening Zayn.


"Selamat tidur pangeranku," aku meninggalkan kamar Zayn, lalu pergi untuk makan siang, aku sangat lelah dan lapar.


"Halo Ra, kamu baru makan siang?" tanya Lea, aku mengangguk, "Kamu punya berapa buku novel sama komik?" aku menggeleng, tidak tau.


Apa sebaiknya kusembunyi kan, saja? Ya aku tau itu tidak baik, tapi ini rahasia Zayn, "Tidak, aku hanya tau kalo dia tuan muda yang sangat menyebalkan dan sangat dingin." jawabku cuek.


Lea menghembuskan napas, "Kalian sangat dekat Ra, apa mungkin kalian benar-benar berjodoh?" aku melotot, "Tidak akan ada yang tau siapa jodohmu, selain tuhan Ra," kata Lea.


Setelah makan siang, aku naik ke kamar, aku sangat lelah, ingin beristirahat, walau nggak tidur.


Klink!


Hero : Gadis, aku berhasil menemukan caranya, apa kau mau mengetahuinya?


Aku : Tentu saja! Katakan padaku Hero.


Hero : Kalian harus memberitahu kejadian yang sebenarnya ke kak Gabie. Dia akan membantu kalian setelah kak Gabie tau apa masalahnya!


Aku : Tidak ada cara yang lain kah? Aku sudah berjanji pada Zayn, untuk tidak bercerita pada siapapun. (︺︹︺)


Hero : Percayalah padaku, Zayn tidak akan marah padamu. Turuti apa kataku, jika kau tidak ingin berpisah selamanya dengan Lea!


Aku : Baiklah, aku akan coba membicarakan nya bersama teman-temanku dulu. Sampai nanti Hero.


Hero : Baiklah, sampai nanti gadis.


Kondisi Zayn masih nggak memungkinkan kalo aku ngomong sekarang, jadi aku memilih nunggu Zayn sembuh terlebih dahulu.


"Farel, besok kamu masuk sendirian ya, sampai keadaan Zayn bener-bener membaik. Aku sama Lea bakal tetep libur sementara, kondisinya belum meyakinkan." Farel mengangguk, setuju.


Keadaan masih nggak memungkinkan, Zayn tiba-tiba sakit, dan rencana yang belum mateng. Kalo aku sama Lea tetep maksa masuk, itu bener-bener ambil resiko yang sangat besar.


Pukul 18.12


"Lea, Farel, mari makan malam. Aku sudah menyiapkannya untuk kalian, kalian makanlah lebih dulu, aku mau mengantar makanan ini ke kamar Zayn," kataku.


Tok! Tok! Tok!


"Zayn, aku masuk," aku membuka pintu kamar Zayn, dia masih terbaring lemah di kasur, sembari menutup matanya, aku menyentuh keningnya, panasnya masih belum turun.


Wajahnya semakin memerah, "Bangunlah Zayn, makan buburmu dulu, lalu istirahatlah," aku membantu Zayn duduk, dia menatapku.


"Apa ada sesuatu yang mau kamu omongin?" aku menggeleng, "Apa kamu yakin?" aku terdiam, "Aku akan membicarakannya setelah keadaanmu membaik Zayn," jawabku.


"Maaf Ra, aku membuat bebanmu semakin banyak. Kau merawatku yang sedang sakit sekarang, lantas kau juga berpikir mencari jalan keluar untuk masalah Lea," suaranya terdengar sangat menyesal.


"Zayn, lupakanlah semua itu, kau tidak perlu memikirkannya untuk sementara, biar aku, Lea, dan Farel yang berpikir untuk mencari jalan keluar. Kamu fokus sama kesembuhanmu aja."


"Lagi pula, ngapain tadi kamu nggak tidur itu? Kamu mau bikin cemas semua orang? Ngapain kamu begadang?" aku menatap Zayn, lantas menepuk jidat.


"Zayn, apa yang kamu lakukan beberapa hari ini hingga larut malam?" tanyaku, "Itu—mmm—aku nggak bisa memberitahumu Ra."


"Zayn, walau aku tidak tau apa yang kau lakukan hingga larut malam, kau tetap harus menjaga kesehatan dirimu. Setidaknya demi dirimu sendiri, atau orang yang kau cintai."