
Aku : Tidak akan Lea, Zayn menemaniku makan di kelas, kau tenang saja ... Selesaikan makanmu, dan cepat kembali ke kelas, bel masuk sebentar lagi bunyi.
Lea : Astaga, Nona Neara! Kau bilang padaku dan Farel, sedang tidak mood makan. Lalu sekarang kau makan berdua dengan Zayn?
Aku : Maafkan aku Lea, aku hanya melakukan tugasku, memakan bekal dari kak Gabie, dan memberikan pesan kak Gabie kepada Zayn ...
Aku : Sungguh hanya itu, tidak lebih!
Lea : Hmm ... Baiklah, nikmati bekalmu, kami akan segera kembali! Jika ada apa-apa, hubungi aku!
Aku : Siap bu!
Lea : ⊙_⊙
Aku : Hahaha ... Sudahlah, cepat kembali, jangan telat!
"Siapa?" tanya Zayn, "Lea, dia bertanya padaku, mengapa aku belum menyusul dia ke kantin!" jawabku santai.
"Neara, apa kau mau cokelat?" Tiba-tiba ada beberapa anak kelas sebelah yang menawarkan cokelat padaku melalui jendela.
"Eh, tidak usah, terima kasih!" jawabku, "Ayolah, terima ini ... Kumohon, anggap saja ini hadiah dari kami untukmu."
"Eh, tapi kan ini bukan hari yang spesial!" Aku masih berusaha menolak, karna aku yakin, mereka melakukan ini agar di perhatikan oleh Zayn.
Aku menatap Zayn, meminta pertolongan untuk menolak mereka, Zayn hanya terkekeh melihatku kebingungan.
"Zayn!" kataku berbisik sambil melotot, Zayn kembali terkekeh, lalu berdeham, "Sudahlah, jika gadisku menolak, kalian tidak boleh memaksanya!" Dia merangkul bahuku.
"Kembali ke kelas kalian masing-masing!" mereka menatap Zayn dengan tatapan tergila-gila, "Aaahhh ... Sangat menyeramkan! Tapi tidak apa-apa, kami tetap mencintaimu!" teriak salah satu dari mereka.
Dasar para fans gila, aku sungguh kebingungan harus bagaimana lagi buat nolak cokelat dan hadiah-hadiah dari mereka.
"Pergilah, aku sudah menyuruh kalian pergi!" kali ini Zayn berkata lebih tegas, dengan aura khasnya, dan tatapan tajamnya.
Semua anak tadi berlarian berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Siapa yang tidak takut dengan tatapan dan aura khas dari Zayn?
"Kau itu iblis Zayn ..." kataku, lalu melanjutkan makan, Zayn menatapku sambil tersenyum jahil, aku benci senyum nya yang ini!
"Aku iblis, tapi aku berhasil menaklukan hati seorang Neara ..." aku terkekeh, "Kau memang playboy!" ucapku asal.
Nggak sih, nggak terlalu ngasal juga. Pernah ada rumor tentang "Zayn si playboy" Tapi ayolah, itu bukan rumor, dia memang playboy, menurutku.
"Tidak, aku bukan playboy!" Zayn membela dirinya, "Terserahlah, tapi aku benci dengan laki-laki bermulut manis seperti tadi ..." kataku sinis.
"Baiklah, apa yang tidak disukai oleh gadisku, aku akan berusaha untuk tidak melakukannya." aku mengangguk-ngangguk.
Kriinngg!
"Cepat, kembalilah ke mejamu! Guru akan datang sebentar lagi!" kataku, aku membereskan kotak makanku dan Zayn.
Murid-murid berhamburan masuk ke kelas masing-masing, Lea dan Farel juga udah masuk ke kelas. Pelajaran dimulai, waktunya pelajaran matematika.
Wajah Lea slalu sebal ketika pelajaran matematika berlangsung. Mukanya slalu ditekuk, kusut, cemberut, apapun itu yang bisa mengartikan ekspresi Lea saat ini.
"Psst ... Ra, ada pesan nih!" kata Farel dari belakangku, aku menerima selembar sobekan kertas yang terlipat.
To: Favaina Neara Jaendra,
From: Manusia lah intinya!
Aku harap, kamu bisa dateng ke koridor sekolah di deket gudang sekolah. Aku mau ngomong empat mata sama kamu, setelah istirahat kedua, temui aku di koridor deket gudang, sendirian ... Sampai nanti ;-)
Aku menatap Farel, lalu berkata pelan, "Siapa yang memberikan surat ini padamu?" Farel menatapku, lalu melihat sekitar.
"Tadi ada adik kelas yang nitipin itu ke aku, baru beberapa menit yang lalu! Dia cuman ngomong, surat itu harus aku kasihin langsung ke kamu, aku nggak dibolehin baca." kata Farel.
"Beraninya dia melarangku untuk membacanya! Aku kan 'Sang Idola'" kata Farel bersungut-sungut, namun masih dalam suara yang pelan.
Aku ingin tertawa melihat sikapnya, tapi ini bukan saat yang tepat untukku. Perasaanku mengatakan, sesuatu yang buruk akan terjadi hari ini, dan saat aku menemui 'Si orang penulis surat'.
Apa yang harus kulakukan jika aku dalam bahaya? Aku tidak bisa memberitahu Zayn, Farel atau Lea. Aku yakin, dia sedang memata-mataiku sekarang.
Lea menatapku kebingungan, "Ada apa? Apa kau mendapat masalah?" Aku menggeleng, lalu kembali fokus menyalin catatan di papan tulis.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk ..." bu Elsie mempersilahkan pak Heri, asisten kepala sekolahku masuk, dan laki-laki yang sangat familiar, "Farhan? Mengapa dia ada disini?" Aku bisa mendengar suara Zayn.
Oh, tentu saja! Farhan adalah asisten sekaligus teman baik Zayn. Lantas mengapa dia berada disini?
Mereka membicarakan sesuatu, raut wajah bu Elsie nampak sedih, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku hanya bisa mendengar samar-samar nama Zayn di sebutkan, dan ada kata-kata sakit. Tunggu, siapa yang sakit? Zayn tidak sakit kan?
Aku menatap Zayn, Zayn terlihat cuek dengan kedatangan pak Heri, "Ra, apa kau merasakan ada sesuatu yang tidak beres?" tanya Lea, aku menggeleng.
"Tidak, aku hanya merasa ada kejadian yang akan terjadi hari ini! Awalnya aku mengira hanya satu kejadian, ternyata dua kejadian atau lebih yang mungkin terjadi hari ini!"
"Tuan muda Zayn, kau bisa pulang sekarang, nona berada di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan!" apa yang dimaksud itu kak Keli?
Zayn yang awalnya cuek langsung beresin semua barangnya, dia bergegas pamit sama guru, aku ikut berdiri.
"Bu, apa aku juga boleh ikut izin?" tanyaku, satu kelas menatapku, termasuk Zayn, "Tidak, kau tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Dirgantara!"
"Maaf bu, apapun yang terjadi dengan kak Keli, Zayn, Farel, Lea, Leo, Emma, dan nyonya Yisha, maka aku terlibat kedalam nya!" Lea dan Farel ikut berdiri.
"Kami adalah sahabat! Satu untuk semua, dan semua untuk satu! Kami mohon bu, biarkan kami pergi bersama Zayn, setidaknya biarkan Neara yang pergi bersamanya ...."
"Farhan, aku memintamu mengurus izin kepulangan Neara, Lea, dan Farel! Bereskan barang-barang mereka, jangan sampai ada yang tertinggal disini!"
"Aku tidak mau membuang waktu lagi, segera selesaikan urusan itu, lalu susul kami ke rumah sakit! Berikan kuncinya padaku!" Suara Zayn terdengar sangat cemas.
"Baik tuan muda, saya akan segera melaksanakan perintah ..." Zayn meraih kunci dari tangan Farhan, lalu menarik tanganku, Farel dan Lea mengikuti kami dari belakang.
Kami masuk ke dalam mobil pribadi milik Zayn, Zayn duduk di bangku kemudi. Aku duduk di sebelahnya, Lea dan Farel di belakang.
"Tenanglah Zayn ... Kau tidak boleh terbawa emosi, ini berbahaya ... Turuti kata-kataku, kumohon Zayn, demi nyawa kami!"
"Baiklah, aku akan membawa mobil ini dengan benar." Zayn mulai menancap gas, lalu meninggalkan parkiran sekolah.
Mobil Zayn melaju diantara kendaraan-kendaraan yang lain. Dia mungkin khawatir, cemas, takut, dan sebagainya.
Dari tadi dia berusaha melaju dengan kencangnya. Tapi itu slalu di batalkan, entah apa yang ada di pikiran Zayn.
Pukul 11.06
Kami berlarian di koridor rumah sakit. Zayn yang paling cepat berlarinya, orang-orang melihat kami, bingung mungkin.
Karna kami masih pakai seragam sekolah, "Nenek," kata Zayn, kami berhenti di ruang ICU. Nenek menangis disitu, Leo dan Emma berusaha tidak menangis, untuk menguatkan nenek.
Bersambung ....