
Setelah mendapat baju yang cocok, aku meletakkan
nya di atas kasur, begitu pula Luna. Aku memilih
tang top warna putih, rompi berlengan panjang warna
pink, dan rok selutut berwarna merah maroon.
Luna memilih kaos tipis berwarna putih, dan kulot
berwarna biru langit. Sedangkan untuk Luna, Lea memilih
sweater berwarna kuning, dan jeans biru dongker.
Aku dan Luna segera mengganti pakaian kami masing-masing.
Nggak lama setelah kami berganti baju, Lea keluar dari
kamar mandi. Dia segera mengganti handuk nya,
menjadi baju yang tadi kupilihkan.
"Sini, biar aku tata rambutmu," kataku menghampiri
Luna. Aku mengikat rambut Luna menjadi dua. "Hahaha, Luna
kelihatan makin lucu, deh," kata Lea, aku dan Luna ikut
tertawa. Lea mengikat rambutnya ke samping.
Aku mengikat rambutku seperti biasa, ikatan ekor kuda.
"Sudah? Mari kita keluar," kataku. Kami keluar
dari kamar. "Lea, kamu memilihkan pakaian apa, buat
Zayn sama Farel?" tanyaku, "Sabar dong, bentar lagi juga
kamu bakalan liat," jawab Lea.
Kira-kira siapa, tamu yang bakalan dateng kesini?
Kalo kak Frida, seharus nya nggak sampe kayak gini, kan?
Orang biasa nya juga ketemu sama kak Frida pake baju
sehari-hari. Lha, terus siapa?
"Ra! Kenapa kamu ngelamun terus?" Lea menepuk
bahuku. "Eh, iya, kenapa?" tanyaku, "Ayo, kita pergi ke meja
makan," jawab Lea sembari menarik tanganku.
Oppy dan mam sudah menunggu kami di meja makan.
"Sebentar, jangan duduk terlebih dahulu, ayo ikut kami menyambut
mereka," kata mam, "Dimana dua teman kalian?" tanya
Oppy, "Kami disini," kata Farel yang berdiri di sampingku.
Farel menggunakan kemeja merah muda, bergaris putih,
dengan celana panjang berwarna putih. Sedangkan Zayn,
dia menggunakan kemeja berwarna biru langit,
bergaris putih, dengan celana panjang berwarna putih.
Kami mengikuti mam dan Oppy menunggu di depan pintu pondok.
"Selamat malam," suara yang terdengar familiar
di telingaku, kami berlima terkejut ketika mengetahui
siapa yang datang. Zayn segera memeluk mereka.
"Ai, aku tidak menyangka, bahwa tamu nya adalah kalian,"
ucap Zayn melepas pelukan nya. "Selamat malam, Neara,"
kata nenek menyapaku. Nenek memeluku, aku balas memeluk
nya. "Malam, Nek. Nenek apa kabar?" tanyaku.
"Tentu saja seperti yang kau lihat, Nak," jawab nenek.
"Kak Neara!" kata Emma memeluku, "Hei, lepaskan
Neara," ucap Zayn yang berdiri di belakangku.
"Haih, apa Kakak cemburu sama adikmu sendiri?"
tanya Emma,
aku hanya melotot. "Baiklah, mari, kita masuk,"
ucap Oppy. Nenek datang bersama Leo, kak Keli, dan Emma.
Kami pergi ke meja makan bersama.
Aku dan Zayn pergi ke dapur untuk mengambil
masakan kami yang tadi, lalu meletakkan nya di atas
meja makan. Mereka semua tersenyum ketika melihat
makanan yang kami sajikan, terutama Farel dan Lea.
"Oh, astaga, aku lupa membuat sup nya," kata Zayn berbisik.
Aku terkejut mendengar perkataan Zayn, lalu berkata,
"Maaf, sepertinya kami harus kembali ke dapur,
tolong tunggu sebentar." Aku segera menarik
Zayn untuk mengikutiku ke dapur, Lea dan Farel juga
mengikuti kami.
"Gulung lengan kemeja kalian, kita harus cepat
memasak nya," kataku sembari memberikan celemek pada Lea,
Farel, dan Zayn. Mereka berdua segera menggulung
lengan kemeja nya. Kami berusaha secepat mungkin untuk
membuat sup ini, agar yang lain tidak menunggu
terlalu lama di meja makan.
10 menit kemudian ....
"Maaf menunggu lama," kataku sembari menata
11 mangkuk sup di depan setiap orang. Lea, Farel, dan Zayn
menuangkan sup dari kuali ke dalam mangkuk
yang sudah kutata. Setelah itu, kami segera bergabung
di meja makan, dan makan malam bersama, kecuali Zayn dan Farel.
Entah kenapa, mereka nggak mau makan makanan yang
ada di piring mereka masing-masing.
Oppy, mam, dan nenek slalu memiliki topik pembicaraan
yang membuat suasana meja makan menjadi hangat.
Terkadang satu topik pembicaraan, membuat
kami berdebat kecil. Dan karna perdebatan kecil itu,
nenek, mam, Oppy, dan Luna tertawa.
Setelah makan malam, nenek dan mam pergi ke ruangan
dengan nada tegas nya seperti biasa. Hish, dia mau apalagi?
Kami mengikuti Oppy, beliau membawa kami
ke kamar beliau.
"Apa-apaan kalian ini? Bagaimana bisa, kalian melupakan
hidangan utama? Apa kalian tidak
memeriksa
masakan kalian, apa sudah lengkap atau
belum?"
tanya Oppy marah. Kami hanya bisa menunduk.
"Dan anda, Nona Neara, apa kamu hanya sebatas
mengatakan, bahwa kamu adalah orang yang bertanggung
jawab atas segalanya, di antara teman-temanmu?
Apa itu hanya bualan semata, hah?" kata Oppy sedikit berteriak.
"Ini bukan salah Ra, ini salah—" aku menatap
Farel, menyuruh nya diam. Oppy menatapku.
"Jika ini bukan salah Neara, terus salah siapa?"
tanya Oppy, "Tidak, bukan salah siapa-siapa, ini salahku,"
jawabku, "Kamu! Sekarang juga, pergi ke halaman belakang,
berdiri satu kaki di atas balok kayu, dan bawa dua
ember air," perintah Oppy. Aku mengangguk pelan, kemudian
berjalan ke halaman belakang.
Aku mengisi dua ember penuh dengan air. Lalu mengangkatnya,
kemudian aku berdiri di atas balok, dan perlahan-
lahan mengangkat kaki kananku. Aku merentangkan
kedua tanganku, dan mengubah posisi ember nya.
Entah berapa lama aku akan
berdiri
dengan posisi seperti ini.
Belum lama aku menjalani hukumanku, aku melihat
sosok yang familiar banget
buat aku.
"Hai, gadis, apa kabar? Baik?" seketika aku langsung membulatkan
mataku. "Kamu kok bisa masuk kesini?" tanyaku,
"Itu tidak penting sekarang, yang penting adalah membebaskan
kamu dari hukuman!" jawab Hero bersemangat.
"Pergi lah, jangan menambah masalah baru buatku,"
kataku. Hero menggeleng, lalu berkata, "Ini tidak akan
lama, ayo ikut aku sebentar, please," mohon Hero. Aku tidak
menjawab atau pun bergerak. Aku benar-benar
sudah tidak mau terkena masalah tambahan.
Hero menarik pergelangan tanganku, membuatku
turun dari balok kayu. Dia berlari sembari menarikku,
dan otomatis aku juga ikut berlari.
Entah kemana
dia akan membawaku pergi. Aku hanya mengikutinya.
Setelah berlari bersama cukup lama, Hero berhenti
di sampingku. Dia menatapku, lalu tersenyum,
"Lega?" tanya nya, aku mengernyitkan dahi, lalu bertanya,
"Apa nya yang lega?" Hero masih terus tersenyum,
"Perasaanmu ... apa perasaanmu sudah lega sekarang?"
tanya Hero, dia benar, perasaanku menjadi sedikit lega.
"Ya," jawabku, "Apa kau mau menceritakan
masalahmu padaku, gadis?" tanya Hero. Aku menggeleng.
Menatap langit malam, mendengarkan suara hewan-hewan
malam, dan suara angin yang bertiup pelan. Hero duduk
di tempat nya berdiri tadi, dia menatapku,
"Sini, duduk,"
kata nya. Aku duduk di samping Hero,
memeluk lututku.
"Aku adalah aku, kan, Hero? Nggak bakalan
bisa berubah ...
tapi kata Lea, sekarang aku bukan
aku yang dulu,"
kataku, "Gini, karna kamu nggak mau cerita
sedetail mungkin,
aku jadi nggak tau apa akar permasalahan
kamu, aku
cuman mau, kamu membagi bebanmu sama aku."
"Jangan jadikan semua beban itu jadi buat kamu jadi
Neara yang berbeda. Aku yakin, yang di sampingku
sekarang, tetaplah Neara yang dulu,
karna jati
diri yang sebenarnya tidak akan menghilang," kata Hero.
Aku menatapnya, lalu menghembuskan nafas.
"Aku nggak tau, aku bingung," ucapku sembari memejamkan
mata. "Hero, makasih kamu udah dateng hari ini,
kemarin-kemarin, atau mungkin besok-besok nya lagi.
Semua beban beratku, jadi sedikit berkurang karna
semua kata-kata dan perilakumu," ucapku.
Bersambung ....