You Are My Hero!

You Are My Hero!
Episode 20



Aku berusaha mundur, dengan mengesot. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya bisa menutup mataku, dan terus berdoa, agar pertolongan segera datang.


Mereka sudah berada tepat di depanku, mereka mulai merobek-robek pakaianku, mulai melepaskan pakaianku. Aku ketakutan, aku bingung harus ngapain, aku sangat terdesak.


Aku menangis tanpa suara, "Argh! Lepaskan aku! Jangan menyentuhku! Dasar kalian ********! Brengsek! Kurang ajar!" Aku masih berusaha memberontak.


"Nona, diamlah sebentar, kau tidak perlu memberontak, kami akan lembut padamu ..." Aku meneteskan air mata.


Sungguh, hari lahir sialan! 16 tahun yang lalu, bunda meninggal! 13 tahun yang lalu, ayah meninggal! Dan sekarang, apa ini semua akan berakhir seperti ini?


"Hentikan! Atau kalian akan habis di tanganku!" Aku membuka mataku, Hero, dia berdiri dengan gagahnya tak jauh dari tempatku sekarang.


Tangannya mengepal, tatapan matanya tajam. Tatapan yang mengintimidasi, dan aura membunuh yang sangat pekat, lengkap sudah penampilannya.


Aku tersenyum, kembali menutup mata, air mataku menetes sekali lagi. Syukurlah Hero datang, aku merasa sangat lega.


Mereka tertawa, tawa yang menyeramkan, "Hei, apa kau mau menjadi pahlawan ke malaman?" semua orang tadi tertawa terbahak-bahak.


"Cuih! Banyak omong kalian!" Hero melayangkan pukulan tinjunya, aku masih terdiam membisu, aku ketakutan.


Haro memukul mereka satu per satu, sesekali, Hero yang terkena pukulan. Dia meringis kesakitan, aku hanya bisa menatapnya dengan penuh harap.


Aku sudah tak kuasa melihatnya terus di pukuli, tapi Hero bukanlah orang yang seperti itu. Dia terus berjuang melawan semua pria ******** dan brengsek itu, demi membelaku.


Sepuluh menit berlalu, mereka sudah habis di tangan Hero, dia mendekatiku, menyelimuti tubuhku dengan jaket yang dia bawa, lalu mengulurkan tangan.


Bajuku sudah sepertiga robek, "Gadis apa kau baik-baik saja?" Aku menatapnya, dia masih berpenampilan seperti saat pertama kali kami bertemu.


Mataku berkaca-kaca, aku loncat dan memeluknya, "Eh, gadis, tenanglah, kau aman bersamaku sekarang ..." Kata-katanya membuatku tenang.


"Huhuhu ... Hero, terima kasih sudah menyelamatkanku! Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika kau tidak datang dan menyelamatkanku!" Hero mengelus kepalaku.


"Gadis, aku tanya sekali lagi, apa kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka kan?" Aku menggeleng, "Aku tidak terluka sedikit pun Hero, aku hanya ketakutan ..." jawabku lirih.


Hero menggendongku, "Aku akan mengantarmu membeli baju, lalu pulang." Suaranya sangat menenangkan.


Taksi online yang kupesan di cancel sama Hero, dia membawa mobil sendiri, dia mengantarku ke toko baju, untuk mengganti pakaianku yang robek.


Dia menggendongku masuk ke dalam toko baju, lalu dia membisikkan sesuatu di telinga karyawan toko itu.


Dia menurunkanku, lalu karyawan tadi menarikku masuk ke dalam ruang ganti, dia keluar, lalu kembali dengan membawakan sebuah gaun pesta.


Itu adalah sebuah long dress berwarna biru laut dan digradasi dengan biru langit, sungguh menawan. Long dress itu memiliki lengan yang terbagi di sebelah kanannya, dan tidak memiliki lengan di sebelah kirinya.


Karyawan tadi menggantungkan long dress digantungan baju, lalu dia keluar, dan kembali membawa sekotak perhiasan dan pernak-pernik.


Dia juga kembali bersama dua karyawan lainnya, "Nona, kami akan meninggalkan anda sendirian untuk mengganti baju, setelah selesai, tolong panggil kami." Mereka bertiga keluar.


Aku segera mengganti bajuku dengan long dress tadi. Ini sangat nyaman untuk kukenakan, dan sesuai dengan bentuk tubuhku.


Mereka mulai menata rambutku, dan mulai me-make up mukaku. Mereka bekerja bersamaan, aku hanya diam, dan menunggu ini semua berakhir.


Lima belas menit kemudian ....


Mereka selesai me-make over ku. Rambutku di kepang, lalu disampirkan ke bahuku. Make up ku tidak terlalu menor, ini sangat natural.


Kalung, dan anting dengan permata biru yang menempel di leher dan telingaku terlihat bersinar. Gelang berbentuk huruf S di ujung pengaitnya, terlihat sangat cocok dengan permata berbentuk belah ketupat berwarna biru laut.


Mereka memberiku tas genggam berwarna putih, juga mengganti sepatuku dengan heels berwarna putih, "Nona, anda sudah ditunggu di luar ..." kata salah satu dari mereka, aku segera keluar.


Hero berdiri, lalu dia menatapku. Dia terpaku dengan penampilanku, "Gadis, kau sangat cantik malam ini. Baiklah, aku akan mengantarmu pulang," kata Hero.


Pukul 18.34


"Selamat malam gadis ..." Aku melambaikan tanganku, "Aku sudah menuruti kemauanmu, tunggu dan lihat saja!" Aku terkejut, apa Hero benar-benar mengabulkan permintaanku kemarin malam?


Mobil Hero melaju di jalanan dengan cepat, menghilang diantara kendaraan-kendaraan lain yang juga sedang melintas di jalan raya.


Aku ngambil kunci pintu rumah, ruamh sepi banget, "Aku pulang!" Aku melepas heels yang dibeliin Hero tadi.


Terus aku nyalain lampu, nggak mungkin banget kan, Lea, Farel, sama Zayn pergi keluar? Itu terlalu bahaya!


"Happy Birthday Neara!" Farel, Lea, Zayn, kak Gabie, dan kak Frida ada disini. Aku melongo, masih bingung.


"Happy birthday Neara ... Happy birthday Neara ... Happy birthday ... Happy birthday ... Happy birthday Neara ..." Kak Gabie maju selangkah, dia bawa kue tart di tangannya.


"Make a wish dulu dek, baru tiup lilin nya!" mataku mulai berkaca-kaca, aku tersungkur duduk di lantai.


Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, air mataku turun dengan derasnya. Aku menangis, antara bahagia, kecewa, kaget, sedih, intinya campur aduklah.


"Maafkan kami ya Ra, terutama atas sikap dan ucapan kami." kata Lea, "Kalian jahat banget tau nggak sih! Aku merasa kehilangan sebagian dari hidupku!"


"Maaf Ra, itu tujuan kami, agar kau bersedih terlebih dahulu, lalu bahagia dengan surprise kami," jawab Farel, "Bodoh, aku tidak sungguhan mengatakan hal yang kemarin!" Aku menatap Zayn.


"Kalian sungguh jahat!" kataku, "Hahaha ... Dek, ayo, lilin nya keburu mati nih!" Aku menutup mataku, menyatukan kedua tanganku, aku membuat permohonan.


Lalu meniup lilin nya, ""Hore!" semua yang hadir bertepuk tangan, "Eh, bye the way, kamu kok pake baju pesta? Kamu tau tentang surprise ini?" tanya Lea.


Aku menggeleng, "Ini pemberian Hero Lea, tadi ada sedikit masalah di jalan, Hero yang membantuku, lalu memberikan semua ini," jawabku, "Baiklah, mari kita potong kue nya!" kata kak Frida.


Kami semua terkekeh, terkadang sikap kak Frida sangat mirip dengan anak-anak. Atau bisa dibilang, sikap kak Frida kekanak-kanakan.


"Kak, kata Kakak, Kakak nggak bisa pulang! Kok sekarang disini?" tanyaku heran, "Eh, ada seseorang yang membantuku izin, Dek ... Tapi aku nggak tau, siapa itu, tapi aku sangat berterima kasih padanya, siapa pun dia!"


Aku mulai memotong kue, lalu meletakkan nya di atas piring kecil, "Potongan pertama kue ini, untuk kak Gabie! Karna dia adalah keluargaku!"


Bersambung ....