You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 48



Setelah mendapat baju yang cocok, aku meletakkan


nya di atas kasur, begitu pula Luna. Aku memilih


tang top warna putih, rompi berlengan panjang warna


pink, dan rok selutut berwarna merah maroon.


Luna memilih kaos tipis berwarna putih, dan kulot


berwarna biru langit. Sedangkan untuk Luna, Lea memilih


sweater berwarna kuning, dan jeans biru dongker.


Aku dan Luna segera mengganti pakaian kami masing-masing.


Nggak lama setelah kami berganti baju, Lea keluar dari


kamar mandi. Dia segera mengganti handuk nya,


menjadi baju yang tadi kupilihkan.


"Sini, biar aku tata rambutmu," kataku menghampiri


Luna. Aku mengikat rambut Luna menjadi dua. "Hahaha, Luna


kelihatan makin lucu, deh," kata Lea, aku dan Luna ikut


tertawa. Lea mengikat rambutnya ke samping.


Aku mengikat rambutku seperti biasa, ikatan ekor kuda.


"Sudah? Mari kita keluar," kataku. Kami keluar


dari kamar. "Lea, kamu memilihkan pakaian apa, buat


Zayn sama Farel?" tanyaku, "Sabar dong, bentar lagi juga


kamu bakalan liat," jawab Lea.


Kira-kira siapa, tamu yang bakalan dateng kesini?


Kalo kak Frida, seharus nya nggak sampe kayak gini, kan?


Orang biasa nya juga ketemu sama kak Frida pake baju


sehari-hari. Lha, terus siapa?


"Ra! Kenapa kamu ngelamun terus?" Lea menepuk


bahuku. "Eh, iya, kenapa?" tanyaku, "Ayo, kita pergi ke meja


makan," jawab Lea sembari menarik tanganku.


Oppy dan mam sudah menunggu kami di meja makan.


"Sebentar, jangan duduk terlebih dahulu, ayo ikut kami menyambut


mereka," kata mam, "Dimana dua teman kalian?" tanya


Oppy, "Kami disini," kata Farel yang berdiri di sampingku.


Farel menggunakan kemeja merah muda, bergaris putih,


dengan celana panjang berwarna putih. Sedangkan Zayn,


dia menggunakan kemeja berwarna biru langit,


bergaris putih, dengan celana panjang berwarna putih.


Kami mengikuti mam dan Oppy menunggu di depan pintu pondok.


"Selamat malam," suara yang terdengar familiar


di telingaku, kami berlima terkejut ketika mengetahui


siapa yang datang. Zayn segera memeluk mereka.


"Ai, aku tidak menyangka, bahwa tamu nya adalah kalian,"


ucap Zayn melepas pelukan nya. "Selamat malam, Neara,"


kata nenek menyapaku. Nenek memeluku, aku balas memeluk


nya. "Malam, Nek. Nenek apa kabar?" tanyaku.


"Tentu saja seperti yang kau lihat, Nak," jawab nenek.


"Kak Neara!" kata Emma memeluku, "Hei, lepaskan


Neara," ucap Zayn yang berdiri di belakangku.


"Haih, apa Kakak cemburu sama adikmu sendiri?"


tanya Emma,


aku hanya melotot. "Baiklah, mari, kita masuk,"


ucap Oppy. Nenek datang bersama Leo, kak Keli, dan Emma.


Kami pergi ke meja makan bersama.


Aku dan Zayn pergi ke dapur untuk mengambil


masakan kami yang tadi, lalu meletakkan nya di atas


meja makan. Mereka semua tersenyum ketika melihat


makanan yang kami sajikan, terutama Farel dan Lea.


"Oh, astaga, aku lupa membuat sup nya," kata Zayn berbisik.


Aku terkejut mendengar perkataan Zayn, lalu berkata,


"Maaf, sepertinya kami harus kembali ke dapur,


tolong tunggu sebentar." Aku segera menarik


Zayn untuk mengikutiku ke dapur, Lea dan Farel juga


mengikuti kami.


"Gulung lengan kemeja kalian, kita harus cepat


memasak nya," kataku sembari memberikan celemek pada Lea,


Farel, dan Zayn. Mereka berdua segera menggulung


lengan kemeja nya. Kami berusaha secepat mungkin untuk


membuat sup ini, agar yang lain tidak menunggu


terlalu lama di meja makan.


10 menit kemudian ....


"Maaf menunggu lama," kataku sembari menata


11 mangkuk sup di depan setiap orang. Lea, Farel, dan Zayn


menuangkan sup dari kuali ke dalam mangkuk


yang sudah kutata. Setelah itu, kami segera bergabung


di meja makan, dan makan malam bersama, kecuali Zayn dan Farel.


Entah kenapa, mereka nggak mau makan makanan yang


ada di piring mereka masing-masing.


Oppy, mam, dan nenek slalu memiliki topik pembicaraan


yang membuat suasana meja makan menjadi hangat.


Terkadang satu topik pembicaraan, membuat


kami berdebat kecil. Dan karna perdebatan kecil itu,


nenek, mam, Oppy, dan Luna tertawa.


Setelah makan malam, nenek dan mam pergi ke ruangan


dengan nada tegas nya seperti biasa. Hish, dia mau apalagi?


Kami mengikuti Oppy, beliau membawa kami


ke kamar beliau.


"Apa-apaan kalian ini? Bagaimana bisa, kalian melupakan


hidangan utama? Apa kalian tidak


memeriksa


masakan kalian, apa sudah lengkap atau


belum?"


tanya Oppy marah. Kami hanya bisa menunduk.


"Dan anda, Nona Neara, apa kamu hanya sebatas


mengatakan, bahwa kamu adalah orang yang bertanggung


jawab atas segalanya, di antara teman-temanmu?


Apa itu hanya bualan semata, hah?" kata Oppy sedikit berteriak.


"Ini bukan salah Ra, ini salah—" aku menatap


Farel, menyuruh nya diam. Oppy menatapku.


"Jika ini bukan salah Neara, terus salah siapa?"


tanya Oppy, "Tidak, bukan salah siapa-siapa, ini salahku,"


jawabku, "Kamu! Sekarang juga, pergi ke halaman belakang,


berdiri satu kaki di atas balok kayu, dan bawa dua


ember air," perintah Oppy. Aku mengangguk pelan, kemudian


berjalan ke halaman belakang.


Aku mengisi dua ember penuh dengan air. Lalu mengangkatnya,


kemudian aku berdiri di atas balok, dan perlahan-


lahan mengangkat kaki kananku. Aku merentangkan


kedua tanganku, dan mengubah posisi ember nya.


Entah berapa lama aku akan


berdiri


dengan posisi seperti ini.


Belum lama aku menjalani hukumanku, aku melihat


sosok yang familiar banget


buat aku.


"Hai, gadis, apa kabar? Baik?" seketika aku langsung membulatkan


mataku. "Kamu kok bisa masuk kesini?" tanyaku,


"Itu tidak penting sekarang, yang penting adalah membebaskan


kamu dari hukuman!" jawab Hero bersemangat.


"Pergi lah, jangan menambah masalah baru buatku,"


kataku. Hero menggeleng, lalu berkata, "Ini tidak akan


lama, ayo ikut aku sebentar, please," mohon Hero. Aku tidak


menjawab atau pun bergerak. Aku benar-benar


sudah tidak mau terkena masalah tambahan.


Hero menarik pergelangan tanganku, membuatku


turun dari balok kayu. Dia berlari sembari menarikku,


dan otomatis aku juga ikut berlari.


Entah kemana


dia akan membawaku pergi. Aku hanya mengikutinya.


Setelah berlari bersama cukup lama, Hero berhenti


di sampingku. Dia menatapku, lalu tersenyum,


"Lega?" tanya nya, aku mengernyitkan dahi, lalu bertanya,


"Apa nya yang lega?" Hero masih terus tersenyum,


"Perasaanmu ... apa perasaanmu sudah lega sekarang?"


tanya Hero, dia benar, perasaanku menjadi sedikit lega.


"Ya," jawabku, "Apa kau mau menceritakan


masalahmu padaku, gadis?" tanya Hero. Aku menggeleng.


Menatap langit malam, mendengarkan suara hewan-hewan


malam, dan suara angin yang bertiup pelan. Hero duduk


di tempat nya berdiri tadi, dia menatapku,


"Sini, duduk,"


kata nya. Aku duduk di samping Hero,


memeluk lututku.


"Aku adalah aku, kan, Hero? Nggak bakalan


bisa berubah ...


tapi kata Lea, sekarang aku bukan


aku yang dulu,"


kataku, "Gini, karna kamu nggak mau cerita


sedetail mungkin,


aku jadi nggak tau apa akar permasalahan


kamu, aku


cuman mau, kamu membagi bebanmu sama aku."


"Jangan jadikan semua beban itu jadi buat kamu jadi


Neara yang berbeda. Aku yakin, yang di sampingku


sekarang, tetaplah Neara yang dulu,


karna jati


diri yang sebenarnya tidak akan menghilang," kata Hero.


Aku menatapnya, lalu menghembuskan nafas.


"Aku nggak tau, aku bingung," ucapku sembari memejamkan


mata. "Hero, makasih kamu udah dateng hari ini,


kemarin-kemarin, atau mungkin besok-besok nya lagi.


Semua beban beratku, jadi sedikit berkurang karna


semua kata-kata dan perilakumu," ucapku.


Bersambung ....